All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 2. Al-Quran

Bab 2 : Al-Quran

A. Definisi Al-Quran

Secara bahasa, Al-Quran adalah bentuk mashdar dari kata dasar dalam fi’il madhi : qara’a (قرأ). Maknanya menggabungkan atau mengumpulkan. Kata itu di dalam Al-Quran sendiri bisa kita dapati pada ayat :

إِنّ علينا جمعهُ وقُرآنهُ فإِذا قرأناهُ فاتّبِع قُرآنهُ

Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan-nya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (QS. Al-Qiyamah : 17-18)

Para ulama mendefinisikan Al-Quran dengan sangat detail. Definisi yang detail itu berguna untuk membedakannya dengan kitab suci lain, atau dengan berbagai macam wahyu Allah, atau dengan hadits nabawi dan hadits qudsi. Definisi itu adalah :

كلامُ اللهِ المُنزّلُ على مُحمّد  rالمنقُولُ بِالتّواتُر بِلفظِهِ العربيِ ويُتحدّى بِهِ العربُ والمُتعبّدُ بِتِلاوتِهِ

Perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang sampai kepada kita dengan periwayatan yang mutawatir, dengan berbahasa Arab, dimana dengan ayat itu Allah menantang orang Arab untuk membuat tandingannya, dan membacanya merupakan ibadah.

Dari definisi di atas, maka kita bisa membedakan Al-Quran dari berbagai kitab suci yang lain.

a. Perkataan Allah

Al-Quran pada hakikatnya adalah perkataan Allah. Namun perkataan Allah kepada manusia tentu bukan hanya Al-Quran, tetapi ada banyak jenisnya. Karena itu tidak cukup untuk mendefinisikan Al-Quran hanya dengan perkataan Allah. Tetapi harus ada pembatasan lainnya agar menjadi tepat.

Secara umum kalau manusia itu seorang Nabi atau rasul, perkataan itu  dinamakan wahyu. Tetapi kalau manusia itu bukan Nabi melainkan orang biasa, sering disebut ilham.

Contohnya Allah SWT pernah berkata kepada para pengikut Nabi Isa alaihissam, tentunya mereka bukan nabi. Maka hal itu disebut ilham.

وإِذ أوحيتُ إِلى الحوارِيِّين أن آمِنُوا بِي وبِرسُولِي قالُوا آمنّا واشهد بِأنّنا مُسلِمُون

Dan ketika Aku ilhamkan kepada hawariyin (pengikut Isa yang setia),"Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab,”Kami telah beriman dan saksikanlah  bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh ". (QS. Al-Maidah : 111)

Allah SWT juga pernah berbicara kepada ibunda Nabi Musa alaihissalam, yang tentunya juga bukan seorang nabi.

إِذ أوحينا إِلى أُمِّك ما يُوحى أنِ اقذِفِيهِ فِي التّابُوتِ فاقذِفِيهِ فِي اليمِّ

Ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan agar meletakkan bayi itu di dalam peti dan melemparkannya ke sungai. (QS. Thaha : 38-39)

Namun dari dua ayat di atas kita tahu bahwa tidak semua orang yang diajak bicara oleh Allah berarti dia menjadi Nabi atau rasul.

b. Diturunkan Kepada Nabi Muhammad SAW

Al-Quran adalah perkataan Allah kepada seorang Nabi. Dalam hal ini yang dimaksud dengan Nabi hanyalah Nabi Muhammad SAW saja.

Sedangkan perkataan Allah kepada nabi-nabi yang lain, bisa saja merupakan perkataan Allah dan menjadi kitab suci, seperti Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim dan Shuhuf Musa. Tetapi tidak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, maka kitab-kitab itu bukan Al-Quran.

c. Diriwayatkan Dengan Tawatur

Poin ketiga dari definisi Al-Quran adalah bahwa seluruh  Al-Quran itu diriwayatkan dengan sanad yang mutawatir.

Yang dimaksud dengan mutawatir adalah bahwa jumlah perawi itu sangat banyak dan tersebar luas dimana-mana, sehingga mustahil mereka kompak untuk berdusta.

Al-Imam As-Suyuthi menyebutkan minimal riwayat yang mutawatir itu adalah 10 perawi dalam setiap thabaqat (level).

Poin ini berfungsi membedakan Al-Quran dengan hadits, baik hadits itu merupakan hadits nabawi maupun hadits qudsi. Sebab hadits itu kadang ada yang diriwayatkan secara mutawatir, tetapi kebanyakannya ahad.

Yang dimaksud dengan riwayat ahad bukan berarti hanya ada satu perawi, melainkan jumlahnya bisa banyak tetapi belum mencapai derajat mutawatir.

d. Berbahasa Arab

Al-Quran ketika diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, turun dalam bahasa Arab yang benar, sebagaimana bahasa yang digunakan oleh Rasulullah SAW.

إِنّا أنزلناهُ قُرآنًا عربِيًّا لّعلّكُم تعقِلُون

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.(QS. Yusuf : 2)

وكذلِك أنزلناهُ حُكمًا عربِيًّا

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quraan itu sebagai peraturan   dalam bahasa Arab . (QS. Ar-Ra’d : 37)

وهـذا لِسانٌ عربِيٌّ مُّبِينٌ

Sedang Al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.(QS. An-Nahl : 103)

وكذلِك أنزلناهُ قُرآنًا عربِيًّا وصرّفنا فِيهِ مِن الوعِيدِ لعلّهُم يتّقُون أو يُحدِثُ لهُم ذِكرًا

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau  Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.(QS. Thaha : 113)

Yang disebut Al-Quran hanyalah apa yang Allah turunkan persis sebagaimana turunnya. Adapun bila ayat-ayat Al-Quran itu dijelaskan atau diterjemahkan ke dalam bahasa lain, maka penjelasan atau terjemahannya itu tidak termasuk Al-Quran. Maka kalau ada buku yang berisi hanya terjemahan Al-Quran, buku itu bukan Al-Quran.

Dengan kerangka logika seperti itu, maka injil yang ada di tangan umat Kristiani, seandainya memang benar diklaim asli sebagaimana yang diterima Nabi Isa alaihissalam dari Allah,  bagi umat Islam tetap saja bukan Injil. Mengapa?

Karena Injil itu tidak berbahasa asli sebagaimana waktu diturunkan kepada Nabi Isa alaihissalam. Para sejarawan menyebutkan bahwa Nabi Isa berbahasa Suryaniyah, dan hari ini tidak ada lagi Injil yang berbahasa Suryaniyah.

e. Menantang Orang Arab

Hadits Qudsi pada dasarnya juga perkataan Allah juga, namun untuk membedakan Al-Quran dengan hadis Qudsi secara mudah, maka kita sebut bahwa Al-Quran adalah mukjizat.

Letak kemukjizatan Al-Quran terletak pada keindahannya  dari segi sastra Arab. Hadits Qudsi yang walau pun merupakan perkataan Allah, tidak punya keistimewaan seperti Al-Quran.

Al-Quran dijadikan sebagai tantangan kepada orang Arab untuk menciptakan yang setara dengannya. Dan tantangan itu tidak pernah bisa terjawab. Karena tak satupun orang Arab yang mengklaim ahli di bidang sastra yang mampu menerima tandangan itu.

وإِن كُنتُم فِي ريبٍ مِمّا نزّلنا على عبدِنا فأتُوا بِسُورةٍ مِن مِثلِهِ وادعُوا شُهداءكُم مِن دُونِ اللّهِ إِن كُنتُم صادِقِين

Dan jika kamu  dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, buatlah  satu surat  yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah : 23)

أم يقُولُون افتراهُ قُل فأتُوا بِعشرِ سُورٍ مِثلِهِ مُفترياتٍ وادعُوا منِ استطعتُم مِن دُونِ اللّهِ إِن كُنتُم صادِقِين

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al-Quran  itu". Katakanlah,”Datangkan sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup  selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS. Hud : 13)

f. Membacanya Merupakan Ibadah Yang Berpahala

Identitas yang tidak kalah penting dari Al-Quran adalah ketika dibaca menjadi ibadah tersendiri, di luar dari mengerti atau tidak.

Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tiap huruf dari Al-Quran merupakan pahala tersendiri ketika dibaca. Bahkan ada kelipatan 10 kali lipat dari masing-masing huruf. Sampai beliau SAW menegaskan bahwa bacaan alif lam mim itu bukan satu huruf tetapi tiga huruf yang berdiri sendiri-sendiri.

Sedangkan hadits tidak mendatangkan pahala kalau hanya sekedar dibaca, kecuali bila dipelajari dan dijalankan pesannya.

B. Mengapa Al-Quran Berbahasa Arab?
Bahasa Al-Quran adalah bahasa Arab, bukan bahasa universal seperti yang diasumsikan oleh segelintir orang. Bahasa Arab dipilih Allah SWT karena punya banyak kelebihan dibandingkan dengan bahasa yang lain :

Para ahli sejarah bahasa sepakat bahwa sebuah bahasa itu tumbuh, berkambang dan punah bersama dengan eksistensi sebuah peradaban. Sehingga bahasa-bahasa di dunia ini banyak yang dahulu pernah dipakai banyak orang, tetapi pada generasi berikutnya, sudah tidak ada lagi orang memakai bahasa itu, karena peradabannya telah berganti.

Namun para ahli sepakat bahwa bahasa Arab merupakan pengecualian. Tidak tidak hilang dari muka bumi meski telah berusia cukup tua. Ada sebagian kalangan yang menyebutkan bahwa bahasa Arab telah digunakan di zaman Nabi Ibrahim alaihissalam.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa Nabi Adam alaihissalam pun berbahasa Arab sewaktu diturunkan ke muka bumi. Dasarnya, karena dalam salah satu hadits disebutkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa penghuni surga. Dan Adam itu penghuni surga sejak pertama kali diciptakan. Maka amat wajar dan masuk akal kalau ketika Adam diturunkan ke bumi, beliau masih menggunakan bahasa yang sebelumnya dipakai di dalam surga.

Lalu apa hubungannya bahasa Arab yang sudah berusia tua itu dengan pilihan bahasa Al-Quran?

Penjelasannya begini, kalau seandainya Al-Quran diturunkan oleh Allah dengan bahasa Inggris, maka kemungkinan besar dua ratus tahun kemudian orang tidak ada lagi yang bisa memahaminya. Karena bahasa Inggris itu mengalami perubahan mendasar, seiring dengan perjalanan waktu.

Jangankan bahasa Inggris, bahasa Sansekerta yang dahulu menjadi bahasa nenek moyang kita, hari ini sudah punah. Tidak ada yang bisa memahaminya dengan sempurna, kecuali hanya ahli bahasa. Itu pun dengan asumsi-asumsi yang belum tentu benar.

Seandainya Patih Gajah Mada hidup kembali di abad 21 ini, maka tak seorang pun yang mampu berbicara dengannya, lantaran kendala bahasa.

Kendala bahasa inilah yang tidak terjadi pada Al-Quran. Meski sudah turun sejak 14 abad yang lalu, bahasa Arab masih dipakai oleh ratusan juta umat manusia di muka bumi. Sehingga bangsa-bangsa yang berbahasa Arab, pada hakikatnya sama sekali tidak menemukan kesulitan untuk mengerti Al-Quran.

Salah satu kekuatan bahasa Arab adalah kekayaan kosa kata yang dimiliki. Meski bangsa Arab banyak yang tinggal di gurun pasir, namun bukan berarti mereka tertinggal dalam masalah seni dan budaya. Sebaliknya, justru orang-orang Arab yang tinggal di gurun itu punya kemampuan yang amat sempurna dalam mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata.

Boleh dibilang mereka umumnya adalah pujangga yang pandai merangkai kata. Dan rahasia keindahan sastra Arab terletak pada jumlah kosa katanya yang nyaris tak ada batasnya.

Seorang ahli bahasa Arab pernah menjelaskan kepada Penulis, bahwa orang Arab punya 800 kosa kata yang berbeda untuk menyebut unta. Dan punya 200 kosa kata yang berbeda untuk menyebut anjing.

Dengan perbendaharaan kata yang luas ini, Al-Quran mampu menjelaskan dan menggambarkan segala sesuatu dengan lincah, indah, dan kuat,  tetapi maknanya tetap mendalam.

Bahasa yang lain bisa dengan mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan begitu diterjemahkan, ternyata maknanya semakin kuat. Contohnya adalah semua kisah para Nabi dan umat terdahulu diceritakan kembali oleh Allah SWT di dalam Al-Quran dalam ungkapan bahasa Arab.

Sebaliknya, seorang penerjemah profesional dengan jam terbang yang tinggi masih saja sering kebingungan untuk menterjemahkan berbagai ungkapan dalam bahasa Arab ke bahasa lain, dengan cara yang mudah dan rinci, tanpa harus kehilangan kekuatan maknanya.

Oleh karena itu, sesungguhnya kita tidak pernah bisa menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa lain, dengan tetap masih mendapatkan kekuatan maknanya. Selalu saja terasa ada kejanggalan dan kekurangan yang menganga ketika ayat-ayat Al-Quran diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

C. Keaslian Al-Quran
Kebenaran Al-Quran adalah sesuatu yang pasti. Karena Al-Quran merupakan perkataan Allah SWT yang Maha Benar. Dan Allah SWT menjamin keaslian Al-Quran :

إِنّا نحنُ نزّلنا الذِّكر وإِنّا لهُ لحافِظُون

Sesungguhnya  Kami-lah yang  menurunkan  Al -Quran,  dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya .(QS. Al-Hijr : 9)

Tidak ada seorang pun yang bisa memalsukan ayat-ayat Al-Quran, karena jaminan dari Allah SWT yang memang bisa kita lihat buktinya secara langsung.

Dan secara teknis, kemustahilan pemalsuan Al-Quran itu masuk akal, mengingat beberapa hal :

Tidak seperti kitab lainnya, Al-Quran itu langsung ditulis seketika begitu turun dari langit. Rasulullah sendiri punya para penulis wahyu yang spesial bertugas untuk menuliskannya setiap saat. Tidaklah Rasulullah SAW meninggal dunia kecuali seluruh ayat Al-Quran telah tertulis di atas berbagai bahan, seperti pelepah kurma, kulit, dan lainnya.

Kalau kita bandingkan dengan kitab-kitab yang disucikan agama lain seperti Injil, Taurat, Zabur dan kitab suci lainnya, memang amat jauh perbedaannya. Kitab-kitab itu tidak pernah ditulis saat turunnya, meski kebudayaan yang berkembang di masa itu cukup maju dalam bidang tulis menulis.

Kalau pun saat ini ada musium yang menyimpan naskah Injil, naskah itu bukan naskah asli yang ditulis saat Nabi Isa alahissalam masih hidup. Tetapi merupakan naskah yang ditulis oleh orang lain, dan ditulis berabad-abad sepeninggal  Nabi Isa alaihissalam.

Jangankah umat Islam, umat Kristiani pun masih berselisih paham tentang keaslian kitab mereka sendiri.

 Di masa khilafah Abu Bakar ash-shiddqi radhiyallahuanhu berbagai tulisan ayat Al-Quran yang masih terpisah-pisah itu  kemudian disatukan dan dijilid dalam satu bundel.

Saat itu dikhawatirkan ada 70 penghafal Al-Quran telah gugur sebagai syuhada, sehingga Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu mengusulkan agar proyek penulisan ulang Al-Quran segera dijalankan. Hasilnya berupa satu mushaf standar yang sudah baku.

Di masa khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu, dilakukan standarisasi penulisan Al-Quran, karena telah terdapat perbedaan teknis penulisan yang dikhawatirkan akan menjadi bencana di masa yang akan datang.

Sekedar untuk diketahui, bangsa Arab sebelumnya tidak terlalu menonjol dengan urusan tulis menulis, karena mereka tidak merasa membutuhkannya. Mengingat mereka mampu menghafal ribuan bait syair dengan sekali dengar, sehingga tidak merasa perlu untuk mencatat atau menuliskan sesuatu kalau tidak penting-penting amat.

Kalau pun ada tulis menulis, belum ada standarisasi teknis penulisan. Oleh karena itulah maka dibutuhkan sebuah standarisasi penulisan di masa khalifah Utsman.

Dan dengan adanya penulisan yang standar itu, maka semua mushaf yang pernah ditulis dikumpulkan dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Sehingga yang ada hanya yang sudah benar-benar mendapatkan pentashihan dalam teknis penulisannya. Dan dikenal dengan istilah rasam Utsmani.

Selain ditulis, Al-Quran sampai kepada kita lewat hafalan yang merupakan keunggulan bahasa Arab.

Sejak diturunkan di masa Rasulullah SAW, sebenarnya Al-Quran itu lebih dominan dihafal ketimbang ditulis. Bukan hanya dihafal saja, tetapi Al-Quran dibaca tiap hari lima kali dalam shalat fardhu.

Kenapa lebih dominan dihafal?

Karena Al-Quran itu turun dalam format suara dan bukan dalam format teks. Dan kelebihan bahasa Arab itu mudah dihafal dibandingkan menghafal kalimat dalam bahasa lainnya.

Saat ini di permukaan bumi ini ada bermilyar manusia yang menghafal ayat-ayat Al-Quran sebagiannya, dan ada ribuan umat Islam yang menghafal seluruh ayatnya yang lebih dari 6 ribuan. Mereka membacanya berulang-ulang setiap hari, setidaknya lima kali sehari.

Sekali saja ada orang yang salah membaca Al-Quran, akan ada ribuan orang yang mengingatkan kesalahan itu. Semua itu menjelaskan firman Allah SWT bahwa Al-Quran itu memang dijaga keasliannya oleh Allah SWT Tidak mungkin Al-Quran ini punah atau dipalsukan.

Al-Quran dari segi periwayatannya sangat pasti benarnya, sehingga para ulama menyebut hal ini dengan ungkapan : qat’iyu ats-tsubut (قطعي الثبوت).

  Selain Al-Quran, di dunia ini tidak ada satu pun kitab suci yang bisa dihafal oleh pemeluknya. Selain karena kitab-kitab suci mereka agak rancu sebagaimana kerancuan perbedaan doktrin dan perpecahan sekte dalam agama itu, juga karena kitab-kitab itu terlalu beragam versinya. Bahkan seringkali mengalami koreksi fatal dalam tiap penerbitannya. 

Oleh karena itu kita belum pernah mendengar ada Paus di Vatican sebagai pemimpin tertinggi umat Kristiani sedunia, yang pernah menghafal seluruh isi Injil atau Bible di luar kepala.

Para pendeta Yahudi tertinggi tidak ada satu pun yang mengklaim telah berhasil menghafal seluruh isi Talmud atau Taurat secara keseluruhan dari ayat pertama hingga ayat yang penghabisan.

Dan tidak ada satu pun dari para Biksu Budha di seluruh dunia yang dikabarkan pernah menghafal Tripitaka. Dan tak satu pun petinggi dari agama Hindu yang pernah dinyatakan menghafal Veda.

D. Ayat-ayat Hukum

Al-Quran adalah sumber utama dalam masalah hukum atau fiqih. Namun dalam kenyataannya kalau kita perhatikan,  tidak semua ayat Al-Quran selalu mengandung hukum-hukum fiqih. Banyak dari ayat itu yang terkait juga dengan masalah keimanan dan aqidah, akhlaq, nasehat tentang sikap dan perilaku yang baik, isyarat tentang ilmu pengetahuan dan sains, kisah-kisah tentang kehidupan umat di masa lalu, dan lainnya.

Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ayat hukum adalah :

الآيات التي تُبيّن الأحكام الفقهية وتدل عليها نصاً أو استنباطاً

Ayat-ayat yang menjelaskan hukum-hukum fiqihiyah dan menjadi dalil atas hukum-hukumnya baik secara nash atau secara istimbath.[1]

Dengan definisi ini, maka ayat-ayat Al-Quran yang tidak menjelaskan tentang hukum-hukum fiqih dianggap bukan ayat ahkam. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang aqidah, akhlaq, kisah-kisah dan lainnya, tidak dimasukkan ke dalam ayat hukum.

Para ulama berbeda pendapat tentan apakah ayat-ayat hukum itu terbatas atau tidak terbatas.

a. Terbatas Beberapa Ayat

Pendapat pertama mengatakan bahwa jumlah ayat hukum itu terbatas pada beberapa ayat saja.

Mereka mendasarkan pendapatnya berangkat dari definisi di atas, dimana kenyataannya bahwa ayat-ayat Al-Quran yang terkait dengan hukum-hukum fiqih memang terbatas pada ayat-ayat tertentu saja. Dan tidak semua ayat Al-Quran yang enam ribuan-an ayat itu otomatis menjadi ayat hukum.

Mereka yang mendukung pendapat ini antara lain adalah Al-Imam Al-Ghazali termasuk salah satu dari mereka yang menegaskan hal ini dalam kitab beliau, Al-Mustashfa. Juga Al-Imam Ar-Razi dalam kitab beliau Al-Mahshul. Dan juga Al-Mawardi dalam kitab Adabul Qadhi.[2]

Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah ayat hukum itu hanya sekitar 150 ayat saja.

Sebagian lainnya mengatakan bahwa jumlahnya kurang lebih 200-an ayat saja.

Sebagian lain mengatakan bahwa jumlahnya sekitar 500-an ayat. Al-Imam As-Suyuti mengatakan di dalam kitab Al-Itqan bahwa jumlahnya ayat-ayat Al-Quran yang mengandung hukum mencapai 500-an ayat. Hal yang sama juga disebutkan oleh Ibnu Qayyim di dalam kitab Madarijus-salikin, bahwa jumlah ayat-ayat hukum mencapai 500-an ayat.

b. Tidak Terbatas

Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa ayat-ayat hukum itu tidak terbatas hanya pada ayat terentu saja.

Najmuddin At-Thufi mengatakan bahwa benar bahwa ayat-ayat hukum itu tidak terbatas hanya pada angka-angka itu saja. Dalam pandangan beliau dan ulama yang sependapat, bahwa seluruh atau sebagian besar ayat-ayat Al-Quran mengandung hukum yang menjadi sumber utama Fiqih Islam. Meski hanya terselip secara implisit dimana kebanyakan orang kurang menyadarinya.

Al-Qarafi mengatakan bahwa tidak ada satu pun ayat kecuali terkandung di dalamnya suatu hukum.[3]

E. Kitab Tafsir Ayat-ayat Hukum   
Untuk bisa mendapatkan penjelasan fiqih dari ayat-ayat Al-Quran, kita membutuhkan kitab tafsir yang mengkhususkan pada pembahasan hukum.

Lepas dari perbedaan apakah ayat-ayat hukum itu terbatas jumlahnya atau tersebar di sebagian besar ayat Al-Quran, para ulama banyak yang berkarya membuat kitab-kitab tafsir yang berkonsetrasi pada hukum-hukum fiqihiyah di dalam Al-Quran, baik dengan jumlah ayat yang terbatas, atau pun tafsir lengkap 30 juz. Namun semuanya menitik-beratkan pada kajian hukum.

Ada beberapa kitab tafsir yang terkait dengan ayat-ayat hukum, khususnya di kalangan para ulama mazhab Al-Hanafiyah, antara lain

a. Ahkamul Quran : Al-Jashshash

Di antara karya tafsir dalam corak fiqih di kalangan Al-Hanafiyah  adalah Ahkamul Quran karya Al-Jashsash (w. 370 H). Nama beliau adalah Abu Bakar Ahmad bin Ali Ar-Razi. Beliau adalah ulama besar dan tokoh fiqih dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah.

Dalam penafsirannya, Al-Jashshash bahkan bukan hanya menafsirkan ayat-ayat hukum, melainkan juga memasukkan berbagai macam perdebatan khilafiyah fiqhiyah. Dan terlihat teramat nyata  bagaimana Beliau membela fiqih mazhabnya. Sehinga Husein Adz-Dzahabi penulis kitab Tafsir wal Mufassirun membuatkan sub judul tersendiri dengan menyebutnya ta’ashshub dengan mazhab Al-Hanafiyah.

Tafsir ini yang terbit dalam  beberapa edisi, ada yang tiga jilid  dan ada yang lima jilid, hampir 2.000 halaman tebalnya.

b. At-Tafsirat Al-Ahmadiyah fi Bayan Al-Ayat Asy-Syar’iyah

Selain itu juga ada kitab At-Tafsirat Al-Ahmadiyah fi Bayan Al-Ayat Asy-Syar’iyah karya Ahmad bin Abi Said ulama yang hidup di abad 11 hijriyah.

Dan di kalangan Al-Malikiyah kita menemukan beberapa ulama yang menulis tafsir, antara lain :

a. Ahkamul Quran : Ibnul Arabi

Di kalangan mazhab Al-Malikiyah kita menemukan Tafsir Ahkamul Quran karya Abu Bakar Al-Arabi (w. 543 H).  Nama Beliau ada kemiripan dengan tokoh lain yang bernama Ibn Arabi.

b. Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran : Al-Qurtubi 

Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran (الجامع لأحكام القرآن) karya Al-Imam Al-Qurthubi (w. 671 H). Beliau telah menyusun satu kitab tafsir yang amat kuat membahas dari segi hukum..

Kadang kitab tafsir itu disebut cukup dengan menyebut nama mufassirnya saja, menjadi Tafsir Al-Qurthubi. Kitab ini membahas tafsir dari tiap ayat Al-Quran sesuai dengan urutannya, mulai dari surat Al-Fatihah hingga surat terakhir, An-Nas, total menjadi 30 juz 114 surat.

Salah satu keistimewaan kitab tafsir ini adalah kedalaman dan kelengkapan pembahasan di dalamnya. Al-Imam Al-Qurthubi mengumpulkan beberapa ayat untuk diberi tema, lalu beliau membuat poin-poin masalah hukum yang terkandung dalam kumpulan ayat tersebut secara detail.

Dan di kalangan Asy-Syafi’iyah kita menemukan beberapa ulama yang menulis tafsir, antara lain :

a. Ahkam Al-Quran : Al-Kiya Al-Harasi

Tafsir Ahkam Al-Quran karya Al-Kiya Al-Harasi (w. 502 H).. Beliau adalah salah satu tokoh ulama ahli fiqih, ushul fiqih dan juga ahli tafsir yang mewakili kalangan mazhab Asy-Syafi’iyah di abad kelima hijriyah.

Ayat-ayat yang dibahas dalam kitab tafsir ini memang tidak semuanya, melainkan hanya sebatas ayat-ayat yang terkait dengan hukum saja. Meski pun hampir semua surat terkandung ayat-ayat hukum di dalamnya. Misalnya surat An-Nas yang tidak ditemukan dalam kitab ini.

Dr. Husein Adz-Dzahabi penulis At-Tafsir wa Al-Mufassirun mengatakan bila dibandingkan dengan Tafsir Al-Jashshash, Al-Kiya Al-Harasi jauh lebih santun dan punya sikap penghargaan kepada para imam mazhab lain di luar mazhab Asy-Syafi’iyah. [4]

Tafsir ini menggunakan pendekatan dua sisi sekaligus, yaitu bil ma’tsur dan bir-ra’yi. Tafsir bil-ma’tsur yaitu menafsirkan ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran, lalu dengan hadits nabawi, serta pendapat para shahabat, tabi’in dan atba’ut-tabi’in. Dan tafsir bir-ra’yi asalkan yang mahmud tetap digunakan di dalam tafsir ini.

Secara fisik, kitab tafsir ini diterbitkan oleh Darul Kutub Al-‘Alamiyah Beirut Libanon. Pada edisi cetakan pertama yang penulis miliki diterbitkan tahun 1983 masehi atau 1404 hijriyah menjadi lima jilid dengan jumlah total halaman mencapai 1000 halaman.

b. Al-Qaulu Al-Wajiz fi Ahkam Al-Aziz

Al-Qaulu Al-Wajiz fi Ahkam Al-Aziz karya Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Yusuf bin Muhammad Al-Halabi (w. 756 H),

c. Al-Iklil :  As-Suyuthi

As-Suyuthi (w. 911 H) menulis tafsir yang disebut dengan Al-Iklil fi Istimbath At-Tahlil.  Tafsir ini teramat tipis, hanya memberi penjelasan singkat dari ayat-ayat pilihan, terdiri dari satu jilid dengan  tebal hanya 306 halaman.

Sayangnya kita tidak memenukan kitab tafsir yang terkait ayat hukum karya para ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah. Jangankan tafsir ayat hukum, bahkan sekedar kitab tafsir yang bersifat umum pun juga tidak ada yang dapat disebutkan.

Di luar kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama mazhab, kita juga menemukan beberapa kitab tafsir yang ditulis oleh tokoh-tokoh yang tidak mewakili mazhab tertentu.

a. Fathul Qadir : Asy-Syaukani

Al-Imam Asy-Syaukani juga menyusun kitab tafsir yang lebih menekankan aspek hukum fiqih. Kitab beliau berjudul Fathul Qadir (فتح القدير).  Kitab ini banyak dijadikan rujukan dalam banyak fakultas syariah, misalnya di Universitas Islam Muhammad Ibnu Suud Al-Islamiyah.

Meski tidak setebal kitab Al-Jami' li Ahkamil Quran, namun kitab ini cukup lengkap mengupas banyak ayat-ayat hukum di dalamnya.

b. Ahkam Al-Quran Al-Kariem : Ibnul Arabi

Kitab tafsir lain yang juga berkonsentrasi terhadap hukum-hukum syariat adalah karya Ibnul Arabi Beliau telah menulis kitab dengan judul Tafsir Ahkam Al-Quran Al-Kariem        

a. Tafsir Ayat Al-Ahkam : Ali Ash-Shabuni

Dan ada juga para ulama yang menyusun kitab tafsir berdasarkan hanya pada ayat-ayat tertentu yang secara tegas menjelaskan hukum fiqih.

Kitab tafsir seperti ini sering juga disebut tafsir maudhu'i (tematik), karena ditulis tidak berdasarkan urutan ayat-ayat Al-Quran secara lengkap, tetapi terbatas hanya pada ayat-ayat pilihan saja, yang terkait dengan hukum-uhkum syariah.

Salah satunya yang cukup masyhur adalah Tafsir Shafwatu At-Tafasir, karya muhammad Ali Ash-Shabuni. Terbit dalam 3 jilid dan berisi khusus hanya ayat-ayat yang ada kandungan hukumnya saja.

b. Tafsir Ayat Al-Ahkam : As-Sayis

Tafsir ini ditulis oleh Muhammad Ali As-Sayis, merupakan kitab tafsir modern yang mengkhususkan diri pada ayat-ayat yang dipandang mengandung penjelasan detail masalah fiqihiyah.

Kitab setebal kurang lebih 829 halaman banyak disebut  sebagai kitab tafsir yang cukup baik untuk dijadikan rujukan dalam membahas tafsir ayat hukum.

c. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili

Tafsir Al-Munir ini ditulis oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili secara sistematis mulai dari qiraat, kemudian i’rab, balaghah, mufradat lughawiyyah, selanjutnya asbabunnzul, munasabah ayat. Setelah itu Beliau membahas tafsir dan penjelasannya. Terakhir tentang fiqih kehidupan atau hukum-hukum yang terkandung pada tiap –tiap tema pembahasan.

Kalau ada ikhtilaf, Beliau memberikan jalan tengah terhadap perdebatan antar ulama madzhab yang berkaitan dengan ayat-ayat ahkam, dan mencantumkan footnoteketika pengambilan sumber dan kutipan. Kitab tafsir ini tampil dengan cukup tebal, yaitu 30 jilid besar.

[1] Dr. Ali bin Sulaiman Al-Ubaid, Tafasir Ayat Al-Ahkam wa Manahijuha, jilid 1 hal. 125

[2] Al-Imam Al-Ghazali, Al-Mustashfa jilid 4 hal. 6. Al-Imam Ar-Razi, Al-Mahshul jilid 2 hal. 33. Al-Mawardi, Adabul Qadhi, jilid 1 hal. 282.

[3] Syarah At-Tanqih hal. 476

[4] Dr. Husein Adz-Dzahabi, At-Tafsir wa Al-Mufassirun, jilid 2 hlm. 328

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:53 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img