All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 3. As-Sunnah

Bab 3 : As-Sunnah

Sumber hukum fiqih yang kedua setelah Al-Quran adalah As-Sunnah An-Nabawiyah, atau sering juga disebut dengan hadits nabi. As-Sunnah merupakan sumber syariat Islam setelah Al-Quran dan berfungsi merinci garis besar Al-Quran, menjelaskan yang musykil, membatasi yang muthlak, dan memberikan penjelasan hukum.

As-Sunnah pada dasarnya adalah wahyu dari Allah SWT juga, hanya saja ada perbedaan yang nyata dibandingkan dengan Al-Quran.

A. Pengertian

Pengertian sunnah kita bagi berdasarkan bahasa dan juga berdasarkan istilah yang digunakan.

1. Bahasa

Secara bahasa, kata ’sunnah’ dipahami dengan beragam  arti serta bermacam penggunaan, di antaranya :

  • At-thariqah (الطّرِيقةُ) : tata cara.
  • Al-‘adah (العادةُ)         : adat atau kebiasaan.
  • As-sirah (السِّيرةُ)        : perilaku.

Di dalam hadits nabawi disebutkan istilah sunnah dengan makna bahasa, misalnya :

من سنّ فِي االإسلامِ سُنّةً حسنةً فلهُ أجرُها وأجرُ من عمِل بِها بعدهُ مِن غيرِ أن ينقُص مِن أُجُورِهِم شيءٌ . ومن سنّ فِي االإسلامِ سُنّةً سيِّئةً فعليهِ وِزرُها ووِزرُ من عمِل بِها بعدهُ مِن غيرِ أن ينقُص مِن أوزارِهِم شيءٌ

Siapa menjalani memulai dalam Islam kebiasaan yang baik, maka baginya pahala amalnya dan pahala dari orang yang mengerjakan dengannya tanpa dikurangi dari pahala mereka. Dan siapa memulai kebiasaan yang buruk dalam Islam maka dia mendapat dosa dari amalnya dan dosa orang yang mengerjakan keburukan karenanya tanpa mengurangi dari dosa-dosa mereka. (HR. Muslim)

2. Istilah

Istilah sunnah adalah istilah yang banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dengan makna dan pengertian yang berbeda dan tidak saling berhubungan. Dan kesalahan dalam menempatkan makna sesuai dengan disiplin ilmu justru seringkali membuat banyak umat Islam terjebak dalam perdebatan yang tidak ada habisnya.

a. Sunnah Menurut Ilmu Ushul Fiqih

Dalam pembahasan ini, istilah sunnah yang kita pakai menurut istilah disiplin ilmu ahli ushul, bukan menurut ahli fiqih. Menurut disiplin ilmu ushul, sunnah adalah :

ما ورد عنِ النّبِيِّ   مِن قولٍ أو فِعلٍ أو تقرِيرٍ

Segala yang diriwayat dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrir (sikap mendiamkan sesuatu yang dilihatnya).

Dengan kata lain, pengertian sunnah menurut disiplin ilmu ushul fiqih sama dengan pengertian hadits dalam ilmu hadits.

Rasulullah SAW pernah menggunakan istilah sunnah dengan maksud untuk menyebutkan sumber kedua dari agama Islam.

لقد تركتُ فِيكُم أمرينِ لن تضِلُّوا أبدًا ما إِن تمسّكتُم بِهِما: كِتاب اللهِ وسُنّةِ رسُولِهِ

Sungguh telah aku tinggalkan dua hal yang tidak akan membuatmu sesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah rasulnya. (HR Malik)

b. Sunnah Menurut Ilmu Fiqih

Sedangkan pengertian sunnah menurut para ahli fiqih adalah :

ما يُثابُ فاعِالُهُ ولا يُعاقبُ تارِكُهُ

Segala tindakan dimana pelakunya mendapat pahala dan yang tidak melakukannya tidak berdosa.

Para ahli fiqih sering menggunakan istilah sunnah sebagai nama dari suatu status hukum. Misalnya ada shalat fardhu dan ada shalat sunnah. Shalat fardhu itu bila dikerjakan akan mendatangkan pahala sedangkan bila tidak dikerjakan akan mendatangkan dosa. Sedangkan shalat sunnah bila dikerjakan mendapatkan pahala tapi bila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Dari perbedaan definisi sunnah di atas, kita harus membedakan antara sunnah Nabi dengan perbuatan yang hukumnya sunnah.

Kita ambil contoh yang mudah. Nabi SAW disebutkan dalam banyak hadits punya penampilan yang khas, seperti  berjenggot, berjubah, bersorban, pakai selendang hijau, berambut panjang, berpegangan pada tongkat saat berkhutbah, makan dengan tiga jari, mengunyah 33 kali, beristinja’menggunakan batu, minum susu kambing mentah tanpa dimasak yang diminum bersama banyak orang dari satu wadah, mencelupkan lalat ke dalam air minum, dan banyak lagi.

Semua itu kalau dilihat dari pengertian sunnah dalam ilmu ushul fiqih, memang merupakan perbuatan Nabi SAW. Akan tetapi kalau dilihat dari Ilmu Fiqih, meski sebuah perbuatan itu dilakukan oleh Nabi SAW, secara hukum belum tentu menjadi sunnah yang berpahala bila dikerjakan.

Kadang perbuatan Nabi SAW secara hukum menjadi wajib bagi umat Islam, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan, berhaji ke Baitullah, dan lainnya. Tetapi perbuatan Nabi SAW hukumnya hanya menjadi sunnah, seperti shalat Tahajjud, shalat Dhuha, puasa Senin Kamis, puasa hari Arafah, puasa 6 hari bulan Syawwal dan lainnya. Bila seorang muslim mengerjakannya tentu mendapat pahala, tetapi bila tidak dikerjakan, dia tentu tidak akan berdosa, karena hukumnya sunnah.

Kadang perbuatan yang dilakukan oleh Nabi SAW malah haram hukumnya bagi umat Islam, misalnya ketika Nabi SAW berpuasa wishal, yaitu puasa yang bersambung-sambung beberapa hari tanpa berbuka. Juga haram hukumnya bagi umat Islam untuk beristri lebih dari 4 orang, padahal beliau SAW beristrikan 11 wanita.

Dan dalam beberapa kasus, kadang apa yang dihalalkan buat umat Islam justru diharamkan bagi Rasulullah SAW dan keluarga beliau, misalnya menerima harta zakat.

Maka bisa kita simpulkan bahwa sunnah Nabi SAW dalam arti perbuatan beliau belum tentu lantas hukumnya menjadi sunnah juga buat umatnya.  

c. Sunnah Menurut Ahli Kalam

Para ulama ahli kalam juga sering menggunakan istilah sunnah untuk menyebutkan kelompok yang selamat aqidahnya, sebagai lawan dari aqidah yang keliru dan sesat.

Mereka menggunakan istilah ahlussunnah, untuk membedakan dengan ahli bid’ah, yang maksudnya adalah aliran-aliran ilmu kalam yang dianggap punya landasan aqidah yang menyimpang dari apa yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat.

Maka kita mengenal istilah ’sunni’ untuk umat yang beraqidah lurus dan seusai dengan ajaran Nabi SAW, dan membuat istilah syi’ah, muktazilah, qadariyah, jabariyah, khawarij, dan lainnya  untuk menegaskan bahwa aliran-aliran itu  tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan oleh Nabi SAW.

3. Hakikat As-Sunnah Adalah Wahyu Allah

Pada hakikatnya as-sunnah dalam arti hadits tidak lain adalah wahyu dari Allah SWT, dan bukan semata-mata perbuatan dan perkataan Nabi SAW. Sebab perbuatan dan perkataan Nabi SAW sesungguhnya berlandaskan wahyu dari Allah SWT, dan bukan datang dari diri atau nafsu beliau sendiri.

Hal ini ditegaskan di dalam Al-Quran Al-Kariem yang menyebutkan bahwa semua perkataan Nabi SAW adalah wahyu dari Allah SWT :

وَالنَّجمِ إِذَا هَوَى مَا ضَلَّ صَاحِبُكُم وَمَا غَوَى وَمَا يَنطِقُ عَنِ الهَوَى إِن هُوَ إِلا وَحيٌ يُوحَى عَلَّمَهُ شَدِيدُ القُوَى

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat. (QS. An-Najm : 1-5)

B. Penggunaan Istilah Sunnah dan Hadits

Seringkali kita mencampur-adukkan antara istilah As-Sunnah dan istilah Al-Hadits. Memang antara kedua istilah itu ada kesamaan, namun tetap saja ada perbedaan.

1. Pengertian Al-Hadits

Kata al-hadits (الحديث) dalam bahasa Arab punya banyak makna, salah satunya berarti baru (الحديد). Dan hadits juga berarti perkataan, sebagaimana firman Allah SWT :

فما لِهـؤُلاء القومِ لا يكادُون يفقهُون حدِيثاً

Maka mengapa orang-orang itu  hampir-hampir tidak memahami pembicaraan  sedikitpun? (QS. An-Nisa’ : 78)

Sedangkan secara istilah, di dalam ilmu hadits, yang dimaksud dengan hadits adalah :

ما أُضِيف إِلى النّبِيِّ مِن قولٍ أو فِعلٍ أو تقرِيرٍ أو وصفٍ خِلقِيٍّ أو خُلُقِيٍّ.

Segala hal yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat khilqiyah dan khuluqiyah.

Sifat khilqiyah maksudnya adalah sifat-sifat yang berupa wujud pisik, seperti warna kulit, warna rambut, bentuk wajah, dan semua ciri-ciri pisik lainnya. Sedangkan sifat khuluqiyah maksudnya adalah segala sifat yang berupa sikap, tingkah laku, tata cara, gestur, dan hal-hal sejenisnya.

2. Kesamaan & Perbedaan Al-Hadits dan As-Sunnah

Kalau dilihat sekilas, nampak seolah-oleh antara istilah Al-Hadits dan As-Sunnah tidak ada perbedaan yang berarti. Dan seringkali orang menyamakan begitu saja antara keduanya, karena sama-sama membicarakan tentang perkataan, perbuatan, dan taqrir yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW, termasuk sifat khilqiyah dan khuluqiyah beliau.

Namun kalau kita teliti lebih dalam, sesungguhnya di antara keduanya ada perbedaan, antara lain :

a. Ruang Lingkup

Istilah Al-Hadits tidak hanya mencakup apa-apa yang disandarkan kepada Nabi SAW saja, tetapi apa yang menjadi ucapan dan perbuatan para shahabat pun termasuk di dalam hadits. Karena kita mengenal istilah hadits mauquf  dan  hadits maqthu.’

Hadits maufuq adalah hadits yang periwayatannya tidak sampai kepada Nabi SAW, namun berhenti sampai kepada level shahabat saja. Sedangkan Hadits mauquf adalah hadits yang periwayatannya hanya sampai ke level tabi’in.[1]

Sedangkan ketika kita menyebut istilah As-Sunnah, maksudnya selalu sunnah Rasulullah SAW, dan bukan sunnah dari para shahabat beliau.

b. Kekuatan Periwayatan

Ketika kita menyebut istilah al-hadits, maka termasuk pula di dalamnya semua jenis hadits, baik yang shahih, hasan, atau pun yang dhaif. Bahkan termasuk juga disebut hadits walau pun sebenarnya semata-mata hanya hadits palsu. Kita mengenal istilah hadits maudhu’.

Namun kita tidak pernah menyebut istilah sunnah hasan atau sunnah dhaif, apalagi sunnah palsu. Sebab istilah as-sunnah sudah memastikan hanya apa-apa yang shahih dari Rasulullah SAW, dan tidak termasuk yang lemah atau yang palsu.

C. Inkarus-Sunnah

Inkarussunnah berasal dari dua kata, inkar dan sunnah. Yang dimaksud dengan ingkar adalah penolakan, penafian atau sikap untuk tidak mengakui kebenaran sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan sunnah adalah hadits-hadits Rasulullah SAW. Jadi ingkarussunnah adalah paham yang mengingkari keberadaan hadits-hadits Rasulullah SAW.

Paham ini bukan sekedar berbahaya, bahkan pada hakikatnya merupakan pengingkaran terhadap agama Islam itu sendiri. Jadi orang yang mengingkari eksistensi hadits-hadits Nabi SAW, pada hakikatnya dia telah mengingkari agama Islam.

Sebab Islam itu dilandasi oleh dua pilar utama, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW kepada kita semua.

Bila dirunut ke belakang, paham ini lahir dari sebuah peperangan modern antara umat Islam di satu pihak dengan musuh-musuhnya di pihak lain. Mereka adalah para orientalis barat yang mengaku telah mempelajari agama Islam, bukan dengan niat untuk mengamalkannya, melainkan dengan niat untuk menghina, menjelekkan, menyesatkan dan membuat umat Islam bingung. Bahkan bukan sekedar bingung, tetapi juga tersesat dan murtad dari agamanya.

Munculnya orientalisme tidak terlepas dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya, antara lain akibat perang Salib atau ketika dimulainya pergesekan politik dan agama antara Islam. Para orientalis jahat ini banyak menghujat agama Islam dengan mengatakan bahwa hadits Nabi itu palsu semua, tidak ada yang asli, hanya karangan ulama yang hidup beberapa ratus tahun setelah kematian Nabi Muhammad SAW.

Pemikiran mereka bisa kita baca dalam banyak buku, antara lain buku The Origins Of Muhammadan Juresprudence dan An Introduction to Islamic Law

Deretan nama orientalis lainnya adalah Goldziher yang jadi gembong anti Islam. Dialah yang telah merusak aqidah umat Islam dengan beragam pemikiran sesatnya. Selain itu ada lagi nama-nama seperti H.A.R. Gibb, Wilfred Cantwell Smith, Montgomery Watts, Gustave von Grunebaum dan lainnya.

Tulisan mereka seringkali dijadikan rujukan oleh orang-orang Islam yang lemah mental dan tidak punya rasa percaya diri, meski sudah menyandang gelar doktor sekalipun. Sehingga apa pun yang orientalis katakan, seolah sudah pasti kebenarannya.

Termasuk rasa rendah diri ketika dituduhkan bahwa hadits Nabi itu palsu semua. Mereka pun dengan naifnya mengaminkan saja. Sebab di dalam kepala mereka, memang tidak ada ilmu tentang itu.

Padahal apa yang dikatakan oleh para orientalis itu tidak lebih dari sekedar tuduhan tanpa dasar.

Dari mana datangnya rasa rendah diri yang hina seperti itu? Jawabnya sangat mudah, yaitu karena para 'cendekiawan muslim' itu belajar Islam kepada para orientalis itu. Padahal orientalis justru sangat bodoh terhadap agama Islam. Kebanyakan mereka tidak paham bahasa Arab, apalagi syariah Islam. Tidak satu pun yang hafal Al-Quran, apalagi hadits nabawi.

Dan yang pasti, umumnya mereka juga tidak pernah mengakui Islam sebagai agama, tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, tidak mengakui Al-Quran sebagai firman Allah SWT

Bagaimana mungkin orang yang kafir kepada Allah SWT dan calon penghuni neraka itu dijadikan guru? Betapa lucunya, belajar agama Islam dari orang kafir yang jelas-jelas punya niat busuk pada Islam. Memang tidak masuk akal dan sangat tidak logis cara berpikir para 'cendekiawan' itu. Layakkah mereka menyandang gelar sebagai cendekiawan bila level pemikirannya hanya sebatas itu?

Kebenaran Hadits Nabawi

Seharusnya para cendekiawan itu tidak belajar ke barat. Dan mereka tidak perlu menelan bulat-bulat sampah pemikiran para orientalis bejat itu. Seharusnya mereka belajar ke timur tengah, tempat di mana ilmu-ilmu ke-Islaman berpusat, misalnya ke Al-Azhar Mesir atau ke Universitas Islam terkemuka dunia. Hal itu mengingat bahwa disana terdapat para dosen yang memang benar-benar punya legalitas, kapasitas dan otoritas sebagai ulama.

Seandainya mereka belajar kepada ulama, tentu mereka akan tahu betapa canggihnya sistem periwayatan hadits. Tidak pernah manusia mengenal sistem periwayatan bersanad sebelumnya. Ilmu hadits menjadi sangat unik dan tidak pernah ditemukan di peradaban manapun, kecuali di dalam sejarah Islam.

Mereka yang mengingkari keberadaan dan keshahihan hadits-hadits nabawi berarti memang belum pernah belajar agama Islam dengan benar. Mereka hanya menjadi budak para yahudi laknatullah, yang jelas-jelas menghina dan menjelekkan agama Islam. Demi sekedar mendapatkan gelar yang memberhala.

Lalu mengapa mereka pergi ke barat?

Kembali kepada masalah mentalitas kampungan, rasa rendah diri dan inferiority complex yang melanda para mahasiswa muslim. Ketika ditawarkan beasiswa ke barat seperti Eropa, Amerika atau Australia, terbayanglah mereka masuk ke sebuah peradaban modern dan maju.

Dan bagaikan Kabayan masuk kota, sikap mereka pun lantas menjadi norak dan kampungan. Lantas mereka menjadi rendah diri dan mulai mengagumi serta mengelu-elukan pemikiran para guru besar yang nota bene bukan muslim.

Ketika pulang ke negerinya dengan berbagai gelar, mulailah mesin pemurtadan pemikiran berjalan. Kuliah, buku, makalah serta pemikiran mereka, seluruhnya hanya punya satu tujuan, yaitu menyesatkan dan memurtadkan umat Islam.

Dan karena mereka jadi dosen di berbagai kampus Islam, kerusakan pemikiran pun menjadi sedemikian rata.

Dan salah satunya adalah pemikiran ingkarus sunnah, yang kemudian ikut berkembang di banyak kalangan. Korbannya tidak lain umat Islam sendiri, yang lagi-lagi tertipu dengan pesona kecendekiawanan tokoh tertentu. Mereka ini adalah hamba-hamba Allah yang perlu diselamatkan dari racun ingkarus sunnah.

Saat ini tidak terhiung orang yang sudah jadi korban. Dan racun ini terus bekerja, terutama sangat efektif pada korban yang punya rasa rendah diri yang akut dan hina, serta kosongnya kepala dari ilmu syariah.

D. Kitab-kitab Hadits

Ada begitu banyak kitab yang disusun oleh para ahli hadits yang berisi hadits-hadits nabawi. Dari sekian banyak itu kita bisa membaginya berdasarkan kategori.

1. Kitab Al-Jawami’

Al-Jawami’ (الجوامع) adalah bentuk jama’ dari al-jami’(الجامع), artinya kitab yang menghimpun banyak tema, seperti tema aqidah, fiqih, muamalah, akhlaq, sirah, syamail, fadhail dan lainnya.

Kitab Shahih Bukhari dari segi tema termasuk kategori al-jawami’ ini, karena isinya punya banyak tema. Nama resmi kitab itu adalah Al-Jami’ Ash-Shahih Al- Musnadu min Haditsi Rasulillah SAW dan juga Al-Jami’ Ash-Shahih karya Imam Muslim.

a. Shahih Bukhari

Kitab ini sebenarnya bernama Al-Jami’ Ash-Shahih Al- Musnadu min Haditsi Rasulillah SAW, namun orang lebih mudah menyebutnya sebagai Shahih Bukhari.

Penulisnya adalah Imam Bukhari (194 H – 252 H / 810 M – 870 M), kelahiran Bukhara di Uzbekistan. Beliau berkelana hampir ke seluruh kota kota besar Wilayah Daulah Islam untuk mencari hadits. Beliau adalah orang yang mempunyai hafalan yang luar biasa, beliau hafal sampai ratusan ribu hadits beserta semua rawi-rawinya.

Kitab Shahih Bukhari disusun dalam waktu 16 tahun, terdiri dari 7.000-an hadits terulang-ulang atau 2.602 hadits kalau tidak diulang-ulang. Setiap menuliskan hadits dalam kitab shahihnya, beliau melakukan shalat sunnah 2 rakaat. Jumhur ulama sepakat menilai kitab Shahih Bukhari ini paling tinggi tingkat keshahihan dan mutunya.

b. Shahih Muslim

Penulisnya adalah Imam Abul Husain Muslim Bin Hajaj Al Qusyairy (204 H-261 H / 820 M-875M). Beliau sesungguhnya masih terhitung murid Al-Bukhari. Sama seperti gurunya beliau berkelana hampir ke seluruh kota kota besar dalam mencari hadits.

Sesuai dengan namanya, hanya hadits-hadits yang shahih saja yang termaktub dalam kitab ini, namun tingkat keshahihan dan mutu haditsnya berada dibawah Shahih Bukhari.

Dari segi sistematika penulisan, kitab Shahih Muslim lebih baik bila dibandingkan dengan kitab Shahih Bukhari, karena lebih mudah mencari hadits di dalamnya. Kitab Shahih Muslim berisi sekitar 4.000 hadits yang tidak diulang-ulang.

c. Jami’ At-Tirmidzi

Penulisnya adalah Imam Abu ‘Isa Muhammad Bin Isa Bin Surah (200 H-279 H / 824 M- 892 M), termasuk murid Imam Bukhari. At-Tirmidzi berkata,”Aku tidak memasukkan ke dalam kitab ini terkecuali hadits yang sekurang-kurangnya telah diamalkan oleh sebagian fuqaha”.

Beliau menulis hadits dengan menerangkan yang shahih dan yang tercacat serta sebab-sebabnya sebagaimana beliau menerangkan pula mana-mana yang diamalkan dan mana-mana yang ditinggalkan. Kitab Sunan Turmudzy isinya jarang yang berulang-ulang.

2. Kitab Al-Masanid

Al-Masanid (المسانيد) adalah bentuk jama’ dari musnad (مسند). Yang dimaksud dengan kitab musnad adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan sanad yaitu perawinya. Dalam hal ini urutannya berdasarkan perawi pertama  di level para shahabat. Di antara contoh kitab musnad adalah

a. Musnad Ar-Rabi’ bin Hubaib

Musnad ini disusun oleh Musnad Ar-Rabi’ bin Hubaib (w. 170 H), terdiri dari 654 hadits.

b. Musnad  Abu Daud Ath-Thayalisi

Penulisnya adalah Abu Daud Ath-Thayalisi (w. 204 H), menghimpun 177 shahabat yang terdiri dari 2.767 hadits.

c. Musnad Al-Humaidi

Musnad ini disusun oleh Al-Humaidi (w. 219 H). Di dalamnya tercakup 180 shahabat dan terdiri dari 1.300 hadits.

d. Musnad Imam Ahmad

Kitab karya Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) ini berisi hadits-hadits yang disusun berdasarkan perawi pertamanya, yaitu para shahabat yang mencapai 1.077, 21 diantaranya adalah wanita shahabiyah. Dimulai dari para shahabat yang dijamin masuk surga, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Abdurrahman bin Auf, dan seterusnya.

Jumlahnya mencapai 40.000 hadits bila terulang-ulang. Dan bila tidak diulang-ulang, jumlahnya 27.000-an hadits. Asy-Syaikh Al-Banna kemudian merapikannya sesuai bab fiqih, dan dinamakan Al-Fathu Ar-Rabbani li Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hanbal Asy-Syabani. Tebalnya mencapai 14 jilid.

e. Musnad Ishaq bin Rahawih

Penyusunnya adalah Musnad Ishaq bin Rahawih (w. 238 H)

3.  Kitab As-Sunan

Jenis kitab As-Sunan maksudnya adalah kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih. Biasaya dimulai dengan bab thaharah, kemudian shalat, puasa atau zakat, haji dan seterusnya. Contoh kitab sunan adalah Sunan An-Nasa’i, Sunan Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah.

a . Sunan An-Nasa’i

Judul asli kitab Sunan An-Nasa’i  ini adalah Al-Mujtaba Minas Sunan, yang berarti sunan-sunan pilihan. Penulisnya adalah Imam Abu ‘Abdir Rahman Ahmad Bin Syu’aib bin Bahr (215 H-303 H / 839 M-915 M).

Mulanya kitab sunan ini diserahkan kepada seorang Amir di Ramlah, Amir itu bertanya,”Apakah isi sunan ini shahih seluruhnya?”. Imam An-Nasa’i menjawab,”Isinya ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang hampir serupa dengan keduanya”.

Kemudian sang Amir berkata lagi,”Pisahkanlah yang shahih saja”. Sesudah itu An-Nasa’i pun menyaring kitab itu dan menyalin yang shahih saja dalam sebuah kitab yang dinamai Al-Mujtaba yang berarti pilihan.

b. Sunan Abu Dawud

Penulisnya adalah Imam Abu Dawud Sulaiman Bin Al-Asy’ats Bin Ishaq As-Sijistany (202 H-275 H / 817 M- 889 M). Beliau mengaku mendengar hadits sampai 500.000 buah, kemudian beliau seleksi dan ditulis sebanyak 4.800 buah dan beliau berkata,”Saya tidak meletakkan sebuah hadits yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Saya jelaskan dalam kitab tersebut nilainya dengan shahih, semi shahih, mendekati shahih, dan jika dalam kitab saya tersebut terdapat hadits yang sangat lemah, maka saya jelaskan.

Adapun yang tidak saya beri penjelasan sedikitpun, maka hadits tersebut bernilai shahih dan sebagian dari hadits yang shahih ini ada yang lebih shahih daripada yang lain.”

c. Sunan Ibnu Majah

Penulisnya adalah Imam Abdu Abdillah Bin Yazid Ibnu Majah (207 H- 273H / 824 M- 887 M), berasal dari kota Qazwin di Iran. Dalam kitab sunan Ibnu Majah ini terdapat beberapa hadits dhaif, gharib dan ada yang munkar.

Oleh karena itu Al-Muzy menilai bahwa kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik lebih tinggi mutunya dari Sunan Ibnu Majah. Sedangkan Ibnu Hajar berpendapat bahwa kitab induk yang ke enam adalah bukan Sunan Ibnu Majah melainkan Sunan Ad-Darimi. Ahmad Muhammad Syakir berpendapat Al-Muntaqa karya Ibnu Jarud lebih pantas menjadi yang keenam.

4. Kitab Mushannafat

Kitab mushannafat adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan bab-bab juga, namun di dalamnya terkandung hadits yang mauquf dan maqthu’, termasuk juga hadits marfu’. Contohnya adalah Mushannaf Abdurraqaz  bin Humam Ash-Shan’ani (w. 211 H) dan Mushannaf Abu Bakar bin Abi Syaibah (w. 235 H) dan

5. Kitab Al-Mustadrakat

Kitab mustadrakat maksudnya adalah kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits yang memenuhi syarat salah satu mushannif (ahli hadits) namun hadits itu sendiri tidak dituliskannya.

Contohnya adalah Mustadrak Al-Hakim yang berisi hadits-hadits shahih sesuai dengan syarat dan kriteria Al-Bukhari, namun hadits itu tidak terdapat pada Shahih Bukhari yang asli.

E. Hadits Shahih Masih Butuh Istimbath Hukum

Banyak orang mengira bahwa apabila suatu hadits sudah dipastikan keshahihannnya, maka langsung bisa ditarik kesimpulan hukumnya sesuai dengan zahir teks yang dipahami pertama kali.

Dan tidak sedikit orang yang keliru memahami para ulama mazhab yang berkata bahwa apabila suatu hadits itu shahih maka itu menjadi mazhabku.

Seolah-olah tidak dibutuhkan lagi ijtihad dan istimbath hukum, karena sudah ada dua kitab shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Seolah-olah kedua kitab shahih itu sudah menyelesaikan semua masalah dan tidak dibutuhkan lagi kajian yang mendalam tentang hukum-hukum syariah.

Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Masih ada banyak hal yang harus dipastikan terlebih dahulu, antara lain misalnya :

1. Tidak Ada Ta'arudh

Ta'arudh artinya bertentangan, maksudnya isi suatu hadits kadang bertentangan tegak lurus dengan isi hadits lainnya, padahal sama-sama shahihnya. Hal ini bukan tidak mungkin, bahkan justru seringkali terjadi.

Dan ternyata ta'arudh bainal adillah (pertentangan antara dalil) bukan hanya terjadi dengan sesama hadits, bahkan ayat Al-Quran yang satu dengan yang lain seringkali terasa bertentangan isinya.

Kalau kita perhatikan, ada beberapa ayat Al-Quran yang secara zahir saling bertentangan. Misalnya ayat berikut ini yang berbicara tentang hukum menjual khamar sebagai rezeki yang baik.

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالأَعنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنهُ سَكَرًا وَرِزقًا حَسَنًا

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. (QS. An-Nahl : 67)

Sementara di ayat lain Allah SWT tegas mengharamkan khamar dan dikatakan perbuatan setan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الخَمرُ وَالمَيسِرُ وَالأَنصَاب وَالأَزلاَمُ رِجسٌ مِّن عَمَلِ الشَّيطَانِ فَاجتَنِبُوهُ لَعَلَّكُم تُفلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya  khamar, berjudi,  berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(QS. Al-Maidah : 90)

Oleh karena itu dibutuhkan proses panjang untuk menarik kesimpulan hukum, tidak cukup hanya baca satu hadits lantas kita bilang bahwa hukum suatu masalah adalah begitu dan begitu, semata-mata berdasarkan satu hadits saja.

2. Tidak Mansukh

Kalau pada ayat-ayat Al-Quran yang kebenaran riwayatnya sudah qath'i, kita masih mengenal istilah nasakh dan mansukh, sehingga ada ayat-ayat tertentu yang disepakati oleh para ulama sudah tidak lagi berlaku hukum-hukumnya, maka hal yang sama juga berlaku pada hadits-hadits nabawi.

Maka tidak mentang-mentang sebuah hadits itu shahih, lantas kita dengan seenaknya main pakai hadits itu untuk dijadikan dalil syariah.

Seorang ahli syariah dan mujtahid harus meneliti terlebih dahulu dengan seksama, adakah hadits yang shahih itu masih berlaku, ataukah sudah dihapus dengan datangnya hadits shahih yang lain.

Ada beberapa contoh kasus dimana hukum yang terdapat dalam hadits yang shahih kemudian dihapus dengan dalil yang lain yang datang kemudian. Di antara contohnya adalah dihapusnya hadits yang membolehkan nikah mut’ah, kewajiban mandi sehabis memandikan mayat dan perintah membunuh peminum khamar yang sudah tiga kali dicambuk.

a. Dihapuskannya Hadits Nikah Mut'ah

Di hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim ada hadits shahih membolehkan nikah mut’ah.

قَالَ عَبدُ اللهِ كُنَّا نَغزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ  وَلَيسَ لَناَ شَيءٌ فَقُلنَا:أَلاَ نَستَخصِي ؟ فَنَهَانَا عَن ذَلِكَ ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَن نَنكِحَ المـَرأَةَ بِالثَّوبِ

Abdullah berkata,"Kami perang bersama Rasulullah SAW dan kami tidak mengajak istri, kami berkata,"Apakah sebaiknya kita mengebiri?". Rasulullah SAW melarang kami melakukannya namun beliau mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan selembar pakaian (HR. Bukhari Muslim)

Namun hadits di atas dihapus dan dinyatakan tidak lagi berlaku dengan hadits berikut ini :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ  نَهَى عَن مُتعَةِ النِّسَاءِ يَومَ خَيبَر

Bahwa Rasulullah SAW mengharamkan menikahi wanita secara mut'ah pada saat Perang Khaibar

Hadis yang terakhir disebut adalah hadis yang disebut sebagai nasikh atau penghapus, sementara hadis yang pertama disebut mansukh atau yang dihapus. Hadis yang terakhir secara historis datang lebih akhir dibanding hadis yang sebelumnya.

b. Kewajiban Mandi Sehabis Memandikan Jenazah

Contoh lainnya adalah hadis tentang kewajiban mandi bagi seseorang yang mengantarkan dan membawa jenazah.

مَن غَسَّلَ مَيِّتًا فَليَغتَسِل

Siapa yang memandikan jenazah maka dia wajib mandi (janabah). (HR. Ibnu Majah)

Sementara hadis yang menaskhnya adalah hadis:

لَيسَ عَلَيكُم فيِ غَسلِ مَيِّتِكُم غُسلٌ إِذَا غَسَلتُمُوهُ فَإِنَّ مَيِّتَكُم لَيسَ بِنَجِسٍ فَحَسبُكُم أَن تَغسِلُوا أَيدِيكُم

Tidak ada keharusan atas kalian untuk mandi karena memandikan jenazah. Apabila kalian memandikan jenazah, jenazah itu tidak najis, maka cukuplah kalian mencuci tangan kalian saja.

c. Membunuh Peminum Khamar

Contoh lain adalah perintah membunuh peminum khamar yang meminum khamar untuk keempat kalinya. Hadis itu berbunyi:

مَن شَرِبَ الخَمرَ فاَجلِدُوهُ فَإِن عَادَ فيِ الرَّابِعَةِ فاَقتُلُوهُ

Orang yang minum khamar maka cambuklah, kalau masih minum juga untuk yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.

Kemudian ada hadis lain yang menurut sejumlah ulama dinilai sebagai penghapus (nasikh), yakni hadis:

ثُمَّ أُتِيَ النَّبِيُّ r بَعدَ ذَلِكَ بِرَجُلٍ قَد شَرِبَ الخَمرَ فِي الرَّابِعَةِ فَضَرَبَهُ وَلَم يَقتُلهُ

Kemudian didatangkan kepada Nabi SAW orang yang minum khamar untuk yang keempatkalinya, maka beliau mencambuknya dan tidak membunuhnya.

d. Haramnya Ziarah Kubur

Berziarah ke kubur pada masa awal termasuk perbuatan yang haram dan terlarang, namun kemudian dihalalkan dan malah dianjurkan.

كُنتُ نَهَيتُكُم عَن زِيَارَةِ القُبُورِ أَلاَ فَزُورُوهَا فَإِنَّهاَ تَرِقُّ القَلبَ وَتَدمَعُ العَينَ وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ وَلاَ تَقُولُوا هَجرًا

Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak ketika berziarah” (HR. Al-Hakim)

e. Makanan Langsung Dibakar Api Membatalkan Wudhu'

Memakan makanan yang langsung dibakar dengan api di masa lalu termasuk perkara yang membatalkan wudhu'. Namun kemudian hukumnya dicabut dan tidak lagi berlaku, sehingga meski memakannya, tidak perlu memperbaharui wudhu'.

عَن جاَبِرِ بنِ عَبدِاللهِ : كَانَ أَخِرَ الأَمرَينِ مِن رَسُولِ اللهِ  تَركُ الوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Jabir bin Abdullah bahwa di antara dua perkara terakhir dari Rasululllah SAW adalah meninggalkan wudhu oleh sebab memakan makanan yang langsung dibakar api.

3. Tidak Ada Khilaf dalam Keshahihannya

Banyak orang salah mengerti bahwa bila ada satu pihak mengatakan bahwa suatu hadits itu shahih, lantas seolah-olah keshahihan hadits itu mutlak. Dan demikian juga sebaliknya, tidak mentang-mentang ada satu klaim bahwa sebuah hadits itu dhaif, maka sudah pasti mutlak kedhaifannya.

Sebenarnya tidak demikian duduk masalahnya. Penting untuk kita ketahui bahwa membuat hukum keshahihan atau kedhaifan suatu hadits itu sifatnya sangat ijtihadi, dan kembali kepada hasil ra'yu penilaian orang per-orang secara subjektif.

Kita sangat sering mendapatkan sebuah hadits dishahihkan oleh seorang ahli hadits, tetapi menurut ahli hadits yang lain, justru hadits itu dianggap dhaif. Dan kebalikannya juga berlaku sama.

Malah Al-Albani yang sering diklaim orang sebagai ahli hadits abad ini, justru sangat parah. Dia seringkali menyebutkan sebuah hadits itu dhaif sambil menuduh orang yang berhujjah dengan hadits tersebut sebagai pelaku bid'ah dan sesat, namun justru di kitabnya sendiri dia menulis bahwa hadits itu shahih.

Kalau perbedaan penilaian atas keshahihan suatu hadits itu datang dari dua orang atau dua kubu yang berbeda, rasanya masih masuk akal, tetapi aneh dengan Al-Albani ini, dia yang bilang dhaif tetapi dia sendiri juga bilang shahih. Dan sayangnya, kasus seperti ini bukan kasus keliru satu dua, melainkan melibat beratur bahkan beribu hadits.

Walhasil, setidaknya dari situ kita tahu bahwa tidak mentang-mentang ada fatwa bahwa suatu hadits itu shahih, lantas kita langsung menelan bulat-bulat, bahkan dijadikan dalil. Kita perlu melakukan penelitian secara lebih jauh, apakah vonis shahih itu masih merupakan pendapat orang  per-orang atau sudah seluruh ulama menyepakatinya?

F. Ilmu Kritik Hadits

Istilah Ilmu Kritik Hadits merupakan terjemahan bebas dari istilah aslinya dari bahasa Arab, yaitu naqd al-hadits (نقد الحديث).

Namun istilah ‘kritik’ disini maksudnya bukan kita melakukan kritik dalam arti menentang perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW. Yang dimaksud dengan kritik adalah upaya untuk meneliti hadits baik dari sisi kekuatan periwayatannya ataupun dari sisi bagaimana cara memahaminya.

1. Kritik Sanad

Berbeda dengan Al-Quran Al-Kariem yang mendapatkan jaminan terpelihara dari penyusupan dan pemalsuan, hadits nabawi tidak punya jaminan keshahihan dari langit. Artinya, sunnah Nabi bisa saja dipalsukan atau mengalami penyusupan dan penyimpangan periwayatannya.

a. Larangan Menuliskan Hadits

Di masa kenabian ada larangan untuk menuliskan hadits, karena dikhawatirkan akan tercampur dengan ayat-ayat Al-Quran yang juga sedang mengalami masa nuzulnya. Sehingga sejak awal memang tidak ada catatan hadits yang langsung kita terima dari era kenabian dan para shahabat. Sedangkan Al-Quran, keadaannya berbeda, yaitu sejak turun sudah ditulis oleh para penulis wahyu atas perintah Nabi SAW.

b. Jumlah Hadits Amat Banyak

Dibandingkan dengan jumlah ayat Al-Quran yang hanya 6200-an ayat, jumlah hadits sangat banyak sekali, mencapai jutaan bahkan mungkin malah tidak terhingga. Karena hadits adalah segala informasi yang dikaitkan dengan perbuatan, perkataan Nabi SAW, termasuk sikap diam beliau yang disebut dengan taqrir.

c. Sulitnya Menguasai Semua Hadits

Meski awalnya di masa shahabat belum ada pemalsuan hadits secara sengaja, namun terkadang ada para shahabat yang belum pernah mendengar suatu hadits dari Rasulullah SAW. Untuk itulah para shahabat saling meriwayatkan di antara sesama mereka. Dan kadang ketika meriwayatkan, dibutuhkan kesaksian yang bukan hanya dari satu orang untuk menguatkan dasar suatu hukum.

Salah contoh adalah ketika Abu Bakar diminta memberi fatwa tentang nenek perempuan yang mendapat bagian waris 1/6. Kasus ini terbilang jarang terjadi dan saat itu beliau tidak punya informasi yang beliau pahami dari fatwa Rasulullah SAW. Namun beliau kemudian diberitahu oleh Mughirah bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan demikian.

Maka untuk memastikan, Abu Bakar merasa perlu bertanya siapa lagi yang pernah mendengar Nabi SAW berkata demikian. Dan Ibnu Salamah mengatakan bahwa dia pernah mendengar hal itu dari Rasulullah SAW.

d. Adanya Pemalsuan Hadits

Namun di tahun 40-an hijriyah, ketika agama Islam melebarkan sayap dan mulai dipeluk oleh banyak orang, kualias keislaman mereka tidak sebanding.

Ada yang masuk Islam secara penuh kesadaran, tetapi tidak tertutup kemungkinan masuknya orang-orang yang berniat tidak baik ke dalam agama Islam. Atau orang-orang yang perilakunya kurang terpuji. Maka mulailah muncul hadits-hadits palsu yang dibuat berdasarkan kepentingan tertentu.

Maka kemudian para ulama mulai membuat banyak syarat dan ketentuan agar jangan sampai hadits-hadits Nabi terkontaminasi dengan berbagai kepalsuan.

Sejak abad kedua sampai keenam Hijriah tercatat usaha para ulama yang berusaha untuk merumuskan kaidah keshahihan hadis, sampai kemudian para ulama menetapkan persyaratan hadis shahih, yaitu sanadnya bersambung (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh para periwayat yang bersifat tsiqah (adil dan dhabit) sampai akhir sanad, dan dalam (sanad) hadis itu tidak terdapat kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illat).

Para ulama hadits menetapkan beberapa syarat untuk menyeleksi antara hadis-hadis yang shahih, di antaranya :

1. Ketersambungan Sanad

Ketersambungan sanad (اتصال السند) maksudnya adalah bahwa artinya setiap perawi benar-benar meriwayatkan hadits tersebut langsung dari orang perawi atau guru diatasnya. Begitu seterusnya hingga akhir sanad.

Kadang ada perawi yang dari angka tahun hidupnya sudah tidak mungkin bertemu dengan orang diklaim telah menyampaikan suatu hadits kepadanya. Maka segala kejanggalan ini diteliti dengan lebih seksama, demi untuk mendapatkan kepastian apakah sanad suatu hadits benar-benar tersambung hingga Rasulullah SAW atau tidak.

2. Al-Adalah Bagi Perawi

Selain masalah ketersambungan sanad, yang ikut menentukan keshahihan suatu hadits juga kualitas perawi.

Kualitas perawi biasanya ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek prilaku dan juga aspek kemampuan dalam menjaga hadits.

Kalau kita bicara tentang kualitas sifat-sifat yang ada diri seorang perawi, maka yang kita telusuri seputar perilaku dan akhlaq, atau biasa disebut dengan istilah al-’adalah ( عدالة الرواة)

Artinya setiap perawi harus seorang muslim yang sudah baligh dan berakal sehat yang tidak memiliki sifat fasiq serta terjaga wibawanya. Perbuatan fasik adalah perbuatan yang munkar dan tidak dibenarkan dalam syariat Islam.

3. Ad-Dhabtu bagi Perawi

Selain kualitas moral dan akhlaq, yang menjadi pertimbangan utama kedua adalah kualitas perawi hadits untuk menjaga keutuhan hadits, baik dari segi matan maupun dari segi silsilah periwayatan.

Biasanya kualitas perawi dalam hal seperti ini terkait dengan kekuatan hafalan atau catatan yang dimilikinya.

Dalam ilmu hadits masalah kemampuan untuk memelihara dan menjaga keutuhan hadits disebut dengan dhabth ar-rawi (ضبط الرواة ).

4. Tidak Ada Syadz

Syarat yang harus terpenuhi dalam hadits yang diriwayatkan haruslah hadits itu bebas dari cacat atau syadz (عدم الشذوذ). Artinya hadits tersebut tidak berpredikat syadz yaitu hadits yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lebih tsiqah (terpercaya).

5. Tidak Ada ‘Illat

Hadits tersebut bukan hadits yang terkena illat (عدم العلة), yaitu sifat samar yang mengakibatkan hadits tersebut cacat dalam penerimaanya, kendati secara lahiriyah hadits tersebut terbebas dari illat.

Beberapa persyaratan di atas cukup menjamin ketelitian dan penukilan serta penerimaan suatu berita tentang Nabi. Bahkan kita dapat menyatakan bahwa dalam sejarah peradaban manusia tidak pernah dijumpai contoh ketelitian dan kehati-hatian yang menyamai apa yang telah dipersyaratkan dalam kaidah keshahihan hadits.

Namun yang lebih penting lagi adalah kemampuan yang cukup untuk mempraktikan persyaratan-persyaratan tersebut.

Seiring dengan itu, perhatian para ulama dalam menyeleksi hadis banyak terporsir untuk meneliti orang-orang yang meriwayatkan hadis.

 

[1]. Dr. Mahmud Ath-Thahhan, Taysir Musthalah Hadits, Darul-Fikr, hal. 107-109

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img