All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 4. Pembagian Hadits

Bab 4 : Pembagian Hadits

A. Pembagian Hadits Dalam Ilmu Kritik Sanad
Dr. Mahmud Ath-Tahhan, guru besar ilmu hadits di Universitas Kuwait dalam kitabnya yang masyhur, Taysir Mushthalah Hadits, membagi hadits menjadi empat kelompok sesuai dengan kriteria :[1]
  • Pertama : Berdasarkan jumlah perawi
  • Kedua : Berdasarkan berdasarkan kekuatan periwayatannya.
  • Ketiga : Berdasarkan pembagian hadits berdasarkan ditolaknya hadits akibat lemahnya periwayatan.
  • Keempat : Berdasarkan perbedaan pandangan ulama dalam menerima dan menolaknya.
B. Berdasarkan Jumlah Perawi

Berdasarkan jumlah perawinya, kita bisa membagi hadits menjadi dua bagian. Yang pertama adalah hadits mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang banyak. Yang kedua adalah hadits Ahad, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak, tapi tidak sampai sejumlah hadits mutawatir.

Jadi hadits ahad itu bukanlah hadits palsu atau hadits bohong, namun hadits yang shahih pun bisa termasuk hadits ahad juga, yang tidak sampai derajat mutawatir. Hadits ahad tidak ditempatkan secara berlawanan dengan hadits shahih, melainkan ditempatkan berlawanan dengan hadits mutawatir.

Lalu apa yang dimaksud dengan hadits mutawatir dan hadits ahad? Untuk lebih detailnya, silahkan baca rincian berikut ini.

a. Definisi:

Hadits Mutawatir adalah hadits hasil tanggapan dari pancaindera yang diriwayatkan oleh oleh sejumlah besar rawi yang menurut adat kebiasaan, mustahil mereka berkumpul dan bersepakat berdusta.

b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir

Untuk bisa dikatakan sebagai hadits mutawatir, ada beberapa syarat minimal yang harus terpenuhi.

Pemberitaan yang disampaikan oleh perawi harus berdasarkan tanggapan pancainderanya sendiri

Jumlah perawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat dusta. Sebagian ulama menetapkan 20 orang berdasarkan firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 65.

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. (QS. Al-Anfal : 65)

Sebagian yang lain menetapkan sejumlah 40 orang berdasarkan QS. Al-Anfal: 64.

Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam thabaqah (lapisan) pertama dengan jumlah perawi dalam lapisan berikutnya.

Karena syaratnya yang sedemikian ketat, maka kemungkinan adanya hadits mutawatirsedikit sekali dibandingkan dengan hadits-hadits ahad.

c. Klasifikasi Hadits Mutawatir

Hadits mutawatir itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu mutawatir lafdhy dan mutawatir ma’nawy. Hadits mutawatir lafzhy adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang yang susunan redaksi dan maknanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya. Atau boleh disebut juga dengan hadits yang mutawatir lafadznya.

Hadits mutawatir ma’nawy adalah hadits mutawatir yang perawinya berlainan dalam menyusun redaksi hadits, tetapi terdapat persamaan dalam maknanya. Atau menurut definisi lain adalah kutipan sekian banyak orang yang menurut adat kebiasaan mustahil bersepakat dusta atas kejadian-kejadian yang berbeda-beda tetapi bertemu pada titik persamaan.

d. Manfaat Hadits Mutawatir

Hadits Mutawatir memberi manfaat ilmudh-dharury yakni keharusan untuk menerimanya bulat-bulat sesuatu yang diberitakan oleh hadits mutawatir sehingga membawa kepada keyakinan yang qath’i (pasti).

a. Definisi:

Semua hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. Dengan demikian, sudah bisa dipastikan bahwa jumlah hadits ahad itu pasti lebih banyak dibandingkan dengan hadits mutawatir.

Bahkan boleh dibilang bahwa nyaris semua hadits yang kita miliki dalam ribuan kitab, derajatnya hanyalah ahad saja, sebab yang mutawatir itu sangat sedikit, bahkan lebih sedikit dari ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem.

b. Klasifikasi Hadits Ahad

Kalau kita berbicara hadits ahad, sebenarnya kita sedang membicarakan sebagian besar hadits. Sehingga kita masih leluasa untuk mengklasifikasikannya lagi menjadi beberapa kelompok hadits ahad.

  • Hadits Masyhur : Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih serta belum mencapai derajat mutawatir. Hadits masyhur sendiri masih terbagi lagi menjadi tiga macam, yaitu masyhur di kalangan para muhadditsin dan golongannya; masyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu dan masyhur dikalangan orang umum.
  • Hadits Aziz : Hadits aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang walaupun dua orang rawi tersebut terdapar pada satu lapisan saja, kemudian setelah itu orang-orang lain meriwayatkannya.
  • Hadits Gharib : Hadits gharib adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang (rawi) yang menyendiri dalam meriwayatkan di mana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi

Pembagian hadits ahad menjadi masyhur, aziz dan gharib tidaklah bertentangan dengan pembagian hadits ahad kepada shahih, hasan dan dhaif. Sebab membaginya dalam tiga macam tersebut bukan bertujuan untuk menentukan makbul dan mardud-nya suatu hadits tetapi untuk mengetahui banyak atau sedikitnya sanad.

Sedangkan membagi hadits Ahad menjadi Shahih, Hasan dan Dhaif adalah untuk menentukan dapat diterima atau ditolaknya suatu hadits. Maka hadits Masyhur dan Aziz, masing-masing ada yang shahih, hasan dan dhaif dan tidak semua hadits gharib itu dhaif walaupun hanya sedikit sekali.

Menurut Imam Malik, sejelek-jeleknya ilmu Hadits adalah yang gharib dan yang sebaik-baiknya adalah yang jelas serta diperkenalkan oleh banyak orang.

C. Berdasarkan Kualitas Periwayatan
Pembagian hadits yang kedua adalah berdasarkan kualitas periwayatan. Berbeda dengan di atas, hadits pada bagian ini dibedakan bukan berdasarkan jumlah perawi, melainkan berdasarkan kualitas perawi. Dan ada dua macam hadits berdasarkan kualitas perawi, yaitu hadits shahih dan hadits hasan.

Hadits shahih adalah hadits yang perawinya adil (عدل), hafalannya kuat (تام الضبط), sanadnya bersambung (بسند متصل), serta terbebas dari kejanggalan dan kecacatan (سلم من الشذوذ و العلة القادحة).

Contohnya sabda Nabi SAW :

مَن يُرِدِ اللّهُ بِهِ خَيرًا يُفَقِّههُ فيِ الدِّينِ

Siapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila kita dalami ternyata hadits shahih ini ada dua macam jenisnya, yaitu :

a. Shahih li Dzatihi

Hadits yang statusnya shahih lidzatihi (الصحيح لذاته) berarti hadits itu berstatus shahih dengan sendirinya, bukan karena adanya faktor eksternal yang mempengaruhinya menjadi shahih.

b. Shahih li Ghairihi

Hadits yang statusnya shahih li gharihi (الصحيح لغيره) asalnya bukan hadits shahih, namun karena adanya hadits lain yang menjadi penguat, akhirnya statusnya naik dari hasan menjadi shahih li ghairihi. Hal itu karena apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. Misalnya hadits berikut ini :

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Seandainya Aku tidak memberatkan umatku, niscaya Aku wajibkan mereka menggosok gigi pada tiap shalat. (HR. At-Tirmizy)

Dari ‘Abdillah Ibn ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu‘anhu bahwa Nabi SAW memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan unta. Maka Nabi SAW bersabda, “Belikan untuk kita unta perang dengan unta-unta yang masih muda.” Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan mendapat 1 unta perang.

Hadits ini punya beberapa jalur periwayatan. Ada yang diriwayatkan oleh Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq dan yang lewat jalur Baihaqi dari jalan ‘Amr bin Syu’aib.

Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian tidak bisa sampai derajat shahih, hanya sampai hasan. Tapi jika dilihat secara total, maka jadilah hadits shahih lighairi.

Hadits ini dinamakan shahih lighairi, walaupun nilai masing-masing jalan secara bersendirian tidak sampai derajat shahih, namun karena bila dinilai secara total bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat shahih.

Di bawah derajat shahih kita mengenal adanya hadits hasan. Definisinya adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tapi hafalannya kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan kecacatan.

Jadi, tidak ada perbedaan antara hadits ini dengan hadits shahih, kecuali dalam satu persyaratan, yaitu hadits hasan itu kalah dalam sisi hafalan. Contohnya adalah hadits Nabi SAW :

مِفتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُورُ وَ تَحرِيمُهَا التَّكبِيرُ وَ تَحلِيلُهَا التَّسلِيمُ

Sholat itu dibuka dengan bersuci, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.”

Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian, demikian keterangan dari Ibnu Shalah.

Dalam prakteknya, ternyata hadits hasan ini pun bisa terdiri dari dua jenis, yaitu :

a. Hasan lidzatihi

Hasan yang statusnya hasan lidzatihi (الحسن لذاته) maksudnya hadits yang statusnya hasan dengan sendirinya.

b. Hasan li Ghairi

Hadits yang statusnya hasan li Ghairihi (الحسن لغيره), yaitu hadits yang dha’ifnya ringan dan memiliki beberapa jalan yang bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang di dalamnya tidak ada pendusta atau perawi yang pernah tertuduh membuat hadits palsu. Contohnya adalah hadits tentang seorang wanita yang rela dinikahi dengan mahar berupa sepasang sendal. Nabi SAW menanyakan kepada wanita itu :

أرضيت من نفسك ومالك بنعلين؟ " قالت: نعم، قال: فأجاز

Apakah kamu rela dinikahkan atas diri dan hartamu dengan sepasang sendal?. Wanita itu menjawab,”Ya”. Maka Beliau SAW membolehkan. (HR. Tirmizy)

Contoh lainyanya adalah hadits dari Umar ibn Khatthab radhiyallahuanhu berkata :

Nabi SAW jika mengangkat kedua tangannya dalam do’a maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. (HR. Tirmidzi)

Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram berkata bahwa hadits ini memiliki banyak hadits penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Gabungan hadits-hadits tersebut menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan.

Dan dinamakan hasan li ghairihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian, maka hadits tersebut tidak mencapai derajat hasan. Namun, bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan.

D. Berdasarkan Tertolaknya Periwayatan
Pembagian hadits yang ketiga adalah berdasarkan sifatnya yang tertolak. Ada begitu banyak hadits yang tertolak, namun semua bisa disebut dengan satu istilah, yaitu hadits lemah atau dhaif.

Hadits dhaif adalah :

مَالَم يَجمَع صِفَةُ الحَسَنِ بِفَقدِ شَرطٍ مِن شُرُوطِهِ

Hadits yang tidak terkumpul padanya sifat hasan, lantaran kehilangan satu dari sekian syarat-syaratnya.

Contoh hadits yang dhaif adalah :

مَن أَتَى حَائِضًا أَوِ امرَأَةً فيِ دُبُرِهَا فَقَد كَفَرَ بِمَا نَزَلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ

Siapa yang menyetubuhi wanita yang sedang haidh atau istri pada duburnya, maka dia telah kufur pada agama yang turun kepada Nabi Muhammad.

Al-Imam At-Tirmizy mengatakan hadits ini dhaif, karena di dalam rangkaian para perawinya ada orang yang bernama Hakim Al-Atsram, yang statusnya dhaif.

Para ulama ahli hadits berbeda pendapat tentang hukum meriwayatkan hadits dhaif.

Pendapat pertama mengharamkannya, karena dianggap tidak bersumber dari Rasulullah SAW secara benar. Di antara yang berpandangan demikian adalah Al-Imam Al-Bukhari.

Pendapat yang kedua membolehkan diriwayatkannya hadits dhaif ini, dengan syarat-syarat tertentu yang ketat. Di antara syaratnya adalah bahwa konten hadits itu tidak terkait dengan masalah fundamental aqidah dan hukum halal haram dalam syariat. Sedangkan bila kontennya seputar anjuran untuk memberi nasehat, semangat untuk ibadah atau ancaman meninggalkan yang haram, serta kisah-kisah, maka hukumnya dibolehkan.

Di antara mereka yang diriwayatkan berpendapat demikian adalah Sufyan Ats-Tsauri, Abdurrahman bin Mahdi dan Imam Ahmad bin Hanbal.[2]

Sedangkan hukum mengamalkan konten hadits yang dhaif, sebagian ulama membolehkan, namun dengan syarat-syarat tertentu. Al-Hafizdh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa di antara syarat-syarat itu adalah :

Kedhaifan hadits itu tidak terlalu parah.

Hadits itu berpegangan di atas dasar yang banyak dipakai orang.

Ketika mengamalkan hadits itu tidak meyakini bahwa hadits itu tsubut, tetapi sekedar berjaga-jaga seandainya hadits shahih.

Ada dua kemungkinan kelemahan sebuah hadits. Pertama, lemah dari sisi isnad, yaitu jalur periwayatan. Kedua, kelemahan dari sisi diri perawi, yaitu orang-orang yang meriwayatkan hadits itu.

a. Lemah Dari Sisi Isnad

Yang dimaksud dengan hadits lemah dari sisi isnad adalah kelemahan dalam jalur periwayatan hadits itu dari Rasulullah SAW kepada perawi yang terakhir. Maksudnya, ada satu, dua atau lebih perawi yang tidak lengkap dalam sebuah jalur periwayatan, dengan berbagai sebab.

Yang jelas, jalur itu menjadi ompong karena terjadi kekosongan satu atau beberapa perawi di dalamnya. Dan akibatnya, sanadnya menjadi tidak tersambung dengan benar.

Dan para ulama membagi lagi kelemahan jalur periwayatan itu menjadi beberapa jenis, antara lain : hadits muallaq (معلّق), mursal (مرسل), mu'dhal (معضل), munqathi' (منقطع), mudallas (مدلّس), mursal khafi (مرسل خافي), mu'an-'an (معنعن) dan muannan (معنّن)

b. Lemah Dari Sisi Perawi

Sedangkan kelemahan dari sisi perawi berbeda dengan kelemahan isnad. Kelemahan ini bukan karena tidak adanya perawi atau terputusnya jalur periwayatan, tetapi karena rendahnya kualitas perawi itu sendiri sehingga hadits itu jadi tertolak hukumnya.

Maka hasilnya sebenarnya sama saja, baik lemah dari sisi jalur atau pun lemah dari sisi personal para perawinya.

Para ulama menyusun daftar hadits yang tertolak karena faktor lemahnya kualitas perawi, di antaranya adalah : hadits maudhu, matruk, munkar, ma'ruf, mu'allal, mukhalif li-tsiqah, mudraj, mudhtharib, mushahhaf, syadz, jahalah, mubtadi, su'ul hifdz

E. Hadits Yang Lemah Dari Sisi Periwayatan
Berikut penjelasan singkat tentang jenis hadits dhaif yang disebabkan karena faktor kelemahan periwayatan :

Hadits mu'allaq (معلّق) adalah hadits yang dihapuskan nama perawinya, baik satu perawi atau lebih.

Contohnya hadits berikut ini :

قَالَ أَبُو مُوسَى : غَطَّى النَّبِّيُ ركُبـَتَهُ حِينَ دَخَلَ عُثمَانُ

Rasulullah SAW menutup kedua pahanya ketika Utsman masuk. (HR. Bukhari)

Ketika meriwayatkan hadits ini, Bukhari sama sekali tidak menyebutkan nama-nama perawi, kecuali hanya menyebutkan perawi di level shahabat, yaitu Abu Musa Al-Asy'ari. [3]

Hukum hadits mu'allaq adalah tertolak (mardud), tidak bisa dipakai sebagai dalil. Namun bila hadits seperti itu terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari, ada pengecualian.

Hadits mursal (مرسل) adalah hadits yang gugur perawinya setelah level tabi'in.

Sehingga seorang tabi'in berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda secara langsung tanpa menyebutkan dari mana dia mendapatkan riwayat itu di level shahabat.

Contohnya adalah hadits berikut ini :

عَن سَعِيدِ ابنِ المـُسَيِّب أَنَّ رَسُولَ اللهِ نَهَى عَنِ المـُزَابَنَةِ

Dari Said bin Al-Musayyib bahwa Rasulullah SAW melarang praktek jual-beli muzabanah.

Seharusnya jalur periwayatan itu menyebutkan nama perawi di level shahabat. Padahal Said bin Al-Musayyib bukan perawi di level shahabat, beliau berada pada level tabi'in.

Kedudukan hadits mursal menjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli hadits. Sebagian cenderung menolak hadits mursal secara mutlak, sebagian menerima secara mutlak, dan di antara keduanya ada yang menerima hadits mursal dengan berbagai syarat dan catatan.

Mereka yang menolak secara mutlak adalah kalangan para ahli hadits, ahli ushul fiqih dan lainnya. Sedangkan yang menerima secara mutlak antara tiga imam mazhab besar, yaitu Abu Hanfiah, Malik dan Ahmad bin Hanbal.

Adapun Asy-Syafi'i berada pada posisi tengah-tengah, yaitu tidak menolak mutlak, namun juga tidak menerima bulat-bulat. Setidaknya beliau menyebutkan empat syarat :

  • Mursalnya hadits itu lewat tabi'in yang besar (kibarut-tabi'in).
  • Bila disebutkan nama yang membuat mursal maka disebut tsiqah.
  • Bila ada huffadz yang dipercaya.

Secara bahasa, istilah mu’dhal adalah bentuk isim maf’ul dari a’dhalahu (أعضله), yang berarti menyulitkan dan membuat lemah.

Secara istilah ilmu hadits, hadits mu’dhal adalah hadits yang pada sanadnya gugur dua orang perawi atau lebih secara berurutan.

Contoh dari hadits mu’dhal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitab “Ma’rifat Ulumil Hadits” dengan sanadnya yang terhubung kepada al-Qo’nabi dari Malik dari Malik bahwa telah sampai kepadanya bahwa Abu Hurairah radiyallahu 'anhu berkata : Rasulullah SAW bersabda :

لِلمَملُوكِ طَعَامُهُ وَكِسوَتُهُ بالمعروف وَلا يُكَلَّفُ مِنَ العَمَلِ إِلا مَا يُطِيقُ

“Hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya secara ma’ruf (yang sesuai) dan tidak boleh dibebani pekerjaan, kecuali yang disanggupinya saja”

Imam Hakim menjelaskan bahwa hadits dengan sanad ini adalah mu’dhal. Beliau berkata : “Hadits ini mu’dhal dari Malik, Malik meriwayatkannya dengan mu’dhal seperti ini dalam kitab al-Muwaththa’ ”

Apabila ditengah sanad hadits terdapat dua rawi yang gugur secara berurutan, maka hadits tersebut adalah Mu’dhal saja dan bukan Mu’allaq. Apabila pada awal sanad hadits terdapat satu rawi saja yang gugur, maka dalam kondisi seperti ini, hadits tersebut adalah Mu’allaq saja dan bukan Mu’dhal.

Makna kata munqathi’ (منقطع) dari segi bahasa adalah bentuk isim fa’il dari kata al-inqithaa’, lawan kata dari al-ittishaal yang berarti bersambung.

Adapun dari segi istilah ilmu musthalah hadits adalah
hadits yang sanadnya tidak bersambung, bagaimanapun bentuk tidak bersambungnya. Maka termasuk di dalamnya hadits yang empat di atas : mursal, mu’allaq, mu’dhal dan munqathi’ itu sendiri.

Contoh hadits munqathi' adalah yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Tsauri dari Abi Ishaq dari Zaid bin Yutsai’ dari Hudzaifah secara marfu’ :

إِن وَلَّيتُمُوهَا أَباَ بَكرٍ فَقَوِيٌّ أَمِينٌ

“Kalau kalian menjadikan Abu Bakar sebagai wali (pemimpin) maka dia adalah kuat dan terpercaya”

Dalam sanad ini telah gugur seorang perawi di tengah sanadnya, yaitu Syarik, gugur antara Tsauri dan Abu Ishaq, dimana Tsauri tidak mendengar hadits langsung dari Abu Ishaq, namun mendengar dari Syarik dan Syarik mendengar dari Abu Ishaq. Terputusnya sanad (inqitha’) ini, bukan termasuk jenis mursal, bukan juga mu’allaq dan bukan juga mu’dhal, tetapi hadits ini adalah hadits munqathi’.

Seluruh hadits munqathi’ tertolak, karena keadaan perawi yang dibuang.

a. Pengertian

Kata mudallas (مدلس) menurut bahasa adalah isim maf’ul dari at-tadlis (تدليس), yang berarti menyembunyikan cacat pada barang dagangan dari pengetahuan pihak pembeli.

Tadlis menurut istilah adalah seorang perawi meriwayatkan hadits dari seorang guru yang pernah ia temui, namun justru hadits yang dia riwayatkan itu tidak pernah ia dengar darinya. Padahal ungkapan yang digunakan seperti “dari” atau “ia berkata”.

b. Contoh

Contohnya adalah hadits berikut ini

مَا مِن مُسلِمَينِ يَلتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبلَ أَن يَتَفَرَّقَا

Dari Abu Ishaq dari Al-Barra’ bin ‘Azib berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidakah dua orang muslim yang saling bertemu lalu berjabat tangan melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka berdua sebelum mereka berpisah. (HR. Ahmad)

Letak titik masalahnya adalah bahwa Abu Ishaq dikatakan sebagai mudallis ketika meriyawatkan hadits ini. Benar bahwa ia meriwayatkan beberapa hadits lainnya dari shahabat Al-Barra’ bin ‘Azib, tetapi khusus pada hadits ini dia tidak mendengar langsung, tetapi lewat orang lain.

Masalahnya Abu Ishaq ketika meriwayatkan hadits ini menggunakan ungkapan yang mengandung makna bahwa dirinya seolah-olah telah mendengar secara langsung dari Al-Barra'. Padahal sebenarnya dia mendengar hadis tersebut lewat Abu Dawud Al-A’ma yang statusnya matruk (tertolak hadisnya) dan dituduh berdusta.

Bukti bahwa Abu Ishaq tidak mendengarkan secara langsung adalah Ibnu Abi Dun-ya mengeluarkan hadis ini di dalam kitab al-Ikhwan :

Dari jalan Abu Bakr bin ‘Iyasy, dari Abu Ishaq, dari Abu Dawud, ia berkata; aku menemui al-Barra’ bin ‘Azib, kemudian aku menjabat tangannya, lalu ia berkata; Aku mendengar Rasulullah saw bersabda… :

c. Macam-macam Tadlis

Tadlis ada berbagai macam jenisnya, di antaranya adalah tadlis isnad, tadlis syaikh, tadlis bilad, tadlis 'athaf, tadlis sukut dan tadlis taswiyah

  • Pertama : Tadlis Isnad, yaitu tadlis sebagaimana yang definisi dan contohnya telah disebutkan di atas.
  • Kedua : Tadlis Syaikh, yaitu menyebutkan guru yang diriwayatkan hadis-nya dengan identitas yang tidak masyhur baginya, baik dengan nama, julukan, nasab, atau kun-yah. Hal itu dilakukan karena kedla’ifannya atau karena kemajhulannya, dengan cara menyembunyikan di balik banyaknya guru atau dengan merahasiakan kondisi gurunya,.

Contoh; hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud berikut ini :

ابنُ جُرَيجِ أَخبَرَنِي بَعضُ بَنِي أَبِي رَافِعٍ مَولَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيهِ وَسَلَّمَ، عَن عِكرِمَةَ مَولَى ابنِ عَبَّاسٍ، عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: طَلَقَ عَبدُ يَزِيدٍ –أَبُو بَركَانَةِ وَإِخوَتِهِ- أُمَّ رَكَانَةِ ونكح امرأة من مزينة … وذكر حديثا في طلاق الثلاثة جملة واحدة

Ibnu Juraij telah memberitakan kepadaku sebagian dari Bani Abu Rafi’ pembantu Nabi SAW dari Ikrimah pembantu Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, ia berkata. Abdu Yazid (Abu Barkanah dan saudara-saudaranya) mentalak Ummu Rukanah lalu ia menikahi wanita dari Muzayyanah (…) beliau menyebutkan hadis tentang talak tiga dalam sekali waktu.

Ibnu Juraij adalah Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, dia siqah yang disebut-sebut pernah mentadliskan riwayat. Meskipun ia menyatakan telah mendengar dari gurunya, hanya saja ia telah mentadliskan namanya dengan merahasiakannya karena kondisinya, lalu ia berkata “sebagian anak Abu Rafi’ telah mengabarkan kepadaku”.

Para ulama berbeda pendapat tentang siapakah dia sebenarnya, tetapi di sini bukan tempat untuk memperbincangkan perbedaan ini.

Pendapat yang benar, guru Ibnu Juraij pada hadis ini adalah Muhammad bin Ubaidillah bin Abu Rafi’, dia matruk. Al-Bukhari mengatakan bahwa dia, “Munkarul hadis” Ibnu Ma’in berkata, “Tidak ada apa-apanya”. Abu Hatim berkata, “hadisnya sangat munkar, dan ditinggalkan”

Ibnu Juraij telah menyebutkan nama gurunya pada riwayat al-Hakim di dalam kitab al-Mustadrak (2/491), dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.

Ketiga, Tadlis Bilad, yaitu hampir serupa dengan tadlis syaikh. Bentuknya, seorang muhaddits mengatakan, “Telah menceritakan kepadaku al-Bukhari”, yang dimaksudkan dengan kata al-Bukhari adalah orang yang memberi uap kepada orang lain.

Atau seperti dikatakan oleh al-Baghdadi, “telah menceritakan kepadaku apa yang ada di balik sungai” yang dimaksud adalah sungai Tigris.

Atau al-Mishri mengatakan, “Ia mengajarkan hadis di Andalus” yang dimaksud dengan Andalus adalah suatu tempat di Qarafah.

Keempat, Tadlis ‘Athf, yaitu seorang muhaddits mengatakan, “Fulan dan fulan mengajarkan hadis kepadaku”, padahal ia hanya mendengar dari orang yang pertama, tetapi ia tidak pernah mendengar hadis dari orang yang kedua.

Kelima, Tadlis as-Sukut, yaitu seorang ahli hadis mengatakan haddatsana (telah mengajarkan hadis kepada kami) atau sami’tu (aku telah mendengar) lalu ia diam dengan niat untuk memotong, kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan menyebut nama salah seorang gurunya, misalnya nama guru itu Hisyam bin Urwah, padahal sebenarnya ia tidak menerima hadis dari Hisyam.

Keenam, Tadlis Taswiyah, yang merupakan jenis tadlis yang paling buruk. Bentuknya, seorang muhaddits menghilangkan tokoh yang bukan gurunya dari rangkaian sanad, bisa karena kedla’ifannya atau karena usianya yang sangat muda, sehingga hadis tampak diriwayatkan oleh rijal yang siqah dari rijal yang siqah pula.

Tadlis jenis ini adalah yang paling tercela, karena di dalamnya ada unsur khianat. Di antara rijal yang disebut telah melakukan tadlis macam ini adalah al-Walid bin Muslim dan Baqiyah bin al-Walid.

Kata mursal (مرسل) adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja arsala - yursilu (أرسل يرسل) yang artinya melepaskan atau melontar. Sedangkan kata khafi (خفي) lawan kata dari jali (جلي), yang artinya jelas atau terlihat.

Maka makna istilah dari hadits mursal khaf adalah seorang perawi meriwayatkannya dari orang yang ia bertemu atau sezaman dengannya suatu hadits yang tidak dia dengar dari orang tadi dengan shighat (bentuk penyampaian) yang mengandung kemungkinan mendengar langsung, seperti qoola (telah berkata) atau tidak.

a. Hadits Mu’an-an

Pengertian dari muanan adalah hadits yang sanadnya terdapat redaksi ‘an (dari) seseorang. Pendapat ulama ahli hadits dalam masalah ini terdapat dua versi.

Versi Pertama

bahwa hadits yang jalurnya (sanad ) itu menggunakan redaksi ‘an (dari) termasuk dalam kategori hadits yang sanadnya muttasil. Akan tetapi hadits mu’an’an untuk bisa dikategorikn sebagai hadits muttasil, harus memenuhi beberapa syarat. Dalam hal-hal syarat ini terdapat dua pendapat:

Syarat-syarat yang ditentukan oleh Imam Bukhari, Ali bin al-Madani dan sejumlah ahli hadits lain antara lain bahwa perawi harus mempunyai sifat ‘adalah. Selain itu harus terdapat hubungan guru murid, dalm artian keduanya harus pernah bertemu. Dan juga perawi bukan termasuk mudallis.

Sedangkan syarat-syarat yang ditentukan oleh imam muslim, antara lain bahwa perawi harus mempunyai sifat ‘adalah. Dan perawi bukan termasuk mudallis. Dan juga hubungan antara yang meriwayatkan hadits cukup dengan hidup dalam satu masa dan itu dimungkinkan untuk bertemu.

Versi Kedua

Bahwa hadits mu’an-an termasuk dalam kategori hadits mursal. Oleh karena itu hadits mu’an-an tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

Ketika redaksi ‘an itu pada tingkat sahabat, terdapat pemilahan. Apabila sahabat itu termasuk sahabat yang sebagian besar hidupnya senantiasa bersama dengan nabi, maka redaksi ‘an sama dengan redaksi sami’tu. Apabila sahabat itu jarang bertemu nabi, maka sanad itu perlu ditinjau ulang.

Kesimpulan dari uraian diatas dapat kita klasifikasikan menjadi tiga pendapat sesuai dengan komentar Ibnu Hajar:

Bahwa redaksi sanad dengan ‘an posisinya sama dengan redaksi haddastana dan akhbarana.

Tidak dikatakan sama dengan redaksi haddastana dan akhbarana. Ketika hadits itu diriwayatkan oleh mudallis.

Redaksi ‘an sama dengan akhbarana dalam penerimaan hadits secara ijazah.Untuk itulah hadits yang redaksinya memakai ‘an masih dalam kategori muttasil. Akan tetapi derajat ‘an masih dibawah sami’tu. Contoh hadis mu’an’an:

حدثنا قتيبة بن سعي حدثنا عبد العزيز الدرواردى عن العلاء عن ابيه عن ابى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الد نيا سجن المؤمن وجنة الكافر رواه مسلم.

Pengertiaanya adalah hadits yang redaksi sanadnya terdapat kata anna. Ulama dalam mengomentari hadits seperti ini dapat di kalsifikasikan menjadi dua:

Pertama, bahwa hadits ini sama dengan mu’an’an dari segi muttasilnya, apabila mempunyai syarat-syarat yang terdapat dalam hadits mu’an-an. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan jumhurul hadits.

Kedua, bahwa hadits muannan termasuk dalam kategori hadits munqati’ sampai terdapat kejelasan bahwa murid telah mendengar. Tokoh dari pendapat ini adalah al- Bardaji.

Contoh dari hadits ini adalah hadits yangdiriwayatkan oleh Imam malik dari Ibnu Shihab

أن سعيد بن مسيب قال ……

F. Hadits Yang Lemah Dari Sisi Perawi
Adapun hadits-hadits dhaif yang sumbernya adalah kelemahan dari sisi perawi juga mengakibatkan tertolak hukum hadits itu. Hadits-hadits itu adalah :

a. Pengertian

Dari segi bahasa, maudhu’ (موضوع) adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja wadha’a (وضع), yang berarti menurunkan atau meletakkan di bawah.

Adapun dari segi istilah ilmu musthalah hadits, para ulama mendefinisikan hadits Maudhu’ dengan kebohongan yang diada-adakan, dibuat-buat, kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah SAW dengan sengaja”

Hadits maudhu’ ini adalah tingkatan hadits dhaif yang terburuk dan terendah. Bahkan sebagian ulama menganggap bahwa hadits Maudhu’ bukanlah termasuk bagian dari hadits dhaif, namun dia adalah bagian tersendiri.

b. Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu’

Para ulama telah berijma’ tentang tidak bolehnya bagi siapapun yang tahu kepalsuan hadits tersebut untuk meriwayatkannya secara mutlak, kecuali disertai dengan penjelasan tentang palsunya hadits tersebut.
Ini berdasarkan hadits riwayat Muslim :

مَن حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِينَ

Siapa meriwayatkan suatu hadits dariku dan dia tahu bahwa itu adalah dusta, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.

c. Jalan Mengetahui hadits Maudhu’

Dengan tidak melihat hal-hal tertentu, hadits maudhu’ dapat diketahui dengan beberapa jalan, diantaranya :

  • Pengakuan Pemalsu

Abu Ishmah Nuh bin Abu Maryam secara terang-terangan mengaku telah memalsukan hadits tentang beberapa keutamaan surat dalam AlQuran yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas.

Atau bisa juga seorang pemalsu mengakui hal-hal yang sepadan dengan pengakuannya. Seperti pemalsu hadits menyampaikan hadits dari seorang syaikh, kemudian dia ditanya tentang kapan kelahirannya, diapun menjawab dengan menyebutkan tanggal dimana wafatnya syaikh tadi sebelum kelahirannya ditambah juga bahwa hadits tersebut hanya diketahui datang darinya saja.

  • Ciri Pada Diri Perawi

Seperti contohnya rawi seorang rafidhah, yang merupakan syi’ah ekstrim dan hadits berbicara tentang keutamaan ahli bait.

  • Ciri Pada Hadits

Ada juga ciri yang dengan mudah terlihat dari hadits yang diriwayatkan. Seperti contohnya bahwa lafadz dari hadits tersebut aneh, atau menyalahi akal sehat atau juga menyalahi apa yang dijelaskan AlQuran.

d. Faktor-Faktor Pendorong Pemalsuan Hadits

  • Taqarrub

Tidak semua motivasi orang memalsu hadits itu jahat. Ada orang yang memalsu hadits dengan tujuan yang baik, misalnya tujuan untuk menambah kedekatan (taqarrub) dalam rangka beribadah kepada Allah.

Ini dilakukan dengan memalsukan hadits-hadits yang bisa memotivasi orang untuk melakukan segala kebaikan dan juga hadits-hadits yang membuat takut mereka dari berbuat segala yang munkar.

Tindakan mereka ini tentu tidak bisa dibenarkan, sebab meski niat dan tujuannya mulia, tetapi kalau caranya dengan memalsu hadits, maka bukan hanya keliru tetapi juga berdosa besar.

  • Kepentingan Kelompok

Ada juga orang melakukan tindakan memalsu hadits karena didorong oleh sikap untuk membela kepentingan kelompok dan aliran yang diikutinya.

Di masa lalu, muncul berbagai macam kelompok dan aliran dalam dunia politik praktis. Setiap kelompok dan aliran sampai hati melakukan perbuatan busuk, yaitu memalsukan hadits-hadits demi sekedar utnuk kepentingan menguatkan aliran mereka. Di antara jenis hadits palsu produk kepentingan kelompok misalnya hadits berikut ini :

عَلِيّ خَيرُ البَشَرِ مَن شَكَّ فَقَد كَفَرَ

Ali adalah manusia terbaik, barangsiapa ragu sungguh dia telah kafir.

  • Tujuan Menjelekkan Islam

Tujuan ini sejak awal memang sudah tidak baik. Biasanya cara ini dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai orang-orang zindiq.

Tindakan memalsu hadits mereka pilih akibat mereka tidak bisa menjatuhkan Islam dengan cara terang-terangan. Maka merekapun menempuh jalan ini, yaitu merusak agama Islam dari dalam, dengan memanfaatkan pemeluk agama Islam yang ilmunya kurang atau pas-pasan.

  • Menjilat Penguasa

Untuk mendekatkan diri kepada para penguasa, ada sebagian orang yang lemah iman mencoba mendekatkan diri kepada para penguasa dengan cara memalsukan hadits yang mendukung penyimpangan penguasa tersebut.

Mereka sampai hati berdusta tentang Rasulullah SAW, lalu mengarang hadits dari hasil hawa nafsu dan hayal mereka, sekedar agar bisa dipuji dan diakui oleh penguasa.

  • Sebagai Mata Pencaharian

Tindakan ini banyak dilakukan oleh para tukang dongeng. Mereka melakukannya semata-mata untuk mencari penghidupan. Berbagai macam dongeng mereka ciptakan, dan biar lebih gurih, mereka bumbui dengan pengakuan bahwa dongeng itu mereka katakan sebagai hadits nabi.

Anehnya, isi dongeng mereka itu ibarat kisah 1001 malam, yang banyak mitos, tahayul, legenda atau kisah-kisah ajaib lainnya. Tujuannya semata-mata menghibur, tapi caranya sangat keji, karena berdusta atas nama Nabi SAW.

  • Popularitas

Ada juga orang yang hobi mengarang hadits palsu demi sekedar untuk mendapatkan popularitas. Caranya dengan cara menyebutkan hadits yang gharib (asing) yang tidak dimiliki oleh para perawi hadits, yaitu dengan cara membolak-balikkan sanad agar sanad tersebut menjadi gharib. Maka dengan itu orang-orang ingin mendengar hadits tersebut.

a. Pengertian

Secara bahasa kata matruk (متروك) adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja taraka (ترك). Orang Arab menamakan telur yang keluar darinya itik dengan at-tarikah yang artinya yang tertinggal dan tidak ada gunanya.

Adapun menurut istilah ilmu musthalah hadits adalah :
“Hadits yang pada sanadnya terdapat rawi yang tertuduh berdusta”

b. Sebab-Sebab Seorang Rawi Tertuduh Berdusta

Penyebab tertuduhnya seorang rawi bahwa dia berdusta adalah salah satu dari dua sebab berikut :

Pertama, hadits tersebut hanya diriwayatkan dari jalannya saja dan hadits tersebut menyelisihi kaidah-kaidah yang yang sudah dimaklumi, yaitu kaidah-kaidah umum yang telah disimpulkan oleh para ulama dari seluruh dalil yang shahih.

Kedua, perawi tersebut terkenal dengan dusta dari bicaranya pada waktu biasa namun tidak terlihat bahwa dia berdusta di waktu menyampaikan hadits.

c. Contoh Hadits Matruk

Hadits ‘Amr bin Syamir al-Ju’fi Al-Kufi asy-Syi’i dari Jabir dari Abu at-Thufail dari ‘Ali dan ‘Ammar bahwa mereka berdua berkata :

كان النبي r يقنت في الفجر ويكبر يوم عرفة من صلاة الغداة ويقطع صلاة العصر آخر أيام التشريق

Nabi SAW selalu membaca qunut pada shalat fajar, bertakbir pada hari Arafah dari semenjak shalat shubuh dan berhenti pada waktu shalat ashar di terakhir dari hari tasyrik”

Imam Nasa’i, Daruquthni dan yang lainnya mengatakan tentang ‘Amr bin Syamir bahwa dia adalah matrukul hadits, yaitu haditsnya ditinggalkan dan tidak dipakai orang.

Contoh lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari jalan Juwaibir bin Sa’id al-Azdi dari ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda :

عليكم باصطناع المعروف فإنه يمنع مصارع السوء و عليكم بصدقة السر فإنها تطفئ غضب الرب عز وجل

Hendaklah kalian selalu berbuat ma’ruf (baik), karena itu akan menahan keburukan dan hendaklah kalian bershadaqah dengan cara sembunyi karena hal itu dapat memadamkan kemarahan Rabb (Tuhan)

Hadits dengan sanad ini di dalamnya terdapat Juwaibir bin Sa’id al-Azdi yang mana imam Nasa’i, Daruquthni dan yang lainnya mengatakan bahwa dia matrukul hadits.
Namun matan hadits tersebut adalah shahih, bila dilihat dari sanad yang lain.

Hadits Matruk menempati peringkat kedua setelah Hadits Maudhu’dari tingkatan hadits-hadits dhaif.

a. Pengertian

Dari segi bahasa, kata munkar (منكر) adalah bentuk isim maf’ul dari kata inkar (إنكار), lawan dari kata iqraar (إقرار), yaitu mengakui atau menyetujui.

Secara istilah, hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah dan menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya). Definisi itulah yang dijadikan sandaran oleh Ibnu Hajar al-Asqalani.

b. Perbedaan Munkar dengan Syadz

Antara hadits munkar dan syadz ada sisi persamaan dan perbedaan. Adapun sisi perbedaannya adalah bahwa :

  • Syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (diterima riwayatnya) namun ia menyelisihi hadits yang diriwayatkan rawi yang lebih utama darinya.
  • Sedangkan Munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dhaif (lemah) yang menyelisihi hadits riwayat rawi yang tsiqoh (terpercaya).

Dari sini diketahui sisi persamaan dari keduanya, bahwa keduanya sama-sama ada penyelisihan dari rawi, hanya saja kalau Syadz rawinya adalah maqbul, sedangkan Munkar rawinya adalah dhaif.

c. Contoh Hadits Munkar

Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Hubayyib bin Habib az-Zayyat dari Abu Ishaq dari Al-‘Aizar bin Huraits dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda :

مَن أَقامَ الصَّلاةَ وآتى الزَّكاةَ وحَجَّ البيتَ وصامَ وقَرَى الضَّيفَ دَخَلَ الجنَّةَ

“Barangsiapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, berpuasa dan memuliakan tamu, maka niscaya dia masuk surga”

Imam Abu Hatim berkata bahwa hadits itu munkar, karena selain dia (Hubayyib) dari para rawi yang tsiqat meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Ishaq secara mauquf (disandarkan kepada shahabat). Dan itulah yang ma’ruf (lawan munkar)”

d. Derajat Hadits Munkar

Hadits Munkar termasuk ke dalam kategori hadits yang dhaif jiddan (lemah sekali) dan menempati peringkat ketiga setelah hadits maudhu’ dan matruk.

a. Pengertian

Kata ma’ruf (معروف) adalah isim maf’ul dari kata ‘arafa (عرف), yang berarti yang sudah dikenal atau diketahui.

Adapun menurut ilmu hadits, hadits Ma’ruf adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah (terpercaya) yang menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh rawi yang dha’if (lemah)”

Dengan definisi ini, kita mengetahui bahwa hadits Ma’ruf adalah lawan dari hadits Munkar. Karena Munkar adalah : “Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dha’if (lemah) yang menyelisihi dengan apa yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqoh (terpercaya)”

Dengan ini, kita juga mengetahui bahwa hadits Ma’ruf bukanlah termasuk kategori hadits dhaif, tapi dia termasuk hadits maqbul dan shahih. Dia disebutkan setelah pembahasan hadits Munkar karena dia adalah lawan darinya, supaya bisa dibedakan dan jelas putih di atas hitam.

b. Contoh Hadits Ma’ruf

Contoh hadits Ma’ruf adalah contoh dari hadits Munkar. Hanya saja kalau Munkar dari jalan rawi yang dhaif sedangkan Ma’ruf dari jalan rawi yang tsiqah. Seperti hadits :

مَن أَقامَ الصَّلاةَ وآتى الزَّكاةَ وحَجَّ البيتَ وصامَ وقَرَى الضَّيفَ دَخَلَ الجنَّةَ

“Barangsiapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, berpuasa dan memuliakan tamu, maka niscaya dia masuk surga”

Hadits ini dilihat dari jalan Hubayyib bin Habib az-Zayyat dari Abu Ishaq adalah munkar, karena Hubayyib meriwayatkannya secara marfu’. Adapun selain dia (Hubayyib) dari para rawi yang tsiqat meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Ishaq secara mauquf (disandarkan kepada shahabat). Riwayat para rawi yang tsiqat inilah yang disebut dengan Ma’ruf.

a. Pengertian

Kata mu'allah (معلّل) adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja a’allahu bikadza (أعل الله بكذا).

Sedangkan secara istilah, hadits mu'allah adalah hadits yang secara dzahirnya shahih, padahal mempunyai cemar kecacatan”

6. Hadits Mukhalif li-tsiqah

Salah satu cacat pada hadits karena perawinya dianggap tidak sesuai atau menyelisihi para perawi yang tsiqah atau lebih kuat. Hadits seperti itu disebut mukhalif li ats-tiqah.

Hadits ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu

a. Hadits Mudraj

Kata mudraj (مدرج) adalah bentuk isim maf’ul dari kata kerja adrajtu asyai’a fisy syai’i (ادرجت الشيء في الشيء), yang artinya : aku memasukkan sesuatu pada sesuatu yang lain dan menggabungkan antara keduanya.

Adapun menurut istilah ilmu musthalah hadits, dia adalah hadits yang bentuk sanadnya diubah atau pada matannya diselipkan dengan apa yang bukan termasuk matan hadits tersebut tanpa ada pemisah.

  • Pembagian Hadits Mudraj

Hadits Mudraj ada dua macam yaitu mudraj isnad dan mudraj matan :

Mudraj isnad adalah hadits yang bentuk sanadnya diubah.
Diantara bentuk dari mudraj isnad adalah seorang perawi menyebutkan sebuah sanad hadits, lalu tiba-tiba ada hal yang menyibukkannya dan dia mengeluarkan perkataan sendiri yang tidak ada hubunganya dengan sanad hadits tadi, kemudian ada sebagian pendengar yang mengira bahwa perkataan tadi itu adalah matan dari sanad tersebut, maka diapun meriwayatkan seperti yang ia dengar itu. Contoh dari mudraj isnad adalah kisah Tsabit bin Musa Az-zahid pada riwayatnya :

مَن كَثُرَت صَلاَتُهُ بِاللَّيلِ حَسُنَ وَجهُهُ باِلنَّهَارِ

“Barangsiapa yang banyak shalatnya di malam hari maka baiklah wajahnya di siang hari”

Asal dari kisah tersebut adalah bahwa Tsabit bin Musa datang kepada Syarik bin Abdullah al-Qadhi yang sedang mendikte hadits. Dia berkata : “A’masy telah menceritakan kepada kami dari Abu Sufyan dari Jabir, beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda :…, Syarikpun diam agar haditsnya ditulis. Pada waktu dia melihat Tsabit diapun berkata :

Siapa yang banyak shalatnya di malam hari maka baiklah wajahnya di siang hari”.

Yang ia maksudkan adalah Tsabit karena kezuhudan dan kewaraannya. Namun Tsabit mengira bahwa perkataan itu adalah matan dari sanad tadi, maka iapun meriwayatkan hadits tersebut sesuai dengan yang ia dengar.

b. Hadits Maqlub

Hadits maqlub adalah hadits yang terbalik salah satu kata di dalamnya, baik yang ada pada sanad atau matannya, dengan cara mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan, dan mengakirkan kata yang seharus nya didahulukan.

Misalnya seorang perawi mengganti salah satu nama perawi sebuah hadits dengan nama lain, supaya tersebut tidak dikenal. Pelakunya ini dijuluki sebagai pencuri hadits tidak sengaja.

Kalau maqlub terjadi pada matanmisalnya perawi mendahulukan sebagian matan yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan sebagian matan yang seharusnya didahulukan dalam sebuah hadits.

Atau dia menyambungkan matan sebuah hadits dengan sanad hadits lain dan menyambungkan sanad sebuah hadits dengan matan hadits lain. Dan hal ini untuk tujuan ujian sebagian ulama' hadits. Sebagimana yang dilakukan oleh penduduk Baghdad pada Imam Bukhari.

Hukumnya

Kalau tujuannya biar tidak dikenal, tidak boleh karena sama dengan merubah hadits. Tetapi jika dilakukan untuk menguji maka hal ini diperbolehkan, dengan syarat ia harus menjelaskannya sebelum meninggalkan tempat.

c. Al-Mazid fi Muttashil Al-Asanid

Hadits ini oleh perawinya ditambahkan ke dalam sebuah sanad hadits, dimana sanad tersebut jika dilihat maka nampak secara lahiriah seakan-akan bersambung. Hadits ini ditolak dengan dua syarat:

Perawi yang tidak menambah lebih kuat dari pada perawi yang menambahnya.

Terdapat dalam penambahan tersebut penjelasan yang tegas bahwa perawi satu dengan lain betul-betul mendengar.

Jika dua syarat ini tidak terpenuhi atau salah satu dari keduanya, maka penambahan tersebut diterima. Sedang tidak ada tambahan dianggap terputus(munqathi').

d. Hadits Mudhtharib

Kata mudhtharib (مضطرب) adalah bentuk isim fa’il dari kata kerja idhtharaba (اضطرب) yang berarti semrawut dan tidak beraturan. Adapun dalam ilmu hadits, hadits ini didefinisikan sebagai hadits yang diriwayatkan dari berbagai bentuk yang berbeda-beda, yang semuanya sama kuatnya.

Dengan kata lain, hadits mudhtharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan banyak bentuk yang berbeda-beda dan saling bertentangan, dimana tidak mungkin sama sekali bagi hadits itu untuk dikompromikan. Dan seluruh riwayat tersebut sama kuatnya dari semua sisi, yang tidak memungkinkan untuk mentarjih (memilih yang paling kuat) salah satunya dari yang lain.

Dari sini jelaslah bahwa sebuah hadits tidak dinamakan mudhtharib, kecuali ada padanya dua unsur. Pertama, berbedanya riwayat-riwayat hadits yang mana tidak mungkin untuk dikompromikan. Kedua, sSama kuatnya seluruh riwayat-riwayat tersebut dimana tidak bisa untuk ditarjih salah satunya dari yang lain.

Adapun apabila salah satu riwayatnya lebih kuat dari yang lain atau bisa di jama’ (dikompromikan) dengan cara yang bisa diterima, maka status mudhtharib hilang dari hadits tersebut. Dalam hal ini kita mengamalkan yang rajih atau mengamalkan semua riwayat dalam kondisi bisa di jama’.

Pembagian Haidts mudhtharib

Hadits mudhtharib dilihat dari letak terjadinya idhthirab (kegoncangannya) terbagi menjadi dua macam, yaitu mudhtharib matan dan mudhtahrib sanad.

Contoh dari hadits Mudhtharib pada sanad adalah hadits Abu Bakar :

يا رسول الله أراك شبت قال : شيبتنى هود وأخواتها

“Ya Rasulullah, saya lihat anda telah beruban. Nabi SAW menjawab,"Surat Hud dan saudara-saudaranya telah membuat saya beruban” (HR. Tirmidzi)

Imam Ad-Daruquthni mengatakan bahwa hadits ini mudhtharib, karena hanya diriwayatkan melalui Abu Ishlaq dan terjadi perselisihan pada riwayat darinya yang mencapai 10 macam sisi perbedaan.

Sebagian rawi meriwayatkannya secara mursal, yang lain meriwayatkannya secara maushul, ada yang menjadikannya dari musnad Abu Bakar, ada yang menjadikannya musnad Sa’ad dan adapun yang dari musnad Aisyah. Dan para rawinya adalah tsiqat, tidak mungkin untuk mentarjih salah satunya dari yang lain dan jama’ juga tidak dimungkinkan.

Sedangkan contoh hadits mudhtharib pada matan
adalah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Syarik dari Abu Hamzah dari Sya’bi dari Fathimah binti Qais, beliau berkata :

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ عَنِ الزَّكَاةِ فَقَالَ : إِنَّ فيِ الماَلِ لَحَقًّا سِوَى الزكَّاَةِ

Rasulullah SAW ditanya tentang zakat, maka beliau menjawab,"Sesungguhnya paa harta itu ada hak orang selain dari zakat".

Sementara pada riwayat Ibnu Majah melalui jalan ini Rasulullah bersabda :

لَيسَ فيِ الماَلِ حَقٌّ سِوَى الزَّكاَةِ

"Tidak ada sesuatu hak pada harta itu, selain dari zakat"

Al–Iraqi berkata bahwa ini adalah idhthirab (kegoncangan) yang tidak bisa ditakwil. Hadits mudhtharib adalah termasuk dari jenis hadits yang dhaif dan tertolak. Penyebab kedhaifannya adalah bahwa idhthirab memberikan isyarat tidak terdapatnya dhabt pada rawi-rawinya.

e. Hadits Mushahhaf

Hadits mushahhaf adalah hadits yang mengalami kesalahan tulis pada kitab-kitab hadits. Istilah Ash-Shahafi adalah sebutan bagi perawi yang meriwayatkan hadits dengan membacakan buku, sehingga ia melakukan kesalahan karena kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip.

Ditinjau dari tempat terjadi kesalahannya, bisa terjadi baik pada sanad maupun pada matan. Contoh tashhif pada sanad misalnya nama al-'awwam bin murajim (العوّام بن مراجم) ditulis oleh perawi menjadi al-'awwam bin muzahim (العوّام بن مزاحم).

Sedangkan tashhif pada matan, misalnya kata ihtajara (احتجر) yang berarti menahan, ditulis dengan cara keliru menjadi ihtajama (احتجم) yang artinya adalah berbekam.

Kalau dilihat dari sebab terjadinya kesalahannya, kesalahan ini bisa terjadi karena faktor penglihatan (bashar), yaitu kasus kaburnya tulisan dimata pembacanya. Seperti hadist tentang puasa syawwal kata sittan (ستّا) yang maksudnya puasa 6 hari di bulan Syawwal, berubah menjadi syai-an (شيئا) yitu puasa di bulan Syawwal.

Namun terkadang juga terjadi karena faktor kaburnya pendengaran atau jauhnya si pendengar dari sumber suara atau yang semacamnya. Lalu ia menyamakan sebagian kata dengan yang kata lainnya yang wazannya serupa.
Seperti hadist dari 'Ashim Al-Ahwal dianggap dari Washil Al-Ahdab.

Jika seseorang perawi sering melakukan tashhif maka hal itu dapat mengurangi tingkat kekuatan hafalannya. Namun jika kadang-kadang saja, maka mustahil orang selamat dari kesalahan.

a. Pengertian

Syadz adalah bentuk isim fa’il dari kata kerja Syadzdza yang berarti yang menyendiri, menjauh dari orang banyak.
Adapun dalam istilah ilmu hadits adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (diterima) yang menyelisihi riwayat rawi yang lebih utama darinya”

b. Contoh Hadits Syadz

Contoh dari Syadz pada sanad hadits adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari jalan Ibnu Uyainah dari Amr bin Dinar dari ‘Ausajah dari Ibnu Abbas :

أَنَّ رَجُلاً تُوُفِّي عَلَى عَهدِ رَسُولِ اللهِ r وَلَم يَدَع وَارِثًا إِلاَّ مَولَى هُوَ أَعتَقَهُ

Bahwa ada seseorang pada zaman Rasulullah meninggal dan tidak meninggalkan warisan kecuali satu budaknya yang telah ia merdekakan” (HR. Abu Daud)

Ibnu Juraij dan yang lainnya juga meriwayatkan hadits ini secara maushul (tersambung). Adapun Hammad bin Zaid meriwayatkan dengan menyelisihi mereka. Dia meriwayatkan dari Amr bin Dinar dari ‘Ausajah dan tidak menyebutkan Ibnu Abbas. Oleh karena itu Abu Hatim menjelaskan bahwa yang mahfudz adalah hadits Ibnu Uyainah".

Hammad bin Zaid adalah termasuk orang yang adil dan dhabit (hafalannya kuat) namun walaupun begitu Abu Hatim lebih menguatkan riwayat yang disebutkan oleh kebanyakan rawi yang lain.

Adapun contoh dari Syadz pada matan hadits adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari hadits Abdul Wahid bin Ziyad dari A’masy dari Abu Shaleh dari Abu Abu Hurairah secara marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah SAW):

إِذاَ صَلىَّ أَحَدُكُم الفَجرَ فَليَضطَجِع عَن يَمِينِهِ

“Apabila salah satu diantara kalian shalat fajar, maka hendaklah ia berbaring ke samping kanannya”

Imam Baihaqi menjelaskan bahwa dalam hadits ini, Abdul Wahid menyelisihi riwayat orang banyak, karena orang-orang hanya meriwayatkan dari perbuatan Nabi SAW dan bukan dari perkataan beliau. Abdul Wahid menyendiri dengan lafadz ini dibanding para rawi tsiqat dari para shabat A’masy.

G. Berdasarkan Diterima Sebagian dan Ditolak Sebagian
Maksudnya hadits-hadits yang termasuk ke dalam kategori terakhir ini bisa diterima dari satu sisi, namun tidak bisa diterima pada sisi yang lain. Sehingga tidak seutuhnya diterima tetapi juga tidak seutuhnya ditolak.

a. Pengertian

Kata marfu’ menurut bahasa merupakan isim maf’ul dari kata rafa’a (رفع) yang berarti mengangkat. Maka kata marfu' artinya sesutu yang diangkat. Dinamakan hadits marfu’ karena kedudukannya diangkat ke kedudukan tinggi, yaitu kepada Rasulullah SAW.

Maka pengertian hadits marfu' adalah : perkataan, perbuatan, atau taqrir (penetapan), atau sifat yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik yang bersifat jelas ataupun secara hukum, baik yang menyandarkannya itu shahabat atau bukan, baik sanadnya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus).

b. Jenis Hadits Marfu'

Dari definisi di atas, kalau kita rinci lebih jauh kita akan mendapatkan delapan macam hadits marfu, yaitu : berupa perkataan, perbuatan, taqrir, dan sifat. Masing-masing dari yang empat macam ini mempunyai bagian lagi, yaitu : marfu’ secara tashrih (tegas dan jelas), dan marfu’ secara hukum.

Marfu’ secara hukum maksudnya adalah isinya tidak terang dan tegas menunjukkan marfu’, namun dihukumkan marfu’ karena bersandar pada beberapa indikasi.

c. Contoh Hadits Marfu'

Hadits marfu yang berupa perkataan dan bersifat tashrih

Contoh yang seperti ini misalnya perkataan shahabat Nabi SAW radhiyallahuanhu :

”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda begini”;

atau perkataan shahabat :

“Rasulullah SAW menceritakan kepadaku begini”;

atau perkataan shahabat :

“Rasulullah SAW bersabda begini”;

atau perkataan shahabat :

“Dari Rasulullah SAW bahwasannya bersabda begini”;

atau yang semisal dengan itu.

Hadits marfu yang berupa perkataan dan bersifat hukum

Contohnya seperti perkataan dari shahabat yang tidak mengambil dari cerita Israilliyaat berkaitan dengan perkara yang terjadi di masa lampau seperti awal penciptaan makhluk atau berita tentang para nabi. Atau berkaitan dengan masalah yang akan datang seperti tanda-tanda hari kiamat dan keadaan di akhirat.

Dan diantaranya pula adalah perkataan shahabat :

“Kami diperintahkan seperti ini”;

atau perkataan shahabat :

“kami dilarang untuk begini”;

atau perkataan shahabat :

"termasuk sunnah adalah melakukan begini”.

Hadits marfu' yang berupa perbuatan dan bersifat tashrih

Contohnya seperti perkataan seorang shahabat :

“Aku telah melihat Rasulullah SAW melakukan begini”.

Hadits marfu yang berupa perbuatan dan bersifat hukum

Contohnya seperti perbuatan shahabat yang tidak ada celah berijtihad di dalamnya dimana hal itu menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bukan dari shahabat semata, melainkan dari Rasulullah SAW.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari bahwa Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahuanhuma berbuka puasa dan mengqashar shalat pada perjalanan empat burud. Burud merupakan jamak dari bard, yaitu salah satu satuan jarak yang digunakan di jaman itu.

Hadits marfu yang berupa taqrir dan bersifat tashrih

Contohnya seperti perkataan shahabat :

”Aku telah melakukan perbuatan demikian di hadapan Rasulullah SAW”;

atau perkataan shahabat :

“Si Fulan telah melakukan perbuatan demikian di hadapan Rasulullah SAW –

dan dia (shahabat tersebut) tidak menyebutkan adanya pengingkaran Rasulullah SAW terhadap perbuatan itu.

Hadits marfu yang berupa taqrir dan bersifat hukum :

Contohnya seperti perkataan shahabat :

”Adalah para shahabat begini atau demikian pada jaman Rasulullah SAW”.

Hadits marfu yang berupa sifat dan bersifat tashrih :

Contohnya seperti perkataan seorang shahabat yang menyebutkan sifat Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits Ali radliyallaahuanhu :

”Nabi SAW itu tidak tinggi dan tidak pula pendek”;

atau perkataan shahabat :

Adalah Nabi SAW berkulit cerah, peramah, dan lemah lembut”.

Hadits marfu yang berupa sifat dan bersifat hukum :

Contohnya seperti perkataan shahabat :

”Dihalalkan untuk kami begini”;

atau perkataan shahabat :

“Telah diharamkan atas kami demikian”.

Ungkapan seperti secara dhahir menunjukkan bahwa Nabi SAW yang menghalalkan dan mengharamkan. Ini dikarenakan sifat yang secara hukum menunjukkan bahwa perbuatan adalah sifat dari pelakunya, dan Rasulullah SAW adalah yang menghalalkan dan mengharamkan; maka penghalalan dan pengharaman itu merupakan sifat baginya.

Poin ini sebenarnya banyak mengandung unsur tolerir yang tinggi, meskipun bentuk seperti ini dihukumi sebagai sesuatu yang marfu’.

a. Pengertian

Kata mauquf (موقوف) berasal dari kata waqfu (وقف) yang berarti berhenti. Seakan-akan perawi menghentikan sebuah hadits pada shahabat.

Hadits Mauquf menurut istilah adalah perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang shahabat Nabi SAW , baik yang bersambung sanadnya kepada Nabi ataupun tidak bersambung.

b. Jenis dan Contoh

  • Mauquf Qauli

Makna qauli artinya berupa perkataan. Maksudnya hadits ini berupa perkataan. Contohnya adalah perkataan seorang perawi :

Ali bin Abi Thalib radliyallaahuanhu berkata,”Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya ?”.

  • Mauquf Fi’li

Makna fi'li (فعلي) artinya berupa perbuatan. Maksudnya hadits ini berupa perbuatan. Contohnya perkataan Imam Bukhari :

”Ibnu ‘Abbas menjadi imam sedangkan dia (hanya) bertayamum”.

  • Mauquf Taqriry

Makna taqriri (تقريري) artinya berupa hal yang didiamkan oleh Nabi SAW dan bermakna kebolehan. Contohnya adalah perkataan seorang tabi’in :

“Aku telah melakukan demikian di depan seorang shahabat dan dia tidak mengingkari atasku”.

Hadits Mauquf sanadnya ada yang shahih, hasan, atau dla’if. Hukum asal pada hadits mauquf adalah tidak boleh dipakai berhujjah dalam agama.

a. Pengertian

Kata maqthu’ (مقطوع) artinya yang diputuskan atau yang terputus. Maka makna hadits maqthu’ menurut istilah adalah : perkataan dan perbuatan yang disandarkan kepada tabi’i atau orang yang di bawahnya, baik bersambung sanadnya atau tidak bersambung.

Perbedaan antara hadits maqthu’ dengan hadits munqathi’ adalah bahwasannya maqthu’ adalah bagian dari sifat matan, sedangkan munqathi’ bagian dari sifat sanad.

Hadits yang Maqthu’ itu merupakan perkataan tabi’i atau orang yang di bawahnya, dan bisa jadi sanadnya bersambung sampai kepadanya. Sedangkan Munqathi’ sanadnya tidak bersambung dan tidak ada kaitannya dengan matan.

Sebagian ulama hadits – seperti Imam Asy-Syafi’i dan Ath-Thabarani – menamakan maqthu’ dengan munqathi’ yang tidak bersambung sanadnya. Ini adalah istilah yang tidak populer. Hal tersebut terjadi sebelum adanya penetapan istilah-istilah dalam ilmu hadits, kemudian menjadi istilah maqthu’ sebagai pembeda untuk istilah munqathi’.

b. Jenis Hadits Maqthu'

Ada dua macam hadits maqthu' yaitu qauli dan fi'li.

Hadits maqthu’ qauli adalah hadits maqthu' yang berupa perkataan. Contohnya perkataan Hasan Al-Bashri tentang shalat di belakang ahli bid’ah :

“Shalatlah dan dia lah yang menanggung bid’ahnya”.

Hadits maqthu’ fi’li adalah hadits maqthu' yang berupa perbuatan. Contohnya perkataan Ibrahim bin Muhammad Al-Muntasyir :

Adalah Masruq membentangkan pembatas antara dia dan keluarganya dan menghadapi shalatnya, dan membiarkan mereka dengan dunia mereka”.

a. Pengertian

Menurut bahasa kata musnad (مسند) merupakan isim maf’ul dari kata asnada-yusnidu (أسند يسند) yang berarti menyandarkan atau menisbahkan. Sedangkan menurut istilah, hadits musnad adalah hadits yang sanadnya bersambung secara marfu’ kepada Nabi SAW.

b. Contoh

Hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari, yang berkata,

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf dari Malik dari Abi Zanad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah bahwa SAW bersabda, “Jika seekor anjing meminum di dalam bejana kalian, maka cucilah sebanyak tujuh kali.”

Hadits ini sanadnya bersambung dari awal hingga akhir, juga marfu’ sampai kepada Nabi.

Hadits Ziyadatusiqat adalah hadit yang dalamnya terdapat tambahan perkataan dari sebagian perawi yang tsiqah, sedang hadits itu diriwayatkan juga oleh perawi lain (tetapi tidak tambahan tersebut tidak ada).

Ziyadah Ats Tsiqah terdapat pada matan dengan tambahan satu suku kata atau kalimat. Juga terdapat pada sanad yaitu dengan mengangkat hadits mauquf atau menyambung hadits mursal.

Ibnu Shalah mengatakan bahwa bila ditinjau dari sah tidaknya Ziyadah Ats Tsiqah, maka bisa dibagi tiga macam :

  • Pertama, tambahan yang tidak bertentangan dengan riwayat para perawi yang tsiqah. Ini hukumnya dan maqbul.
  • Kedua : tambahan yang bertentangan dengan riwayat perawi yang tsiqah dan tidak mungkin untuk dijamak. Maka harus ditarjih antara riwayat tambahan dan riwayat yang menentangnya. Yang rajih diterima dan yang marjuh ditolak.
  • Ketiga : tambahan yang didalamnya terdapat semacam pertentangn dari riwayat para perawi yang tsiqah seprti mengkhususkan yang umum, maka ini diterima.

Tambahan juga bisa saja terjadi pada sanad, yaitu mengangkat hadits mauquf atau menyambung hadits mursal.
Para ulama berbeda pendapat dalam menghukumi ini. Jumhur fuqaha' ahli ushul fikih menerima tambahan ini. Tetapi kebanyakan ahli hadits menolaknya. Sebagian ahli hadits berpendapat agar dilakukan tarjih, yang terbanyak itulah yang diterima.

[1] Dr. Mahmud Ath-Tahhan, Taysir Mushthalah Hadits,

[2] Ulumul Hadits, hal. 93

[3] Shahih Bukhari, kitab Shalat, jilid 1 hal. 90

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img