All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 5. Ilmu Fiqih vs Ilmu Hadits

Bab 5 : Ilmu Fiqih vs Ilmu Hadits

A. Pendahuluan
Umat Islam punya kekayaan yang tidak dimiliki oleh umat lainnya, yaitu kekayaan intelektual para ulama dengan sekian banyak cabangnya. Dua diantaranya adalah ilmu hadits dan Ilmu fiqih, yang menjadi ruh selama 14 abad lamanya menjaga bangunan syariat sehingga tetap utuh dan kokoh dalam kondisi apa pun.

Banyak sekali orang yang terlanjur terjebak percaya dan taqlid buta kepada mitos usang dan kesalahan persepi tentang para ahli fiqih (fuqaha). Seringkali kita menemukan para pembelajar ilmu agama yang terlanjur menuduh para fuqaha sebagai kalangan yang kurang mengerti ilmu hadits atau hal-hal terkait keshahihan hadits.

Di zaman modern ini, karena keterbatasan kemampuan akal dan otak para pembelajar, maka berbagai perguruan tinggi Islam di penjuru dunia memisahkan antara Ilmu Fiqih dan ilmu hadits pada dua fakultas yang berbeda. Para doktor dan profesor yang mengajarpun berbeda di masing-masing disiplin ilmu. Doktor di bidang Ilmu Fiqih biasanya lebih menguasai Ilmu Fiqih dari pada ilmu hadits. Demikian pula sebaliknya, doktor di bidang ilmu hadits biasanya lebih menguasai ilmu hadits ketimbang Ilmu Fiqih.

Ada positif dan negatifnya dan bisa diperdebatkan nanti, namun salah dari segi negatifnya adalah kedua ilmu ini seakan terpisah oleh sekat fakultas dan disiplin ilmu. Ketika kalangan akademisi bidang ilmu hadits bicara masuk ke lingkup Ilmu Fiqih, terjadi sedikit kegamangan akibat kurangnya bekal pengetahuan dalam Ilmu Fiqih. Sebaliknya, ketika orang fiqih keluar dari dunianya dan mulai bicara tentang ilmu hadits, juga sering mengalami keterjebakan yang tidak bisa diatasinya.

Lalu muncul kemudian fenomena yang hanya terjadi di hari ini, yaitu kalangan ‘ahli hadits’ seolah menganggap rendah kalangan ‘ahli fiqih’, karena dianggap banyak berpendapat dengan menggunakan hadits-hadits lemah. Sebaliknya juga dilakukan oleh kalangan ‘ahli fiqih’ sering menuduh kepada kalangan ‘ahli hadits’ sebagai kelompok zhahiri yang tidak punya hormat kepada para ulama. Lucunya, Al-Albani terbalik-balik mengatakan :

يلزم الفقيه أن يكون محدثًا  ولا يلزم المحدث أن يكون فقيهًا  لأن المحدث فقيه بطبيعة الحال

Seorang ahli fiqih itu harus menjadi ahli hadits, sedangkan ahli hadits tidak perlu menjadi ahli fiqih, karena ahli hadits otomatis ahli fiqih.

Padahal dalam kenyataan sejarah, para ahli fiqih di masa lalu adalah otomatis dia ahli hadits. Sebaliknya, justru tidak semua tokoh dalam ilmu hadits menjadi ahli fiqih dalam arti belum tentu menjadi mujtahid mutlak mustaqil.

Tulisan singkat ini akan membahas tentang hubungan antara kedua cabang ilmu yang menjadi kebanggan umat Islam, yaitu antara ilmu hadits dan Ilmu Fiqih. Dan yang menjadi titik pertanyaan adalah :

  1. Apakah menguasai ilmu hadits dengan kritiknya itu sudah cukup untuk menyelesaikan dan menjawab semua masalah hukum syariah?

  2. Bagaimana hubugnan antara ilmu hadits dan  Ilmu Fiqih di masa lalu khususnya di kalangan para tokoh pendirinya?

  3. Bagaimana metodologi menarik kesimpulan hukum dari hadits-hadits yang telah dianggap shahih, apakah bisa langsung diamalkan begitu saja?

  4. Bagaimana metodologi menarik kesimpulan hukum dari hadits-hadits yang dianggap daif atau lemah, apakah harus dibuang karena dianggap tidak bisa dijadikan dasar hukum syariah?
Tulisan ini diniatkan agar bisa menjadi sebuah bahan kajian yang membuka cakrawala pemahaman sempit di kalangan pemula dan pembalajar ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu hadits dan Ilmu Fiqih. Diharapkan tulisan ini bisa memberikan sedikit banyaknya temuan-temuan yang penting untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memahami ilmu agama, serta mampu memberi informasi penting kedua bidang ilmu itu dipadukan.
B. Hadits Yang Diterima dan Ditolak
Umumnya kita yang belajar ilmu hadits akan diajarkan pertama kali pembagian jenis hadits berdasarkan diterima atau ditolaknya. Istilah yang sering digunakan adalah : أقسام الحديث حسب القبول والرد.

Lalu hadits dibagi menjadi dua, ada yang diterima periwayatannya dan ada juga yang tidak diterima.

Umumnya para ulama hadits menyebutkan bahwa ada dua macam pembagian hadits, dilihat dari sudut pandang diterima atau ditolak bila dilihat berdasarkan kualitas perawi, yaitu hadits shahih dan hadits hasan.

a. Shahih

Hadits shahih adalah hadits yang perawinya adil (عدل), hafalannya kuat (تام الضبط), sanadnya bersambung (بسند متصل), serta terbebas dari kejanggalan dan kecacatan (سلم من الشذوذ و العلة القادحة). Contohnya sabda Nabi SAW :

مَن يُرِدِ اللّهُ بِهِ خَيرًا يُفَقِّههُ فيِ الدِّينِ

Siapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila kita dalami ternyata hadits shahih ini ada dua macam jenisnya, yaitu : shahih li dzatihi dan shahih li ghairi. Hadits yang statusnya shahih lidzatihi (الصحيح لذاته) berarti hadits itu berstatus shahih dengan sendirinya, bukan karena adanya faktor eksternal yang mempengaruhinya menjadi shahih.

Sedangkan statusnya shahih li gharihi (الصحيح لغيره) asalnya bukan hadits shahih, namun karena adanya hadits lain yang menjadi penguat, akhirnya statusnya naik dari hasan menjadi shahih li ghairihi. Hal itu karena apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. Misalnya hadits berikut ini :

Dari ‘Abdillah Ibn ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu‘anhu bahwa Nabi SAW memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan unta. Maka Nabi SAW bersabda, “Belikan untuk kita unta perang dengan unta-unta yang masih muda.” Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan mendapat 1 unta perang.

b. Hasan

Di bawah derajat shahih kita mengenal adanya hadits hasan. Definisinya adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tapi hafalannya kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan kecacatan. Jadi, tidak ada perbedaan antara hadits ini dengan hadits shahih, kecuali dalam satu persyaratan, yaitu hadits hasan itu kalah dalam sisi hafalan. Contohnya adalah hadits Nabi SAW :

مِفتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُورُ وَ تَحرِيمُهَا التَّكبِيرُ وَ تَحلِيلُهَا التَّسلِيمُ

Sholat itu dibuka dengan bersuci, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.”

Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian, demikian keterangan dari Ibnu Shalah. Dalam prakteknya, ternyata hadits hasan ini pun bisa terdiri dari dua jenis, yaitu hasan lidzatihi dan hasan li ghairihi. Hasan yang statusnya hasan lidzatihi (الحسن لذاته) maksudnya hadits yang statusnya hasan dengan sendirinya. Sedangkan yang statusnya hasan li Ghairihi (الحسن لغيره), yaitu hadits yang dha’ifnya ringan dan memiliki beberapa jalan yang bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang di dalamnya tidak ada pendusta atau perawi yang pernah tertuduh membuat hadits palsu.

Nabi SAW jika mengangkat kedua tangannya dalam do’a maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. (HR. Tirmidzi)

Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Bulughul Maram berkata bahwa hadits ini memiliki banyak hadits penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Gabungan hadits-hadits tersebut menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan. Dan dinamakan hasan li ghairihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian, maka hadits tersebut tidak mencapai derajat hasan. Namun, bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan.

Ada begitu banyak jenis hadits yang tertolak, namun semua bisa disebut dengan satu istilah, yaitu hadits lemah atau dhaif. Pengertian hadits dhaif adalah :

مَالَم يَجمَع صِفَةُ الحَسَنِ بِفَقدِ شَرطٍ مِن شُرُوطِهِ

Hadits yang tidak terkumpul padanya sifat hasan, lantaran kehilangan satu dari sekian syarat-syaratnya.

Contoh hadits yang dhaif adalah :

مَن أَتَى حَائِضًا أَوِ امرَأَةً فيِ دُبُرِهَا فَقَد كَفَرَ بِمَا نَزَلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ

Siapa yang menyetubuhi wanita yang sedang haidh atau istri pada duburnya, maka dia telah kufur pada agama yang turun kepada Nabi Muhammad.

Al-Imam At-Tirmizy mengatakan hadits ini dhaif, karena di dalam rangkaian para perawinya ada orang yang bernama Hakim Al-Atsram, yang statusnya dhaif. Ada dua kemungkinan kelemahan sebuah hadits. Pertama, lemah dari sisi isnad, yaitu jalur periwayatan. Kedua, kelemahan dari sisi diri perawi, yaitu orang-orang yang meriwayatkan hadits itu.

a. Lemah Dari Sisi Isnad

Yang dimaksud dengan hadits lemah dari sisi isnad adalah kelemahan dalam jalur periwayatan hadits itu dari Rasulullah SAW kepada perawi yang terakhir. Maksudnya, ada satu, dua atau lebih perawi yang tidak lengkap dalam sebuah jalur periwayatan, dengan berbagai sebab. Yang jelas, jalur itu menjadi ompong karena terjadi kekosongan satu atau beberapa perawi di dalamnya. Dan akibatnya, sanadnya menjadi tidak tersambung dengan benar.

Dan para ulama membagi lagi kelemahan jalur periwayatan itu menjadi beberapa jenis, antara lain : hadits muallaq (معلّق), mursal (مرسل), mu'dhal (معضل), munqathi' (منقطع), mudallas (مدلّس), mursal khafi (مرسل خافي), mu'an-'an (معنعن) dan muannan (معنّن)

b. Lemah Dari Sisi Perawi

Sedangkan kelemahan dari sisi perawi berbeda dengan kelemahan isnad. Kelemahan ini bukan karena tidak adanya perawi atau terputusnya jalur periwayatan, tetapi karena rendahnya kualitas perawi itu sendiri sehingga hadits itu jadi tertolak hukumnya. Maka hasilnya sebenarnya sama saja, baik lemah dari sisi jalur atau pun lemah dari sisi personal para perawinya.

Para ulama menyusun daftar hadits yang tertolak karena faktor lemahnya kualitas perawi, di antaranya adalah : hadits maudhu (موضوع), matruk (متروك), munkar (منكر), ma'ruf (معروف), mu'allal (معلّل), mukhalif li-tsiqah (مخالف للثقة), mudraj (مدرج), mudhtharib (), mushahhaf (), syadz (شاذ), jahalah (جهالة), mubtadi (مبتدئ), su'ul hifdz (سوء الحفظ).

C. Para Fuqaha dan Ilmu Hadits
Berbeda dengan yang berkembang di masa sekarang tentang kesan adanya jarak antara ilmu hadits dan Ilmu Fiqih, sesungguhnya di masa lalu kedua cabang ilmu itu justru berada di dalam rahim yang sama, bahkan para tokoh atau ulama dalam ilmu hadits ternyata justru merupakan tokoh dalam Ilmu Fiqih. Bahkan para mujtahid mutlak mustaqil pendiri mazhab-mazhab besar yang mukamat, sejatinya mereka justru merupakan tokoh-tokoh utama dalam meletakkan dasar-dasar ilmu hadits.

Berikut ini adalah beberapa contoh yang bisa disebutkan sebagian dari mereka :

Banyak sekali tokoh Ilmu Fiqih yang juga pada saat yang sama merupakan tokoh ilmu hadits. Berikut ini sebagian kecil dari mereka :

a. Al-Imam Malik

Al-Imam Malik (w. 179 ) adalah mujtahid mutlak mustaqi, pendiri mazhab fiqih muktamad Maliki. Namun beliau juga ulama senior yang mendapat julukan sebagai imam ahli hadits, sebagai tandingan dari mazhab satunya Hanafi yang lebih dikenal sebagai mazhab ahli ra’yi.

Dalam bidang hadits, beliau terbilang ulama yang pertama kali menulis kitab hadits, jauh sebelum masa penulis kutubus-sittah menuliskan karya mereka. Al-Muwwaththa’ adalah kitab karya Al-Imam Malik dan dianggap kitab tershahih di zamannya. Itulah mengapa dinamakan Al-Muwaththa’, karena kitab ini telah diakui dan disepakati keshahihannya oleh setidaknya 70 ulama Madinah di zamannya.

Kitab Al-Muwaththa’ inilah yang dihafal oleh Asy-syafi’i sejak masa kecilnya. Dan kitab ini pula yang dimintakan oleh Khalifah Harus Ar-Rasyid untuk dijadikan kitab standar resmi yang diberlakukan di seluruh dunia Islam.

b. Al-Imam Asy-Syafi’i

Al-Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H) adalah ulama yang ahli di bidang Ilmu Fiqih, ushul fiqih dan juga ilmu hadits, juga bahasa Arab dan sastranya. Beliau adalah satu dari empat pendiri mazhab muktamad yang bertahan selama 14 abad dan merupakan mazhab terbesar pengikutnya di seluruh dunia hingga hari ini.

Dalam masalah hadits, sejak usia 12 tahun Beliau sudah hafal di luar kepala kitab Al-Muwathta’ yang disusun oleh Al-Imam Malik (w. 179 H).

Dalam bidang hadits, meski tidak menulis kitab hadits sendiri, namun justru beliau menulis dasar-dasar ilmu hadits di dalam kitab Ar-Risalah, yang sebenarnya menjelaskan ilmu ushul fiqih. Dan karena ilmu hadits merupakan bagian dari pembahasan ushul fiqih, maka pembahasan tentang ilmu hadits pun tidak luput di dalamnya. Syeikh Abdullah As-Sa’d berkata dalam masalah ini :

أول من ألف في علم المصطلح: هو الإمام الشافعي رحمه الله ما كتبه في كتاب الرسالة وإن كان هذا الكتاب ألف من أجل بيان علم الأصول ولكن من الأصول أصول الحديث فقد ذكر كثيرا من القواعد في علم المصطلح

Orang yang pertama kali menulis tentang ilmu musthalah hadits adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Apa yang beliau tulis di dalam kitab Ar-Risalah, meskipun beliau tulis dalam rangka menjelaskan ilmu ushul fiqih, tetapi salah satu bagian dari ilmu ushul fiqih adalah ilmu ushul hadits. Beliau banyak sekali menyebutkan kaidah-kaidah dalam ilmu musthalah hadits.

Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani (w. 189 H), salah satu murid dari dua murid Abu Hanifah (w. 150 H) yang terkenal pernah memberi komentar tentang sosok Al-Imam Asy-Syafi’i dalam bidang ilmu hadits sebagai berikut

إن تكلم أصحاب الحديث يوما ما فبلسان الشافعي يعني لما وضع من كتبه

Apabila para ahli hadits berbicara pada suatu hari, pastilah itu lewat lisan Asy-Syafi’i, maksudnya mengutip apa yang ada dalam kitab-kitabnya. 

Salah satu kitab beliau yang juga sangat penting dipahami oleh para pembelajar ilmu hadits adalah Ikhtilaful Hadits. Kitab yang membahas bagaimana cara kita menyimpulkan masalah apabila ada terdapat hadits-hadits yang sama-sama shahih namun secara lahiriyah nampak bertentangan.

c. Al-Imam Ahmad bin Hanbal

Al-Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) adalah seorang ahli hadits dan juga sekaligus ahli fiqih yang levelnya mencapai derajat muhtahid mutlaq mustaqil. Beliau lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utara Iran) di kota Baghdad, Irak. Nama lengkap beliau Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi.

Di bidang ilmu hadits, beliau mendapatkan pujian khusus dari gurunya, Al-Imam Asy-syafi’i : Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al-Quran, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”

Dalam hal ilmu hadits, Al-Imam Ahmad memang sangat menonjol, bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa beliau bukan ahli fiqih tetapi sekedar ahli hadits saja. Namun hal itu ditampik oleh Ibnu ‘Aqil Al-Hanbali (w. 513 H) dengan pernyataannya :

”Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang jahil yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kejahilan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan dia lebih unggul dari seniornya”.

Dan bahwa beliau bukan sekedar ahli hadits saja pun mendapat dukungan Al-Imam Adz-Dzahabi (w. 748 H). Beliau menegaskan

Demi Allah, dia dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ dia menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan dia setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain.

Dari sini kita tidak perlu memperdebatkan lagi bahwa sosok Al-Imam Ahmad adalah ahli hadits, yang justru diperdebatkan apakah selain sebagai ahli hadits, beliau juga ahli fiqih. Tetapi sejarah sampai hari ini kemudian mencatat bahwa Al-Imam Ahmad adalah salah satu imam mazhab yang mencapai derajat mujtahid mutlak mustaqil. Mazhabnya tersebar di beberapa negara Arab seperti Saudi Arabia dan beberapa negara sekitarnya.

Di sisin lain kalau kita telusuri dalam sejarah, umumnya para ulama ahli hadits adalah sosok ulama yang tidak terlepas dari mazhab fiqih yang taat dan terikat dengan mazhabnya. Berikut adalah diantara mereka :

a. Abu Daud

Abu Dawud (w. 202 H )  Nama lengkapnya adalah Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Di antara guru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Qanabiy, Sulaiman bin Harb, Abu Amr adh-Dhariri, Abu Walid ath-Thayalisi, Abu Zakariya Yahya bin Ma'in, Abu Khaitsamah, Zuhair bin Harb, ad-Darimi, Abu Ustman Sa'id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan ulama lainnya.

Perjalanan ilmiyahnya mengantarkannya sampai Irak, Khurasan, Mesir, Suriah, Nishapur, Marv, dan tempat-tempat lain. Abu Dawud sudah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, dia sudah berada di Baghdad, dan disana dia menyaksikan wafatnya Imam Muslim, sebagaimana pengakuannya,”Aku menyaksikan jenazahnya dan menshalatkannya”.

Sebelumnya beliau telah pergi ke negeri-negeri tetangga Sijistan, seperti khurasan, Baghlan, Harron, Roi dan Naisabur. Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq memintanya dan menetap di Bashrqah. Beliau salah seorang perawi hadits yang mengumpulkan sekitar 50.000 hadits lalu memilih dan menuliskan 4.800 di antaranya dalam kitabnya yang dikenal dengan Sunan Abu Dawud.

Al-Khathaby mengomentari bahwa kitab tersebut adalah sebaik-baik tulisan dan isinya lebih banyak memuat fiqh daripada kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Ibnul Araby berkata bahwa orang yang sudah menguasai Al-Quran dan kitab Sunan Abu Dawud, maka dia tidak membutuhkan kitab-kitab lain lagi.  Al-Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa kitab Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi seorang mujtahid untuk menjadi landasan hukum.

b. At-Tirmizy

At-Tirmizy  (w. 279 H) lengkapnya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi. Beliau lahir di Tirmiz pada tahun 209 Hijriyah dan berkelana mencari ilmu ke Khurasan, Iraq dan Hijaz.

Diantara guru beliau adalah Al-Imam Bukhari, Al-Imam Muslim dan Abud Daud. Al-Hakim mengatakan "Saya pernah mendengar Umar bin Alak mengomentari pribadi At-Tirmidzi sebagai berikut; kematian Imam Bukhari tidak meninggalkan muridnya yang lebih pandai di Khurasan selain daripada Abu 'Isa at-Tirmidzi dalam hal luas ilmunya dan hafalannya."

Karyanya yang terkenal di bidang ilmu hadits adalah kitab Al-Jami’ atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi. Kitab ini adalah salah satu dari Kutubus Sittah (enam kitab pokok bidang hadits). Kitab Sunannya itu pernah ditunjukkan kepada ulama-ulama Hijaz, Irak, dan Khurasan, dan mereka semuanya setuju dengan isi kitab itu.

Selain itu beliau menulis dua kitab Al-Ilal, yaitu Al-‘Ilal Al-Kabir dan Al’Ilal Ash-Shaghir. Karya lainnya adalah kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyah dan ringkasannya, Mukhtashar Asy-syamail.

c. Al-Khatib Al-Baghdadi

Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H), nama lengkap beliau Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi Al-Baghdadi. Lahir di Guzzah, sebuah tempat di antara Mekkah dengan Kufah pada tahun 392 Hijriyah dan wafat di Baghdad pada tahun 462 Hijriyah.

Karya beliau cukup banyak hingga mencapai 79 judul. Yang terkait dengan ilmu hadits antara lain :

الكفاية في علم الرواية - في مصطلح الحديث

الفوائد المنتخبة  - حديث

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع

تقييد العلم

شرف أصحاب الحديث 

الأسماء والألقاب

تلخيص المتشابه في الرسم

الرحلة في طلب الحديث

الأسماء المبهمة

الفقيه والمتفقه

•     السابق واللاحق، في تباعد ما بين وفاة الراويين عن شيخ واحد

موضح أوهام الجمع والتفريق

اقتضاء العلم والعمل

المتفق والمفترق

Meski dikenal sebagai ulama ahli hadits yang masyhur, namun beliau jugadikenal sebagai ulama yang bermazhab Asy-syafi’i di masanya.

d. Ibnu Shalah

Ibnu Shalah (w. 643 H), nama lengkapnya adalah Ustman bin Abdurrahman Abu Amru Taqiyuddin. Lahir di Khurasan padatahun 557 Hijriyah kemudian pindah ke Mosul. Beliau diangkat menjadi pengajar di Madrasah Darul Hadits Al-Asyrafiyah.

Banyak sekali karya beliau, yang paling masyhur adalah kitab Ma’rifatu Anwa’i Ulum Al-Hadits atau yang lebih dikenal sebagai  Muqaddimah Ibnu Shalah. Karya beliau ini telah secara resmi dianggap sebagai ‘kitab suci’ para ulama hadits berikutnya. Banyak sekali karya dalam bidang ilmu mushtalah hadits yang merujuk kepada kitab ini. Selain itu beliau juga punya beberapa karya yang lain, seperti :

الفتاوى شرح الوسيط

فوائد الرحلة

أدب المفتي والمستفتي

طبقات الفقهاء الشافعية

صلة الناسك في صفة المناسك

Ibnu Shalah inilah yang memperkenalkan kepada jagad ilmu hadits tentang status kitab karya Al-Bukhari sebagai kitab tershahih kedua dan kitab Shahih Muslim sebagai kitab tershahih ketiga setelah Al-Quran Al-Karim :

أول من صنف في الصحيح البخاري أبو عبد الله محمد بن إسماعيل وتلاه أبو الحسين مسلم بن الحجاج القشيري ومسلم مع أنه أخذ عن البخاري واستفاد منه فإنه يشارك البخاري في كثير من شيوخه وكتاباهما أصح الكتب بعد كتاب الله العزيز - 

Meski sudah menjadi ahli hadits kenamaan, namun beliau ulama yang terikat dengan mazhab Asy-Syafi’i dan berfatwa dengan fatwa-fatwa mazhabnya.

e. An-Nawawi

An-Nawawi (w. 676 H) nama lengkapnya adalah Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi Al-Hurani Asy-Syafi’i. Lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama dia, an-Nawawi ad-Dimasyqi.

Beliau ulama ahli hadits sekaligus juga ulama ahli fiqih. Beliau pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini beliau belajar dan menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan dan menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad. Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil.

Karya beliau cukup banyak, diantaranya adalah :

  • Al-Arba'in An-Nawawiyah (الأربعين النووية
  • Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين)
  • Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), (شرح صحيح مسلم)
  • At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir
  • Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي)
  • Raudhatuth Thalibin
  • Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب)
  • At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran (التبيان في آداب حملة القرآن).
  • Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
  • Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
  • Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).

f. Adz-Dzahabi

Al-Imam Adz-Dzahabi (w. 748 H) adalah seorang ahli hadits dari kalangan mazhab Asy-syafi’iyah. Dilahirkan pada tahun 673 Hijriyah di Mayyafariqin Diyar Bakr,  Turkumanistan.

Ibnu Nashruddin ad-Dimasyqi (w. 842 H) berkata, “Beliau adalah tanda kebesaran Allah dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil lantaran mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.”

Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata, “Beliau adalah Syeikh al-Hafiz al-kabir, Pakar Tarikh Islam, Syeikhul muhadditsin. Beliau adalah penutup syuyukh hadis dan huffazhnya.”

Tajuddin as-Subki (w. 771 H) berkata, “Beliau adalah syaikh Jarh wa Ta’dil, pakar Rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat kemudian beliau melihat dan mengungkapkan sejarah mereka.”

An-Nabilisi (w. 671 H) berkata, “Beliau pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam pemahamannya, cerdas, dan ketenarannya sudah mencukupi dari pada menyebutkan sifat-sifat nya.” (ad-Durar al-Kaminah, III:427)

g. Ibnu Hajar Al-Asqalani

Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Asqalani Al-Mishri. namun lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar al-Asqalani dikarenakan kemasyhuran nenek moyangnya yang berasal dari Ashkelon, Palestina.  Beliau dilahirkan tanggal 12 Sya’ban tahun 773 Hijriah dipinggiran sungai Nil di Mesir kuno.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fathul Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan penjelasan dari kitab shahih milik Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan Shahih Bukhari yang paling detail yang pernah dibuat.

Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekati ajalnya. Karya-karya dia banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak dia masih hidup. Para raja dan Amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar. Menurut murid utamanya, yaitu Imam As-Sakhawi (w. 902 H) , karya dia mencapai lebih dari 270 kitab. Kebanyakan karyanya berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat. Di antarakarya tulis Ibnu Hajar tersebut: Ad-Durar al-Kaminah, kamus biografi tokoh-tokoh abad ke-8. Juga ada kitab terkenal lainnya yaitu Tahdzib at-Tahdzib, Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, kamus biografi sahabat nabi. Beliau juga menulis kitab Bulughul Maram, Al-Isti'dad Liyaumil Mii'aad, Nukhbatul Fikr, (tentang Musthalah hadits) dan masih banyak lagi.

Selain sebagai ahli hadits, beliau juga termasuk ahli fiqih yang taat dengan mazhab Asy-syafi’i.

h. As-Suyuthi

As-Syuyuthi (w. 911 H) Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi'i al-Asy'ari. Beliau lahir pada tahun 849 di Mesir dan mengadakan perjalanan menuntu ilmu ke berbagai belahan dunia Islam seperti Syam, hijaz, India, Maghrib, Yaman, dna kembali ke Mesir hingga wafat pada tahun 911 Hijriyah.  Beliau seorang ulama multiple disiplin ilmu, baik ilmu Al-Quran, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Lughah, Tarikh, Adab dan lainnya.

Disebutkan bahwa karya beliau tidak kurang dari 600 judul dalam berbagai disiplin ilmu, salah satunya ilmu hadits dan Ilmu Fiqih. Ahmad Syarqawi menyebutkan beliau punya 725 judul karya ilmiyah. Di antara karya beliau terkait dengan ilmu hadits adalah :

  • ‘Ainul Ishaabah Fi Ma’rifati ash-Shahaabah
  • Durru ash-Shahaabah Fi man Dakhala Mishra Minash Shahaabah
  • Husnul Muhaadlarah
  • Riihu an-Nisriin Fi man ‘Aasya Minash Shahaabah Mi ata Wa ‘isyriin
  • Is’aaful Mubtha’ bi Rijaalil Muwaththa’
  • Kasyfu at-Talbiis ‘an Qalbi Ahli Tadliis
  • Taqriibul Ghariib
  • Al-Madraj Ila al-Mudraj
  • Tadzkirah al-Mu’tasi Min Hadits Man haddatsa wa nasiy
  • Asmaa`ul Mudallisiin
  • Al-Luma’ Fi Asmaa`i Man Wadla’
  • Ar-Raudlul Mukallal Wa Waradul Mu’allal fi al-mushthalah
D. Hadis Shahih yang Tidak Diamalkan
Para ulama hadits yang juga mengerti Ilmu Fiqih tentu punya pandangan yang sangat komprehensif, syamil, luas dan mutakamil, tatkala membaca hadits-hadits nabawi. Mereka sangat selektif bukan hanya dari sisi isnad periwayatan, tetapi juga kritis dalam masalah konten atau matan. Sehingga tidak sembrono mengamalkan hadits-hadits yang shahih begitu saja, kecuali setelah memperhatikan bahwa sisi. Di antara yang menjadi pertimbangan ketika mengamal suatu hadits shaih antara lain :

1. Melakukan validasi terkait status keshahihan suatu hadits, siapa yang menshahihkannya dan bagaimana kualitasnya, serta apakah disepakati keshahihannya oleh seluruh / mayoritas ulama ataukah hanya klaim sepihak dari beberapa gelintir ulama.

2. Memperhatikan apakah ada hadits shahih lainnya yang secara lahiriyah terkesan ‘bertentangan’ atau berbeda kontennya dengan hadits tersebut. Lalu menjadi titik temu (thariqatul jam’i) yang sesuai.

3. Melihat ‘urf dan siyaq dari suatu hadits yang sudah dianggap shahih, apakah kontennya mengandung muatan-muatan yang terkait dengan konteks di masa itu saja, ataukah bersifat universal.

4. Memperhatikan juga apakah konten hadits shahih itu bersifat khusus untuk shahabat tertentu atau kasus tertentu, ataukah bersifat umum dan mutlak untuk seluruh umat Islam sepanjang zaman.

5. Memperhatikan time-line kapan waktu kejadian dari peristiwa yang diriwayatkan hadits tersebut, dan adakah hadits lainnya yang kemudian mengangulir (nasakh) hukumnya.

Dengan kata lain, para ulama yang menggunakan Ilmu Fiqih tidak sekedar memutuskan perkara berdasarkan apakah hadits ini shahih atau tidak shahih, tetapi masih ada banyak perangkat lain yang harus digukanan, sebagaimana sudah dirinci oleh Asy-Syafi’i di dalam kitab Ar-Risalah. Maka yang bisa dengan mudah melakukannya tidak lain adalah para fuqaha.

Untuk itu menarik kita perhatikan statemen dari Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H) menukil perkataan Ibnu Uyainah (w. 198 H):

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Hadits itu bisa jadi menyesatkan kecuali fuqaha’. .

Ibn Wahab (w. 197 H) salah seorang murid dari Imam Malik bin Anas (w. 179 H) pernah suatu ketika berkata:

لولا مالك والليث لهلكت كنت أظن أن كل ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم يعمل به

Kalau saja saya (Ibnu Wahab) tidak bertemu dengan Imam Malik (w. 179 H) dan al-Laits bin Saad (w. 175 H), maka celakalah saya. Dahulu saya menyangka segala sesuatu yang datang dari Nabi itu pasti harus diamalkan. 

Tidak semua hadits shahih bisa langsung diamalkan begitu saja secara apa adanya, tetapi harus dilihat dari beberapa aspek. Di antara penyebab hadits shahih tidak bisa diamalkan secara lahiriyah adalah karena :

Ada perbedaan ‘urf antara masa kehidupan Nabi SAW dengan ‘urf di masa kita sekarang. Misalnya ketika Rasulullah SAW melarang kita menghadap kiblat ketika buang hajat dan malah memerintahkan kita menghadap ke Timur atau ke Barat, sebagaimana hadits berikut ini :

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الغَائِطَ فَلَا يَستَقبِل القِبلَةَ وَلَا يُوَلها ظهره، شَرِّقُوا أَو غَرِّبُوا

Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, janganlah menghadap ke arah kiblat dan jangan membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke Timur atau ke Barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau hadits ini diterapkan di Madinah, maka hadits ini sesuai sekali, karena arah kiblat dari kota Madinah itu ke Selatan. Biar tidak menghadap kiblat atau membelakanginya, maka menghadapkah ke Timur atau ke Barat. 

Namun hadits ini menjadi kurang relevan ketika digunakan di negeri kita Indonesia, dimana justru arah kiblatnya menghadap ke Barat secara umum. Kalau beliau memerintahkan kita menghadap ke Barat, justru malah menghadap ke arah kiblat.

Saat terjadi kemarau panjang di Madinah, para shahabat mendatangi Nabi SAW agar beliau meminta kepada Allah SWT menurunkan hujan. Lalu Allah SWT mengabulkan doa Nabi-Nya hingga hujan turun dengan lebatnya hingga tujuh hari tanpa henti. Maka kota Madinah banjir. Sehingga para shahabat mendatangi Nabi SAW sekali lagi untuk meminta beliau berdoa kepada Allah SWT mengatasi banjir itu. Maka Rasulullah SAW berdoa sebagai berikut :

اللَّهُمَّ حَوَالَينَا وَلَا عَلَينَا اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَودِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung², bukit², perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan (HR. Bukhari Muslim)

Lafadz doa Nabi SAW ini sangat menarik, intinya meminta kepada Allah SWT agar tidak menurunkan hujan di tengah kota Madinah, tetapi hujannya di sekitaran luar kota Madinah. Untuk kasus di masa Nabi dan di daerah Madinah, rasanya doa ini sangat tepat.

Akan tetapi kalau doa seperti ini diucapkan oleh warga DKI Jakarta, yakni agar tidak turun hujan di dalam kota Jakarta, tetapi di luar Jakarta seperti Bogor Puncak dan sekitarnnya, maka akan menjadi percuma saja. Sebab justru banjir di Jakarta ini kebanyakan terjadi karena banjir kiriman dari sekitar daerah penyangga Jakarta.

Di masa Nabi SAW ada kebiasaan yang kalau kita lihat di hari ini terasa cukup aneh, yaitu kebiasaan shalat di masjid Nabawi sambil mengenakan sepatu dan sandal. Bahkan ada hadits yang secara eksplisit dimana beliau SAW memerintahkan para shahabatnya untuk mengenakannya, dengan menyebutkan alasannya, yaitu agar berbeda dengan tata cara ibadah atau shalatnya orang yahudi.

عن شداد بن أوس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم رواه أبو داود

Dari Syaddad bin Aus, diba berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kalian harus berbeda dengan yahudi. Mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan sepatu. (HR. Abu Daud)

سعيد بن يزيد الأزدي قال: سألت أنس بن مالك: أكان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في نعليه؟ قال: «نعم»

Said bin Yazid Al-Azdi berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik,”Apakah dahulu Nabi SAW shalat dengan memakai sandal?”. Beliau menjawab,”Ya”. (HR. Bukhari)

Kalau kita membaca secar lahiriyah hadits di atas, maka kita akan menarik kesimpulan terburu-buru bahwa shalat kita ini harus berbeda dengan shalat orang yahudi, yaitu harus memakai sandal atau sepatu. Sebab orang yahudi shalatnya justru tidak pakai sandal atau sepatu.

Padahal selama ini umat Islam di seluruh dunia, termasuk di masjid Al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, tidak shalat kecuali dengan melepas sandal atau sepatu mereka. Lantas apakah selama ini kita telah keliru dan menyalahi perintah Nabi SAW?

D. Hadits Yang Bukan PadaTempatnya
Kadang ada hadits yang shahih dari segi sanad dan disepakati keshahihannya oleh seluruh ulama. Namun dalam penggunaannya ternyata keliru. Salah satu contoh kasus yang seperti ini adalah tentang berapa jumlah rakaat tarawih. Kita tidak mendapatkan hadits shahih yang menjelaskan berapa rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang hanya dilakukan selama tiga malam itu.

صَلىَّ النَّبِيُّ  فيِ المـَسجِدِ ذَاتَ لَيلَةٍ فَصَلىَّ بِصَلاَتِهِ نَاسُ ثُمَّ صَلىَّ مِنَ القَابِلَةِ وَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجتَمَعُوا مِنَ اللَّيلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَم يَخرُج إِلَيهِم رَسُولُ الله. فَلَمَّا أَصبَحَ قَالَ : قَد رَأَيتُ الَّذِي صَنَعتُم فَلَم يَمنَعنيِ مِنَ الخُرُوجِ إِلَيكُم إِلاَّ أَنيِّ خَشِيتُ أَن تُفتَرَضَ عَلَيكُم ـ قال: وَذَلِكَ فيِ رَمَضَان

Dari Aisyah radhiyallahu 'anhu sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam pernah melaksankan shalat kemudian orang-orang shalat dengan shalatnya tersebut, kemudian beliau shalat pada malam selanjutnya dan orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau keempat dan Rasulullah SAW tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah SAW berkata, “Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat) bersama kalian kecuali bahwasanya akau khawati bahwa shalat tersebut akan difardukan.” Rawi hadits berkata, "Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada hadits yang shahih terkait dengan hal ini yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahuanda yang dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Sehingga statusnya adlaah hadits yang muttafaq alaihi.

عن عائشة قَالَت : مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيرِهِ عَلَى إحدَى عَشرَةَ رَكعَةً يُصَلِّي أَربَعًا فَلاَ تَسأَل عَن حُسنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَربَعًا فَلاَ تَسأَل عَن حُسنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ  ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

Dari Aisyah rahiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat shalat di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat lagi dan jangan juga ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. (HR. Bukhari)

Namun meski hadits ini shahih dan jelas sekali menyebutkan berapa jumlah rakaat shalat malamnya Rasulullah SAW, yaitu 11 rakaat, nampaknya para ulama tidak berfatwa bahwa shalat tarawih itu 11 rakaat. Kebanyakan mereka khususnya empat mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menyebutkan bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat. Berikut petikan fatwa mereka :

a. Mazhab Al-Hanafiyah

As-Sarakhsi (w.483 H.), salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya Al-Mabsuth  sebagai berikut :

فإنها عشرون ركعة سوى الوتر عندنا

Maka sesungguhnya shalat tarawih itu sebanyak 20 rakaat selain witir menurut kami. 

Al-Kasani (w.587 H.), salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya Badai’iu-Shanai’ fi Tartibisy-Syarai’ sebagai berikut :

وأما قدرها فعشرون ركعة في عشر تسليمات في خمس ترويحات كل تسليمتين ترويحة وهذا قول عامة العلماء

Dan adapun bilangan rakaat tarawih adalah sebanyak 20 rakaat dalam 10 kali salam, dengan 5 kali istirahat (berhenti sejenak), pada setiap dua salam terdapat satu kali istirahat. Dan ini menurut kebanyakan para ulama. 

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

فتحصل من هذا كله أن قيام رمضان سنة إحدى عشرة ركعة بالوتر في جماعة فعله  ثم تركه لعذر ... وكونها عشرين سنة الخلفاء الراشدين وقوله  عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين ندب إلى سنتهم

Kesimpulan dari semua dalil ini bahwa qiyam Ramadhan sunnah 11 rakaat berjamaah yang dikerjakan Rasulullah SAW kemudian ditinggalkan karena udzur tertentu . Sedangkan menjadi 20 rakaat adalah sunnah khulafaurrasyidin. Sabda beliau SAW,"Kalian harus berpegang pada sunnah khulafaurrasyidin, menjadi adalah anjuran untuk mengikuti sunnah mereka. 

Az-Zaila’i (w.743 H.), salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarah Kanzu ad-Daqaiq  sebagai berikut :

وسن في رمضان عشرون ركعة بعشر تسليمات بعد العشاء قبل الوتر

Dan disunahkan pada bulan Ramadhan untuk shalat 20 rakaat dengan 10 salam yang dilakukan setelah shalat isya, sebelum witir.

Ibnu Abdin (w.1252 H.), salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ‘ala Ad-dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

قوله وهي عشرون ركعة هو قول الجمهور وعليه عمل الناس شرقا وغربا

Dan tarawih itu 20 rakaat adalah pendapat jumhur dan itulah yang diamalkan orang-orang baik di Timur ataupun di Barat. 

b. Mazhab A-Malikiyah

Ad-Dardir (w.1241 H.), salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah menuliskan di dalam kitabnya Asy-Syarhu Ash-Shaghir sebagai berikut :

والتراويح برمضان وهي عشرون ركعة بعد صلاة العشاء يسلم من كل ركعتين غير الشفع والوتر

Dan shalat Tarawih di Ramadhan 20 rakaat setelah shalat Isya', dengan salam tiap dua rakaat, di luar shalat syafa' dan witir.

c. Mazhab Asy-Syafi’iyah

An-Nawawi (w. 676 H.), salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan di dalam kitabnya Al-Majmu’ syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

صلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات وتجوز منفردا وجماعة

Shalat tarawih hukumnya sunah menurut ijma ulama, dan menurut kami shalat itu 20 rakaat dalam 10 kali salam. Boleh dilakukan sendiri-sendiri ataupun berjamaah.

Zakaria Al-Anshari (w.926 H.), salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib Syarah Raudhah Al-Mathalib sebagai berikut :

وهي عشرون ركعة بعشر تسليمات في كل ليلة من رمضان

Shalat tarawih adalah sebanyak 20 rakaat, dengan 10 salam yang mana dilakukan pada setiap malam dibulan Ramadhan.

Ibnu Hajar Al-Haitami (w.974 H.), salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan di dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj sebagai berikut :

أن الجماعة تسن في التراويح وهي عندنا لغير أهل المدينة عشرون ركعة كما أطبقوا عليها في زمن عمر رضي الله عنه

Sesungguhnya shalat tarawih disunahkan untuk dikerjakan secara berjamaah, dan menurut kita selain penduduk Madinah bilangannya adalah 20 rakaat sebagaimana diterapkan pada zaman umar.

d. Mazhab A-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w.620 H.), salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhgni sebagai berikut :

وقيام شهر رمضان عشرون ركعة. يعني صلاة التراويح وهي سنة مؤكدة

Dan shalat malam pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat, yaitu shalat tarawih, dan hukumnya adalah sunah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan).

Al-Mardawi (w.885 H.), salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf  sebagai berikut :

والصحيح من المذهب: أن التراويح أفضل منها وهي عشرون ركعة

Dan yang shahih menurut madzhabnya bahwa shalat tarawih lebih utama daripada shalat sunah lainnya, dan shalatnya sebanyak 20 rakaat. 

a. Apakah Makmum Wajib Membaca Al-Fatihah?

Ketentuan bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah rukun shalat adalah pendapat jumhur ulama, khususnya bagi orang yang shalat sendirian (munfarid) atau bagi imam yang memimpin shalat.

Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca surat Al-Fatihah bagi makmum yang shalat dibelakang imam, apakah tetap wajib membacanya, ataukah bacaan imam sudah cukup bagi makmum, sehingga tidak perlu lagi membacanya?

Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah

Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam. Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum.

Namun kedua mazhab ini sepakat untuk shalat yang sirriyah, dimana imam tidak mengeraskan bacaannya, para makmum lebih disukai (mustahab) untuk membacanya secara perlahan juga. Dasar landasan pendapat mereka adalah hadits Nabi SAW berikut ini :

مَن كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الإمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

Orang yang punya imam maka bacaan imam adalah bacaan baginya.(HR. Ibnu Majah)

Mazhab Al-Hanafiyah

Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa makmum secara mutlak tidak perlu membaca surat Al-Fatihah, baik di dalam shalat jahriyah atau pun sirriyah. Bahkan mereka sampai ke titik mengharamkan makmum untuk membaca Al-Fatihah di belakang imam. Dasar pelarangan ini adalah ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan kewajiban mendengarkan bacaan imam.

وَإِذَا قُرِئَ القُرآنُ فَاستَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا

Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan. (QS. Al-A’raf : 204)

Dalam mazhab ini, minimal yang bisa dianggap sebagai bacaan Al-Quran adalah sekadar 6 huruf dari sepenggal ayat. Seperti mengucapkan tsumma nazhar, dimana di dalam lafaz ayat itu ada huruf tsa, mim, mim, nun, dha' dan ra'.

Namun ulama mazhab ini yaitu Abu Yusuf dan Muhammad mengatakan minimal harus membaca tiga ayat yang pendek, atau satu ayat yang panjangnya kira-kira sama dengan tiga ayat yang pendek. 

Mazhab As-Syafi'i

Mazhab As-syafi'iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah, baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah. Dasarnya adalah hadits-hadits shahih yang sudah disebutkan :

لاَ صَلاَةَ لِمَن لَم يَقرَأ بِأُمِّ القُرآنِ

Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummil-quran (surat Al-Fatihah)"(HR. Bukhari Muslim)

Namun mazhab Asy-Syafi’iyah juga memperhatikan kewajiban seorang makmum untuk mendengarkan bacaan imam, khususnya ketika di dalam shalat jahriyah.

وَإِذَا قُرِئَ القُرآنُ فَاستَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا

Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan. (QS. Al-A’raf : 204)

Disini ada dua dalil yang secara sekilas bertentangan. Dalil pertama, kewajiban membaca surat Al-Fatihah. Dalil kedua, kewajiban mendengarkan bacaan surat Al-Fatihah yang dibaca imam. Dalam hal ini mazhab Asy-syafi’iyah nampaknya menggunakan tariqatul-jam’i (طريقة الجمع), yaitu menggabungkan dua dalil yang sekilas bertentangan, sehingga keduanya bisa tetap diterima dan dicarikan titik-titik temu di antara keduanya.

Thariqatul-jam’i yang diambil adalah ketika imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus mendengarkan dan memperhatikan bacaan imam, lalu mengucapkan lafadz ‘amin’ bersama-sama dengan imam. Begitu selesai mengucapkan, masing-masing makmum membaca sendiri-sendiri surat Al-Fatihah secara sirr (tidak terdengar).

Dalam hal ini, imam yang mengerti thariqatul-jam’i yang diambil oleh mazhab Asy-Syafi’iyah ini akan memberikan jeda sejenak, sebelum memulai membaca ayat-ayat Al-Quran berikutnya. Dan jeda itu bisa digunakan untuk bernafas dan beristirahat sejenak. 

Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-Fatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku'. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku' bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat.

b. Apakah Basmalah Termasuk Al-Fatihah?

Terkait dengan surat Al-Fatihah, sering menjadi perdebatan orang-orang awam tentang bacaan basmalah (bismillahirrahmanir-rahim) di dalam surat Al-Fatihah. Ada sebagian orang yang tidak membaca basmalah saat membaca surat Al-Fatihah, dan hal itu menjadi bahan perdebtan yang tidak ada habisnya.

Masalah ini kalau kita mau runut ke belakang, ternyata berhulu dari perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah lafadz basmalah itu bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan. Sebagian ulama mengatakan basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, dan sebagian yang lain mengatakan bukan.

Mazhab Al-Hanafiyah

Mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Kalau pun kita membacanya di awal surat Al-Fatihah, kedudukannya sunnah ketika membacanya. Namun mazhab ini tetap mengatakan bahwa bacaan basmalah pada surat Al-Fatihah sunnah untuk dibaca, dengan suara yang sirr atau lirih.

Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

صَلَّيتُ خَلفَ رَسُول اللَّهِ  وَأَبِي بَكرٍ وَعُمَرَ وَعُثمَانَ وَعَلِيٍّ فَكَانُوا يَفتَتِحُونَ القِرَاءَةَ بِالحَمدِ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ وَلاَ يَذكُرُونَ بِسمِ اللَّهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّل قِرَاءَةٍ وَلاَ فِي آخِرِهَا

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,”Aku shalat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahuanhum. Mereka memulai qiraat dengan membaca Al-Hamdulillahirabbil ‘alamin, dan tidak membaca bismillahirramanirrahim di awal qiraat atau di akhirnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada satu pendapat di kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah yang membolehkan seseorang membaca basmalah di dalam Al-Fatihah, namun khusus untuk shalat sunnah dan bukan shalat wajib. 

Mazhab As-Syafi'iyah

Menurut mazhab As-Syafi'iyah, lafaz basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga wajib dibaca dengan jahr (dikeraskan) oleh imam shalat dalam shalat jahriyah. Dalilnya adalah hadits berikut ini :

عَن أَبِي هُرَيرَةَ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  إِذَا قَرَأتُم الفَاتِحَةِ فَاقرَءُوا ( بِسمِ اللَّهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ ) فَإِنَّهَا إِحدَى آيَاتِهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila kamu membaca surat Al-Fatihah, maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena bismillahir rahmanirrahim adalah salah satu ayatnya". (HR. Ad-Daruquthuny).

فَاتِحَةُ الكِتَابِ سَبعُ آيَاتٍ إِحدَاهُنَّ : بِسمِ اللَّهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

Fatihatul-kitab (surat Al-Fatihah) berjumlah tujuh ayat. Ayat pertama adalah bismillahirrahmanirrahim. (HR. Al-Baihaqi)

عَن عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ كَانَ إِذَا افتَتَحَ السُّورَةَ فِي الصَّلاَةِ يَقرَأُ : بِسمِ اللَّهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu, beliau berkata,"Rasulullah SAW memulai shalat dengan membaca bismillahirrahmanirrahim.

Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah. Dan dalam kitab Al-Majmu' ada enam orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah.

Mazhab Al-Hanabilah

Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr). Bila kita perhatikan imam Al-Masjidil Al-haram di Mekkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya. Umumnya orang-orang disana bermazhab Hanbali.  

E. Hadis Dhaif Tapi Diamalkan Para Ulama
Disisi lain, kita juga mendapati begitu banyak hadits yang secara sanad dianggap lemah dan tidak kuat, tetapi oleh para ulama tetap dipakai dan dijadikan dasar dalam menarik kesimpulan hukum. Di antaranya adalah :

Kisah tentang pengiriman Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu ke Yaman tentang ijtihad disinyali banyak ulama sebagai hadits yang dhaif. Namun kedhaifannya sama sekali tidak menghalangi para ulama untuk membuang hadits ini. Nyaris semua ulama sepakat membenarkan kisah itu. Khususnya saat Muadz yang ditanya-tanyai Rasulullah SAW tentang apa yang akan digunakan dalam menyelesaikan urusan kaum muslimin kalau tidak ada jawabannya dalam Quran dan Sunah. Saat itu Muadz menjawab bahwa dirinya akan berijtihad.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ لَمَّا أَرَادَ أَن يَبعَثَ مُعَاذًا إِلَى اليَمَنِ قَالَ: كَيفَ تَقضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟، قَالَ: أَقضِي بِكِتَابِ اللَّهِ، قَالَ: فَإِن لَم تَجِد فِي كِتَابِ اللَّهِ؟، قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَإِن لَم تَجِد فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ؟ قَالَ: أَجتَهِدُ رَأيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَدرَهُ، وَقَالَ: الحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ، رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرضِي رَسُولَ اللَّهِ

Rasulullah SAW ketika mengutus Muadz ke Yaman bertanya”Bagaimana kamu menghukumi bila dihadapkan urusan hukum”. Muadz menjawab,”Dengan Kitabullah”. Rasulullah SAW bertanaya lagi,”Bagaimana bila tidak kamu temukan dalam Kitabullah?”. Muadz menjawab,”Dengan Sunnah Rasulullah SAW”. Beliau SAW bertanya lagi,”Bagaimana kalau pada Sunnah tidak kamu temukan?”. Muadz menjawab,”Saya berijtihad”. (HR. Abu Daud, Ahmad dan Ad-Darimi)

Hadits ini oleh Syu’aib Al-Arnauth dikomentari bahwa sanadnya (dhaif) lemah lantaran para perawi Muadz mubham, serta Al-Harits bin Abru termasuk tidak dikenal.

Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H) meriwayatkan hadits ini di dalam kitabnya Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih juga lewat jalur perawi ini. [1]

Yang menarik ternyata Al-Khatib Al-Baghdadi menyatakan bahwa meski pun demikian, karena nyaris semua ulama selalu membenarkan kisah ini dan menjadikannya hujjah, maka beliau ‘menganggapnya’ sebagai hadits shahih, sebagaimana hadits lain yang statusnya sama, yaitu : la washiyyata li warits, tidak ada washiyat untuk calon ahli waris.

وإن كانت هذه الأحاديث لا تثبت من جهة الإسناد لكن لما تلقتها الكافة عن الكافة غنوا بصحتها عندهم عن طلب الإسناد لها

Meskipun hadits ini tidak tsabit dari segi sanad, namun lantara kami dapati al-kaffah dari al-kaffah, maka cukuplah dia menjadi shahih, tanpa harus memperhatikan lagi sanadnya. . [2]

At-Tirmizy berkata bahwa hadits ini kami tidak tahu alurnya kecuali hanya lewat jalur ini saja. Dan menurut saya isnadnya tidak tersambung. [3]

Ibnul Jauzi (w. 597 H) dalam kitab Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah fi Al-Hadits Al-Wahiyah juga punya pendapat yang sama tentang kedudukan hadits ini.

هَذَا حَدِيثٌ لا يصح وإن كان الفقهاء كلهم يذكرونه فِي كتبهم ويعتمدون عليه ولعمري إن كان معناه صحيحًا إنما ثبوته لا يعرف لأن الحَارِث بن عمرو مجهول وأصحاب مُعَاذِ من أَهل حمص لا يعرفون وما هَذَا طريقه فلا وجه لثبوته"

Hadits ini tidak shahih, namun semua fuqaha selalu menyebutkannya dalam kitab fiqih mereka dan menjadikannya pegangan. Meski maknanya benar, sebenarnya tsubutnya tidak dikenal, lantaran Al-Harits bin Amru majhul dan ashabu Muadz dari penduduk Himsh juga tidak dikenal. Seharusnya kalau lewat jalur ini tidak ada kekuatan sanad”. [4]

Salah satu hadits yang dhaif namun tetap diamalkan para ulama adalah hadits tentang pinjaman dalam bentuk uang namun memberikan manfaat, dimana hal itu terlarang karena termasuk riba.

كُلُّ قَرضٍ جَرَّ مَنفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Semua qardh (pinjaman uang) yang memberikan manfaat maka itu riba.

Semua ulama mengharamkan pinjaman uang berbunga. Dan kalau ditanya dalilnya, pastilah dalilnya hadits di atas. Padhaal hadits ini berstatus tidak shahih atau dhaif. Namun menarik untuk dikaji, meski dianggap dhaif tetapi tetap saja para ulama mengharamkan pinjaman uang yang mengharuskan bunga. Tidak ada satupun yang menghalalkannya, meski haditsnya dhaif.

Di antara yang mendhaifkan hadits ini adalah Al-Albani, Syeikh Ibn Baz dan Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip pendapat Amr bin Badr.

سئل ابن باز عن صحة هذا الحديث: ما صحة هذا الحديث: «كل قرض جر نفعا فهو ربا» ؟. الجواب: الحديث ضعيف، ولكن معناه عند أهل العلم صحيح.

Syeikh Bin Baz ditanya tentang keshahihan hadits ini dan beliau menjawabbahwa hadits itu dhaif. Namun kontennya shahih menurut para ahli ilmu. [5]

Nashiruddin Al-Albani (w. 1420 H) mengatakan hadits ini dhaif sambil mengutip Al-Baghawi dalam Hadits Al-Ala bin Muslim. [6]

قال ابن حجر العسقلاني: قال عمر بن بدر في المغني لم يصح فيه شيء وأما إمام الحرمين فقال إنه صح وتبعه الغزالي وقد رواه الحارث بن أبي أسامة في مسنده من حديث علي باللفظ الأول وفي إسناده سوار بن مصعب وهو متروك (التلخيص الحبير، أبو الفضل أحمد بن علي بن محمد بن أحمد بن حجر العسقلاني (المتوفى: 852هـ)، 3/ 90)

Contoh lain dari hadits yang disebut-sebut sebagai hadits dhaif namun para ulama tetap menjadikannya dasar hukum adalah hadits berikut ini.

أَنَّ النَّبِيَّ r نَهَى عَن بَيعِ الكاَلِئ باِلكَالِئ

Dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW  melarang jual-beli piutang dengan piutang." (HR Ad-Daraquthny, Al-Hakim dan Al Baihaqy).

Tentang hadits ini, ada komentar menarik dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya At-Talkhish Al-Habir.

وقال أحمد بن حنبل لا تحل عندي الرواية عنه ولا أعرف هذا الحديث عن غيره. وقال أيضا ليس في هذا حديث يصح لكن إجماع الناس على أنه لا يجوز بيع دين بدين.

Al-Imam Ahmad berkata,”Tidak halal bagi saya meriwayatkan hadits ini dan saya tidak tahu ada hadits lain lewat jalur yang berbeda”.  Namun Al-Imam Ahmad berkata lagi,”Dalam masalah ini tidak ada hadits yang shahih. Namun seluruh manusia sudah berijma’ tidak bolehnya membeli hutang dengan hutang.   [7]

Lalu seperti apa yang dimaksud dengan membeli hutang dengam hutang?

Ibnul Qayyim berkata: "Allah mensyaratkan pada akad salam agar pembayaran dilakukan dengan kontan; karena bila ditunda, niscaya kedua belah pihak sama-sama berhutang tanpa ada faedah yang didapat. Oleh karena itu, akad ini dinamakan dengan salam, karena adanya pembayaran di muka. Sehingga bila pembayaran ditunda, maka termasuk ke dalam penjualan piutang dengan piutang yang haram hukumnya.

Selain itu ada contoh lain, misalnya pembeli menyerahkan Rp. 100 ribu kepada penjual beras, uangnya diberikan secara tunai tetapi berasnya baru akan diserahkan seminggu kemudian. Ketika sudah waktunya untuk menyerahkan beras itu, penjual berkata bahwa berasnya belum tersedia. Namun penjual menawarkan untuk membeli kembali beras yang seharusnya sudah jadi milik pembeli dengan  harga yang lebih tinggi namun pembayarannya yang tidak tunai.

Tentunya harganya sudah berbeda dari harga jual yang pertama. Praktek ini hukumnya haram, karena terjadi unsur riba dalam jual-beli, dimana hutang dibayar dengan hutang.

Semua ulama sepakat bahwa setelah turunnya ayat waris, maka berwasiat kepada para calon ahli waris sendiri menjadi haram hukumnya. Harta wasiat justru diharamkan bila diberikan kepada ahli waris

Penerima wasiat harus orang yang bukan termasuk penerima harta waris, baik karena memang tidak terdaftar dalam struktur ahli waris, atau pun mereka yang terdaftar, tetapi terhijab dengan keberadaan orang lain.

Contoh mereka yang bukan ahli waris dan memang namanya tidak terdaftar seperti anak tiri, anak peliharaan, tetangga, teman, sahabat, keponakan perempuan, cucu dari anak perempuan dan lainnya. Sedangkan contoh ahli waris yang terhijab misalnya,  cucu bila orang tuanya masih hidup, atau kakek bila ayah masih hidup. Termasuk juga saudara-saudari almarhum akan terhijab manakala almarhum punya anak laki-laki. Karena ahli waris sudah menerima harta lewat jalur pembagian waris, maka haram baginya menerima lewat jalur wasiat.

Sedangkan pemberian harta lewat hibah, boleh diterima oleh ahli waris dan bukan ahli waris. Hibah itu boleh diserahkan kepada siapa saja.  Semua larangan ini disepakati keharamannya, sedangkan dasarnya adalah larangan dari Rasulullah SAW atas hal itu :

لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Tidak boleh memberi wasiat kepada ahli waris. (HR. Tirmizy, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Yang jadi masalah, ternyata hadits ini di mata para ahli hadits tidak shahih allias dhaif. Padahal isi, konten dan hukumnya dibenarkan dan disepakati seluruh ulama tanpa ada pengecualian.

Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H)  di atas sudah menyatakan bahwa la washiyyata li warits ini haditsnya tidak shahih. Namun para ulama sepakat menggunakannya sebagai dasar dalil.

وإن كانت هذه الأحاديث لا تثبت من جهة الإسناد لكن لما تلقتها الكافة عن الكافة غنوا بصحتها عندهم عن طلب الإسناد لها

Meskipun hadits ini tidak tsabit dari segi sanad, namun lantara kami dapati al-kaffah dari al-kaffah, maka cukuplah dia menjadi shahih, tanpa harus memperhatikan lagi sanadnya. . [8]

Penutup
Kesimpulan yang sederhana dari bab ini  adalah  :

  • Bahwa tidak semua hadits yang shahih bisa langsung diamalkan begitu saja. Sebaliknya bahwa tidaklah karena suatu hadits ini dianggap lemah, lantas harus dibuang.
  • Dan ketika kita yang belajar hadits ini melakukan istimbath atau menarik kesimpulan hukum atas suatu hadits, harus juga dibekali dengan ilmu lain seperti Ilmu Fiqih dan ushulnya, agar tidak keliru dan tersesat di rimba ilmu syariah.
  • Dan yang paling baik bagi kita yang belum terlalu menguasasi ilmu istimbath hukum atas hadits-hadits yang kita ketahui, alangkah lebih baiknya kira rujuk kepada kitab para ulama baik kitab syarah hadits ataupun kitab fiqih yang sudah selesai dipastikan validitasnya.

[1] Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, Jilid 1 hal. 188

[2] Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, Jilid 1 hal. 472

[3] At-Tirmizy, Sunan At-Tirmizi, jilid 3 hal. 609

[4] Ibnu Jauzi, Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah fi Al-Hadits Al-Wahiyah, jilid 2 hal 273

[5] Syeikh Bin Baz, Fatawa Bin Baz, jilid 25 hal. 256

[6] Al-Albani, Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil, jilid 5 hal. 236

[7] Ibnu Hajar Al-Asqalani, At-Talkhish Al-Habir, jilid 3 hal. 71

[8] Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, Jilid 1 hal. 472

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:52 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:52 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img