All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 6. Ijma

Bab 6 : Ijma

A. Pengertian

Secara bahasa, kata ijma’ dapat bermakna al-‘azmu ala al-amri wal qath’u bihi (العزمُ على الأمر والقطع به) yang arinya bertekad atas sesuatu dan berketetapan atasnya. Dapat dapat juga bermakna al-ittifaq (الإِتِّفاق), yang artinya adalah kesepakatan.

Al-Ghazali mengatakan bahwa kata ijma’ adalah lafadz musytarak (kata bermakna ganda). Ada yang berpendapat bahwa makna asli dari ijma’ adalah al-‘azmu, dan menjadi kesepakatan apabila tekat itu terjadi pada suatu kumpulan.

Sedangkan ijma’ dalam istilah para ahli ilmu ushul fiqih didefinisikan sebagai :

اتِّفاقُ جمِيعِ المُجتهِدِين مِن أُمّةِ مُحمّدٍ  فِي عصرٍ ما بعد عصرِهِ  على أمرٍ شرعِيٍّ

Kesepakatan dari semua mujtahid dari umat Nabi Muhammad SAW pada suatu masa setelah masa kenabian pada suatu urusan syar’i.

Yang dimaksud dengan ‘urusan syar’i' adalah hal-hal yang tidak dapat diketahui kecuali lewat khitab syar’i, baik bersifat perkataan, perbuatan, i’tikad atau pun ketetapan.

Ijma' adalah kesepakatan para ahli fiqih dalam sebuah periode tentang suatu masalah setelah wafatnya Rasulullah SAW tentang suatu urusan agama. Baik kesepakatan itu dilakukan oleh para ahli fiqih dari sahabat setelah Rasulullah SAW wafat atau oleh para ahli fiqih dari generasi sesudah mereka.

Contohnya bahwa para ulama sepakat tentang kewajiban shalat lima waktu sehari semalam dan semua rukun Islam.

B. Kedudukan dan Masyru’iyah
Ijma' merupakan sumber hukum dalam syariat yang ketiga setelah Al-Quran dan As-Sunnah. Karena pada dasarnya Ijma’ adalah kesepakatan seluruh ulama Islam terhadap suatu masalah dalam satu waktu. Apabila telah terjadi ijma’ dari seluruh mujtahidin terhadap suatu hukum, maka tidak boleh bagi seseorang menyelisihi ijma trsebut, karena ummat (para mujtahidin) tidak mungkin bersepakat terhadap kesesatan.

Sejumlah ayat dan sunnah menjelaskan bahwa Ijma' adalah sumber dan hujjah dalam menetapkan hukum.

Allah SWT berfirman:

ومن يُشاقِقِ الرّسُول مِن بعدِ ما تبيّن لهُ الهُدى ويتّبِع غير سبِيلِ المُؤمِنِين نُولِّهِ ما تولّى ونُصلِهِ جهنّم وساءت مصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul  sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu  dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)

Ayat Al-Quran ini menegaskan bahwa orang yang menyelisihi apa yang telah disepakati oleh umat Islam atau orang-orang yang beriman, yaitu dalam hal ini ijma’ yang telah terjadi di tengah-tengah umat Islam, maka mereka itu termasuk orang yang sesat. Bahkan ada hukuman di akhirat nanti buat mereka yang berbuat demikian, yaitu Allah SWT akan masukkan ke dalam neraka jahannam, sebagai tempat kembali yang paling buruk.

Di ayat lain, Allah telah memberikan tazkiyah (rekomendasi) kepada umat Islam sebagai umat yang adil dan juga sebagai umat pilihan. Sehingga apa-apa yang telah dipilih oleh umat Islam itu sudah merupakan jaminan dari Allah SWT

 وكذلِك جعلناكُم أُمّةً وسطًا لِّتكُونُوا شُهداء على النّاسِ ويكُون الرّسُولُ عليكُم شهِيدًا

Dan demikian  Kami telah menjadikan kamu umat yang adil dan pilihan  agar kamu menjadi saksi atas  manusia dan agar Rasul   menjadi saksi atas  kamu. (QS. Al-Baqarah : 143)

Dan di ayat Al-Quran yang lain lagi, Allah SWT sekali lagi memberikan pernyataan yang menerangkan bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, yang dilahirkan bagi umat manusia. Sehingga apa yang dipandang oleh umat Islam secara keseluruhan, adalah apa yang terbaik untuk umat manusia juga.

كُنتُم خير أُمّةٍ أُخرِجت لِلنّاسِ تأمُرُون بِالمعرُوفِ وتنهون عنِ المُنكرِ وتُؤمِنُون بِاللّهِ ولو آمن أهلُ الكِتابِ لكان خيرًا لّهُم مِّنهُمُ المُؤمِنُون وأكثرُهُمُ الفاسِقُون

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran : 110)

Sedangkan dalil-dalil yang menjadi dasar atas kehujjahan Ijma’ dari sunnah Rasulullah SAW antara lain sabda beliau SAW:

إِنّ أُمّتِي لا يجتمِعُ على ضلالةٍ

”Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan (HR.  At-Tirmizy)

Sabda ini juga merupakan jaminan bahwa umat Islam ini tidak akan bersepakat pada kesesatan. Maka apa yang telah menjadi kesepakatan seluruh umat Islam adalah sesuatu yang mendapat jaminan atas kebenarannya. Dan jaminan itu langsung ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda untuk menguatkan apa yang telah disabdakannya pada hadits sebelumnya :

ما رآهُ المُسلِمُون حسنًا فهُو عِند اللهِ حسنٌ

”Apa yang menurut orang-orang Islam baik maka ia baik di sisi Allah. (HR. Ahmad)

Dan sebagai umat Islam, kita pun diwajibkan untuk ikut apa yang telah ditetapkan dan diputuskan oleh jamaah umat Islam. Di hadits lain Rasulullah SAW bersabda tentang hal ini :

عليكُم باِلجماعةِ وإياكُم والفُرقة فإِن الشّيطان مع الواحِدِ وهُو مِن الإِثنينِ أبعُد

Hendaklah kalian berjamaah dan jangan bercerai berai, karena syetan bersama yang sendiri dan dengan dua orang lebih jauh. (HR At-Tirmidzi)

Bahkan Rasulullah SAW sampai mengatakan bahwa orang yang keluar dari apa yang telah disepakati dalam jamaah umat Islam, seperti orang yang telah melepaskan ikatan agama Islam dari lehernya, meski pun secara ritual dia telah mengerjakan banyak ibadah yang bersifat individual, seperti puasa dan shalat.

من فارق الجماعة قِيد شِبرٍ فقد خلع رِبقة الإِسلامِ مِن عُنُقِهِ إِلاّ أن يرجِع . فقال رجُلٌ : يا رسُول اللهِ وإِن صلى وصام؟ قال : وإِن صلى وصام

Dari al-Harits al-Asy’ari dari Nabi SAW bersabda:’Siapa yang meninggalkan jamaah sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika kembali. Seseorang bertanya,’ Wahai Rasulullah, walaupun dia sudah mengerjakan shalat dan puasa?’. Maka Rasulullah SAW menjawab:’Walaupun dia shalat dan puasa.’ (HR Ahmad dan at-Turmudzi)

Sementara orang yang meninggalkan jamaah umat Islam, juga diibaratkan sebagai orang yang mati di zaman jahiliyah.

من فارق الجماعة شِبرًا فمات إِلاّ مات مِيتةً جاهِلِيةً (متفق عليه)

Siapa yang meninggalkan jamaah sejengkal kemudian mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah’ (Muttafaqun ‘alaihi)

Disamping itu Ijma' dilakukan berdasarkan dalil di dalamnya sebab tidak mungkin ulama dalam masa tertentu melakukan kesepakatan tanpa dalil syariat. Karenanya, para ulama mutaakhir (generasi belakangan) ingin mengetahui Ijma' maka yang dicari bukan dalil Ijma' namun kebenaran adanya Ijma' itu sendiri, apakah benar periwayatannya atau tidak.

C. Mungkinkah Terjadi Ijma’?
Kalau melihat betapa beratnya syarat-syarat yang harus terpenuhi pada suatu ijma’, seperti harus seluruh umat Islam bersepakat bulan atas suatu perkara, sementara umat Islam ini tersebar di seluruh belahan muka bumi, maka ada sebagian kalangan pesimistis bisa terjadi ijma’ di tengah-tengah umat Islam.

Mereka yang pesimistis itu bahkan sampai mengklaim bahwa ijma’ umat Islam tidak pernah betul-betul terjadi sepanjang sejarah. Apalagi kalau ditambah dengan peristiwa perpecahan, peperangan dan perselisihan yang berkecemuk di tengah-tengah umat Islam sepanjang sejarahnya yang 14 abad itu, maka bertemunya kesepakatan dari seluruh umat Islam tidak akan pernah tercapai.

Pendapat yang pesimistis ini harus diakui memang ada, tetapi sesungguhnya keberadaan mereka itu tidak bisa dijadikan dasar untuk membenarkan apa yang mereka pikirkan. Sebab jumlah mereka yang berpendapat seperti itu sangat kecil. Sedangkan mereka yang memandang bahwa ijma’ itu adalah realitas yang sudah terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang ini, justru sulit dipungkiri.

Misalnya ijma’ bahwa shalat 5 waktu itu hukumnya fardhu ‘ain. Tidak ada seorang pun yang menolak ijma’ tersebut, kecuali para zindiq dan penyebar aliran sesat saja. Mereka yang menentang kewajiban shalat 5 waktu tidak termasuk ke dalam syarat orang yang pendapatnya bisa dijadikan dasar ijma’.

Di masa Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah Rasulullah SAW, seluruh umat Islam saat itu sepakat mengkafirkan orang-orang yang menentang syariat zakat, serta menghalalkan darah mereka. Sehingga Abu Bakar membentuk sebuah pasukan besar untuk memerangi kaum yang menolak dan mengingkari syariat zakat.

Masih di masa yang sama, seluruh umat Islam saat itu sepakat untuk menuliskan seluruh ayat Al-Quran dalam satu bundel mushhaf. Padahal sebelumnya hal itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, bahkan beliau SAW sama sekali tidak pernah memerintahkan, atau pun misalnya sekedar mengusulkan atau memberi isyarat.

D. Kehujjahan Ijma’
Para ulama menjadikan dalil ijma’ sebagai hujjah yang bersifat qath’i. Tentunya selama hal itu memang nyata terbukti sebagai ijma’ dalam arti yang sebenarnya. Sebab kita tahu ada hal-hal yang sering diklaim sebagai sebuah ijma’, namun ternyata masih diperselisihkan keijma’annya.

E. Sandaran Ijma’
Biar bagaimana pun sebuah ijma’ ulama tidak lahir begitu saja. Sebab ijma’ bukan wahyu yang turun dari atas langit dari sisi Allah ke bumi. Sehingga sebuah ijma’ terbentuk dengan berdasarkan sesuatu yang disandarkan atasnya.

Sandaran buat sebuah ijma’ menurut Dr. Abdul Karim Zaidan antara lain :[1]

Ketika para ulama berijma’ mengharamkan pernikahan antara seorang laki-laki dengan ibunya, atau dengan anak perempuannya, saudari perempuan, atau bibinya, maka sandarannya adalah ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem.

حُرِّمت عليكُم أُمّهاتُكُم وبناتُكُم وأخواتُكُم وعمّاتُكُم وخالاتُكُم وبناتُ الأخِ وبناتُ الأُختِ

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan. (QS. An-Nisa’ : 23)

Ketika para ulama berijma’ bahwa bagian harta warisan yang diterima oleh seorang kakek yang ditinggal mati oleh cucunya adalah 1/6, maka ijma’ itu didasarkan pada hadits ahad.

Ketika para ulama berijma’ bahwa minyak babi dan lemaknya adalah najis dan haram dimakan, maka hal itu adalah qiyas yang mereka lakukan terhadap daging babi.

Mengingat bahwa yang disebutkan keharamannya adalah daging babi, dan lemaknya tidak ikut disebutkan. Namun qiyas yang mereka lakukan itu sampai ke derajat ijma’. Artinya, seluruh ulama bersepakat mengqiyaskan lemak babi dengan daging babi, tanpa kecuali.

Dan ketika para ulama berijma dan menyepakati untuk menghalalkan darah orang yang mengingkari kewajiban zakat, maka ijma’ itu berangkat dari ijtihad.

Ketika ijma’ sudah terjadi di atas sandaran-sandarannya, maka sandaran-sandaran itu sudah tidak lagi diperlukan. Dan diharamkan menyelisihi ijma’ yang sudah terbentuk itu.

Karena kedudukan ijma’ begitu tinggi, maka bila ada seseorang yang mengingkari ijma’ yang telah terbentuk, dimana ijma’ itu bersifat qath’i dan biasanya yang dijadikan ijma’ itu perkara-perkara yang fundamental dalam agama, maka dia dianggap telah kafir kepada agama Islam.

Misalnya, wajibnya shalat 5 waktu adalah perkara qathi dan termasuk masalah fundamental dalam agama, dan hal itu termasuk ke dalam salah satu contoh ijma’. Maka bila ada orang yang mengingkari kewajiban shalat 5 waktu itu, dia telah keluar dari agama Islam.

Demikian juga para ulama telah berijma’ bahwa puasa di bulan Ramadhan hukumnya fardhu. Kewajiban puasa Ramadhan adalah perkara fundamental agama yang bersifat qath’i tanpa ada yang berbeda pendapat. Dan itulah yang dimaksud dengan ijma’. Bila ada orang yang mengingkari kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dia telah kehilangan statusnya sebagai muslim.

Mengingkari bahwa berzina dan meminum khamar itu adalah hal yang telah mutlaq diharamkan, juga bisa mengakibatkan pelakunya keluar dari agama Islam. Karena haramnya zina dan khamar telah menjadi ijma’ umat Islam.

Namun ada juga contoh ijma’ tertentu yang pengingkarnya tidak dianggap kafir. Misalnya, detail-detail pembagian harta warisan banyak yang sudah mencapai level ijma’. Namun dengan begitu banyaknya orang awam di kalangan muslimin, kita tidak bisa mengatakan bahwa ketidak-tahuan mereka itu sebagai bukti kekafiran mereka.

F. Ijma’ Di Zaman Modern
Ketika para shahabat Nabi SAW pergi meninggalkan Madinah sepeninggal beliau SAW, dan tinggal berpencar-pencar di berbagai pusat peradaban Islam, maka sejak saat itu ijma’ di antara para ulama mengalami kesulitan secara teknis. Sebab di masa itu, peradaban Islam mengalami pemekaran yang sangat luas, hingga sampai meliputi tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Bahkan sampai punya ke Indonesia (baca:nusantara) yang jaraknya sedemikian jauh.

Sehingga ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa nyaris mustahil  terjadi ijma’ semenjak masa itu dan masa-masa sesudahnya. Alasannya tentu karena faktor teknis yang tidak memungkinkan mengumpulkan para ulama dari seluruh dunia di masa itu.

Namun kini kita hidup di masa yang amat modern, dimana teknologi yang kita punya di zaman ini tidak pernah terfikirkan dan tidak pernah terduga oleh orang-orang yang hidup di masa lalu. Dua ratusan tahun yang lalu kemajuan teknologi dan kehidupan manusia masih seperti zaman pra sejarah. Dan apa yang kita dapatkan dari kemajuan teknologi di hari ini, jangankan menduga, mimpi pun juga tidak pernah mereka alami.

a. Alat Tranportasi

Kalau di masa lalu dari Madinah ke Yaman atau ke Syam butuh waktu 2 minggu berjalan kaki, maka hari ini hanya butuh 2 jam saja dengan pesawat terbang. Karena kita sekarang ini hidup di zaman pesawat jet yang bisa terbang dengan kecepatan mendekati kecepatan suara. Kecepatan suara bergerak di dalam atmosfir kita diukur kira-kira 1.000 km/jam. Dan kecepatan sebuah pesawat jet penumpang komersial antar negara umumnya mendekati angkat 900km/jam

Maka mengumpulkan para ulama dari berbagai negara untuk pertemuan beberapa hari untuk melakukan ijma’, secara teknis bisa dengan mudah dilakukan. Jangankan mengumpulkan ulama yang jumlahnya terbatas di dunia ini, setiap tahun tidak kurang dari 2 sampai 3 juta orang berkumpul di Arafah untuk melaksanakan ibadah haji.

Event-event untuk mengumpulkan orang sedunia di satu titik bukan hal yang aneh lagi di zaman sekarang. Perhelatan piala dunia adalah contohnya, yaitu bagaimana berjuta orang dari berbagai negara dalam waktu yang cepat bisa berkumpul di suatu negara, sekedar buat nonton orang mengejar-ngejar bola yang bundar.

Maka di masa sekarang ini, sudah mulai dirintis upaya untuk mempertemukan para ulama sedunia di dalam berbagai macam even pembahasan masalah-masalah fiqih sedunia. Beberapa majma’ fiqih secara rutin selalu mengadakan pertemuan di tingkat international, yang dihadiri oleh hampir seluruh ulama dan perwakilan dari berbagai negara.

Semua bisa terjadi dengan mudah berkat majunya teknologi tranportasi, khususnya mesin-mesin jet yang bisa membelah angkasa, dalam waktu sekejap berhasil mengantarkan orang ke negeri yang terjauh yang pernah ada.

b. Telekomunikasi

Teknologi komunikasi di zaman internet ini bahkan dapat membuat para ulama sedunia saling berkomunikasi dan berdiskusi panjang lebar tanpa harus menggeser pantatnya sedikit pun dari tempat duduknya. Telepon dan internet telah mengubah segala yang dahulu tidak mungkin dilakukan menjadi sangat mungkin, bahkan dengan nilai yang jauh lebih ekonomis dan terjangkau.

Dan dengan teknologi yang lebih maju, konferensi bisa dilakukan secara live yang diikuti oleh peserta yang secara fisik mereka tetap berada di negara masing-masing, tetapi dengan jelas bisa saling melihat dan mendengar serta bertukar pendapat.

Sudah banyak stasiun televisi yang melakukan wawancara jarak jauh lintas benua dengan beberapa nara sumber sekaligus. Hebatnya, acaranya itu disiarkan secara live. TV Aljazeera seringkali melakukan talk-show dengan banyak ulama yang tinggal berjauhan, tetapi dikemas dalam satu acara bersama.

Bukan hanya itu, tetapi tulisan ilmiyah yang mereka susun saat itu juga bisa langsung diupload ke internet dan langsung didownload oleh jutaan orang di permukaan planet bumi.

Para ulama bisa mengirim (memposting) tulisan mereka di suatu situs, untuk dijadikan kajian oleh sekian banyak ulama lain yang tersebar di berbagai belahan bumi. Tulisan itu bisa dikomentari, dikritisi dan juga diberikan masukan ini dan itu, sehingga hasilnya bisa menjadi sebuah fatwa bersama, dan pada akhirnya bisa menjadi ijma’ di zaman modern.

Penulis sendiri seringkali diminta menjadi nara sumber buat saudara-saudara kita yang ada di daratan Eropa, Amerika, Australia dan lainnya, hanya dengan menggunakan telepon genggam. Sehingga ceramah hukum-hukum syariah dan tanya jawabnya dilakukan antar negera, di belahan dunia sana para jamaah asyik berkumpul mendengarkan, sementara Penulis menjawab pertanyaan mereka satu per satu sambil menyetir mobil

Namun demikian, meski di zaman modern ini kita bersyukur memiliki alat-alat yang canggih, sehingga membuat apa-apa yang dahulu dianggap tidak mungkin, kini bisa kembali menjadi sangat mungkin dan juga dengan harga yang sangat murah, tetapi saja masih ada kekurangan disana-sini.

Kekurangan itu antara lain adalah :

a. Kurangnya Ulama

Kalau di masa lalu dengan mudah kita bisa menemukan ulama dengan segala persyaratannya, justru di masa sekarang ini kita malah kebingungan untuk menetapkan siapa sajakah para ulama itu hari ini.

Sebab terkadang penampilan mereka dengan segala atributnya sering membuat kita terpukau, apalagi kalau berbicara di depan publik, seolah-olah orang yang benar-benar ulama, karena kepandaiannya menyusun kata dan berorasi.

Tetapi semua itu belum tentu menjamin apakah mereka benar-benar ulama dalam arti yang sesungguhnya. Sebab kita masih seperti membeli kucing di dalam karung, yang belum jelas seperti jenis dan bentuknya. Ibarat kita membeli barang dalam bungkusannya yang disegel, tidak bisa dilakukan uji coba dan dilakukan pengetesan terhadap kualitasnya.

Memang benar ada hadits yang menyebutkan di akhir zaman nanti Allah SWT akan mencabut ilmu dengan meninggalnya para ulama.

إِنّ الله لا يقبِضُ العِلم اِنتِزاعًا ينتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِن يقبِضُ العِلم بِقبضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفتوا بِغيرِ عِلمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun bukan berarti kita benar-benar tidak punya ulama. Dan hadits ini bukan memerintahkan kita untuk pasrah menerima takdir. Sebaliknya hadits ini justru merupakan tantangan besar buat kita yang hidup di akhir zaman ini untuk terus menerus mencetak, membina dan mengkader para ulama untuk zaman berikutnya.

Ada ungkapan yang konon disebutkan oleh Ali,”Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu".

Seorang tentara tidak akan mendapatkan seragam dan senjata, kecuali setelah melewati beberapa tahun pendidikan yang panjang, keras dan berat. Hanya mereka yang dianggap memenuhi syarat saja yang diterima di akademi militer untuk bisa mengikuti pendidikan itu. Dan hanya mereka yang benar-benar lulus secara sempurna yang akhirnya berhak menyandang gelar sebagai tentara dengan berbagai macam level kepangkatannya. Kalau tentara saja harus lewat pendidikan, maka ulama seharusnya lebih diurus lagi dan tidak diserahkan kepada umat secara alami.

Seorang dokter tidak mungkin berpraktek sebelum mendapatkan izin praktek. Dan untuk itu dia harus menghabiskan waktu bertahun-tahun kuliah di fakultas kedokteran. Dan hanya mereka yang benar-benar anak pintar saja yang bisa lolos masuk seleksi menjadi mahasiswa di fakultas kedoteran itu. Tidak sedikit mahasiswa kedokteran yang putus kuliah di tengah jalan, karena otak mereka ternyata tidak punya kapasitas yang memadai dan akhirnya dropped out alias gagal. Kalau untuk berpraktek dokter harus melewati proses berlapis-lapis, maka untuk menjadi ulama pun juga harus sedemikian juga. Tidak mungkin ulama dilahirkan lewat program di televisi.

Maka yang kita butuhkan adalah sekolah para ulama dalam arti yang sesungguhnya. Intinya, mereka diberi bekal-bekal pengetahuan agama yang cukup selama bertahun-tahun, dengan level tertentu. Selesai itu mereka harus diuji sedemikian rupa untuk memastikan kualitas, kapasitas, kemampuan, dan kehandalan mereka, agar tidak terjadi penurunan di tengah masyarakat nanti. Tentu sangat wajar kalau para ulama ini harus distandarisasi secara profesional. Sebab profesi ini sangat berat dan mengandung resiko yang tidak kecil.

Jaksa, hakim dan berbagai jenis profesi itu ada standarisasi dan sertifikatnya. Bagaimana mungkin para ulama tidak perlu standarisasi itu?

b. Ulama Gaptek

Kalau kita sudah punya berlapis ulama yang memenuhi standar, masalah yang lain adalah urusan gagap teknologi. Meski teknologi berkembang sedemikian pesat di sekeliling kita, namun umat Islam nyaris hampir tidak pernah memanfaatkannya demi kepentingan agama dan ilmu syariah.

Apalagi di level para ulama sendiri, hanya segelintir kecil saja mereka yang melek teknologi dan memanfaatkan teknologi itu untuk kepentingan profesi mereka sebagai ulama.

Dari seribu ulama yang saya kenal, yang punya situs internet hanya beberapa orang saja. Itu pun kebanyakannya tidak terurus alias tidak ada update tulisan terbaru.

Walau pun urusan ini bukan sebuah ukuran, tetapi secara tidak langsung kita bisa menilai bahwa teknologi walau pun tersedia dengan mudah dan murah, tetapi bukan berarti perkaranya selesai. Ternyata masih ada kendala gaptek yang menyelubungi para ulama dan umat Islam secara keseluruhan.

Ulama yang ilmu tinggi sungguh sangat banyak, tapi sedikit dari mereka yang akrab dengan teknologi. Sebaliknya, umat Islam yang awam dan akrab dengan teknologi itu juga banyak, tetapi mereka adalah level orang awam yang ilmunya bukan level ulama.

Sebenarnya kalau kedua belah pihak bisa bekerja sama, kita akan mendapatkan dua keuntungan itu. Tapi sekali lagi, kerja-sama itu jarang-jarang terlihat.

[1] Abdul Karim Zaidan, Al-Madkhal li Dirasati Asy-Syariah Al-Islamiyah, hal. 166

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:53 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img