All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 7. Qiyas

Bab 7 : Qiyas

A. Pengertian Qiyas
Sumber Ilmu Fiqih utama yang berada pada urutan keempat adalah qiyas. Dalam bab ini kita akan membahas tentang qiyas mulai dari pengertian, rukun, syarat, kehujjahan serta beberapa contoh qiyas dalam kehidupan sehar-hari.

Kalau kita menyebut kata qiyas, maka setidaknya ada dua makna yang perlu diuraikan, yaitu makna qiyas secara bahasa dan makna qiyas menurut istilah para ulama ushul fiqih.

Kata qiyas (قياس) berasal dari akar kata qaasa - yaqishu  - qiyaasan (قاس يقيس قياسا). Makna qiyas secara sederhana adalah pengukuran (تقدير).

Sedangkan bila pengertian secara bahasa ini mau dilengkapi, Dr.Wahbah Az-zuhaily menyebutkan :

معرِفةُ قدرِ الشّيءِ بِما يُماثِلُهُ

Mengetahui ukuran sesuai dengan apa yang semisal dengannya. [1]

Misalnya kita mengatakan bahwa Fulan mengukur panjang kain dengan menggunakan meteran.

Senada dengan pengertian secara bahasa di atas, di dalam kamus Al-Bahrul Muhith disebutkan bahwa qiyas  adalah  :

تقدِيرُ شيءٍ على مِثال شيءٍ وتسوِيتُهُ بِهِ

Mengukur sesuai dengan ukuran sesuatu yang lain dan membandingkannya.

Pengertian qiyas  secara terminologi terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para ulama ushul fiqih, sekalipun redaksinya berbeda tetapi mengandunng pengertian yang sama.

Dr. Wahbah Az-Zuhaily mengutip beberapa pendapat dari para ulama ushul menyebutkan bahwa mereka mendefisnikan pengertian qiyas sebagai :

إِلحاقُ أمرٍ غيرُ منصُوصٍ على حُمكِهِ الشّرعِيٍّ بِما يُماثِلُهُ

Menjelaskan status hukum syariah pada suatu masalah yang tidak disebutkan nash-nya, dengan masalah lain yang sebanding dengannya.

Perlu diperhatikan bahwa para ulama ushul dalam membuat definisi qiyas menggunakan kata ilhaq (إلحاق), yang bermakna menjelaskan atau menerangkan, mereka tidak menggunakan kata itsbat (إثبات) yang bermakna menetapkan.

Alasannya, karena sebenarnya hukum suatu masalah yang tidak disebutkan nashnya itu pada hakikatnya sudah punya dasar hukum yang tercakup di dalam nash itu, hanya banyak orang awam yang belum mengerti atau memahami hukumnya, karena memang tidak disebutkan secara eksplisit lewat dalilnya.

Misalnya, ketika Al-Quran mengharamkan khamar, banyak orang awam di masa itu berpikir bahwa khamar hanya terbatas perasan buah anggur dan kurma saja. Mengingat yang tertulis di dalam ayat lain hanya keduanya.

ومِن ثمراتِ النّخِيلِ والأعنابِ تتّخِذُون مِنهُ سكرًا ورِزقًا حسنًا

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. (QS. An-Nahl : 67)

Namun para fuqaha memahami bahwa selain air perasan anggur dan kurma, juga punya pengaruh memabukkan yang sama. Maka meski bukan berasal dari buah kurma atau anggur, bila keadaannya sama, hukumnya tetap khamar.

Dalam istilah fiqih, air perasan buah-buahan yang dibuat menjadi minuman yang memabukkan disebut nabidz. Meski tidak disebutkan secara eksplisit di dalam ayat itu, tetapi hukumnya ikut juga dengan hukum khamar, yaitu haram diminum.

B. Rukun Qiyas
Biar qiyas bisa terjadi, menurut para ulama ushul, qiyas itu memerlukan empat unsur utama. Empat unsur ini sering juga disebut dengan rukun :

Para fuqaha mendefinisikan al-ashlu (الأصل) sebagai hukum yang sudah jelas dengan didasarkan pada nash yang jelas.

Dalam contoh di atas, air perasan buah kurma dan anggur termasuk contoh al-ashlu. Sebab pada waktu turunnya ayat haramnya khamar, keduanya adalah khamar yang dikenal di masa itu.

Makna al-far'u (الفرع) adalah cabang, sebagai lawan kata dari al-ashlu di atas.

Yang dimaksud dengan al-far'u adalah suatu masalah yang tidak ditemukan nash hukumnya di dalam Al-Quran atau As-Sunnah secara eksplisit.

Dalam contoh kasus khamar di atas, yang menjadi al-far'u adalah an-nabidz, yaitu perasan dari buah yang menjadi khamar dengan pengaruh memabukkan, meski pun bukan perasan dari buah  anggur dan kurma seperti yang tertulis di dalam nash Al-Quran.

Yang dimaksud dengan al-hukmu (الحكم) adalah hukum syar'i yang ada dalam nash, dimana hukum itu tersemat pada al-ashlu di atas.

Maksudnya, air perasan buah anggur dan kurma sudah punya hukum yang tertulis dengan jelas di dalam ayat Al-Quran, yaitu hukumnya haram.

Yang dimaksud dengan al-'illat (العلة) adalah kesamaan sifat hukum yang terdapat dalam al-ashlu (الأصل) dan juga pada al-far'u (العلة).

Dalam contoh di atas, 'illat adalah benang merah yang menjadi penghubung antara hukum air perasan buah anggur dan buah kurma dengan air perasan  dari semua buah-buahan lainnya, dimana keduanya sama-sama memabukkan.

C. Syarat Qiyas 
Dari empat rukun qiyas yang sudah diterangkan di atas, dari masing-masing rukun terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai syarat khusus sah-nya qiyas, di antaranya adalah: 

Ulama ulhul fiqih sepakat bahwa syarat dari al-ashlu adalah suatu hal yang pokok, dan bukan merupakan cabang dari yang lain, atau bukan cabang dari pokok (hukum) yang lain.

Menurut jumhur fuqaha, bahawa qiyas harusalah dibangun diatas dalil nash ataupun ijma', hanya saja terjadi perbedaan pendapat di antara mereka tentang bolehnya qiyas yang didasarkan atas ijma'.

Sebagian ulama yang tidak setuju mengatakan bahwa qiyas didasarkan dari 'illah yang menjadi dasar disyariatkannya hukum asli, dan hal ini tidak memungkinkan dalam ijma', karena ijma' tidak diharuskan disebutkan adanya wakil (al-far'u). Maka apabila tidak disebutkan al-far'u-nya, tidak mungkin untuk bisa diketahui 'illah qiyas-nya.

Terdapat beberapa syarat dalam hukmu al-ashli atau hukum asli, diantaranya: 

a. Pertama

Harus merupakan hukum syar'i, karena tuntutan dari qiyas adalah untuk menjelaskan hukum syar'i pada al-maqîs atau objek qiyas. 

b. Kedua

Harus merupakan hukum syara' yang tetap (tidak dihapus). Karena dalam penetapan hukum dari al-ashlu ke al-far'u, didasarkan dari 'illat dalam nash syar'i. Maka apabila hukum asli dihapus, mengharuskan terhapusnya juga 'illat yang akan digunakan dalam al-far'u. 

c. Ketiga

Merupakan sesuatu yang logis yang bisa ditangkap oleh akal; 'illat hukumnya bisa diketahui oleh akal. Karena asas qiyas di antaranya adalah: 'illat hukumnya bisa diketahui, dapat diterapkan pada al-far'u. 

Para ulama mengatakan tidak dibolehkanya qiayas dalam masalah ta'abuddiyah (prerogatif Allah), yang 'illah-nya manusia tidak ada kepentingan untuk mengetahuinya, seperti jumlah raka'at dalam shalat, thawaf mengelilingi ka'bah dll. 

a. Pertama

'Illat yang terdapat pada al-ashlu memiliki kesamaan dengan 'illat yang terdapat pada far'u, karena seandainya terjadi perbedaan 'illat, maka tidak bisa dilakukan penyamaan (qiyas) dalam keduanya. Adapun qiyas yang tidak terdapat syarat ini, dikatakan oleh para ulama sebagai qiyas ma'a al-fariq. 

b. Kedua

Tetapnya hukum asal; hukum asal tidak berubah setelah dilakuakan qiyas.

c. Ketiga

Tidak terdapat nash atau ijma' pada al-far'u, yaitu berupa hukum yang menyelisihi qiyas. Seandaiya terjadi hal ini, maka qiyas itu dihukumi dengan qiyas fasid al-'itibar.

Imam Abu Hanifah berkata: "Tidak sah adanya pensyaratan 'iman' dalam memerdekakan budak sebagai kafarat sumpah di-qiyas-kan pada kafarat pembunuhan; karena pensyaratan itu menyelisihi keumuman nash dalam firman Allah SWT: 

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغوِ فِي أَيمَانِكُم وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِن أَوسَطِ مَا تُطعِمُونَ أَهلِيكُم أَو كِسوَتُهُم أَو تَحرِيرُ رَقَبَةٍ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. (QS. Al-Maidah : 89). 

Lafadz "raqabah/budak" dalam ayat ini berbentuk mutlaq, tidak ada pensyaratan harus mu'min, berbeda dengan kafarat pembunuhan seperti firman Allah SWT: 

وَمَن قَتَلَ مُؤمِنًا خَطَئًا فَتَحرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهلِهِ

Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat. (QS. An-Nisa:92). 

Maka qiyas dalam kafarat sumpah atas kafarat pembunuhan adalah fasid. 

a. Pertama

Sifat 'illat hendaknya nyata; terjangkau oleh akal dan pancaindera. Hal ini diperlukan karena 'illat merupakan isyarat adanya hukum yang menjadi dasar untuk menetapkan hukum pada far'u. Apabila 'illat tidak bisa ditangkap pancaindera, maka tidak mungkin untuk bisa menunjukkan kepada suatu hukum, jadi 'illat haruslah nyata, seperti 'illat memabukkan dalam khamer.

b. Kedua

Sifat 'illat hendaklah pasti, tertentu, terbatas dan dapat dibuktikan bahwa 'illat itu ada pada far'u, karena asas qiyas adalah adanya persamaan 'illat antara ashlu dan far'u'.

c. Ketiga

'Illat harus berupa sifat yang sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan hikmah hukum, dalam arti bahwa kuat dugaan 'illat itu sesuai dengan hikmah hukumnya. Seperti memabukkan sesuai dengan hukum haram minum khamar, karena dalam hukum itu terkandung suatu hikmah hukum, yaitu memelihara akal dengan menghindarkan diri dari mabuk.

Pembunuhan dengan sengaja adalah sesuai dengan keharusan adanya qishash, karena dalam qishash itu terkandung suatu hikmah hukum; memelihara kehidupan manusia.

d. Keempat

'Illat tidak hanya terdapat pada ashlu saja, tetapi harus berupa sifat yang dapat diterapkan juga pada masalah-masalah lain selain dari ashlu. 

Untuk hukum-hukum yang khusus berlaku bagi Nabi SAW, tidak boleh dijadikan dasar qiyas. Misalnya menikahi wanita lebih dari empat orang, karena ini berupa ketentuan khusus yang hanya berlaku bagi Nabi SAW.

D. Kehujjahan Qiyas
Ulama ushul fiqih berbeda pendapat terhadap kehujjahan qiyas  dalam menetapkan hukum syara’. Jumhur ulama ushul fiqih berpendirian bahwa qiyas  bisa dijadikan sebagai metoda atau sarana untuk mengistinbathkan hukum syara.

Berbeda dengan jumhur para ‘ulama mu’tazilah berpendapat bahwa qiyas wajib diamalkan dalam dua hal saja, yaitu :

1.   llatnya manshush (disebutkan dalam nash) baik secara nyata maupun melalui isayrat.

2.     Hukum far’u harus lebih utama daripada hukum ashl.

Wahbah al-Zuhaili mengelompokkan pendapat ulama ushul fiqih tentang kehujjahan qiyas  menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima qiyas  sebagai dalil hukum yang dianut mayoritas ulama ushul fiqih dan kelompok yang menolak qiyas sebagai dalil hukum yaitu ulama – ulama syi’ah al-Nazzam, Dhahiriyyah dan ulama mu’tazilah Irak.

Alasan penolakan qiyas  sebagai dalil dalam menetapkan hukum syara’ menurut kelompok yang menolaknya adalah firman Allah :

يا أيُّها الّذِين آمنُوا لا تُقدِّمُوا بين يديِ اللّهِ ورسُولِهِ واتّقُوا اللّه إِنّ اللّه سمِيعٌ علِيمٌ

“Hai orang–orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya…”.(QS. Al-Hujurat : 1)

Ayat ini menurut mereka melarang seseorang untuk beramal dengan sesuatu yang tidak ada dalam al-Quran  dan sunah Rasul. Mempedomani qiyas  merupakan sikap beramal dengan sesuatu diluar al-Quran dan sunnah Rasul, dan karenanya dilarang. Selanjutnya dalam surat al-Isra’, 17:36 Allah berfirman :

 “Dan janganlah kam mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya “.

Ayat tersebut menurut mereka melarang seseorang untuk beramal dengan sesuatu yang tidak diketahui secara pasti. Oleh sebab itu berdasarkan ayat tersebut qiyas  dilarang untuk diamalkan.

Alasan–alasan mereka dari sunnah Rasul  antara lain adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Daruquthni yang artinya adalah sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menentukan berbagai ketentuan, maka jangan kamu abaikan, menentukan beberapa batasan, jangan kamu langgar, dia haramkan sesuatu, maka jangan kamu langgat larangan itu, dia juga mendiamkan hukum sesuatu sebagai rahmat bagi kamu, tanpa unsur kelupaan, maka janganlah kamu bahas hal itu”.

Hadits tersebut menurut mereka menunjukkan bahwa sesuatu itu ada kalanya wajib, adakalanya haram dan adakalanya di diamkan saja, yang hukumnya berkisar antara di ma’afkan dan mubah (boleh).

Apabila di qiyaskan sesuatu yang didiamkan syara’ kepada wajib, misalnya maka ini berarti telah menetapkan hukum wajib kepada sesuatu yang dima’afkan atau dibolehkan.

Sedangkan jumhur ulama ushul fiqih yang membolehkan qiyas sebagai salah satu metode dalam hukum syara’ mengemukakan beberapa alasan diantaranya adalah :

فاعتبِرُوا يا أُولِي الأبصارِ

 “maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang – orang yang mempunyai pandangan”. (QS. Al-Hasyr: 2)

Ayat tersebut menurut jumhur ushul fiqih berbicara tentang hukuman Allah terhadap kaum kafir dari Bani Nadhir di sebabkan sikap buruk mereka terhadap Rasulullah.

Di akhir ayat, Allah memerintahkan agar umat Islam menjadikan kisah ini sebagai I’tibar (pelajaran). Mengambil pelajaran dari suatu peristiwa menurut jumhur ulama, termasuk qiyas. Oleh sebab itu penetapan hukum melalui qiyas  yang disebut Allah dengan al-I’tibar adalah boleh, bahkan al-Quran memerintahkannya

Ayat lain yang dijadikan alasan qiyas  adalah seluruh ayat yang mengandung illat sebagai penyebab munculnya hukum tersebut, misalnya :

ويسألُونك عنِ المحِيضِ قُل هُو أذًى فاعتزِلُوا النِّساء فِي المحِيضِ ولا تقربُوهُنّ حتّى يطهُرن فإِذا تطهّرن فأتُوهُنّ مِن حيثُ أمركُمُ اللّهُ إِنّ اللّه يُحِبُّ التّوّابِين ويُحِبُّ المُتطهِّرِين

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad tentang haid. Katakanlah, “haid itu adalah kotoran”, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid”. (QS. Al-Baqarah 222)

إِنّما يُرِيدُ الشّيطانُ أن يُوقِع بينكُمُ العداوة والبغضاء فِي الخمرِ والميسِرِ ويصُدّكُم عن ذِكرِ اللّهِ وعنِ الصّلاةِ فهل أنتُم مُّنتهُون

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu, lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu). (QS Al-Maidah : 91)

ما يُرِيدُ اللّهُ لِيجعل عليكُم مِّن حرجٍ ولـكِن يُرِيدُ لِيُطهّركُم ولِيُتِمّ نِعمتهُ عليكُم

.”Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu … “ (QS. Al-Maidah : 6)

 Alasan jumhur ulama dari hadits rasululah adalah riwayat dari Muadz Ibn Jabal yang amat populer. Ketika itu Rasulullah mengutusnya ke Yaman untuk menjadi qadli. Rasulullah melakukan dialog dengan Mu’adz seraya berkata :

كيف تقضيِ إِذا عُرِض لك قضاء ؟  قال : أقضِي بكِتابِ اللهِ .قال : فإِن لم تجِد فيِ كتِابِ اللهِ ؟ قال : فبِسُنّةِ رسُولِ اللهِ r قال : فإِن لم تجِد فيِ سُنّةِ رسُولِ الله r ولا فيِ كتِابِ الله ؟ قال : أجتهِدُ رأيِ ولا آلو . فضرب رسُولُ اللهِ r صدرهُ وقال : الحمدُ لِلّه الّذِي وفق رسُولُ رسُولِ اللهِ لِما يرضي رسُولُ اللهِ

Dari Muaz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya,"  Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muaz menjawab, saya akan putuskan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali, bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Allah? Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah, jawab Muaz. Rasulullah bertanya kembali, jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Muaz menjawab, saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan. Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya seraya bersabda,"Segala puji bagi Allah yang telah menyamakan utusan dari utusan Allah sesuai dengan yang diridhai Rasulullah (HR Abu Daud)

 Dalam hadits tersebut menurut jumhur ulama ushul fiqih, Rasulullah mengakui ijtihad berdasarkan pendapat akal, dan qiyas  termasuk ijtihad melalui akal.

Begitu juga dalam hadits lain Rasulullah menggunakan metode qiyas dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Suatu hari Umar bin Khatthab mendatangi Rasulullah seraya berkata :

“Pada hari ini saya telah melakukan suatu kesalahan besar, saya mencium istri saya, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa”. Lalu Rasulullah mengatakan pada Umar :

“Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur – kumur dalam keadaan berpuasa, apakah puasamu batal?, Umar menjawab, “tidak”, lalu Rasulullah SAW berkata : kalau begitu kenapa engkau samapi menyesal ?”. (HR. Ahmad Ibn Hanbal dan Abu Daud dari Umar Ibn al-Khatthab)

Dalam hadits tersebut Rasulullah mengqiyaskan mencium istri dengan berkumur–kumur, yang keduanya sama–sama tidak membatalkan puasa.