All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 9. Al-Istishhab

Bab 9 : Al-Istishhab

A. Pengertian
Kata Istishab secara etimologi berasal dari kata “istashhaba” dalam sighat istif’ala (استفعال) yang bermakna استمرارالصحبة kalau kata الصحبة diartikan dengan teman atau sahabat dan استمرار diartikan selalu atau terus menerus, maka istishab secara Lughawi artinya selalu menemani atau selalu menyertai.
Para ulama punya definisi yang berbeda-beda terkait istishab, antara lain :

a. Al-Ghazali

Al-Ghazali (w. 505 H) mendefinisikan Istishab adalah berpegang pada dalil akal atau Syara’, bukan didasarkan karena tidak mengetahui dalil,tetapi setelah melalui pembahasan dan penelitian cermat, diketahui tidak ada dalil yang mengubah hukum yang telah ada.

b. Ibnul Qayyim

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H) menyebutkan bahwa istishab adalah menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yang memang tidak ada sampai ada yang mengubah kedudukanya atau menjadikan hukum yang telah di tetapkan pada masa lampau yang sudah kekal menurut keadaannya sampai terdapat dalil yang menunjukkan perubahannya.

ثَبتُ مَاكَانَ ثَابِتًا وَنَفيُ مَاكاَنَ مَنفِيًّا اِستِخدَامُهُ

Mengukuhkan/menetapkan apa yang pernah di tetapkan dan meniadakan apa yang sebelumnya tiada.

Menurut Ibn Qayyim Istishab adalah menyatakan tetap berlakunya hukum yang telah ada dari suatu peristiwa atau menyatakan belum ada nya hukum suatu peristiwa yang belum penah ditetapkan hukumnya.Sedangkan definisi Asy-Syatibi adalah segala ketetapan yang telah ditetapkan pada masa lampau dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang.

c. Ibn As-Subki

Ibn As-Subki (w. 771 H) dalam kitab Jam’u Al-Jawani menyebutkan bahwa istishab yaitu :

Berlakunya sesuatu pada masa kedua karena yang demikian pernah berlaku pada waktu pertama karena tidak ada yang aptut untuk mengubahnya.

d. Asy-Syaukani

Asy-Syaukani (w. 1250 H) mendefinisikan Istishab sebagai :

ما ثبت في الزمن الماضي فالأصل بقاؤه في الزمن المستقبل حتى يثبت ما يغيره

Apa yang pernah berlaku secara tetap pada masa lalu, pada prinsipnya tetap berlaku pada masa yang akan datang.[1]”

B. Beberapa Contoh Istishab
Para ulama ushul fiqih dalam banyak kitab mereka seringkali memberi contoh kasus yang menggunakan dalil istishab adalah seseorang sudah berwudhu dan mengerjakan shalat dengan benar, belum lagi dianggap batal wudhunya selama belum ada hal-hal yang membatalkan wudhu'nya itu dengan jelas dan yakin.

Sehingga prinsipnya hukum awal itu tetap melekat pada hukum berikutnya, selama memang belum ada yang merubahnya. Hukum awalnya suci dari hadats alias sudah berwudhu'. Meski sudah berselang lama beberapa waktu, seseorang tetap dalam keadaan suci dari hadats dan tidak bisa dianggap telah batal wudhu'nya. [2]

Para ulama menghukumi wanita yang belum pernah menikah atau melakukan jima' sebagai gadis (bikr), dengan menggunakan dalil istishab. Sebab seorang wanita dilahirkan pasti dalam keadaan gadis atau perawan (bikr). Selama dia belum menikah atau melakukan jima', statusnya tetap seperti itu meski usianya sudah lanjut dan uzur.
Syaikh Abu Zahrah (w. 1394 H) dalam kitabnya Ushul Fiqih-nya memberikan sebuah contoh bagaimana dalil istishab itu digunakan. Menurut Beliau Allah SWT hanya memerintahkan kita untuk berpuasa wajib pada bulan Ramadhan saja. Sedangkan 11 bulan lainnya tidak ada perintah untuk berpuasa. Maka secara istishab atau hukum asalnya, 11 bulan itu adalah bulan-bulan yang tidak ada kewajiban berpuasa di dalamnya.[3]
C. Rukun Istishab
Rukun yang pertama adalah adanya hukum asli yang diyakini kekuatannya. Hukum asli disini maksudnya adalah suatu perkara yang sejak awal telah tetap hukumnya dengan didasarkan pada dasar yang kuat dan mantab.

Mengacu kepada contoh wudhu di atas, hukum asli adalah sahnya seseorang telah berwudhu'. Karena dia menyempurnakan syarat dan rukun sehingga wudhu' itu sah hukumnya.

Rukun yang kedua yaitu adanya hukum turunan. Dalam hal ini tetapnya status orang itu dalam keadaan berwudhu, alias masih suci dari hadats. Selama tidak terjadi hal-hal yang membuatnya batal dari wudhu, maka seterusnya dia dalam posisi masih berwudhu'.
Rukun yang ketiga adalah keterkaitan antara hukum pertama dengan hukum yang kedua. Keterkaitan disini bisa disebut adanya kesamaan status hukum pada keduanya.
D. Jenis Istishab
Istishab terbagi dalam beberapa macam diantaranya :

Istishab al-baraah al-Ashliyyah (البرءةالاصلية). Menurut Ibn al-Qayyim disebut Bar’at al-Adam al-Ashliyyah (براةالعدم الاصلية)

Seperti terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapakan Taklifnya.

Maksudnya Istishab yang berdasarkan atas hukum asal dari sesuatu yang Mubah.Istishab semacam ini banyak berperan dalam menetapkan hukum di bidang muamalah. Landasannya adalah sebuah prinsip yang mengatakan, hulum dasar dari sesuatu yang bermanfaat boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari selama tidak ada dalil yang melarangnya,seperti makanan,minuman,hewan dll.Prinsip ini berdasarkan ayat 29 surat al-baqarah

هُوَالَّذِي خَلَقَ لَكُم مَا فِي الأَرضِ جَمِيعًا

Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu (QS. )

Maksudnya adalah Istishab yang berdasarkan pada tetapnya status hukum yang telah ada selam tidakada sesuatu yang mengubahnya.Misalnya seseorang yang telah melakukan akad nikah akan selamanya terikat dalam jalinan suami istri sampai ada bukti yang menyatakan bahwa mereka telah bercerai.

Setiap Fuqaha menggunakan Istishab dari a sampai c sedang mereka berbeda pendapat. Ulama’ Syafi’iyah dan Hanbaliyah menggunakan Istishab ini secara mutlaq.

Dalam arti bisa menetapkan hak-hak yang telah ada pada waktu tertentu dan seterusnya serta bisa pula menetapkan hak-hak yang baru. Tapi untuk Malikiyah hanya menggunakan yang Wasaf ini untuk hak-hak dan kewajiban yang telah ada.

Sedangkan untuk yang baru tidak mau dipakai Istishab yang dipakai oleh Ulama’ Hanafiyah adalah “Lidaf'i Li Itsbt”.(لدفع لالاءثبا ث)

Para Ulama’ yang menyedikitkan Turuqul Istinbat meluaskan penggunaan Istishab ,misal golongan Dhahiri,karena mereka menolak penggunaan Qiyas.Demikian pula Madhabz Syafi’I menggunakan Istishab kerena tidak menggunakan Istihsan beliau menggunakannya sebagai alat untuk menetapkan hukum.

E. Kehujjahan Istishab
Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa istishab adalah salah satu dari sekian banyak dalil syariah, atau dengan kata lain merupakan hujjah. Namun mereka berbeda pendapat tentang seberapa jauh kehujjahan Istishab ketika tidak ada dalil yang lainnya, atau bila hanya menjadi satu-satunya dalil.

Ada tiga pandangan yang berbeda dalam masalah ini. Pertam mereka yang berpandangan bahwa istishab itu hujjah yang bersifat mutlak, kedua mereka yang berpandangan bahwa istishab hujjah tapi tidak bersifat mutlak, dan pandangan ketiga bahwa istishab adalah hujjah sebatas menolak (daf') dan bukan hujjab dalam menetapkan (itsbat). Berikut rinciannya :

Mayoritas (jumhur) ulama’ seperti para ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyyah, As-Syafi’iyah, Al-Hanabilah, Adh-Zhahiriyyah hingga kalangan mazhab Syi’ah umumnya memandang bahwa Istishab adalah hujjah syar'iyah (حجة شرعية).

Alasan mereka adalah bahwa sesuatu yang telah ditetapkan pada masa lalu,selama tidak ada dalil yang mengubahnya baik secara qath’I maupun Zhanni,maka hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena diduga keras belum ada perubahanya.

Namun menurut kalangan ulama mazhab Al-Hanafiyah, istishab bukan termasuk hujjah syar'iyah. Sehingga tidak dibenarkan menjadikannya sebagai landasan atas suatu hukum.[1]

Karena untuk menetapkan suatu dalil dan hujjah hukum syariat pada awalnya membutuhkan dalil, sebagaimana dalil itu juga dibutuhkan waktu berikutnya.

Para muhaqqiq kalangan ulama Hanafi setuju bila istishab dijadikan dalil penguat atas suatu hukum yang sudah ada sebelumnya. Namun tidak bisa dijadikan dasar hukum atas suatu masalah yang sama sekali belum ada dalil dasarnya.

Contohnya dalam kasus seorang yang dianggap hilang (mafqud), secara istishab belum dianggap meninggal dulu, kecuali setelah ada bukti jasadnya yang wafat. Oleh karena itu anak-anaknya belum boleh membagi hartanya sebagai warisan, karena ada pencegahnya, yaitu secara istishab masih dianggap hidup.

Sebagian kalangan menerima kehujjahan istishab hanya pada satu sisi dan tidak pada sisi yang lain. Maksudnya, kalau untuk menolak sesuatu atau daf', istihab bisa dijadikan hujjah, sedangkan untuk menetapkan sesuatu (itsbat), istishab tidak bisa dijadikan hujjah.
F. Beberapa Qawaid Fiqih Yang Terkait Istishab

الأَصلُ فيِ الأَشيَاءِ الإبَاحَة

Asal segala sesuatu itu mubah (boleh dikerjakan)

الأَصلُ فيِ الإنساَنِ البَرَاءَةُ

Asal pada manusia adalah kebebasan

الأَصلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ

(Menurut hukum) asal(nya) tidak ada tanggungan

اليَقِينُ لاَ يَزُولُ بِالشَّكِّ

(Hukum yang ditetapkan dengan) yakin itu tidak akan hilang (terhapus) oleh hukum yang ditetapkan dengan) ragu-ragu.

الأَصلُ بَقَاءُ مَاكاَنَ عَلىَ ماَ كَانَ حَتَّى يَثبُتَ مَا يُغَيِّرُهُ

Asal sesuatu itu adalah ketetapan sesuatu yang telah ada menurut keadaan semula,sehingga terdapat ketetapan sesuatu yang mengubahnya.

الأصل في الأشياء الإباحة

Hukum asal segala sesuatu adalah boleh

الأصل في الأبضاع التحريم

Hukum asal terkait kemaluan wanita adalah haram

الأصل في الكلام الحقيقة

Ketentuan yang asal dalam perkataan adalah makna secara hakiki

الأصل إضافة الحادث إلى أقرب أوقاته

Ketentuan asal adalah mengaitkan kejadian ke waktu yang terdekat

الظاهر يصلح حجة للدفع لا للاستحقاق وكل ضابط يعبر فيه عن الأصل كذا"

Secara zhahir dibenarkan hujjah untuk menolak bukan untuk istihqaq. Dan semua ketentuan digambarkan dengan asas ini

  1. Asy-Syaukani, Irasyadul Fuhul, hlm 237
  2. Ibnul Hajib, Mukhtashar Ibnul Hajib, hlm. 217
  3. Abu Zahrah, Ushul Fiqih, hlm. 283
  4. As-Sarakhsi, Al-Ushul, jilid 2 hlm. 223

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img