All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 10. Saddu Adz-Dzariah

Bab 10 : Saddu Adz-Dzariah

A.  Definisi

1. Bahasa

Adz-dzarai' (الذرائع) merupakan bentuk jamak dari adz-dzari'ah (الذريعة). Dan adz-Dzari'ah secara bahasa artinya perantara atau jalan untuk mencapai sesuatu.

2. Istilah

a. Al-Qarafi

Menurut al-Qarafi, sadd adz-dzari’ah adalah memotong jalan kerusakan (mafsadah) sebagai cara untuk menghindari kerusakan tersebut. Meski suatu perbuatan bebas dari unsur kerusakan (mafsadah), namun jika perbuatan itu merupakan jalan atau sarana terjadi suatu kerusakan (mafsadah), maka kita harus mencegah perbuatan tersebut.[1]

b. Asy-Syaukani

Menurut asy-Syaukani, adz-dzari’ah adalah masalah atau perkara yang pada lahirnya dibolehkan namun akan mengantarkan kepada perbuatan yang dilarang (al-mahzhur).[2]

c. Asy-Syatibi

Asy-Syatibi menyatakan bahwa sadd adz-dzari’ah adalah menolak sesuatu yang boleh (jaiz) agar tidak mengantarkan kepada sesuatu yang dilarang (mamnu’).[3]

B.  Kehujjahan Sadd adz-Dzarai'

Ulama berbeda pendapat dalam menerima kehujjahan sadd adz-dzarai' sebagai dalil fiqih. Sebagian ulama menerimanya sebagai bagian dari dalil-dalil fiqih, namun sebagian lain tidak menerimanya.

1. Sadd adz-Dzarai' Merupakan Dalil Fiqih

Pendapat ini dikemukakan oleh para ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah. Dr. Wahbah Az-Zuhaili menerangkan bahwa Al-Imam Malik dan Al-Imam Ahmad menjadikan adz-dzarai' sebagai salah satu bagian dari ushul fiqih.

Yang sependapat dengan keduanya adalah Ibnu al-Qayyim Al-Jauziyah (w. 751 H), dimana Beliau menyatakan bahwa sadd adz-dzarai' merupakan seperempat agama.

Mereka melandasi hal ini dengan argumentasi dari Al-Quran dan As-Sunnah

a. Al-Quran

وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدعُونَ مِن دُونِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدوًا بِغَيرِ عِلمٍ

Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.(QS. Al-An'aam :  108)

Allah SWT melarang memaki sesembahan orang kafir karena hal tersebut akan membuka jalan bagi mereka untuk memaki Allah. Allah SWT juga melarang menggunakan kata raa'inaa (راعنا) pada firman-Nya:

يآ أَيُّهاَ الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنًا وَقُولُوا انظُرنَا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), 'raa'inaa', tetapi katakanlah 'unzhurnaa' (qs. Al-Baqarah : 104)

Ucapan raa'inaa (راعنا) oleh para shahabat kepada Nabi SAW membuka jalan bagi kalangan yahudi untuk mengejek Nabi, karena kata raa'inaa dalam bahasa mereka merupakan ejekan kepada orang yang diajak bicara.

Allah SWT pun melarang wanita yang menghentakkan kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ يَضرِبنَ بِأَرجُلِهِنَّ لِيُعلَمَ مَا يُخفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

Dan janganlah perempuan itu menghentakkan kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi di dalamnya. (QS. An-Nur : 31)

Sebenarnya menghentakkan kaki itu boleh-boleh saja bagi perempuan, namun karena menyebabkan perhiasannya yang tersembunyi dapat diketahui orang sehingga akan menimbulkan rangsangan bagi yang mendengar, maka menghentakkan kaki itu menjadi terlarang.

b. As-Sunnah

دَع مَا يَرِيبُكَ إِلىَ مَا لاَ يَرِيبُكَ

Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu (HR. At-Tirmidzi)

Dan hadits:

إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَينَهُمَا أُمُورٌ مُشتَبِهَاتٌ لاَ يَعلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَد استَبرَأَ لِدِينِهِ وَعِرضِهِ، وَمَن وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرعىَ حَولَ الحِمَى يُوشِكُ أَن يَرتَعَ فِيهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ   مُضغَةً إِذَا صَلَحَت صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ القَلبُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibn Rusyd berkata: "Sesungguhnya pembahasan adz-dzarai' dalam al-Kitab dan as-Sunnah cukup panjang pembahasannya dan tidak memungkinkan untuk membatasinya."

Membolehkan melakukan perbuatan yang menjadi jalan atau perantara kepada perbuatan yang diharamkan merupakan hal yang kontradiktif dengan pengharaman itu sendiri. Sebagai contoh, seorang dokter yang ingin mencegah terjadinya penyakit pada seseorang tentu akan melarang orang tersebut melakukan perbuatan yang akan mengantarkannya menderita penyakit tersebut.

Berdasarkan penelitian terhadap sumber pengharaman dalam al-Kitab dan as-Sunnah, diketahui bahwa ada yang memang haram sendirinya (tahrim al-maqashid) seperti keharaman syirik, zina, meminum khamr dan membunuh, ada juga yang haram karena menjadi jalan atau perantara kepada perbuatan yang haram sendirinya tersebut.

Ibn al-Qayyim menyebutkan ada sembilan puluh sembilan contoh pengharaman dalam al-Kitab dan as-Sunnah karena menjadi jalan atau perantara (adz-dzarai') kepada perbuatan yang haram. Sebagai contoh, sadd adz-dzarai' kepada perbuatan zina adalah pengharaman khalwat, pengharaman wanita bepergian (safar) sendirian, pengharaman melihat aurat, kewajiban meminta izin jika ingin memasuki sebuah rumah, dan banyak lagi.

Sadd adz-dzarai' kepada pembunuhan adalah larangan menjual senjata di masa fitnah, mewajibkan qishash untuk mencegah orang mengampang-gampangkan pembunuhan, dan lain-lain. Masih banyak contoh dalam perkara-perkara yang lain.

2. Sadd adz-Dzarai' Bukan Merupakan Dalil Fiqih

Para ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan mazhab Asy-Syafi'iyah  cenderung menjadikan sadd adz-dzarai'  bukan merupakan dalil fiqih. Ada beberapa dasar kenapa mereka menolak, antara lain

a. Hanya Perantara Yang Hukumnya Berubah-ubah

Mereka menganggap bahwa adz-dzarai' pada dasarnya hanyalah sekedar perantara, dimana perantara itu hukumnya selalu berubah-ubah. Kadang haram, kadang wajib, makruh, mandub, dan terkadang mubah.

Dan perantara tersebut pun berbeda-beda terhadap hukum yang jadi tujuannya (al-maqashid), sesuai dengan kuat lemahnya maslahat dan mafsadat yang dihasilkan, serta nampak dan tersembunyinya perantara tersebut. Atas dasar ini, tidak memungkinkan untuk menentukan hukum adz-dzarai' ini secara pasti.

b. Tidak Zhahir

Mereka juga menyatakan bahwa hukum syara' tidak bisa dibangun di atas landasan sesuatu yang tidak nampak (zhahir). Sedangkan sadd adz-dzarai' justru tidak mencerminkan sesuatu yang zhahir. Bagaimana kita menjatuhkan hukum atas sesuatu yang belum terjadi?

  • Perlakuan Nabi SAW Terhadap Munafikin

Di antara dasar tidak bisa dipakainya sadd adz-dzarai' ini adalah apa yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap kaum munafikin Madinah. Dalam kasus ini, Rasulullah SAW tidak memperlakukan mereka sebagai orang kafir, sebaliknya justru mereka diperlakukan sebagai umat Islam. Bahkan ketika mereka wafat pun tetap dishalatkan dan diperlakukan sebagai jenazah muslim.

Padahal Allah SWT di alam Al-Quran telah menegaskan posisi orang munafikin itu sebagai penghuni dasarnya neraka, yang mana posisi itu justru lebih buruk dari posisi untuk orang kafir.

Namun karena secara lahiriyah penampilan orang munafik itu tidak nampak zhahirnya, maka secara hukum formal mereka lepas dari jerat hukum.

  • Tidak Dirajamnya Suami Istri Yang Li'an

Rasulullah juga tidak menetapkan hukuman zina terhadap dua orang yang saling menyatakan li'an, walaupun terdapat tanda-tanda zina, yaitu adanya anak yang diduga sebagai hasil zina.

Imam asy-Syafi'i berkata, "Dan ini menunjukkan dibatalkannya hukuman, padahal ada indikasi (yang mengharuskan terjadi hukuman) yang lebih kuat dari adz-dzarai'. Jika perkara yang lebih kuat dari adz-dzarai' saja dibatalkan, tentu yang lebih lemah lebih layak untuk tidak diberlakukan."

Selain Syafi'iyah dan Hanafiyah, yang juga menolak kehujjahan sadd adz-dzarai' adalah kalangan Zhahiriyah. Ibn Hazm mengajukan beberapa argumentasi sebagai berikut:

  • Hadits yang dikemukakan oleh ulama yang mengamalkan sadd adz-dzarai' itu lemah dari segi sanad dan pemahamannya juga tidak tepat. Dari segi sanad, hadits tersebut diriwayatkan dalam banyak versi yang berbeda-beda perawinya. Dari segi pemahaman, hadits tersebut hanya melarang menggembala di daerah yang terlarang, sedangkan menggembala di sekitarnya tidak dilarang. Menggembala di dalam daerah terlarang berbeda hukumnya dengan menggembala di sekitar daerah terlarang tersebut. Karena itu, hukum menggembala di sekitar daerah terlarang kembali ke hukum asalnya, yaitu mubah.
  • Dasar pemikiran sadd adz-dzarai' adalah ijtihad yang berpatokan pada pertimbangan kemaslahatan, sedangkan ulama Zhahiriyah menolak ijtihad dengan metode seperti ini.
  • Hukum syara' hanya menyangkut apa-apa yang ditetapkan al-Quran, as-Sunnah dan ijma'. Yang ditetapkan di luar tiga sumber tersebut bukanlah hukum syara'.

Dalam hal sadd adz-dzarai', hukum yang telah ditetapkan oleh nash dan ijma' hanyalah perbuatan yang dituju (maqashid)-nya saja, sedangkan perantara atau adz-dzarai'-nya tidak pernah ditetapkan oleh nash atau ijma'. Oleh karena itu, sadd adz-dzarai' tidak bisa diterima, sesuai dengan firman Allah ta'ala:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلسِنَتُكُمُ الكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفتَرُوا عَلَى اللّهِ الكَذِبَ

Dan janganlah kalian katakan dengan lisan kalian suatu kebohongan, menyatakan ini halal dan ini haram untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. (QS. An-Nahl :  116)

C.  Pembagian Adz-Dzarai'

Al-Qarafi membagi adz-Dzarai' (perantara) kepada perbuatan fasad menjadi tiga, yaitu:

1. Ulama Menyepakati Keharusan untuk Menutup

Yaitu yang membawa kerusakan secara pasti atau lazimnya akan menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini, ulama sepakat untuk melarangnya, sehingga dalam kitab-kitab fiqih madzhab ditegaskan tentang haramnya menggali lubang di tempat yang biasa dilalui orang yang dapat dipastikan akan mencelakakan.

Namun, Taqiyuddin as-Subki dari kalangan Syafi'iyah berkata, "Perkara ini bukanlah termasuk sadd adz-dzarai', melainkan tahrim al-wasa-il (pengharaman sesuatu yang menjadi wasilah pada keharaman), dan wasilah memang terikat dengan perkara yang ditujunya, tidak ada perselisihan dalam hal ini."

Tajuddin as-Subki berkata, "Tidak benar orang yang beranggapan bahwa semua orang menggunakan kaidah sadd adz-dzarai', sesungguhnya asy-Syafi'i tidak menggunakannya."

2. Ulama Sepakat Bahwa Ia Tak Perlu Ditutup

Yaitu yang peluangnya membawa pada kerusakan sangat kecil dan jarang terjadi. Dalam hal ini, seandainya perbuatan itu dilakukan, sangat kecil peluangnya akan menimbulkan kerusakan.

Misalnya menggali lubang di kebun sendiri yang jarang dilalui orang. Menurut kebiasaan, tidak ada orang yang lewat di tempat tersebut yang akan terjatuh ke dalam lubang. Namun memang tidak tertutup kemungkinan ada yang kesasar lalu terjatuh ke dalam lubang tersebut.

Ulama sepakat tidak melarang hal ini, sehingga dalam kitab-kitab fiqih tidak terdapat larangan membuat lubang di kebun sendiri yang jarang dilalui orang, memperjualbelikan anggur, dan yang semisalnya.

3. Ulama Berbeda Pendapat Tentang Keharusan Ditutup atau Tidaknya

Yaitu yang peluangnya membawa pada kerusakan cukup besar, namun tidak sampai bersifat pasti atau lazim terjadi. Pada bagian inilah, ulama berbeda pendapat.

Perbedaan pendapat ini terjadi pada adz-dzarai' yang tidak disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah keharusan untuk menutup dan mencegahnya, sedangkan yang disebutkan dalam nash syar'i tidak ada perbedaan pendapat, seperti larangan memaki sesembahan orang-orang musyrik karena dikhawatirkan mereka akan memaki Allah ta'ala.

Secara umum, Malikiyah dan Hanabilah mengharuskan menutup atau melarang adz-dzarai' pada bagian ini, sedangkan Syafi'iyah dan Hanafiyah menyatakan tidak perlu melarangnya.

Beberapa contoh dalam bagian ini misalnya adalah:

a. Jual beli Aajal

Sebenarnya jual beli ini boleh, namun Malik melarang jual beli semacam ini karena banyak orang yang melakukannya sebagai jalan untuk melakukan riba.

b. Penundaan Pembayaran Mahar

Menurut kalangan Malikiyah hal ini makruh, walaupun ada batas waktu yang jelas, setahun misalnya.

Hukum makruh ini jika penundaan yang dilakukan adalah untuk keseluruhan mahar, bukan cuma sebagiannya. Hal ini karena dikhawatirkan akan ada yang menikah tanpa mahar.

c. Puasa Hari Syak

Dimakruhkan berpuasa sebelum ramadhan, sehari atau dua hari sebelumnya, karena dikhawatirkan ia dianggap sebagai tambahan puasa Ramadhan.

[1] Al-Qarafi, Tanqih al-Fushul fi Ilm al-Ushul, loc. cit.

[2] Muhammad bin Ali asy-Syaukani, Irsyad al-Fuhul fi Tahqiq al-Haqq min ‘Ilm al-Ushul,  (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), hal. 295.

[3] Ibrahim bin Musa al-Lakhmi al-Gharnathi al-Maliki (asy-Syathibi), al-Muwafaqat fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Dara l-Ma’rifah, tt.), hal. juz 3, hal. 257-258.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:53 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img