All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 11. Urf

Bab 11 : Urf

A. Pengertian

1. Bahasa

Ibnu Faris (w. 395 H), penulis kamus Maqayis Lughah, menyebutkan tentang ‘urf ini bahwa dinamakan ‘urf karena jiwa menjadi tenang atasnya :

لسكون النفس إليه

Agar jiwa menjadi tenang atasnya.[1]

Ibnu Manzhur (w. 711 H) dalam Lisanul Arab menyebutkan :

وعُرْف الأرض ما ارتفع منها

Dan urful ardhi adalah apa yang menjulang darinya.[2]

Al-Fairuz Abadi (w. 817 H) dalam kamusnya Al-Muhith menyebutkan bahwa kata al-'urf (العُرف) bermakna al-khairu (الخير), al-ihsanu (الإحسان), dan ar-rifqu (الرِّفق), yang semuanya bermakna kebaikan. [3]

Al-Jurjani (w. 816 H) dalam kitabnya  At-Ta’rifat menyebutkan

ما استقرّ فيِ النُّفُوسِ مِن جِهّةِ العُقُولِ و تلقّتهُ الطِّباعُ السّلِيمةُ بِالقبُولِ

Apa-apa yang menempati jiwa dari segi logika dan diterima oleh tabiat yang sehat. :[4]

Nampaknya pendapat Al-Jurjani ini yang lebih banyak dikutip para ulama berikutnya terkait dengan pengertian al-urf. Setidaknya ada dua unsur dasar, yaitu :

Ma Istqarra fi An-Nufus (ما استقر في النفوس), maka ‘urf itu merupakan sesuatu bersemayam di dalam jiwa. Logikanya masuk lewat akal.

Ath-Thiba’ As-Salimah (الطباع السليمة), lalu diikuti oleh tabiat yang selamat dengan penerimaan.

2. Istilah

Sedangkan secara istilah, al-'urf bermakna :

ما اعتاد النّاسُ وسارُاوا عليهِ فِي أُمُورِ حياتِهِم ومُعاملاتِهِم مِن قولٍ أو فِعلٍ أو تركٍ

Apa yang menjadi kebiasaan manusia dan mereka melawati kehidupan dan muamalat mereka dengan hal itu, baik berupa perkataan, perbuatan atau hal yang ditinggalkan.

Abdul Wahab Khalaf  (w. 1375 H) juga termasuk yang menyamakan antara keduanya. Di dalam kitab Ilmu Ushul Fiqih karya beliau ada disebutkan sebagai berikut :

العرف هو ما تعارفه الناس وساروا عليه من قول أو فعل أو ترك العادة

Urf adalah apa yang dikenal manusia dan berlaku pada mereka baik berupa perkataan atau perbuatan atau tindak meninggalkan sesuatu..[5]

B. Antara ’Urf dengan Adat : Berbeda Atau Sama?

Para ulama terpecah menjadi tiga pendapat yang berbeda ketika membandingkan ’urf dengan adat. Khususnya saat ditanya apakah ’urf dan adat ini sama saja ataukah keduanya merupakan dua hal yang berbeda?

Pendapat pertama mengatakan bahwa ’urf dan adat itu sama, cuma beda dalam penamaan saja. Pendapat kedua mengatakan sebaliknya yaitu keduanya berbeda. Dan pendapat ketiga mengatakan bahwa ‘urf itu bagian dari adat.

1 Urf Sama Dengan Adat

Pendapat ini mengatakan bahwa antara ‘urf dan adat tidak ada bedanya, kecual beda penamaan saja. Salah satu tokohnya adalah adalah Ibnu Abdin (w. 1252 H) dari kalangan ulama mazhab Al-Hanafiyah.

فالعادة والعرف بمعنى واحد من حيث الماصدق وإن اختلفا من حيث المفهوم

Adat dan urf punya makna yang satu dari segi masdaq meskipun berbeda dari sisi mafhum.[6]

Dr. Abdul Wahab Khallaf (w. 1375 H) juga termasuk yang menyamakan antara keduanya. Di dalam kitab Ilmu Ushul Fiqih karya beliau ada disebutkan sebagai berikut :

العرف هو ما تعارفه الناس وساروا عليه من قول أو فعل أو ترك ويسمي العادة وفي لسان الشرعيين لا فرق بين العرف والعادة

Urf adalah apa yang dikenal manusia dan berlaku pada mereka baik berupa perkataan atau perbuatan atau tindak meninggalkan sesuatu. Dan disebut juga dengan adat. Dalam bahasa para ahli syariah, tidak ada perbedaan antara urf dengan adat.[7]

Selain itu di masa sekarang ada Syeikh Abdullah bin Ahmad An-Nasafi, yang mengutip ta’rif dari Al-Jurjani namun menambahkan lafadz al-‘adah wal ‘urf :

العادة والعرف ما استقر في النفوس وتلقته الطباع السليمة بالقبول

Adat dan ‘urf itu adalah apa yang mendapat tempat di hati dan sesuai atau diterima dengan pandangan yang selamat. [8]

Dengan demikian, berarti beliau menyamakan antara adat dan urf.

2. Urf Berbeda Dengan Adat

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa ‘urf itu berbeda dengan adat. Pendukung pendapat ini salah satunya adalah Dr. Sayid Shalih ‘Iwadh yang mengatakan bahwa penulis kitab At-Tahrir membedakan bahwa yang dimaksud dengan adat adalah ‘urf amali, yaitu yang bersifat praktek, sedangkan yang dimaksud dengan ‘urf adalah ‘urf qauli yaitu yang bersifat perkataan.

Dan Beliau juga mengatkan bahwa Al-Fanari Ar-Rumi (w. 834 H)  penulis kitab Fushul Al-Bada’i fi Ushul As-Syarai’ bahwa ‘urf itu perkataan dan adat itu perbuatan.

وحصرها المشايخ في خمسة إما بدلالة العرف قولا والعادة فعلا

Para masyaikh membatasinya dalam lima, yaitu dengan dalalatul urf sebagai perkataan dan adat sebagai perbuatan.[9]

Saad At-Taftazani (w. 793 H), penulis kitab At-Talwih ‘ala At-Taudhih juga membedakan bahwa adat itu pada perbuatan dan urf itu pada perkataan.[10]

Inti perbedaan antara ‘urf dengan adat menurut pendapat  mereka bahwa urf itu sebatas perkataan, sedangkan adat itu sebatas perbuatan.

3. Urf Bagian Dari Adat

Pendapat ini nampaknya cukup banyak pendukungnya. Diantaranya ada Dr. Musthafa Az-Zarqa, Syeikh Abu Sanah dan Dr. Shalih bin Abdul Aziz Alu Manshur.

Mereka mengatakan bahwa ‘urf itu bagian dari adat, sehingga semua ‘urf pasti merupakan adat. Namun tidak semua adat termasuk ke dalam ‘urf. Sehingga perbedaan antara keduanya adalah perbedaan  dengan dasar yang satu merupakan bagian dari yang lain.

C. Ciri Khas Urf

Untuk lebih mendalami pemahaman kita tentang ‘urf, Penulis buatkan beberapa catatan kecil, yaitu ciri khas tentang ‘urf.

1.  Fenomena Sosial Tidak Individual

Maksudnya ‘urf itu merupakan fenomena sosial yang melibatkan banyak orang dan tidak hanya melibatkan satu orang. Sedangkan adat lebih luas, bisa melibatkan banyak orang tetapi bisa juga hanya melibatkan satu orang saja.

Contoh adat yang hanya melibatkan satu orang saja adalah berapa lama masa haidh bagi seorang wanita. Ini bisa ditetapkan salah satunya dengan kebiasaannya alias adatnya. Dan wanita seperti ini disebut dengan mu’tadah (معتادة), sebagai lawan dari mutahayyirah (متحيرة).

Misalnay wanita mu’tadah ini punya kebiasaannya selalu haidh selama 7 hari sepanjang hidupnya, maka masa haidnya dipastikan 7 hari. Meski walaupun dalam satu dua kasus pernah terjadi selepas 7 hari darah masih keluar. Dalam hal ini tidak dianggap darah haidh tetapi sudah dianggap suci dan status darahnya itu menjadi darah istihadhah.

Kebiasaaan yang dialami oleh tiap wanita dalam masa haidh ini tidak disebut dengan ‘urf tetapi disebut dengan adat (العادة).

2. Kebanyakan Dalam Muamalat

Dalam prakteknya dipakainya urf sebagai dasar pengambilan hukum syariat kebanyakan pada kasus-kasus muamalat, seperti jual-beli, sewa menyewa, pinjaman, penjaminan, dan beragak akad-akad muamalat lainnya yang melibatkan interaksi dengan pihak lain.

Sedangkan penggunakan urf dalam bab ibadah mahdhah meski pun ada, namun amat terbatas pemakaiannya.

3. Umumnya Hanya Yang Dianggap Baik

Meskipun ‘urf bisa dibagi menjadi dua, yaitu ‘urf yang shahih dan fasid, namun bila kita menyebut ‘urf sebagai salah satu landasan hukum syariah, tentu maksudnya hanya sebatas ‘urf yang shahih saja. Sedangkan ‘urf yang fasid tidak termasuk sumber hukum.

4. Urf Tidak Terkait Dengan Perayaan Agama dan Munasabat

Banyak yang mengira bahwa yang termasuk ‘urf itu adalah munasabah, kegiatan seremonial, atau  perayaan keagamaan,  seperti perayaan kelahiran bayi, kematian, pernikahan, maulid nabi, nuzulul-quran dan sejenisnya. Ketika semua itu dilakukan dengan cara yang dianggapnya tidak sejalan dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Padahal semua kegiatan keagamaan yang banyak diperselisihkan itu sebenarnya berada di luar pembahasan ‘urf yang ditetapkan oleh para ulama. Sebab pembahasan ‘urf memang bukan pembahasan tentang hukum maulid nabi, bayi, haul kematian, nuzulul quran, tahlilan, syukuran, selametan dan seterusnya. Soal ini nanti ada babnya tersendiri di luar bab ‘urf.

D. Masyru’iyah

1. Al-Quran

Dasar masyru’iyah al-‘urf di Al-Quran cukup banyak. Memang dalam bentuk kata al-’urf (العرف) hanya ada satu saja, yaitu pada ayat berikut ini :

خُذِ العَفوَ وَأمُر بِالعُرفِ وَأَعرِض عَنِ الجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-Araf : 199)

Kata al-’urf (العرف) versi Terjemahan Departemen Agama RI diterjemahkan menjadi al-ma’ruf.  Namun ketika dikaitkan dengan kata turunannya yaitu al-ma’ruf (المعروف), maka kita mendapati tidak kurang dari 19 ayat yang berbeda.

فَمَن عُفِيَ لَهُ مِن أَخِيهِ شَيءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالمَعرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيهِ بِإِحسَانٍ

Siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). (QS. Al-Baqarah : 178)

Pada ayat 180 dari Al-Baqarah ini ternyata kalimat ini terulang lagi secara sama persis. 

فَمَن عُفِيَ لَهُ مِن أَخِيهِ شَيءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالمَعرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيهِ بِإِحسَانٍ

Siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). (QS. Al-Baqarah : 180)

وَإِذَا طَلَّقتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحنَ أَزوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوا بَينَهُم بِالمَعرُوفِ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma´ruf. (QS. Al-Baqarah : 232)

وَعَلَى المَولُودِ لَهُ رِزقُهُنَّ وَكِسوَتُهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. (QS. Al-Baqarah : 233)

وَلِلمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالمَعرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى المُتَّقِينَ

Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut´ah menurut yang ma´ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 241)

وَلتَكُن مِنكُم أُمَّةٌ يَدعُونَ إِلَى الخَيرِ وَيَأمُرُونَ بِالمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ المُفلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran : 104).

كُنتُم خَيرَ أُمَّةٍ أُخرِجَت لِلنَّاسِ تَأمُرُونَ بِالمَعرُوفِ وَتَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ وَتُؤمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran :  110)

يُؤمِنُونَ بِاللَّهِ وَاليَومِ الآخِرِ وَيَأمُرُونَ بِالمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الخَيرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ali Imran :  114)

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكتُوبًا عِندَهُم فِي التَّورَاةِ وَالإِنجِيلِ يَأمُرُهُم بِالمَعرُوفِ وَيَنهَاهُم عَنِ المُنكَرِ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma´ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. (QS. Al-A’raf :  157)

المُنَافِقُونَ وَالمُنَافِقَاتُ بَعضُهُم مِن بَعضٍ ۚ يَأمُرُونَ بِالمُنكَرِ وَيَنهَونَ عَنِ المَعرُوفِ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka menggenggamkan tangannya.  (QS. At-Tauba h:  67)

وَالمُؤمِنُونَ وَالمُؤمِنَاتُ بَعضُهُم أَولِيَاءُ بَعضٍ ۚ يَأمُرُونَ بِالمَعرُوفِ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf (QS. At-Taubah :  71)

التَّائِبُونَ العَابِدُونَ الحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالمَعرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ المُنكَرِ وَالحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ المُؤمِنِينَ

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku´, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS. At-Taubah : 112)

الَّذِينَ إِن مَكَّنَّاهُم فِي الأَرضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالمَعرُوفِ وَنَهَوا عَنِ المُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al-Hajj : 41)

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأمُر بِالمَعرُوفِ وَانهَ عَنِ المُنكَرِ وَاصبِر عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.  (QS. Luqman:  17)

Diterjemahkan Menjadi : Patut

Menarik untuk dicermati dalam terjemahan Departemen Agama, meski kata al-ma’ruf ini lebih sering tidak diterjemahkan sehingga cuma disebut makruf saja, namun terkadang di beberapa ayat diterjemahkan menjadi : patut. Setidaknya ada lima ayat yang demikian, yaitu :

فَإِذَا بَلَغنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيكُم فِيمَا فَعَلنَ فِي أَنفُسِهِنَّ بِالمَعرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعمَلُونَ خَبِيرٌ

Bila telah habis ´iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah : 234)

لَا جُنَاحَ عَلَيكُم إِن طَلَّقتُمُ النِّسَاءَ مَا لَم تَمَسُّوهُنَّ أَو تَفرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى المُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى المُقتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالمَعرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى المُحسِنِينَ

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut´ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al-Baqarah : 236)

وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَليَأكُل بِالمَعرُوفِ

Siapa yang miskin maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (QS. An-Nisa : 6)

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. (QS. An-Nisa : 19)

وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan berilah maskawin mereka menurut yang patut. (QS. An-Nisa : 25)

2. As-Sunnah

Sedangkan di dalam As-Sunnah, al-‘urf juga kita temukan di banyak hadits, salah satunya hadits tentang istri Abu Sufyan yang komplain kepada Rasulullah SAW atas kecilnya nafkah yang diterimanya. Lantas Rasulullah SAW membolehkannya untuk mengambil sendiri harta suaminya, tetapi dengan ukuran sewajarnya.

عَن عَائِشَةَ t قَالَت: دَخَلَت هِندُ بِنتُ عُتبَةَ -اِمرَأَةُ أَبِي سُفيَانَ- عَلَى رَسُولِ اَللَّهِ r . فَقَالَت: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعطِينِي مِن اَلنَّفَقَةِ مَا يَكفِينِي وَيَكفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذتُ مِن مَالِهِ بِغَيرِ عِلمِهِ فَهَل عَلِيَّ فِي ذَلِكَ مِن جُنَاحٍ؟ فَقَالَ: خُذِي مِن مَالِهِ بِالمَعرُوفِ مَا يَكفِيكِ وَيَكفِي بَنِيكِ

'Aisyah radliyallaahu 'anhu berkata: Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan masuk menemui Rasulullah SAW dan berkata: Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan adalah orang yang pelit. Ia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anak-anakku kecuali aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah yang demikian itu aku berdosa? Beliau bersabda: "Ambillah dari hartanya yang cukup untukmu dan anak-anakmu dengan baik." (HR. Bukhari Muslim)

E. Kaidah Fiqhiyah Terkait Dengan Urf

Atas dasar itulah para ahli ushul fiqih membuat Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan 'urf, antara lain :

1. Mazhab Al-Hanafiyah

التعيين بالعُرف كالتعيين بالنص

Menta’yin dengan ‘urf seperti menta’yin dengan nash

الثابت بالعُرف كالثابت بالنص

Sesuatu yang dikokohkan  dengan urf sekokoh  dengan  nash.

تقييد المُطلَق جائز بالعُرف

Mengikat yang mutlak dobilehkan dengan urf.

2. Mazhab Al-Malikiyah

كلُّ ما أُطلِق لفظه حُمِل على عُرفه

Segala yang dimutlakkan lafadznya maka ditetapkan pada urf-nya

العمل بالعُرف أصلٌ من أصول المذهب

Menggunakan urf adalah salah satu ushul dalam mazhab

3. Mazhab Asy-syafi’iyah

ما أُطلِق ولم يُحَدَّ رُجِع في ضبطه إلى العُرف

Segala yang dimutlakkan tanpa dibatasi, dikembalikan dhabithnya pada urf.

ما ليس له حدٌّ شرعًا ولا لغة يُرجَع فيه إلى العُرف

Segala yang tidak ada batasannya secara syariah dan bahasa, dikembalikan kepada urf.

4. Mazhab Hambali

ما لا حَدَّ له في الشرع يُردُّ إلى العُرف

Segala yang tidak dibatasi dalam syariat dikembalikan kepada ‘urf.

ما ورد به الشرع مطلقًا رجع فيه إلى العُرف

Apa yang diteteapkan dalam syariat dengan kemutlakan dikembalikan kepada ‘urf.

F. Pembagian Urf

Karena urf ini banyak sekali, maka untuk memudahkannya dibuatkan semacam pembagian. Maka ‘urf ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandangnya menjadi qauli amali, amm khash, shahih fasid.

1. Qauli dan Urf Amali

Para ulama membagi urf menjadi dua macam, yaitu urf yang bersifat perkataan (qauli) dan yang bersifat perbuatan (amali).

a. Urf Qauli

Urf Qauli adalah ungkapan atau perkataan tertentu yang sudah dianggap lazim memiliki makna tertentu oleh suatu masyarakat. Dimana boleh jadi untuk masyarakat yang lain yang urfnya berbeda, maknanya bisa saja berbeda.

Dirham untuk Uang

Sebagai contoh, pada masyarakat tertentu sudah menjadi urf kalau menyebut dirham berarti maksudnya adalah uang.

Dabbah untuk Hewan Berkaki Empat

Di masyarakat tertentu makna daabbah (دابة) hanya terbatas pada hewan yang berkaki empat. Padahal secara makna bahasa, daabbah adalah segala hewan yang melata di atas bumi, termasuk ayam, ular dan lainnya.

Tha'am dan Burr

Ibnu Abdin menyebutkan bahwa di antara contoh urf qauli adalah ketika orang Arab kata tha'am (طعام), maka yang dimaksud bukan sekedar makanan, tetapi burr (بر), yaitu gandum.

Sedangkan ketika mereka menyebut lahm (تحم) maka yang dimaksud bukan sedekar daging melainkan daging kambing.[11]

Perceraian

Sebagaimana kita tahu bahwa lafadz talak itu ada dua macam, sharih dan kina’i. Lafadz sharih adalah lafadz yang secara tegas menyebutkan kata talak atau yang searti dan tidak bisa diterjemahkan selain talak.

Selangkan lafadz kina’i adalah lafadz yang sifatnya sindiran, atau bahasa yang diperhalus sedemikian rupa, sehingga masih bisa ditafsirkan menjadi lain.

Misalnya ketika suami berkata kepada istrinya,”Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu”. Kalimat ini masih bersayap, bisa bermakna cerai dan bisa bermakna bukan cerai.

Dalam hal ini, apakah kalimat ini bermakna cerai atau tidak, tergantung dari ‘urf yang lazim dikenal di suatu masyarakat. Bila masyarakat di suatu tempat sudah menganggapnya kalimat itu adalah cerai, maka jatuhlah talak kepada istri. Dan bila urf di masyarakat itu tidak bermakna cerai, maka belum jatuh talak.

b. Urf Amali

Sedangkan urf amali adalah perbuatan-perbuatan tertentu yang telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat dan dianggap lazim dan sah secara hukum.

Jual Beli Tanpa Lafadz Akad

Di antara contoh urf amali yang berkembang di tengah masyarakat adalah akad transaksi yang tidak lewat lafadz perkataan, namun kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli, telah bersepakat dan saling rela untuk bertransaksi.

Padahal kalau kembali kepada rukun jual-beli, seharusnya penjual berkata,"Saya jual barang ini kepada Anda dengan harga sekian", lalu pembeli harus menjawab dengan lafadz,"Saya beli barang ini dengan harga sekian, tunai".

Namun akad dengan lafadz ini nyaris tidak digunakan oleh kebanyakan orang di masa sekarang ini, khususnya untuk jual-beli yang ringan nilainya.

Akad jual-beli seperti ini dalam Ilmu Fiqih muamalat disebut dengan akad mu'athah (معاطاه).

Mahar Muqaddam dan Muakhkhar

Di negeri Arab umumnya dikenal urf yang boleh jadi di negeri kita tidak dikenal, yaitu mahar atau mas kawin dibagi menjadi dua macam, yaitu muqaddam dan muakkhar.

Mahar muqaddam adalah mahar yang diberikan di awal perkawinan dan mahar muakhkhar diberikan kemudian.

2. Urf Aam dan Urf Khash

a. 'Urf Aam

Urf 'Aam 'urf yang berlaku pada suatu tempat, masa dan keadaan,

b. 'Urf Khash

Ialah 'urf yang hanya berlaku pada tempat, masa atau keadaan tertentu saja.

3. Urf Shahih dan Urf Fasid

Para ulama sepakat membagi ‘urf ini menjadi dua macam, yaitu ‘urf yang shahih dan yang fasid.

a. ‘Urf Yang Shahih

‘Urf yang shahih adalah yang tidak menyalahi ketentuan akidah dan syariah serta akhlaq yang islami.

Contoh ‘urf yang sesuai dengan syariah Islam adalah kebiasaan masyarakat jahiliyah sebelum masa kenabian untuk menghormati tamu, dengan memberi mereka pelayanan makan, minum dan tempat tinggal.  Semua itu ternyata juga dibenarkan dan dihargai di dalam syariat Islam.  Maka para ulama sepakat mengatakan bahwa ‘urf yang seperti itu dilestarikan dan tidak dihapus, karena sesuai dengan ajaran Islam.

b. ‘Urf Yang Fasid

Al-‘Urf yang fasid adalah lawan dari yang shahih, yaitu al-‘urf yang jelas-jelas menyalahi teks syariah dan kaidah-kaidahnya.

Di masa Rasulullah SAW, ‘urf seperti ini misalnya kebiasaan buruk seperti berzina, berjudi, minum khamar, makan riba dan sejenisnya. Para ulama sepakat untuk mengharamkan ‘urf seperti ini, dan mengenyahkannya dari kehidupan kita.

G. Kedudukan Urf Sebagai Dalil Yang Berdiri Sendiri

Para ulama sepakat bahwa 'urf termasuk sumber hukum Islam. Namun mereka berbeda pendapat apakah sifatnya berdiri sendiri ataukah tidak. Dalam hal ini ada dua pendapat utama, antara jumhur ulama dan mazhab Asy-Syafi’iyah.

1. Jumhur Ulama : Berdiri Sendiri

Mereka adalah mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, dan Ibnul Qayyim dari Al-Hanabilah. Dan yang dimaksud dengan dalil yang mustaqil atau berdiri sendiri adalah cukup dengan ’urf saja tanpa perlu dikuatkan lagi dengan dalil-dalil lain baik dari Al-Quran atau Sunnah.

Dasar pemikirannya bahwa Allah SWT telah memerintahkan kita untuk merujuk kepada kebiasaan manusia lewat perintah-Nya dalam Al-Quran :

خُذِ العَفوَ وَأمُر بِالعُرفِ وَأَعرِض عَنِ الجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-Araf : 199)

Selain itu Rasulullah SAW juga telah memerintahkan hal tersebut ketika beliau SAW bersabda :

ما رآه المسلمون حسنًا فهو عند اللَّه حسن

Apa yang dipandang oleh orang-orang muslim sebagai kebaikan, maka di sisi Allah pun merupakan kebaikan. (HR. Ahmad)

2. Asy-Syafi’iyah : Perlu Didukung Dalil Lain

Dalam hal ini pendapat mazhab Asy-syafi’iyah agak berbeda. Mereka mengatakan meski pun al-urf ini merupakan salah satu sumber hukum syariah, namun dia tidak bisa diterima kecuali bila sejalan dengan syariah.

Artinya pada dasarnya urf itu tidak bisa berdiri sendiri tanpa didukung dengan dalil lainnya. Kalau tidak jelas apakah sejalan dengan syariat atau tidak, maka urf ini belum boleh dipakai.

Dan agar ‘urf bisa digunakan maka ada beberapa ketentuan, yaitu :

a. Tidak Bertentangan Dengan Nash

Syarat pertama bahwa urf itu tidak boleh secara langsung bertentangan dengan nash syariah.

Misalnya kebiasaan buruk di tengah masyarakat untuk melakukan riba dan renten, tentu tidak bisa diterima sebagai ‘urf yang menjadi dalil.

b. Mengandung Maslahat

 Syarat ketiga adalah bahwa urf tersebut mengandung banyak maslahat bagi masyarakat.

Misalnya, urf atau kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat bahwa penjual dan pembeli tidak harus saling bercakap-cakap secara langsung dalam akad jual-beli. Namun cukup dengan kode atau isyarat saja, asalkan keduanya sama-sama paham dan mengerti serta saling bersepakat, maka hakikat akad jual-beli sudah dianggap sah.

Sebab kalau setiap akad jual-beli harus dilakukan dengan mengucapkan lafadz ijab dan kabul, tentu akan merepotkan. Bayang seorang kasir di mini market yang melayani ratusan pembeli dalam sehari. Kalau tiap pembeli membeli rata-rata 10 item, kita tidak membayangkan bagaimana mulut kasir akan berbusa.

c. Berlaku Pada Orang Banyak

 Syarat ketiga adalah bahwa urf itu berlaku pada banyak orang, dalam arti semua orang memang mengakui dan menggunakan urf tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kalau urf itu hanya berlaku pada sebagian kecil dari masyarakat, maka urf itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

d. Sudah Berlaku Lama

Syarat yang keempat bahwa urf itu harus sudah menjadi kebiasaan yang berlaku secara kurun waktu yang lama. Dalam kata lain urf itu eksis pada masa-masa sebelumnya dan  bukan yang muncul kemudian.

e. Tidak Bertentangan Dengan Syarat Dalam Transaksi

Syarat terakhir bahwa urf itu tidak bertentangan dengan syarat transaksi yang sudah baku dalam hukum fiqih muamalat.

H. Contoh Implementasi ’Urf Sebagai Dalil Hukum

Berikut ini adalah beberapa contoh implementasi urf dalam hukum syariah.

1. Nilai Nafkah

Memberi nafkah hukumnya wajib atas suami kepada istrinya. Namun besarannya dikembalikan kepada ‘urf.

وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan berilah maskawin mereka menurut yang patut. (QS. An-Nisa : 25)

2. Istri Boleh Mengambil Sebagian Harta Suami

Karena adanya kewajiban suami memberi nafkah kepada istrinya, maka di dalam harta suami ada terkandung hak istri. Dalam keadaan tertentu Rasulullah SAW mengizinkan seorang istri mengambil uang suaminya, namun dengan urf alias secukupnya.

خُذِي مِن مَالِهِ بِالمَعرُوفِ مَا يَكفِيكِ وَيَكفِي بَنِيكِ

Ambillah dari hartanya yang cukup untukmu dan anak-anakmu dengan baik." (HR. Bukhari Muslim)

3. Nilai Mut’ah

Memberi mut’ah kepada istri yang dicerai hukumnya sunnah tidak wajib. Sedangkan besarannya dikembalikan kepada ’urf.

وَلِلمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالمَعرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى المُتَّقِينَ

Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut´ah menurut yang ma´ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 241)

4. Pemeliharan Anak Yatim Boleh Makan Sebagian Harta

Memakan harta anak yatim memang haram hukumnya. Namun bagi orang yang memelihara anak yatim atau mengurusnya, ada kebolehan untuk mendapatkan sebagian dari harta itu, dengan syarat harus dengan ’urf.

وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَليَأكُل بِالمَعرُوفِ

Siapa yang miskin maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (QS. An-Nisa : 6)

5. Nilai Upah Mantan Istri Yang Menyusui Anak

Dalam kasus dimana suami istri bercerai, maka tidak ada salahnya suami membayar upah bagi mantan istrinya atas jasa menyusui anak.

وَعَلَى المَولُودِ لَهُ رِزقُهُنَّ وَكِسوَتُهُنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. (QS. Al-Baqarah : 233)

Footnote

[1] Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis Lughah, jlid 4 hal. 281

[2] Ibnu Manzhur,  Lisanul Arab, jilid 9 hal. 239-242

[3] Kamus Al-Muhith jilid 3 hal. 173

[4] Al-Jurjani, At-Ta'rifat, hal. 193

[5] Dr. Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, hal. 90

[6] Ibnu Abdin, Majmu’ah Rasail Ibnu Abdin, Nasyrul Urf fi Binai Ba’dhil Ahkam, jilid 2 hal. 144

[7] Dr. Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, hal. 90

[8] Syeikh Abdullah bin Ahmad An-Nasafi, Al-‘Urf wal Adah fi Ra’yi Al-Fuqaha, hal. 8

[9] Al-Fanari Ar-Rumi, Fushul Al-Bada’i fi Ushul As-Syarai’, jilid 2 hal. 177

[10] Saad At-Taftazani, At-Talwih ‘ala At-Taudhih

[11] Ibnu Abdin, Majumuah Rasail Ibnu Abdin, jilid 2 hal. 112

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img