All | 1. Muqaddimah > Bagian 1. Ilmu Fiqih 2. Keistimewaan Fiqih

Bab 2 : Keistimewaan Fiqih

Ilmu Fiqih bersumber dari wahyu Allah SWT dan bukan buatan manusia. Namun sayangnya, para orientalis banyak mencoba menutupi realita ini. Mereka seringkali menghujamkan tuduhan keji kepada Ilmu Fiqih dan para ulamanya dengan menuduh bahwa Ilmu Fiqih tidak lebih sekedar hasil karya manusia biasa hidup jauh sepeninggal Rasulullah SAW dan para shahabat.

Lebih jauh mereka bahkan sampai hati mencemooh para penyuusn kitab fiqih sebagai para penjilat penguasa, yang dibayar dengan harga yang pantas untuk meligitimasi kezaliman dan keangkara-murkaan para penindas rakyat.

Menurut mereka kelahiran Ilmu Fiqih baru muncul di masa kehidupan empat imam mazhab, yaitu Al-Imam Abu Hanifah (70-150 H), Al-Imam Malik (93-179 H), Al-Imam Asy-Syafi’I (150-202 H) dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal (164 – 241 H).

Tuduhan seperti ini -sayangnya- disenangi oleh banyak mahasiswa muslim yang mendapat beasiswa untuk belajar di negeri para orientalis. Dan tanpa punya rasa kritis dan cemburu sedikit pun, para mahasiwa yang lugu itu pun menjadi pemuja dan pembela pemikiran para orientalis, bahkan membanggakan diri sebagai murid dan kader mereka.

Dan yang paling menjadi korban atas tuduhan negatif ini tidak lain adalah umat Islam sendiri, khususnya mereka yang kurang mendapatkan akses terhadap Ilmu Fiqih sejak kecil. Mereka yang baru hijrah dan agak sedikit lebih sadar mendekatkan diri kepada masalah agama. Dahulu mereka sempat melewati masa-masa kurang akses terhadap ilmu agama. Mereka inilah yang paling banyak menjadi korban, karena mendapatkan informasi sepotong-sepotong dan tidak utuh, bisa menangkap sepintas-kilas saja. Mereka rentan untuk dibelokkan pemikirannya lewat kampanye negatif yang tidak bertanggung-jawab dari para orientalis dan sekuleris.

Lalu kita akan terkaget-kaget mendengar beragam tuduhan miring keluar dari mulut mereka. Baru saja belajar mengeja alif ba ta kemarin sore dan belum lancar melafadzkan Al-Quran, tiba-tiba sudah pandai mencaci maki para ulama dan dengan seenak menuduh Ilmu Fiqih sebagai produk bid’ah yang harus diperangi dan rentan kesalahan.

Padahal Ilmu Fiqih bukan semata-mata karangan manusia, dan kemunculannya juga bukan di masa yang jauh dari Rasulullah SAW hidup. Dan Ilmu Fiqih tidak punya latar belakang kisah penjilatan kepada para penguasa. Keempat imam mazhab itu, tidak ada satu pun yang menjadi mufti suatu kerajaan atau menjadi penasehat khalifah tertentu.

Sebenarnya Ilmu Fiqih adalah ilmu yang sudah ada di masa Rasulullah SAW, yang lahir lalu tumbuh berkembang bersama dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan para shahabat. Karena itu kita mengenal istilah fiqih para shahabat, misalnya Fiqih Abu Bakar, Fiqih Umar, Fiqih Ustman dan juga Fiqih Ali. Rupanya mereka pun ahli fiqih yang juga sekaligus menjadi pengganti Rasulullah SAW dalam memimpin umat.

Sumber Ilmu Fiqih juga bukan otak dan logika manusia belaka. Tetapi sumber Ilmu Fiqih murni Al-Quran dan As-Sunnah yang diterima lewat sanad yang shahih, dan kemudian dipahami dengan manhaj yang telah dibakukan secara ilmiyah dan diterima oleh seluruh umat Islam.

Berbeda dengan undang-undang buatan manusia, atau yang sering disebut sebagai al-ahkam al-wadl’iyah (الأحكام الوضعية), yang bersumber dari akal dan nalar manusia, Ilmu Fiqih bersumber dari wahyu Allah, yaitu Al-Quran dan Sunnah.

Setiap ahli fiqih atau mujtahid pasti memiliki kemampuan untuk mengambil kesimpulan hukum dari sumber fiqih yang ada, dan mereka semua terikat dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak satu pun dari mereka yang hanya sekedar menuruti logika belaka dan atau sekedar berlandaskan kepada filsafat. Kesimpulan hukum yang dihasilkan merupakan makna turunan secara langsung atau sesuai dengan ruh syariat, atau tujuan umum dari syariat Islam.

Karena sumber fiqih adalah wahyu Allah, maka ia sangat sesuai dengan tuntutan manusia dan kebutuhan manusia secara keseluruhan. Sebab Allah SWT adalah Pencipta manusia yang mengetahui seluk-beluk manusia itu sendiri, baik yang lahir atau yang batin. Allah menciptakan syariat yang lengkap mengatur seluruh bidang kehidupan manusia. Allah berfirman :

أَلاَ يَعلَمُ مَن خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الخبِير

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui ; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Al Mulk: 14)

حُرِّمت عليكُمُ الميتةُ والدّمُ ولحمُ الخِنزِيرِ وما أُهِلّ لِغيرِ اللّهِ بِهِ والمُنخنِقةُ والموقُوذةُ والمُتردِّيةُ والنّطِيحةُ وما أكل السّبُعُ إِلاّ ما ذكّيتُم وما ذُبِح على النُّصُبِ وأن تستقسِمُوا بِالأزلامِ ذلِكُم فِسقٌ اليوم يئِس الّذِين كفرُوا مِن دِينِكُم فلا تخشوهُم واخشونِ اليوم أكملتُ لكُم دِينكُم وأتممتُ عليكُم نِعمتِي ورضِيتُ لكُمُ الإِسلام دِينًا فمنِ اضطُرّ فِي مخمصةٍ غير مُتجانِفٍ لِّإِثمٍ فإِنّ اللّه غفُورٌ رّحِيمٌ

“Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya , dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah , adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah: 3)

Jika dibandingkan dengan undang-undang dan hukum yang dibuat manusia, perbedaan antara keduanya sangat jauh, seperti bedanya antara Pencipta jagad raya, Allah SWT, dengan makluknya yang kecil.

Hukum yang dibuat manusia banyak kelemahan dan keterbatasan karena ia produk akal manusia yang serba terbatas. Akal manusia tidak mengetahui hakikat jiwa manusia dan kebutuhan dirinya sesuai dengan fitrah penciptaan yang digariskan oleh Allah. Sehingga hasil pikiran manusia banyak yang tidak sesuai dengan tabiat manusia itu sendiri.

Jalan satu-satunya adalah kembali kepada hukum yang diciptakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Tahu tentang manusia.

Ilmu Fiqih bisa dibagi menjadi dua bab besar, yaitu ibadah dan muamalat. Bidang ibadah biasanya terkait dengan ritual-ritual ibadah yang bersifat tauqifi (توقيفي) dan ghairu ma’qul al-makna (غير معقول المعنى). Dan bidang muamalat biasanya terkait dengan hal-hal yang bersifat ijtihadi (إجتهادي) dan ma’qul al-makna (معقول المعنى).

Dr. Wahbah Az-Zuhaili membagi hukum-hukum muamalat dibagi-bagi oleh ulama menjadi beberapa bab:

1. Al-Ahwal Asy-Syakhsiyah

Bab ini terkait dengan berbagai masalah keluarga, seperti hukum-hukum pernikahan, talak, nasab, nafkah, warisan. Hukum-hukum ini bertujuan mengatur hubungan antara suami istri dan kekerabatan yang lebih dikenal dengan "hukum perdata".

2. Al-Ahkam Al-Madaniyah

Maknanya adalah hukum-hukum kemasyarakatan. Bab ini terkait dengan transaksi personal berupa jual beli, sewa menyewa, pergadaian, kafalah, asuransi, kerja sama, hutang piutang, dan lainnya. Hukum-hukum ini bertujuan mengatur hubungan personal dari sisi harta dan keuangan sehingga hak-hak masing-masing terjaga.

3. Al-Ahkam Al-Jina’iyah

Maknanya adalah hukum-hukum kriminalitas, baik terkait dengan tindak melanggar hukum yang dilakukan oleh seseorang atau pun juga terkait dengan sanksi yang dikenakan.

Tujuan dari hukum ini adalah menjaga eksistensi kehidupan manusia, harta, kehormatan dan hak-hak mereka, memberi kepastian hubungan antara korban kriminal dan pelaku serta menciptakan keamanan. Setidaknya menurut para ulama, di dalam Al-Quran terdapat kurang lebih sekitar 30-an ayat yang terkait dengan hukum-hukum kriminalitas.

4. Al-Ahkam Al-Murafa’at

Bab ini terkait dengan hukum-hukum dibidang peradilan seperti tuntutan hukum, persaksian, sumpah, dan lain-lain.

Tujuannya adalah mengatur prosedur penegakan keadilan antara menusia dengan syariat Islam. Konon, di dalam Al-Quran terdapat kurang lebih sekitar 20-an ayat yang berbicara mengenai masalah ini.

5. Al-Ahkam Ad-Dusturiyah

Hukum yang terkait dengan perundang-undang yang mengatur antara penguasa dan rakyat dan menjelaskan hak dan kewajiban indifidu dan kelompok.

6. Al-Ahkam Ad-Dauliyah

Hukum-hukum yang mengatur hubungan negara Islam dengan negara lainnya terkait dengan perdamaian dan perang, hubungan antara warga negara non muslim dengan negara Islam yang ia tinggali, hukum-hukum jihad dan perjanjian. Tujuannya agar tercipta kerja sama, saling menghormati antar satu negara dengan lainnya.

7. Al-Ahkam Al-Iqtishadiyah Wa AlMaaliyah

Hukum-hukum yang terkait dengan hak-hak indifidu terhadap harta benda (kepemilikan), hak-hak dan kewajiban negara di bidang harta benda, pengaturan sumber kekayaan negara dan anggaran-anggarannya. Tujuannya adalah mengatur hubungan kepemilikan antara orang yang kaya dan miskin dan antara negara dengan warga negara.

Ini mencakup harta benda negara, seperti harta rampasan, pajak, kekayaan alam, harta zakat, sadakah, nazar, pinjaman, wasiat, laba perdagangan, harta sewa menyewa, perusahaan, kaffarat, diyat dan lain-lain.

Salah satu keistimewaan fiqih adalah merupakan penjabaran lebih lanjut tentang hukum-hukum yang ada dalam Quran dan Sunnah. Meski pun suatu masalah tidak disinggung secara eksplisit dalam keduanya, namun dengan adanya ijtihad fiqhiyah yang dilakukan oleh ahlinya, maka apa yang secara eksplisit tidak terdapat dalam teks, ternyata tetap bisa terjangkau secara hukum.

Hal itu bisa kita temukan dalam kisah Muaz bin Jabal yang diutus oleh Rasulullah SAW ke negeri Yaman, sebuah negeri yang saat itu belum menjadi negeri Arab dan penduduknya memeluk agama nasrani.

كيف تقضيِ إِذا عُرِض لك قضاء ؟ قال : أقضِي بكِتابِ اللهِ .قال : فإِن لم تجِد فيِ كتِابِ اللهِ ؟ قال : فبِسُنّةِ رسُولِ اللهِ قال : فإِن لم تجِد فيِ سُنّةِ رسُولِ الله ولا فيِ كتِابِ الله ؟ قال : أجتهِدُ رأيِ ولا آلو

Dari Muaz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya," Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muaz menjawab, saya akan putuskan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali, bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Allah? Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah, jawab Muaz. Rasulullah bertanya kembali, jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Muaz menjawab, saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan (HR Abu Daud)

Maka segala masalah yang hanya ada di negeri Yaman serta tidak ada hukumnya secara eksplisit dalam teks Quran dan Sunnah, tetap terjangkau hukum-hukum fiqih.

Satu hal yang patut dicatat bahwa fiqih punya prinsip untuk memberi kemudahan dan keringanan kepada manusia dan sifatnya tidak membebani.

1. Fiqih dan Tasawuf

Salah satu perbedaan utama antara fiqih dan tasawuf bahwa kebanyakan ajaran tasawuf mengajarkan kesempurnaan dalam beribadah. Meski memang baik, namun tidak semua kalangan mampu melaksanakannya. Sementara fiqih hanya mengajarkan batas minimal dalam beribah, yang mana tidak ada alasan bagi siapa saja untuk mengabaikannya.

Fiqih tidak mengharuskan umat Islam untuk memperbanyak shalat siang dan malam, tetapi hanya mewajibkan lima kali saja dalam sehari semalam. Fiqih tidak mengharuskan khusyu’ dalam shalat agar shalatnya diterima. Sementara tasawuf sejak awal mengharuskan khusyu’ dan dianggap sebagai syarat diterimanya shalat.

Dalam Ilmu Fiqih, orang yang sedang berpuasa tidak batal puasa kalau hanya sekedar membayangkan menu berbuka puasa sore nanti, sementara ilmu tasawuf mengajarkan bahwa puasa itu bukan hanya lahiriyah tapi juga batiniyah. Maka kalau siang hari membayangkan menu buka puasa, sudah dianggap rusak puasanya.

2. Keringanan Seusai Porsi

Di dalam Al-Quran Allah SWT telah menegaskan bahwa Islam itu tidak memberatkan.

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ اليُسر ولا يُرِيدُ بِكُمُ العُسر

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun keringanan dari Allah SWT itu ada aturan-aturannya sendiri, dimana tidak boleh seseorang lantas main atur sendiri berbagai macam keringanan sesuai seleranya.

Ketika seseorang sakit dan tidak mampu berdiri untuk shalat, dia dibolehkan shalat sambil duduk, jika tidak mampu duduk, maka dengan berbaring. Namun kebolehan ini ada syarat dan ketentuannya. Tidak boleh hanya karena alasan macet lalu kita shalat sambil duduk di jok mobil, padahal masih sangat memungkinkan untuk turun dan shalat dengan sempurna.

Demikian juga dengan keringanan terkait dengan tayammum, ada aturan dan ketentuannya, sehingga tidak setiap saat kita boleh bertayammum seenaknya. Semua ada aturannya. Demikian juga dengan keringanan lainnya seperti shalat qasar, jama', qadla', dan lain-lain. Juga ada keringanan dalam puasa, zakat, kaffarat (denda) akibat kesalahan yang dilakukan.

Sepanjang sejarah, tidak ada referensi dan karangan yang sarat dengan khazanah ilmu dan pemikiran melebihi fiqih. Disana akan ditemui segala macam pandangan ulama dari berbagai mazhab dan aliran.

Dalam Islam ada empat aliran fiqih besar dan masing-masing madzab itu memiliki riwayat dan pendapat, baik yang disepakati atau yang dipersilihkan dan setiap pandang memiliki alasan dan dalil.

Setiap masalah dalam kehidupan manusia seakan tak luput dari pembahasan fiqih dari masalah yang terkecil hingga terbesar.

Fiqih memiliki kaidah yang tidak akan berubah hingga akhir zaman, seperti kaidah; transaksi harus dilakukan saling ridla, pemberian ganti rugi jika ada kerusakan, pemberantasan criminal, pemeliharaan hak-hak, tanggung jawab individu.

Sementara fiqih yang didasarkan atas qiyas, masalih mursalah, dan adat istiadat bisa berubah sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemaslahatan manusia, dengan batasan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img