All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 13. Syaru Man Qablana

Bab 13 : Syaru Man Qablana

A. Pengertian

Istilah syar'u man qablana (شرع من قبلنا) terdiri dari dua hal, yaitu syar'u  dan man qablana. Yang dimaksud dengan syar'u adalah syariat. Dan yang dimaksud dengan man qablana adalah orang-orang yang hidup di masa sebelum diturunkannya syariat kepada Rasulullah SAW.

1. Syariat

Secara istilah dalam Ilmu Fiqih, pengertian syariat didefinisikan oleh banyak ulama sebagai :

مَاشَرَعَهُ اللهُ لِعِبَادِهِ مِنَ الأَحكَامِ الَّتِي جَاءَ بِهَا نَبِيٌّ مِنَ الأنبِيَاءِ سَوَاءٌ مَا يَتَعَلَّقُ باِلاِعتِقَادِ وَالعِبَادَاتَ وَالمُعَامَلاَتِ وَالأَخلاَقِ وَنِظاَمِ الحَيَاةِ

Apa yang disyariatkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya dari hukum-hukum yang telah dibawa oleh Nabi dari para nabi, baik yang terkait dengan keyakinan, ibadah muamalah, akhlaq dan aturan dalam kehidupan. [1]

2. Man Qablana

Yang dimaksud dengan istilah man qablana adalah umat-umat terdahulu yang menerima kedatangan para nabi dan rasul serta diberikan taklif untuk menjalankan syariat.

Maka maksud istilah syar’u man qablana (شرع من قبلنا) adalah syariat yang berlaku bagi umat sebelum Nabi Muhammad diutus, seperti umat Yahudi atau pun Nasrani, namun pada masa risalah Muhammad SAW tidak ada petunjuk untuk penghapusannya dengan jelas.

Maka selama tidak nash Al-Quran dan hadis yang menjelaskan bahwa syariat itu dihapus atau tidak, syariat itu  menyisakan pertanyaan, apakah syariat masih berlaku untuk kita atau tidak?

Para ulama menjelaskan bahwa syariat sebelum adalah hukum-hukum yang telah disyariatkan untuk umat sebelum islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terdahulu dan menjadi beban hukum untuk diikuti oleh umat sebelum adanya syariat Nabi Muhammad SAW.

B. Macam-Macam Syar’u Man Qablana

Kalau kita perhatikan lebih dalam, ternyata apa yang disyariatkan kepada umat sebelum kita ini bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

1. Tidak Terdapat Dalam Al-Quran dan As-Sunnah

Hukum-hukum syariat yang pernah diberlakukan Allah SWT kepada umat-umat terdahulu, namun tidak disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Dalam hal ini para ulama umumnya sepakat bahwa syariat yang seperti ini tidak termasuk syariat kita. Sehingga kita tidak terikat untuk menjalankan syariat tersebut.

Dan kalau pun mau diterapkan juga tidak mungkin, sebab kita tidak punya bukti yang otentik seperti bentuk syariat yang dimaksud.

2. Ada Kepastian Mansukh atau Tidak Mansukh

Hukum-hukum syariat yang pernah Allah berlakukan kepada suatu umat dari dari umat terdahulu, dan syariat itu disebutkan Allah SWT, baik di dalam Al-Quran atau pun di dalam As-Sunnah.

Jenis syariat yang kedua ini, bisa kita bagi lagi menjadi tiga macam klasifikasi, yaitu syariat yang sudah ditegaskan kemansukhannya, dan syariat yang sudah tegas tidak mansukh, serta yang tidak ada penjelasan apakah mansukh atau tidak.

a. Sudah Dipastikan Mansukh

Klasifikasi pertama adalah syariat buat umat terdahulu yang disebutkan di dalam Al-Quran atau di dalam As-sunnah, namun ada ketegasan dalam syariat kita bahwa hal tersebut dihapuskan dan tidak berlaku lagi untuk umat Nabi Muhammad SAW.

Sehingga apa yang pernah berlaku di masa lalu, tidak lagi berlaku untuk kita. Syariat itu hukumnya mansukh, yaitu dibatalkan berlakunya oleh Al-Quran atau oleh As-Sunnah. Sehingga sudah bukan termasuk syariat kita menurut kesepakatan semua ulama.

Najis

Di antara contoh kasus seperti ini adalah masalah najis. Dalam syariat buat Nabi Musa alaihissalam dan ummatnya, bila badan kita terkena najis hukumnya haram.

Dan pakaian yang terkena najis hukumnya tidak bisa disucikan lagi untuk selama-lamanya, meski pun telah dicuci berkali-kali. Maka bila masih ingin mengenakan pakaian yang terkena najis, bagian yang terkena najis itu harus dipotong.

Haramnya Lemak dan Hewan Berkuku

Demikian juga Allah SWT dahulu pernah mengharamkan segala hewan yang berkuku dan juga lemak hewan yang halal dagingnya :

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ البَقَرِ وَالغَنَمِ حَرَّمنَا عَلَيهِم شُحُومَهُمَا إِلاَّ مَا حَمَلَت ظُهُورُهُمَا أَوِ الحَوَايَا أَو مَا اختَلَطَ بِعَظمٍ ذَلِكَ جَزَينَاهُم بِبَغيِهِم وِإِنَّا لَصَادِقُونَ

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku  dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (QS. Al-An'am : 146)

Sedangkan buat kita sebagai umat Rasulullah SAW, lemak hewan itu tidak haram. Demikian juga hewan yang berkuku juga tidak haram untuk dimakan.

Haramnya Ghanimah

Ghanimah adalah harta rampasan perang. Buat kita memakan harta ghanimah ini halal, sementara buat umat terdahulu hukumnya haram.

Rasulullah SAW bersabda :

أُحِلَّت لِيَ الغَنَائِمُ وَلَم تَحل لأَحَدٍ قَبلِي

Telah dihalalkan bagi kita memakan harta rampasan perang, padahal tidak satu pun umat sebelum kita yang dihalalkan untuk memakannya. (HR. Ahmad)

Para nabi terdahulu kalau memenangkan peperangan dan mendapatkan harta rampasan perang yang banyak, maka harta itu tidak boleh diambil atau dimakan. Pada saat itu syariat yang berlaku adalah kewajiban untuk mengumpulkan semua harta rampasan perang di satu tempat lalu kemudian semuanya dibakar hingga hangus.

Tetapi ketentuan itu kemudian diubah di masa kenabian Muhammad SAW dan umatnya. Harta rampasan perang hukumnya halal untuk diambil dan dimakan.

Halalnya Bangkai dan Darah

Buat umat Rasulullah SAW, bangkai ikan dan belalang hukumnya halal. Sebagaimana halalnya benda yang terbuat dari darah, yaitu hati dan limpa. Hal itu tegas disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut :

أُحِلَّت لَنَا مَيتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا المَيتَتَانِ فَالحُوتُ وَالجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالكَبِدُ وَالطِّحَال

Telah dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah itu adalah hati dan limpa. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

b. Sudah Dipastikan Tidak Mansukh

Klasifikasi yang kedua adalah syariat yang pernah diberlakukan buat orang terdahulu, seperti untuk Bani Israil dan lainnya, lalu kemudian syariat itu buat kita tetap diberlakukan. 

Maka hukumnya syariat itu termasuk bagian dari syariat yang berlaku buat kita, sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama.

Contoh yang paling mudah dalam kasus ini adalah perintah menjalankan Allah SWT buat kita, umat Nabi Muhammad SAW, untuk melaksakan ibadah puasa. Dimana puasa adalah syariat yang juga pernah diberlakukan buat umat terdahulu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kamu semua berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah 183)

Namun meski pun kita disyariatkan untuk berpuasa sebagaimana umat terdahulu, tetap saja dalam teknis yang lebih detail, ada ketidak-samaan disana-sini. Sebut saja misalnya dari segi hukum.

Puasa yang Allah SWT wajibkan atas Nabi Daud alaihissalam dan ummatnya memang masih berlaku untuk kita sebagai ummat Rasulullah SAW. Tetapi perbedaannya dari segi hukum. Puasa Daud yang sehari puasa dan sehari berbuka itu hukumnya wajib atas mereka. Sedangkan buat kita hukumnya hanya sunnah. Artinya, seandainya kita tidak mengerjakan puasa seperti Nabi Daud alahissalam, kita tidak berdosa.

3. Tidak Ada Kejelasan Hukum

Kalau pada dua jenis syariat di atas kita punya kejelasan informasi tentang hukumnya, baik terhapus atau tetap masih berlaku, maka pada klasifikasi yang ketiga ini berbeda. Karena kita tidak mendapatkan konfirmasi dari Allah SWT dan Rasulullah SAW tentang apakah syariat yang pernah berlaku di masa lalu, apakah sudah dihapuskan sehingga menjadi mansukh, ataukah masih tetap berlaku dan dianggap menjadi bagian dari  syariat kita?

Dalam hal ini banyak perbedaan pendapat dari kalangan ulama. Sebagian ada yang cenderung mengatakan bahwa jika hukum tersebut shahih dapat kita amalkan, karena secara tidak langsung hukum terdahulu tidak terhapus, itu berarti juga tetap menjadi syariat umat terdahulu yang berlaku bagi kita umat Islam. Dan sebagian lainnya punya pendapat yang berbeda.

Seperti halnya diamnya Rosulullah atas suatu perkara, tidak membenarkan tidak pula menyalahkan (taqririyah).
Contohnya adalah masalah hukum qishash, yang terdapat di  dalam surat Al-Maidah.

مِن أَجلِ ذَلِكَ كَتَبنَا عَلَى بَنِي إِسرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفسًا بِغَيرِ نَفسٍ أَو فَسَادٍ فِي الأَرضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh orang lain) atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (QS. Al-Maidah : 32)

C. Pendapat Para Ulama tentang Syar’u Man Qablana

Dari tiga jenis syar'u man qablana yang sudah diuraikan di atas, para ulama telah bersepakat pada jenis yang pertama dan kedua.

Namun mereka berbeda pendapat tentang keberadaan syar'u man qablana untuk jenis yang ketiga. Sebagian ulama berpendapat bahwa syariat yang diberlakukan buat umat terdahulu itu masih tetap berlaku untuk kita, dan sebagiannya lagi berpendapat sebaliknya.

1. Tetap Berlaku

Pendapat yang mengatakan bahwa syariat dan hukum yang pernah berlaku buat umat terdahulu itu juga masih berlaku buat kita umumnya dikemukakan oleh para ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, mayoritas kalangan mazhab Asy-Syafi’iyah. Dan salah satu riwayat dari Ahmad bin Hanbal, juga membenarkan bahwa hukum-hukum seperti itu berlaku bagi umat Muhammad SAW.

Dalil yang biasanya mereka kemukakan antara lain :

a. Sama-sama Datang Dari Allah

Mereka memandang bahwa pada dasarnya syariat buat umat terdahulu datang dari Allah juga. Oleh karena itu, apa yang disyariatkan kepada para nabi terdahulu dan disebutkan dalam Al-Quran berlaku kepada umat Muhammad SAW, meski tidak ada perintah langsung untuk melaksanakannya.

b. Ada Perintah Untuk Menjalakankannya

Selain itu, terdapat beberapa ayat Al-Quran secara tegas memerintahkan kita untuk mengikuti jejak dan syariat yang turun kepada para nabi terdahulu.

Di antaranya adalah perintah kepada kita agar mengikuti millah Nabi Ibrahim alaihissalam. Sebagian kalangan menafsirkan kata millah itu sebagai syariat dan hukum yang berlaku buat Nabi Ibrahim.

ثُمَّ أَوحَينَا إِلَيكَ أَنِ اتَّبِع مِلَّةَ إِبرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ المُشرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibarahim yang hanif. (QS. An-Nahl :123)

Salah satu bentuk millah Nabi Ibrahim alahissalam adalah berkhitan. Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim diperintahkan untuk berkhitan, meski sudah berusia tua. Oleh karena itu dibutuhkan kapak untuk melakukannya. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

اختَتَنَ إِبرَاهِيمُ النَّبِيُّ r وَهُوَ ابنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالقَدُومِ

Nabi Ibrahim berkhitan ketika berusia 80 tahun menggunakan kapak (HR. Bukhari)

Meski pun syariat tersebut turun kepada Nabi Ibrahim, namun dalam syariat yang turun kepada Muhammad SAW, ternyata syariat itu tidak dihapus, malah justru diperkuat perintahnya. Perintah berkhitan yang turun kepada Nabi Ibrahim termasuk perintah yang tetap langgeng untuk dikerjakan.

2. Tidak Berlaku

Sedangkan mereka yang termasuk berpendapat bahwa syariat umat terdahulu itu tidak berlaku buat kita umumnya dikemukakan para ulama Mu’tazilah, Syi’ah, sebagian kalangan Syafi’iyah. Dan juga merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam pandangan mereka, syariat yang Allah turunkan buat umat sebelum era Rasulullah SAW, meski pun tercantum dan disebutkan dalam Al-Quran, tidak lantas otomatis menjadi syariat bagi umat Nabi Muhammad SAW. Terkecuali bila memang ada ketegasan untuk itu.

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh kalangan ini adalah firman Allah SWT seperti apa yang terdapat dalam Al-Quran surah al-Maidah ayat 48.

لِكُلٍّ جَعَلنَا مِنكُم شِرعَةً وَمِنهَاجًا وَلَو شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُم أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبلُوَكُم فِي مَآ آتَاكُم فَاستَبِقُوا الخَيرَاتِ إِلَى الله مَرجِعُكُم جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُم فِيهِ تَختَلِفُونَ

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (QS. Al-Maidah : 48)

Tarjih

Abdul Wahhab Khallaf dalam bukunya ‘Ilmu Ushul al-Fiqh menjelaskan, bahwa yang terkuat dari dua pendapat tersebut adalah pendapat yang pertama diatas. Alasannya, bahwa syariat Islam hanya membatalkan hukum yang kebetulan berbeda dengan syariat Islam.

Oleh karena itu, segala hukum-hukum syariat para nabi terdahulu yang disebut dalam Al-Quran tanpa ada ketegasan bahwa hukum-hukum itu telah dinasakh (dihapuskan), maka hukum-hukum itu berlaku bagi umat Nabi Mumammad SAW.

Footnote

[1] Manna’ Al-Qaththan, At-Tasyri’ wa Al-Fiqih fi Al-Islam, hal. 15

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img