All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 14. Istihsan

Bab 14 : Istihsan

A. Pengertian

1. Bahasa

Al-Istihsan (الإستحسان) secara bahasa adalah kata bentukan  dari al-hasan (الحسن) yang berarti kebaikan. Istihsan sendiri kemudian berarti kecenderungan seseorang pada sesuatu karena menganggap sesuatu itu lebih baik. Dan kecenderungan ini bisa bersifat lahiriah ataupun maknawiah, meskipun hal itu dianggap tidak baik oleh orang lain.[1]

Secara bahasa istihsan juga bermakna :

عَدُّ الشّيءِ حَسَنًا

Menganggap sesuatu itu baik

2. Istilah

Sedangkan secara istilah di kalangan para ahli ushul, istihsan didefinisikan sebagai :

العُدُولُ عَن قِياَسٍ جَلِيٍّ إِلىَ قِيَاسٍ خَفِيٍّ

Meluruskan sesuatu dari qiyas jali kepada qiyas khafi

Al-Karkhi, salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah mendefinsikan tentang istihsan  : mengeluarkan hukum suatu masalah dari hukum masalah-masalah yang serupa dengannya kepada hukum lain karena didasarkan hal lain yang lebih kuat dalam pandangan mujtahid. Definisi ini juga kemudian dipilih pula oleh Ibnu Qudamah, salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah. [2]

Ada juga yang menyebutkan bahwa istihsan adalah meninggalkan apa yang menjadi konsekwensi qiyas tertentu menuju qiyas yang lebih kuat darinya.[3]

Dari beberapa definisi di atas, kita dapat melihat bahwa inti dari istihsan adalah ketika seorang mujtahid lebih cenderung memilih hukum tertentu dan meninggalkan hukum yang lain, dengan alasan sesuatu hal yang dalam pandangannya bahwa hukum yang kedua lebih kuat dari hukum yang pertama.

Sebagai contoh sederhana, misalnya para ulama menggunakan istihsan ketika berfatwa bahwa tayammum sebagai pengganti wudhu' itu wajib diulang-ulang setiap kali mau mengerjakan shalat wajib.

Padahal kalau menggunakan qiyas, ketika tayammum diqiyaskan dengan wudhu', seharusnya tayammum tidak perlu diulang-ulang. Namun kebanyak ulama menggunakan istihsan dalam masalah ini.[4]

B. Sejarah Istihsan

Awal mula digunakan istihsan adalah ketika ada kasus al-musyarrakah dalam ilmu waris. Kasus ini juga dikenal dengan sebutan al-himariyah.

Dalam kasus ini terjadi perbedaan pendapat di tengah para shahahat. Sebagian sahabat mengikutsertakan saudara kandung (seibu-sebapak) mayit bersama saudara seibunya dalam memperoleh bagian sepertiga dari warisan. Ini terjadi jika seorang istri wafat dan meninggalkan seorang suami, seorang ibu, 2 saudara seibu dan beberapa saudara sekandung.

Jika melihat kaidah umum waris yang berlaku, maka seharusnya saudara sekandung tidak mendapatkan apa-apa, karena sebagai seorang ‘ashabah ia harus menunggu sisa warisan setelah ia dibagi untuk semua ashab al-furudh, yang dalam hal ini suami, ibu dan saudara seibu. Disinilah para sahabat Nabi saw berbeda dalam pendapat :

Pendapat pertama diwakili oleh Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas dan Abu Musa radhiyallahuanhum.  Mereka berpendapat sesuai kaidah umum waris, yaitu bahwa saudara seibu mendapatkan 1/3 dan saudara sekandung tidak memperoleh apa-apa.

Pendapat kedua diwakili oleh Umar, Utsman, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahuanhum. Mereka mengikutsertakan saudara sekandung dalam bagian saudara seibu (1/3). Bagian ini dibagi rata antar mereka. Alasannya karena saudara sekandung memiliki kesamaan jalur hubungan kekerabatan dalam pewarisan ini, yaitu: ibu. Mereka semua berasal dari ibu yang sama, karena itu sepatutnya mendapatkan bagian yang sama.[5]

Jika kita memperhatikan pendapat yang kedua, nampak jelas bagaimana para sahabat yang mendukungnya meninggalkan kaidah umum waris yang berlaku dan menetapkan apa yang berbeda dengannya. Dan dari prosesnya, mungkin tidak terlalu jauh bagi kita untuk mengatakan ini sebagai sebuah istihsan dari mereka.

Demikianlah hingga akhirnya di masa para imam mujtahid, kata istihsan menjadi semakin sering didengar, terutama dari Imam Abu Hanifah (w. 150 H). Dimana dalam banyak kesempatan, kata istihsan sering disandingkan dengan qiyas. Sehingga sering dikatakan: “Secara qiyas seharusnya demikian, namun kami menetapkan ini berdasarkan Istihsan.”[6]

C. Perbedaan Ulama Dalam Menerima Istihsan

Penggunaan istihsan dalam memecahkan masalah fiqhiyah tidak secara bulat diterima oleh para ulama. Sebagian ulama menerima dan menggunakan istihsan, namun sebagian lain menolaknya.

1. Kalangan Yang Menerima

Kalangan yang menerima dan menggunakan istihsan antara lain  mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah.[7]

Dalil-dalil yang dijadikan pegangan pendapat ini adalah firman Allah SWT yang mengikuti yang terbaik, sebagai berikut:

وَاتَّبِعُوا أَحسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبلِ أَن يَأتِيَكُمُ العَذَابُ بَغتَةً وَأَنتُم لَا تَشعُرُونَ

Dan ikutilah oleh kalian apa yang terbaik yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian. (QS. Az-Zumar : 55)

Menurut mereka, dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti yang terbaik, dan perintah menunjukkan bahwa ia adalah wajib. Dan di sini tidak ada hal lain yang memalingkan perintah ini dari hukum wajib. Maka ini menunjukkan bahwa Istihsan adalah hujjah.

فَبَشِّر عِبَادِ الَّذِينَ يَستَمِعُونَ القَولَ فَيَتَّبِعُونَ أَحسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُم أُولُوا الأَلبَابِ

Dan berikanlah kabar gembira pada hamba-hamba(Ku). (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik (dari)nya…” (QS. Az-Zumar : 17-18)

Ayat ini –menurut mereka- menegaskan pujian Allah bagi hambaNya yang memilih dan mengikuti perkataan yang terbaik, dan pujian tentu tidak ditujukan kecuali untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah.

Selain itu juga ada hadits Nabi SAW yang menegaskan bahwa apa yang dipandang oleh seorang muslim sebagai kebaikan, maka secara umum hal itu pasti baik.

فَمَا رَأَى المُسلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِندَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوا سَيِّئًا فَهُوَ عِندَ اللَّهِ سَيِّئٌ.

Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia di sisi Allah adalah baik. (HR. Ahmad)

Hadits ini menunjukkan bahwa apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin dengan akal-sehat mereka, maka ia pun demikian di sisi Allah. Ini menunjukkan kehujjahan istihsan.

Selain itu pendukung istihsan juga mengklaim bahwa para ulama telah berijma’ dalam beberapa masalah yang dilandasi oleh istihsan, seperti bolehnya masuk ke dalam ke kamar mandi tanpa ada penetapan harga tertentu, penggantian air yang digunakan dan jangka waktu pemakaiannya.

Demikian pula istihsan menjadi dasar kebolehan jual-beli salam, yang bentuknya jual-beli dimana uangnya dibayarkan di muka, sedangkan barang yang dibeli belum ada pada saat akad.

2. Kalangan Yang Menolak : Asy-Syafi'iyah

Mazhab Asy-syafi'iyah termasuk kalangan yang menolak penggunaan istihsan sebagai salah satu sumber hukum Islam. Selain itu mazhab Zahiri juga termasuk yang menolak istihsan. Alasan penolakan mereka ada beberapa sebab, antara lain :

Pertama, bahwa syariat Islam itu terdiri dari nash Al-Quran, As-Sunnah atau apa yang dilandaskan pada keduanya. Sementara Istihsan bukan salah dari hal tersebut. Karena itu ia sama sekali tidak diperlukan dalam menetapkan sebuah hukum.

Kedua, istihsan bertentangan dengan firman Allah SWT yang memerintahkan kita merujuk kepada Allah dan rasul-Nya dalam memutuskan perkara.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمرِ مِنكُم فَإِن تَنَازَعتُم فِي شَيءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

Wahai kaum beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul     serta ulil amri dari kalangan kalian. Dan jika kalian berselisih dalam satu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. An-Nisa’ : 59)

Ayat ini menunjukkan kewajiban merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menyelesaikan suatu masalah, sementara istihsan tidak termasuk dalam upaya merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ia tidak dapat diterima.

Ketiga, jika seorang mujtahid dibenarkan untuk menyimpulkan hukum dengan akalnya atas dasar istihsan dalam masalah yang tidak memiliki dalil, maka tentu hal yang sama boleh dilakukan oleh seorang awam yang boleh jadi lebih cerdas daripada sang mujtahid. Dan hal ini tidak dikatakan oleh siapapun, karena itu seorang mujtahid tidak dibenarkan melakukan istihsan dengan logikanya sendiri.

Keempat, bahwa Ibn Hazm (w. 456 H) mengatakan: “Para sahabat telah berijma’ untuk tidak menggunakan ra’yu, termasuk di dalamnya Istihsan dan qiyas. Umar bin al-Khathab radhiyallahuanhu mengatakan: ‘Jauhilah para pengguna ra’yu! Karena mereka adalah musuh-musuh sunnah.[8]

D. Istihsan Berdasarkan Dalil Yang Melandasinya

Dari sisi dalil yang melandasinya, istihsan terbagi menjadi 4 jenis:

1. Istihsan Dengan Nash

Maknanya adalah meninggalkan hukum berdasarkan qiyas dalam suatu masalah menuju hukum lain yang berbeda yang ditetapkan oleh al-Quran atau al-Sunnah.

Diantara contohnya adalah: hukum jual-beli al-salam. Yaitu menjual sesuatu yang telah jelas sifatnya namun belum ada dzatnya saat akad, dengan harga yang dibayar dimuka. Model ini tentu saja berbeda dengan model jual-beli yang umum ditetapkan oleh Syariat, yaitu yang mempersyaratkan adanya barang pada saat akad  terjadi.

Hanya saja, model jual beli ini dibolehkan berdasarkan sebuah hadits Nabi saw yang pada saat datang ke Madinah menemukan penduduknya melakukan hal ini pada buah untuk masa satu atau dua tahun. Maka beliau berkata:

مَن أَسلَفَ فِي تَمرٍ فَليُسلِف فِي كَيلٍ مَعلُومٍ وَوَزنٍ مَعلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعلُومٍ

Siapa yang melakukan (jual-beli) al-salaf, maka hendaklah melakukannya dalam takaran dan timbangan yang jelas (dan) untuk jangka waktu yang jelas pula.” (HR. Al-Bukhari  dan Muslim)

2. Istihsan Dengan Ijma’

Maknanya adalah terjadinya sebuah ijma’ –baik yang sharih maupun sukuti- terhadap sebuah hukum yang menyelisihi qiyas atau kaidah umum.

Di antara contohnya adalah masalah penggunaan kamar mandi umum (hammam) tanpa adanya pembatasan waktu dan kadar air yang digunakan. Secara qiyas seharusnya hal ini tidak dibenarkan, karena adanya ketidakjelasan (al-jahalah) dalam waktu dan kadar air.

Padahal para penggunanya tentu tidak sama satu dengan yang lain. Akan tetapi hal ini dibolehkan atas dasar Istihsan pada ijma yang berjalan sepanjang zaman dan tempat yang tidak mempersoalkan hal tersebut.

3. Istihsan Dengan Kedaruratan

Yaitu ketika seorang mujtahid melihat ada suatu kedaruratan atau kemaslahatan yang menyebabkan ia meninggalkan qiyas, demi memenuhi hajat yang darurat itu atau mencegah kemudharatan.

Salah satu contohnya adalah ketika para ulama mengatakan bahwa seorang yang berpuasa tidak dapat dikatakan telah batal puasanya jika ia menelan sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari; seperti debu dan asap. Maka jika benda-benda semacam ini masuk ke dalam tenggorokan orang yang berpuasa, puasanya tetap sah dan tidak menjadi batal karena hal tersebut.

Dan ini dilandaskan pada Istihsan dengan kondisi darurat (sulitnya menghindari benda semacam itu), padahal secara qiyas seharusnya benda apapun yang masuk ke dalam tenggorokan orang yang berpuasa, maka itu membatalkan puasanya.

4. Istihsan Dengan ‘Urf

atau konvensi yang umum berlaku. Artinya meninggalkan apa yang menjadi konsekwensi qiyas menuju hukum lain yang berbeda karena ‘urf yang umum berlaku –baik ‘urf yang bersifat perkataan maupun perbuatan-.

Salah satu contoh Istihsan dengan ‘urf yang bersifat yang berupa perkataan adalah jika seseorang bersumpah untuk tidak masuk ke dalam rumah manapun, lalu ternyata ia masuk ke dalam mesjid, maka dalam kasus ini ia tidak dianggap telah melanggar sumpahnya, meskipun Allah menyebut mesjid dengan sebutan rumah (al-bait) dalam firman-Nya:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرفَعَ وَيُذكَرَ فِيهَا اسمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالغُدُوِّ وَالآصَالِ

Dalam rumah-rumah yang Allah izinkan untuk diangkat dan dikumangkan Nama-Nya di dalamnya.” (QS. An-Nur : 36)

Namun ‘urf yang berlaku di tengah masyarakat menunjukkan bahwa penyebutan kata “rumah” (al-bait) secara mutlak tidak pernah digunakan untuk mesjid. Itulah sebabnya, orang yang bersumpah tersebut tidak menjadi batal sumpahnya jika ia masuk ke dalam mesjid.

Adapun contoh Istihsan dengan ‘urf yang berupa perbuatan adalah memberikan upah berupa pakaian dan makanan kepada wanita penyusu (murdhi’ah). Pada dasarnya, menetapkan upah yang telah tertentu dan jelas itu dibolehkan secara syara’.

Sementara pemberian upah berupa pakaian dan makanan dapat dikategorikan sebagai upah yang tidak jelas batasannya (majhul). Dan kaidah yang umum menyatakan bahwa sesuatu yang majhul tidak sah untuk dijadikan sebagai upah. Akan tetapi Imam Abu Hanifah membolehkan hal itu atas dasar Istihsan, karena sudah menjadi ‘urf untuk melebihkan upah untuk wanita penyusu sebagai wujud kasih-sayang pada anak yang disusui.

E. Pembagian Istihsan Menurut Hanafi

Ulama Hanafiyah secara khusus memberikan pembagian dari sudut pandang lain terkait dengan istihsan ini, yaitu dari sudut pandang  kuat atau tidaknya kekuatan pengaruh Istihsan tersebut terhadap qiyas.

Berdasarkan sudut pandang ini, Istihsan kemudian dibagi menjadi 4 jenis:

  • Qiyas memiliki kekuatan yang lemah dan Istihsan yang kuat darinya.
  • Qiyas lebih kuat pengaruhnya dan Istihsan yang lemah pengaruhnya.
  • Qiyas dan Istihsan sama-sama memiliki kekuatan.
  • Qiyas dan Istihsan sama-sama memiliki pengaruh yang lemah.

Dari keempat jenis ini, jenis pertama dan kedua adalah yang paling masyhur. Salah satu contoh untuk yang pertama adalah penetapan kesucian liur hewan carnivora dari jenis burung. Dalam kasus ini, burung yang carnivora –karena biasa memakan bangkai- seharusnya diqiyaskan kepada hewan buas lainnya seperti singa dan harimau dalam hal najisnya liur mereka.

Akan tetapi ulama Hanafiyah beriistihsan dan menyatakan bahwa liur jenis burung yang carnivora lebih dekat (secara qiyas khafy) dengan liur manusia, karena keduanya –manusia dan burung yang carnivora- tidak boleh dimakan. Dan liur manusia –sebagaimana terdapat dalam hadits– adalah suci. Karena itu liur jenis burung yang carnivora juga suci.

 Di samping sebab lain yaitu karena burung ini memakan makanannya dengan menggunakan paruhnya, dan paruh itu adalah anggota badan yang suci dari najis. Kesimpulannya adalah bahwa dalam kasus ini istihsan lebih kuat pengaruhnya daripada qiyas.

Adapun untuk jenis yang kedua, contohnya adalah melakukan sujud tilawah dalam shalat. Secara qiyas seharusnya sujud tilawah dapat digantikan dengan ruku’ tilawah, karena baik sujud maupun ruku’ keduanya sama-sama sebagai wujud pengagungan terhadap Allah Ta’ala. Akan tetapi berdasarkan istihsan, sujud tilawah adalah sama dengan sujud lainnya dalam shalat –yang merupakan rukun di dalamnya-.

Maka sebagaimana sujud lainnya dalam shalat tidak boleh diganti dengan ruku’, demikian pula dengan sujud tilawah. Namun dalam kasus ini –menurut Hanafiyah- pengamalan qiyas lebih kuat dibandingkan pengamalan istihsan.

Adapun jika keduanya –qiyas dan istihsan- sama kuat, maka qiyas-lah yang ditarjih atas istihsan karena ia lebih jelas. Sedangkan bila keduanya sama-sama lemah, maka pilihannya antara menggugurkan keduanya atau mengamalkan qiyas sebagaimana jenis sebelumnya.

Dengan melihat pembagian ini, nampak jelas bahwa istihsan tidak ‘dimenangkan’ atas qiyas kecuali dalam satu kondisi: yaitu ketika ia lebih kuat pengaruhnya daripada qiyas (sebagaimana jenis yang pertama).

Satu hal yang juga patut dicatat di sini adalah bahwa seorang mujtahid tidak dibenarkan untuk menggunakan istihsan kecuali saat ia tidak menemukan nash, atau ia menemukan qiyas namun qiyas tersebut dianggap tidak dapat merealisasikan maslahat. Hal ini seperti yang disinggung oleh Ibn Qayyim al-Jauziyah (w.751H) saat mengomentari kasus seseorang yang menemukan seekor kambing yang hampir binasa, lalu ia menyembelihnya agar ia tidak mati sia-sia:

“Sesungguhnya secara qiyas ia harus mengeluarkan ganti (atas perbuatannya menyembelih kambing orang lain –pen), namun berdasarkan istihsan ia tidak wajib membayar ganti, karena ia dibolehkan melakukan hal tersebut..”.

Lalu ia mengatakan,

“Tapi ada ulama yang kolot yang masih saja menolak hal ini (baca: istihsan dalam kasus ini) dengan alasan bahwa ini telah melakukan suatu tindakan terhadap milik orang lain. Padahal kalau saja ia memahami bahwa melakukan suatu tindakan terhadap milik orang lain itu diharamkan oleh Allah jika mengandung mudharat terhadapnya. Dan dalam kasus ini, justru tidak melakukan tindakan apa-apa (baca: menyembelihnya) justru akan menyebabkan mudharat.”

 

[1] Lisan al-‘Arab, jilid 13 hal.117

[2] Raudhatun-Nadzir, hal. 497

[3] Al-Istihsan, hal. 1

[4] Raudhatun-Nadzir, hal 497

[5] Al-Mughni, jilid 7 hal. 21-22

[6] Ushul al-Fiqh al-Muyassar, jilid  hal. 48-50.

[7] Badai’ al-Shanai’, jilid 7 hal 84, Al-Muwafaqat, jilid 4 hal 209, Ushul Madzhab al-Imam Ahmad, hal. 509.

[8] Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, jilid 5 hal. 759.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:52 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:52 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img