All | 1. Muqaddimah > Bagian 1. Ilmu Fiqih 3. Mengapa Kita Wajib Belajar Ilmu Fiqih

Bab 3 : Mengapa Kita Wajib Belajar Ilmu Fiqih

A. Dalil Al-Quran
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

وَمَا كاَنَ المـُؤمِنُون لِينفِرُوا كآفّةً فَلَولاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرقةٍ مِنهُم طاَئِفةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَومَهُم إِذاَ رَجَعُوا إِليهِم لَعَلَّهُم يَحذَرُون

Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)

Allah SWT di dalam ayat ini menyinggung tentang adanya kewajiban selain dari perang atau jihad di jalan Allah, yaitu mendalami masalah ilmu agama.

Allah SWT menggunakan istilah li-yatafaqqahu (ليتفقهوا) yang punya akar kata faqiha - yafqahu, yang senada dengan akar kata istilah fiqih itu sendiri. Ayat ini tegas menyebutkan keharusan adanya thaifah (طائفة), yaitu sekelompok orang, dari masing-masing firqah (فرقة), atau kumpulan orang-orang, untuk belajar Ilmu Fiqih.

Kesimpulan dari ayat ini adalah keharusan adanya sekelompok orang dari umat Islam yang berkonsentrasi melakukan tafaqquh di dalam urusan agama, di luar dari orang-orang yang ikut bepergian ke luar kota untuk berjihad di jalan Allah.

Kalau jihad itu punya kedudukan sangat mulia di dalam agama Islam, maka belajar mendalami ilmu agama ternyata juga punya kedudukan yang juga mulia, setidaknya kurang lebih sejajar.

Ayat ini jelas-jelas membandingkan antara kewajiban berjihad di jalan Allah yang pahalanya begitu besar di satu sisi, dengan kewajiban untuk menuntut ilmu agama di sisi yang lain.

Kalau kita bandingkan antara jumlah orang awam dan jumlah para ulama, kita akan menemukan perbandingan yang jauh dari proporsional. Dengan kata lain, ulama di masa sekarang ini termasuk ‘makhluk langka’ bahkan nyaris punah.

Maka memperbanyak jumlah ulama serta menyebar-luaskan ilmu-ilmu syariah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi mendalami ilmu-ilmu syariah.

Mempejari Islam adalah kewajiban pertama setiap muslim yang sudah aqil baligh. Ilmu-ilmu ke-islaman yang utama adalah bagaimana mengetahui kemauan Allah SWT terhadap diri kita. Dan itu adalah ilmu syariah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

فَاسألُوا أهلَ الذِّكرِ إِن كُنتُم لاَ تَعلَمُونَ

...Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl : 43)

Kesimpulan dari ayat ini adalah bahwa bertanya kepada orang yang punya ilmu hukumnya wajib bagi mereka yang tidak punya ilmu. Dan bertanya kepada ahli ilmu tidak lain adalah belajar dan menuntut ilmu agama.

Paling tidak, setiap muslim wajib melakukan thaharah, shalat, puasa, zakat dan bentuk ibadah ritual lainnya. Dan agar ibadah ritual itu menjadi sah dan diterima oleh Allah SWT, tidak boleh dilakukan dengan pendekatan improvisasi atau sekedar menduga-duga semata. Harus ada dasar dan dalil yang jelas dan kuat.

Karena ibadah ritual itu tidak boleh dilakukan kecuali sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dan penjelasan secara rinci dan detail tentang bagaimana format dan bentuk ibadah yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau hanya ada dalam syariat Islam.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

قُل هَل يَستَوِي الّذِينَ يَعلَمُونَ وَالّذِينَ لاَ يَعلَمُونَ

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". (QS. Az-Zumar : 9)

Di dalam ayat ini Allah SWT jelas-jelas membedakan antara orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu. Dan perbedaan yang disampaikan dalam bentuk pertanyaan ini mengandung pesan, bahwa tiap muslim diwajibkan untuk menjadi orang yang berilmu. Dan ilmu yang dimaksud terutama adalah ilmu agama, kemudian ilmu-ilmu lainnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

يَرفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُم وَالَّذِينَ أُوتُوا العِلمَ دَرَجَاتٍ

Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah : 11)

Ayat ini seolah menguatkan ayat sebelumnya, bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Di dalamnya terdapat isyarat yang menunjukkan anjuran untuk belajar ilmu agama.

Sesungguhnya masih banyak ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan pentingnya seseorang memiliki ilmu agama, namun agar tulisan ini tidak terlalu panjang, Penulis cukupkan pada empat ayat di atas saja.

B. Dalil Sunnah
Betapa pentingnya belajar Ilmu Fiqih, tergambar dari perintah Rasulullah SAW dalam hadits beliau yang menggabarkan bagaimana keadaan di akhir zaman tanpa keberadaan ulama dan ahli fiqih :

إِنّ الله لا يقبِضُ العِلم اِنتِزاعًا ينتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِن يقبِضُ العِلم بِقبضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفتوا بِغيرِ عِلمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan bahwa umat Islam pada akhir masa nanti akan kehilangan para ulama, lantas mereka menjadikan para pemimpin yang bodoh dan tidak punya ilmu sebagai tempat untuk merujuk dan bertanya masalah agama.

Alih-alih mendapat petunjuk, yang terjadi justru mereka semakin jauh dari kebenaran, bahkan sesat dan malah menyesatkan banyak orang.

Dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu rasanya sangat tepat kalau kita sebut bahwa hari ini benar-benar sedang terjadi. Dan lebih tepat lagi kalau kita sebut lokasinya adalah Indonesia, sebuah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi sedikit sekali orang yang berkapasitas ulama. Maka kita harus memahami hadits ini dengan cara yang benar, yaitu hadits ini menjadi perintah untuk mendidik dan melahirkan kembali para ulama di masa modern ini.

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan hadits shahih riwayat Al-Imam Muslim yang amat masyhur berikut ini :
  • Dimudahkan Jalan ke Surga

    Rasulullah SAW bersabda :

    مَن سَلَكَ طَرِيقاً يَلتَمِسُ فِيهِ عِلماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيقاً إِلىَ الجنّةِ

    Orang yang meniti jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)

    Hadits di atas menegaskan bahwa salah satu keutaman orang yang belajar ilmu agama adalah bahwa dirinya nanti di hari kiamat akan dimudahkan jalannya menuju surga. Padahal semua orang nanti di hari kiamat akan kesulitan mendapatkan jalan yang mudah ke dalam surga, bahkan kebanyakn orang akan tertatih-tatih dan bersusah payah agar bisa sampai ke surga.

    Lain halnya mereka yang sejak di dunia telah tertatih-tatih berjalan untuk mendalami ilmu agama, di akhirat dia akan dengan mudah menemukan jalan ke surga. Tentu ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat besar.

  • Dinaungi Sayap Malaikat

    Rasulullah SAW bersabda :

    وَإِنَّ المـَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجنِحَتِهاَ رِضاً لِطالِبِ العِلمِ

    Dan para malaikat menaungi dengan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu sebagai tanda keridhaan dari mereka (HR. Muslim)

    Hadits di atas menegaskan bahwa di dunia ini, mereka yang berjuang untuk menuntut ilmu juga mendapatkan keutamaan yang sangat istimewa. Para malaikat meridhai mereka dengan menaunginya dengan sayap-sayap mereka.

    Padahal malaikat adalah hamba-hamba Allah yang amat tinggi kedudukannya di sisi Allah dan amat mulia lagi taat. Kalau sampai para malaikat meridhai, tentu hal itu menunjukkan betapa tingginya derajat orang yang menuntut ilmu agama.

    Dengan logika sederhana, orang yang menuntut ilmu agama akan aman dan nyaman, karena selalu mendapatkan penjagaan Allah SWT lewat naungan sayap para malaikatnya.

  • Dimintakan Ampunan oleh Semua Makhluk

    Rasulullah SAW bersabda :

    وَإِنَّ العاَلِمَ لَيَستَغفِرُ لهُ مَن فيِ السّمواتِ وَمَن فيِ الأرضِ وَالحِيتانِ فيِ جَوفِ المـَاءِ

    Dan orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh semua makhluk Allah yang ada di sekian banyak langit dan bumi, termasuk ikan-ikan yang ada di kedalaman lautan ikut memintakan ampun. (HR. Muslim)

    Masih ada lagi keutamaan orang yang menuntut ilmu agama, yaitu dosa-dosa mereka dimintakan ampun, sehingga relatif mereka jadi tidak punya dosa lagi. Siapa yang memintakan ampunan bagi mereka?

    Hadits di atas menegaskan bahwa semua makhluk Allah SWT, baik yang ada di berbagai macam langit yang banyak itu, maupun makhluk Allah SWT yang menetap di atas bumi, semuanya ikut memintakan ampunan. Bahkan ikan-ikan yang hidup di kedalaman samudera luas pun ikut pula memintakan ampunan buat mereka. Dengan logika ini, betapa beruntungnya para penuntut ilmu, kalau pun mereka berdosa sebagaimana umumnya manusia, namun sudah ada pihak-pihak yang akan terus memberikan dukungan untuk memintakan ampunan atas dosa mereka.

  • Seperti Keutamaan Bulan Purnama

    Rasulullah SAW bersabda :

    وإِنّ فضلُ العالِمِ على العابِدِ كفضلِ القمرِ ليلة البدرِ على سائِرِ الكواكِبِ

    Keutamaan seorang yang berilmu agama dibandingkan dengan seorang ahli ibadah seperti bulan di malam purnama dibandingkan semua planet (bintang). (HR. Muslim) Kelebihan orang yang berilmu dibandingkan orang bodoh yang tidak punya ilmu meski dia rajin ibadah diibaratkan seperti terangnya bulan purnama dengan terangnya bintang di kegelapan malam.

    Bulan purnama yang cahayanya menerangi atmosfir langit kita ini tentu jauh berbeda dengan bintang yang di mata kita hanyalah titik kecil di langit yang hitam. Perbandingan ini semata-mata hanya dilihat dari fenomena yang nampak di mata manusia, sebagaimana yang biasa dipergunakan oleh para pujangga dalam bahasa sastra. Dalam bahasa sastra, kalau dibuat perbandingan antara bulan purnama dan bintang atau planet, tentu maksudnya bahwa yang lebih besar dalam pandangan mata adalah bulan purnama. Sedangkan ungkapan bintang atau planet menunjukkan ukurannya yang kecil di mata awam kita. Walau pun kalau kita bedah secara fakta dalam ilmu astronomi modern, sebenarya ukuran bulan kita jauh lebih kecil dibandingkan dengan bintang atau planet-planet (kawakib) anggota tata surya.

  • Ulama Adalah Ahli Waris Para Nabi

    Rasulullah SAW bersabda :

    وإِنّ العُلماء ورثةُ الأنبِياءِ وإِنّ الأنبِياء لم يُورِّثُوا دِيناراً ولا دِرهماً إِنّما ورّثُوا العِلم فمن أخذ بِهِ أخذ بِحظٍّ واِفرٍ

    Dan sesungguhnya para ulama adalah para ahli waris dari para nabi, dimana para Nabi memang tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Siapa yang menuntut ilmu maka dia telah mendapat warisan yang sangat besar nilainya. (HR. Muslim)

    Orang yang berilmu adalah para ahli waris nabi. Mereka mewarisi harta kekayaan para Nabi yang tidak berbentuk uang atau harta benda, melainkan kekayaan itu berupa ilmu yang tidak ternilai harganya.

    Maka mereka yang belajar ilmu agama dan mendapatkannya diibaratkan dengan orang yang mendapat warisan kekayaan yang sangat besar tidak ternilai harganya.

Di antara Ilmu Fiqih adalah masalah faraidh atau pembagian harta warisan. Rasulullah SAW secara khusus telah memberikan perintah khusus untuk mempelajarinya dan sekalian juga beliau mewajibkan kita untuk mengajarkannya. Dalilnya sebagai berikut :

يا أبا هُريرة تعلّمُوا الفرائِض وعلِّمُوها فإِنّهُ نِصفُ العِلمِ وإِنّهُ يُنسى وهُو أوّلُ ما يُنزعُ مِن أُمّتِي

Dari A'raj radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku". (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)

Karena mengajarkan itu tidak mungkin dilakukan kecuali setelah kita mengerti, maka hukum mempelajarinya harus didahulukan. Dan ilmu faraidh (pembagian harta warisan) termasuk salah satu bagian dalam Ilmu Fiqih.

C. Ilmu Yang Matang
Dibandingkan dengan ilmu-ilmu dalam agama Islam lainnya, ilmu fiqih adalah ilmu yang siap pakai yang menjadi petunjuk praktis bagai umat Islam, khususnya mereka yang awam dan tidak mampu melakukan istimbat hukum sendiri dari sumber-sumbernya.

Jangankan kita yang hidup di masa sekarang, bahkan para shahabat Rasulullah SAW pun kebanyakannya adalah orang-orang awam, yang meski mereka pernah bertemu dengan beliau SAW, namun tidak ada jaminan kalau mereka bisa menarik kesimpulan hukum dengan tepat. Hanya mereka yang benar-benar dididik secara intensif oleh Beliau SAW saja yang akhirnya bisa menjadi ulama dalam arti ang sesungguhnya. Sisanya tetap menjadi orang awam biasa.

Mereka ini meski berstatus sebagai shahabat Nabi SAW, namun mereka bukan mujtahid. Untuk itu mereka harus berittiba’ kepada para shahabat lainnya yang punya kapasitas mumpuni dalam menggali hukum-hukum syariah.

Begitu juga dengan kita yang hidup terpisah jarak waktu 14 abad dari masa kenabian, bahkan terpisah jarak tempuh dari Mekkah dan Madinah sebagai tempat turunnya wahyu. Maka kita tidak mungkin melakukan sendiri istimbat hukum, kecuali dengan cara mengikuti apa yang telah diistimbat oleh para ulama mujtahidin.

Dan ilmu fiqih tidak lain merupakan hasil karya para mujtahid yang siap pakai dan amat berguna bagi kita yang awam dan tidak sampai derajat mujtahid. Tanpa ada ilmu fiqih, maka kita tidak bisa menjalankan segala ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya dengan benar.

Dikatakan bahwa ilmu Fiqih adalah ilmu yang sudah matang karena ilmu ini sudah ada sejak awal abad pertama hijriyah dan terus mengalami penyempurnaan-penyemurnaan sepanjang sejarah.

Ilmu ini terus dipelajari oleh seluruh umat Islam, mulai dari yang awam hingga para ulamamya, dan tetap bertahan hingga abad ke-15 hiriyah sebagai ilmu yang terus menerus dipelajari, diajarkan dan dipraktekkan serta tetap didiskusikan.

Ilmu fiqih tidak pernah mengalami mati suri, apalagi terlupakan dalam sejarah.

D. Lengkap
Sebagai muslim yang baik, komitmen dan konsisten dalam memeluk agama Islam, tentu kita tahu bahwa kita wajib menerima Islam secara kaaffah, tidak sepotong-sepotong. Allah SWT telah memerintahkan hal ini dalam firman-Nya :

يا أيُّها الّذِين آمنُوا ادخُلُوا فِي السِّلمِ كآفّةً ولا تتّبِعُوا خُطُواتِ الشّيطانِ إِنّهُ لكُم عدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah : 208)

Tapi bagaimanakah kita bisa menjalankan Islam secara kaaffah, kalau kita tidak bisa membedakan manakah diantara perbuatan itu yang termasuk bagian dari Islam atau bukan ?

Sebab seringkali kita dihadapkan kepada bentuk-bentuk pengamalan yang disinyalir sebagai perbuatan islami, tetapi kita tidak tahu kedudukan yang sesungguhnya.

Katakanlah sebagai contoh mudah misalnya tentang memahami perbuatan Rasulullah SAW. Apakah semua hal yang dilakukan oleh beliau SAW menjadi bagian langsung dari syariat agama ini ? Ataukah ada wilayah yang tidak termasuk bagian dari syariat ?

Lebih rinci lagi, kita dapati dalam hadits bahwa Rasulullah SAW naik unta, minum susu kambing mentah, beristinja` dengan batu, khutbah memegang tongkat, buang air di padang pasir dan seterusnya.

Apakah hari ini kita wajib melakukan hal yang sama dengan beliau sebagai pengejawantahan bahwa Rasululah SAW adalah suri teladan bagi kita?

Apakah kita hari ini juga harus naik unta, sebagai pengganti mobil dan pesawat, hanya karena ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW yang berangkat haji naik unta?

Haruskah kita minum susu kambing yang tidak dimasak dahulu, karena beliau SAW suka sekali minum susu kambing tanpa dimasak?

Apakah para khatib Jumat wajib berkhutbah sambil memegang tongkat, karena dahulu beliau SAW berkhutbah sambil memegang tongkat?

Dan tegakah kita berisntinja’ tanpa air tetapi diganti dengan batu, karena Rasulullah SAW berintinja’ dengan batu?

Dan haruskah kita buang air di alam terbuka, karena dahulu Rasulullah SAW melakukannya di alam terbuka dan tidak ada kamar mandi?

Tentu kita perlu merinci lebih detail, manakah dari semua perbuatan dan perkataan beliau SAW yang menjadi bagian dari syariah dan mana yang secara kebetulan menjadi hal-hal teknis yang tidak perlu dimasukkan ke dalam ajaran agama ini. Dan untuk itu, harus ada sebuah metodologi yang bisa dijadikan patokan. Metodologi itu adalah syariat Islam.

Tugas Ilmu Fiqih adalah bagaimana caranya agar kita bisa memilah dan menentukan manakah dari diri Rasulullah SAW yang menjadi bagian dari ajaran Islam, dan manakah yang bukan termasuk ajaran selain hanya faktor kebetulan dan teknis semata, sehingga tidak harus dijadikan tuntunan. Semua itu membutuhkan ilmu yang didasarkan kepada sesautu aturan yang baku, bukan sekedar pemikiran sesaat, yang boleh jadi nanti berubah-ubah. Dan ilmu itu tidak lain adalah Ilmu Fiqih, yang telah eksis di dunia Islam sepanjang 14 abad lamanya, menjadi penerang bagi umat Islam dalam berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Itulah beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama. Betapa syariat Islam ini memang perlu kita pelajari dengan sebaik-baiknya. Tidak perlu menunggu dan membuang waktu. Sekaranglah waktu yang tepat untuk mulai belajar. Semoga Allah SWT memudahkan jalan kita masuk surga karena kita telah menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu keislaman selama di dunia ini.

Dibandingkan dengan masalah aqidah, akhlaq atau pun bidang lainnya, masalah-masalah dalam Ilmu Fiqih menempati porsi terbesar dalam khazanah ilmu-ilmu keislaman. Bahkan dalam prakteknya, sosok yang dijuluki sebagai ulama itu lebih identik sebagai ahli fiqih ketimbang ahli di bidang ilmu-ilmu lainnya.

Sehingga sebagai ilmu yang merupakan porsi terbesar dalam ajaran Islam, ilmu syariah ini menjadi penting untuk dikuasai. Seorang muslim itu masih wajar bila tidak menguasai disiplin ilmu seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Bahasa Arab, Ushul Fiqih, Kaidah Ushul dan lainnya.

Tetapi dalam ilmu syariah khususnya fiqih, nyaris mustahil bila tidak dikuasai, meski dalam porsi yang seadanya. Sebab tidak mungkin kita bisa beribadah dengan benar tanpa menguasai Ilmu Fiqih ibadah itu sendiri.

Memang tidak semua detail ilmu syariah wajib dikuasai, namun untuk bagian yang paling dasar seperti masalah thaharah, shalat, nikah dan lainnya, mengetahui hukum-hukumnya adalah hal yang mutlak.

Sumber utama ajaran Islam adalah Al-Quran yang terdiri dari lebih 6.000-an ayat dan As-Sunnah yang berjumlah ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Namun bagaimana mengambil kesimpulan hukum atas suatu masalah dengan menggunakan dalil-dalil yang sedemikian banyak? Tentu kita butuh metodologi ilmiyah yang baku dan disepakati oleh umat Islam sepanjang zaman. Dan metodologi itu adalah Ilmu Fiqih.

Ilmu Fiqih telah berhasil menjelaskan dengan pasti dan tepat tentang hukum-hukum yang terkandung pada tiap potong ayat dan hadits yang bertebaran. Dengan menguasai Ilmu Fiqih, maka Al-Quran dan As-Sunnah bisa dipahami dengan benar, tepat dan akurat, sebagaimana Rasulullah SAW dahulu mengajarkannya.

Sebaliknya, tanpa penguasaan Ilmu Fiqih, Al-Quran dan As-Sunnah bisa diselewengkan dan dimanfaatkan dengan cara yang tidak benar. Ilmu Fiqih adalah kunci untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah dengan metode yang benar, ilmiyah dan shahih.

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa pencuri harus dipotong tangannya, pezina harus dirajam, pembunuh harus diqishash dan seterusnya. Memang demikian zahir nash ayat Al-Quran. Namun benarkah semua pencuri harus dipotong tangannya? Apakah semua orang yang berzina harus dirajam? Apakah semua orang yang membunuh harus dibunuh juga?

Di dalam Ilmu Fiqih akan dijelaskan kriteria pencuri yang bagaimanakah yang harus dipotong tangannya. Tidak semua orang yang mencuri harus dipotong tangan.

Ada sekian banyak persyaratan yang harus terpenuhi agar seorang pencuri bisa dipotong tangan. Misalnya barang yang dicuri harus berada dalam penjagaan, nilainya sudah memenuhi batas minimal, bukan milik umum dan lainnya. Bahkan kriteria seorang pencuri tidak sama dengan pencopet, jambret, penipu atau koruptor.

Demikian juga dengan pezina, tidak semua yang berzina harus dihukum rajam. Selain hanya yang sudah pernah menikah, harus ada empat orang saksi lakil-laki, akil, baligh, dan menyaksikan secara bersama di waktu dan tempat yang sama melihat peristiwa masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan.

Tanpa hal itu, hukum rajam tidak boleh dilakukan. Kecuali bila pezina itu sendiri yang menyatakan ikrar dan pengakuan atas zina yang dilakukannya. Dan yang paling penting, hukum rajam haram dilakukan kecuali oleh sebuah institusi hukum formal yang diakui dalam sebuah negara yang berdaulat.

Dan hal yang sama juga berlaku pada hukum qishash dan hukum-hukum hudud lainnya. Sebuah tindakan hukum yang hanya berlandaskan kepada satu dua dalil tapi tanpa kelengkapan ilmu syariah justru bertentangan dengan hukum Islam sendiri.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:53 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img