All | 1. Muqaddimah > Bagian 1. Ilmu Fiqih 4. Menjawab Tuduhan Terhadap Fiqih

Bab 4 : Menjawab Tuduhan Terhadap Fiqih

A. Fiqih Mengganti Quran dan Sunnah Kepada Pendapat Manusia
Tuduhan yang pertama dalam episode ini adalah tuduhan yang paling sering dilontarkan, bahwa Ilmu Fiqih itu memalingkan kita dari mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah menjadi hanya mengikuti pendapat manusia belaka. Seharusnya umat Islam ikut Allah dan Rasulullah SAW, bukannya mengikuti pendapat-pendapat manusia sebagaimana yang diajarkan dalam Ilmu Fiqih.

Fiqih justru malah mengajarkan kita ikut pendapat Imam Syafi'i atau imam-imam mazhab yang lain. Padahal sesungguhnya kita diperintah untuk patuh kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul. (QS. An-nisa' : 59)

Apakah tuduhan seperti ini memang benar adanya? Kalau memang tidak benar, lantas bagaimana kita menjawab tuduhan semacam ini?

Jawaban

Tuduhan seperti ini memang seringkali dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Dan sebagian umat Islam yang menjadi korbannya akhirnya berubah pikiran dan mulai ikut-ikutan merobohkan agamanya sendiri lewat tuduhan-tuduhan tanpa dasar.

Namun untuk menjawab tuduhan semacam ini sebenarnya mudah saja. Apalagi kalau dalilnya menggunakan ayat di atas, yaitu kita diperintah untuk mentaati Allah dan Rasulullah. Justru dalil itu sendiri malah menjadi jawaban atas tuduhan yang tidak benar.

Kalau kita perhatikan ayat itu, sebenarnya ayat itu tidak hanya berhenti sampai disitu tetapi masih ada terusannya. Terusannya adalah kita diperintah untuk mengikuti ulil amri di antara kalian. Maka lengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وأولى الأمر منكم

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul dan ulil amri di antara kalian. (QS. An-nisa' : 59)

Umumnya kata ulil amri diterjemahkan sebagai pemimpin, penguasa atau pemerintah. Tafsiran ini memang benar. Namun tafsiran ini bukanlah satu-satunya penafsiran. Kita menemukan beberapa ahli tafsir memaknai ulil amri bukan sebagai pemerintah melainkan maknanya adalah ulama.

Salah satunya adalah yang dikatakan oleh Mujahid (w. 104 H), salah satu tabi'in senior dan juga ahli tafsir terbesar. Menurut beliau yang dimaksud dengan ulil amri disini adalah para ulama dan para ahli ilmu syariah. Bila kita menggunakan tafsir ini, maka justru ayat itu memerintahkan kita taat kepada para ulama, bukan?

Lalu siapakah para ulama ulama?

Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal, mereka itulah para ulama, yang menjadi ahli waris Rasulullah SAW. Apa yang difatwakan oleh mereka sesungguh tidak lain adalah bagian Al-Quran dan bagian dari As-Sunnah itu sendiri.

Tidaklah para ulama itu bekerja dalam menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah, kecuali atas rekomendasi dari Rasulullah SAW juga. Sebab mereka itu adalah ulama dan ulama adalah para ahli waris Nabi.

العلماء ورثة الأنبياء

Para ulama itu ahli waris para nabi. (HR. Ibnu Hibban)

Maka kalau kita ingin mengatakan jangan ikut ulama, tapi ikut nabi saja secara langsung, itu adalah benar. Tetapi dengan syarat bahwa kita ini harus hidup di zaman nabi. Artinya kita ini harus berstatus sebagai shahabat nabi, yang memang hidup di masa nabi, bertemu langsung dengan beliau SAW.

Tentu dengan mengikuti para ahli waris beliau. Dalam hal ini bukan ahli waris secara harta dan tahta, melainkan ahli waris secara keilmuan. Dan para ahli waris beliau SAW tidak lain adalah para shahabat.

Tetapi kita kan bukan shahabat. Kita hidup di hari ini dimana antara kita dengan Nabi SAW terbentang jarak waktu 15 abad lamanya. Lantas bagaimana caranya kita ikut nabi? Kita tidak punya komunikasi langsung kecuali lewat jalur para shahabat, tabi'in dan atbauttabi'in.

Karena kita tidak hidup di masa nabi dan tidak bertemu dengan beliau langsung, maka mau tidak mau kita harus ikut mereka, para shahabat, tabi'in, atbauttabiin yang nota bena mereka adalah para ulama. Kalau kita tidak mau ikut mereka, sama saja kita ingkar kepada nabi.

Dalam kenyataannya kita sekarang ini tidak mungkin mengikuti Allah dan Rasulullah SAW secara langsung. Sebab Rasulullah SAW sudah meninggal 14 abd yang lalu. Kita tidak pernah bertemu dengan beliau. Kita hanya mungkin bertemu dengan para ahli waris beliau, yang tidak lain mereka adalah para ulama.

abc
abc
abc
B. Para Ulama Tidak Dijamin Selalu Benar dan Bisa Salah
abc
xxx
C. Fiqih Mengajarkan Perbedaan dan Perpecahan
abc
abc
abc
abc
abc
D. Fiqih Mengurusi Masalah Yang Remeh
abc
abc
E. Fiqih Meninggalkan Ibadah Sunnah
abc
xxx
xxx
xxx

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:53 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img