All | 1. Muqaddimah > Bagian 1. Ilmu Fiqih 5. Proses Terbentuknya Hukum Fiqih

Bab 5 : Proses Terbentuknya Hukum Fiqih

A. Proses Terbentuknya Hukum
Hukum-hukum fiqih lahir dari beberapa proses panjang yang disebut dengan istimbath al-ahkam. Hukum-hukum fiqih itu bukan wahyu yang turun begitu saja dari langit, tidak sebagaimana turunnya ayat Al-Quran dan hadits nabawi

Meski bukan merupakan wahyu langsung, namun hukum-hukum fiqih itu bukan sekedar rekaan atau karangan manusia.

Dalam prosesnya, teks-teks wahyu dan juga hadits-hadits nabawi dikomparasikan dengan realitas atau kenyataan yang amat dinamis, dimana manusia ditakdirkan hidup dengan realitas kehidupan sosial yang berbeda-beda, baik secara adat, karakter, budaya, tradisi, etika yang satu sama lain saling berbeda. Dan itulah hakikat Ilmu Fiqih.

Namun satu hal yang sering luput dari perhatian orang, tidak mentang-mentang fiqih itu hasil istimbath manusia, lalu siapa saja berhak melakukannya.

Para ulama sepakat bahwa tidak semua orang boleh melakukan proses komparasi itu. Setidaknya hanya mereka yang benar-benar memenuhi syarat sebagai mujtahid saja yang diberi wewenang dan otoritas untuk melakukannya. Itu pun dengan tetap harus menggunakan kaidah-kaidah yang diterima secara ilmiyah, nalar dan juga diakui secara sah sebagai kaidah yang muktamad.

Barulah hasil akhirnya akan kita dapat berupa hukum-hukum fiqih yang kita kenal sebagai wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

Ibarat makanan, Ilmu Fiqih adalah hidangan siap santap di atas meja yang mengundang selera. Buat kita yang makan, mungkin tidak terbayang bagaimana opor ayam itu sebelumnya mengalami proses panjang dalam pembuatannya. Dan ternyata proses itu pun tidak mudah. Dan tidak sembarang orang bisa memasaknya dengan hasil yang memuaskan.

Kalau kita perhatikan, hidangan opor ayam sebelum sampai di meja makan kita itu, sebelumnya telah mengalami proses dari bahan mentah, lalu diolah sedemikian rupa oleh chef atau juru masak yang berpengalaman, hingga akhirnya terhidang di atas meja siap disantap.

Bahan baku utama opor ayam sebelum dimasak tentu seekor ayam yang asalnya masih hidup di peternakan. Ayamnya perlu dipilih yang sehat dan baik, kemudian ditangkap, disembelih dengan benar, dicabuti bulunya, dibersihkan isi perutnya, bagian yang tidak perlu dibuang, lalu dimasak dasar.

Selain ayam, opor itu juga terbuat dari berbagai ramuan khas serta bumbu-bumbu lainnya. Bumbu-bumbu itu tentu sebelumnya masih di perkebunan.

Bumbunya yang utama adalah santan kelapa, maka harus ada orang yang memanjat pohon kelapa terlebih dahulu, lalu mengupasnya, memarutnya, dan membuat santannya. Tentu bumbunya bukan hanya santan, tetapi ada lusinan bumbu lainnya yang juga harus dipetik dulu di kebun.

Semua bahan itu tidak akan tiba-tiba berubah menjadi opor ayam begitu saja. Dalam hal ini kita membutuhkan juru masak ahli dan berpengalaman untuk memasak opor ayam, biar ayamnya empuk tidak keras, bumbunya meresap, tidak hambar dan juga tidak terlalu ekstrim. Tentunya dibutuhkan keahlian tersendiri. Orang yang belum pernah memasaknya, di awal pertama kali mencoba memasaknya, pasti akan banyak melakukan kesalahan.

Pendeknya, semua itu adalah proses pembuatan opor ayam. Opor ayam tidak tiba-tiba turun dari langit mendarat tepat di atas meja makan kita.

Lain halnya bila kita membeli opor ayam itu di rumah makan, yang kita perlukan hanya uang sebagai harga pembelian. Dan kita bisa langsung duduk manis sambil melahapnya saat itu juga. Kita yang beli jadi opor ayam adalah orang-orang yang terima rapi saja, tidak perlu repot-repot memasak dan memprosesnya.

Itulah perumpamaan sederhana, untuk mendekatkan kita dengan kenyataan. Intinya, kita ini umumnya adalah orang-orang awam dan bukan mujtahid. Kita tidak melakukan semua proses ijtihad di atas. Sebagai orang awam, kita hanya terima bersih dan tinggal menggunakan saja hasil-hasil ijtihad para ulama.

Dan akan terasa aneh kalau orang yang tidak punya kapasitas ulama, tiba-tiba merasa dirinya paling pintar bahkan merasa lebih pintar dari ulama.

B. Sumber Yang Statis
Al-Quran maupun As-Sunnah adalah jalur resmi datangnya wahyu dari Allah SWT, sedangkan firasat, ilham, mimpi, kasysyaf, wangsit dan lain-lainnya, mungkin saja datang dari Allah SWT, namun semua jelas-jelas bukan wahyu yang merupakan risalah yang formal dan resmi. Semua itu tidak turun lewat jalur resmi, sebagaimana wahyu yang lewat Malaikat Jibril serta lewat mekanisme kenabian.

Karena itu hukum-hukum fiqih tidak boleh didasarkan atas semua hal di atas, meskipun dialami oleh orang shaleh sekalipun.

Wahyu yang yang dijadikan sumber hukum-hukum fiqih adalah wahyu risalah yang resmi, datangnya lewat Nabi Muhammad SAW, yaitu berupa ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Baik Al-Quran maupun As-Sunnah yang shahihah, keduanya adalah sumber syariah Islam yang bersifat mutlak kebenarannya, karena ada jaminan atas hal itu dari Allah SWT

Namun demikian, keduanya bersifat statis dan tidak boleh mengalami perubahan, baik koreksi, tambahan, pengurangan dengan cara apa pun, sepeninggal Rasulullah SAW.

Kalau sampai berubah atau boleh diubah-ubah oleh manusia, justru malah menjadi masalah. Karena originalitasnya tentu akan sangat dipertanyakan, sebagaimana tragedi yang menimpa agama-agama samawi sebelum masa risalah Muhammad SAW.

Para pemuka agama baik yahudi maupun nasrani dilaknat Allah SWT, karena mereka nekat mengubah ayat-ayat Allah yang telah baku.

مِن الّذِين هادُوا يُحرِّفُون الكلِم عن مّواضِعِهِ ويقُولُون سمِعنا وعصينا

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya . Mereka berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. (QS. An-Nisa’ : 46)

Karena Al-Quran dan As-Sunnah tidak boleh mengalami revisi, pengeditan, penambahan, atau pengurangan, maka otomatis keduanya bersifat statis.

Walaupun teknik penulisan aksara Arab mengalami perkembangan sepanjang waktu, namun bunyi ayat Al-Quran itu tidak mengalami perubahan apa pun. Dan sesungguhnya yang turun kepada Rasulullah SAW dahulu bukan buku dengan tulisan Arab, melainkan suara dari malaikat Jibril alaihissalam kepada beliau SAW, yang merupakan firman Allah SWT

Seandainya kita punya mesin waktu, dan kita kirim anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) ke zaman dimana para shahabat Nabi dahulu hidup di Mekkah dan Madinah, maka bacaan Al-Quran mereka akan sama persis seperti bacaan para shahabat Nabi ridhwanullahi ‘alaihim.

Apa yang ada di dalam Al-Quran tidak akan mengalami perubahan sampai hari kiamat. Demikian juga, apa yang tercatat di dalam hadits nabawi, juga tidak akan mengalami perubahan apa pun sampai akhir zaman.

Keduanya adalah kitab abadi, bahkan bahasa yang digunakan pun tidak boleh diubah, atau diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Kalau pun ada versi terjemahan, maka terjemahan itu bukan wahyu, tetapi hasil karya manusia. Sebuah buku yang isinya hanya terjemahan 30 juz Al-Quran tanpa menyertakan teks aslinya dalam bahasa Arab, tidak diakui sebagai Al-Quran.

Jadi kalau pakai logika ini, maka Alkitab berbahasa Indonesia yang rajin dibawa oleh para pastor itu bukan wahyu Allah, melainkan 100% hasil karya manusia.

C. Realitas Kehidupan Yang Dinamis

Meski Al-Quran dan As-Sunnah bersifat statis, namun keduanya bukan musium yang hanya menjadi saksi bisu atas apa yang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW.

Keduanya justru harus hidup sepanjang zaman, di berbagai tempat di permukaan planet bumi ini, menjadi petunjuk, pedoman, sumber rujukan hukum, dan juga sebagai undang-undang yang berlaku di semua negeri.

Umat manusia diciptakan Allah SWT dengan segala keragamannya. Dan keragaman ini melahirkan perbedaan budaya, adat, etika, bahkan hukum, konvensi dan aturan-aturan yang bersifat lokal ke daerahan.

Apa yang dipandang baik oleh suatu bangsa, boleh jadi oleh bangsa lain dianggap sangat tidak baik.

Memegang kepala orang lain yang lebih tua dan dihormati, bagi bangsa Arab dianggap kesopanan dan akhlaq mulia. Menantu akan lebih disayang mertua kalau memegang kepala mertua.

Tetapi jangan sekali-kali hal itu dilakukan di negeri kita, bisa-bisa langsung ditempeleng mertua dan dipecat jadi menantu. Sebab buat orang Indonesia, kepala adalah organ yang terhormat, tiap tahun dikeluarkan zakatnya, jadi jangan dipegang-pegang kecuali orang tua mengelus kepala bayinya sendiri.

Bangsa Tibet yang di mendiami pegunungan Himalaya, 3.000 meter di atas permukaan laut, punya kebiasaan aneh untuk menunjukkan tanda kesopanan dalam menyambut tamu, yaitu mereka akan menjulurkan lidahnya.

Maka para tamu harus membalas menjulurkan lidah juga sebagai bentuk penghormatan. Jangan sekali-kali hal itu kita lakukan di tempat lain, karena bisa dianggap menghina dan mencemooh. Ujung-ujungnya malah kita dikira mengajak adu jotos.

Selain berbeda-beda tolok ukur kebaikan, kehidupan umat manusia pun sangat dinamis, setiap saat mengalami perubahan.

Apa yang di suatu masa dianggap sebagai kebaikan, belum tentu pada 20-30 tahun kemudian masih dianggap baik. Dan sebaliknya, apa yang kita anggap sebuah kedegilan di masa sekarang, mungkin saja 50 tahun lagi dianggap perbuatan mulia.

Karya-karya di masa lalu yang dianggap sebagai bagian dari idealisme seorang ilmuwan, seiring dengan berjalannya waktu, di masa lain dianggap realitas potensi kekayaan.

Di masa lalu ketika Al-Bukhari menuliskan kitab Ash-Shahih, tidak pernah terbersit di kepalanya untuk menjual kitabnya itu, sekedar untuk mendapatkan uang. Di masa itu tidak dikenal hak cipta dan hak kekayaan intelektual atas karya itu.

Tetapi hari ini, buku yang hanya 100-an halaman saja, sedangkan isinya hasil cuplik sana sini, dianggap sebagai hak kekayaan intelektual yang dilindungi undang-undang dan menghasilkan sumber mata pencaharian.

Bahkan bahasa yang digunakan suatu bangsa akan berganti dengan bahasa lain seiring dengan berjalannya waktu. Empat ratus tahun yang lalu tidak ada orang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia di nusantara kita ini. Mereka mungkin bicara dengan bahasa Sansekerta, Arab, atau Mandarin. Andaikan mesin waktu bisa membawa kita ke masa hidup Wali Songo, dipastikan kita tidak bisa ngobrol dengan para wali itu.

Kenapa?

Soalnya, bahasa yang mereka pakai bukan bahasa Indonesia, sedangkan kita justru tidak mengerti bahasa mereka. Jadi mungkin kita akan pinjam bahasa Tarzan alias pakai isyarat.

Dahulu orang Mesir punya bahasa purba, yang juga punya aksara tersendiri. Orang Mesir hari ini sayangnya tidak bisa membaca apa yang terukir di Pyramid peninggalan nenek moyang mereka sendiri, karena bahasa mereka sudah berubah menjadi bahasa Arab.

Kalau kita buka arsip koran yang terbit tahun 50-an, maka kita akan terpingkal-pingkal membacanya. Bahasa memang bahasa Indonesia, tetapi susunan bahasa dan redaksinya terasa aneh dan jenaka buat ukuran di zaman sekarang ini.

Di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar radhiyallahuanhuma, kalau ada unta lepas dari tuannya, hukum konvensi yang berlaku adalah biarkan saja unta itu berkeliaran, sampai pemiliknya menemukannya. Unta bisa bertahan hidup, dia akan mencari makan dan minum sendiri.

Ketika masuk masa pemerintahan Amirul Mukminin Ustman bin Al-Affan radhiyalahuanhu, konvensinya berubah. Unta yang tersesat harus diselamatkan oleh penemunya, dibawa pulang, dipelihara, dikasih makan dan minum dan dilindungi. Nanti bila pemiliknya datang mencari, baru dikembalikan.

Hal itu karena masa itu sudah agak rawan dengan pencurian. Kota Madinah tidak lagi seseteril sebelumnya. Para shahabat yang mulai banyak yang merantau jauh ke berbagai penjuru dunia, sementara orang dari luar Madinah banyak yang masuk dan tinggal disana.

D. Ijtihad Ulama

Hukum-hukum fiqih adalah perpaduan antara dalil-dalil syar'i dengan realitas kehidupan. Namun dalam prosesnya, produk hukum fiqih itu tidak akan bisa lepas dua faktor utama, yaitu keberadaan para ahli fiqih sebagai ahli yang bekerja dengan sungguh-sungguh, serta adanya metodologi  ijtihad yang standar untuk digunakan sebagai media. Tanpa keduanya, maka proses memproduksi hukum itu akan bermasalah.

Ibarat sawah, tidak akan menghasilkan panen kalau tidak ditanami oleh petani. Namun petani juga butuh alat pertanian seperti pacul dan lainnya.

Ibarat perang, tidak akan berjalan kalau tidak ada tentara yang terjun ke medan laga. Namun para tentara juga butuh berbagai senjata dan perlengkapan peperangan.

Memproduksi hukum-hukum fiqih adalah tugas yang amat berat. Tugas yang amat berat ini tidak mungkin dikerjakan oleh sembarang orang, kecuali mereka yang terdidik dan terlatih secara profesional di bidangnya. Mereka itu kita sebut ahli fiqih.

Kerja membakar sate tidak akan sempurna, kalau tangan-tangan amatir yang melakukannya. Walaupun hanya membakar sate, pekerjaan yang kita anggap sepele, tetap saja butuh keahlian. Maksudnya, agar satenya tetap enak dimakan, tidak pahit karena terlalu gosong, tetapi juga tidak keras karena masih terlalu mentah.

Apalagi kerja untuk menarik kesimpulan hukum, tentu bukan hal yang sederhana. Kalau kita ibaratkan dengan dunia kesehatan, ahli fiqih itu ibarat dokter spesialis, yang tentunya harus merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran, mulai dari jenjang S-1 sampai jenjang-jenjang berikutnya.

Meski menolong orang sakit itu sebuah ibadah yang mendatangkan pahala dan disunnahan kepada setiap orang, namun mengobati orang sakit tidak boleh dikerjakan oleh sembarang orang. Karena ilmu kesehatan itu amat kompleks dan serba rumit. Untuk itu dibutuhkan keahlian di atas rata-rata.

Sejak dari masih calon mahasiswa fakultas Kedokteran, sudah ada seleksi ketat. Hanya mereka yang tahan begadang untuk belajar berjam-jam dan benar-benar siap mental saja, yang berani mendaftarkan diri. Mereka yang etos belajarnya lemah dan terbelakang, biasanya sejak awal sudah menghindari jauh Fakultas Kedokteran.

Kenyataannya, kuliah di Fakultas Kedokteran itu memang teramat berat. Tidak semua lulusan SMU dan sederajat boleh berhayal bisa masuk fakultas ini. Para calon dokter itu kadang harus mengikuti berbagai macam perkuliahan dan praktek yang amat tidak manusiawi, mulai dari membedah kodok sampai membedah mayat manusia yang sudah busuk.

Lulus dari Fakultas Kedokteran, tidak lantas sudah boleh praktek. Masih ada sekian banyak proses lain yang wajib diikuti, sampai akhirnya resmi diberi izin praktek.

Demikian juga dengan ahli fiqih, mereka hanya berjumlah beberapa gilintir orang saja di tiap-tiap zamannya. Mereka adalah orang-orang langka yang hidup di masing-masing zamannya. Hal itu karena pekerjaan mereka hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang amat terdidik dan terlatih secara ketat.

E. Istimbath Hukum

Perbedaan orang awam yang bodoh dengan para ulama yang ahli di bidang ijtihad adalah dalam masalah penggunaan ilmu yang menunjang metodologi yang benar, untuk bisa melakukan istimbath hukum yang hasilnya juga benar.

Orang awam bertindak ceroboh dalam mengambil kesimpulan hukum agama, sehingga seringkali mereka malah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Hal itu terjadi selain karena umumnya mereka bekerja tanpa keterampilan, juga tidak menggunakan alat-alat yang mendukung.

Sedangkan para ulama, dalam memproduksi hukum-hukum fiqih, bisa kita ibaratkan dengan para pekerja profesional yang bekerja dengan sepenuh keterampilan dan juga dengan menggunakan alat-alat yang mumpuni.

Kita ibaratkan proses untuk menghasilkan hukum-hukum fiqih ini dengan produksi kendaraan bermotor.

Untuk memproduksi sebuah unit kendaraan bermotor seperti mobil, bukan hanya dibutuhkan seorang yang ahli di bidang perbengkelan. Kalau modalnya hanya tang dan obeng, jelas tidak akan bisa memproduksi.

Pabrik sepeda motor memiliki berbagai alat dan mesin canggih yang mampu menghasilkan produksi dalam jumlah besar dan tentunya berkualitas. Di pabrik yang besar itu, ribuan unit sepeda motor bisa diproduksi sejak dari kerangka hingga menjadi bisa dipakai dalam sehari. Kalau pabrik itu hanya punya tang dan obeng sebagai alatnya, meski pun punya ribuan karyawan, sudah pasti tak satu pun sepeda motor bisa diproduksi.

Perumpamaan seperti di atas kalau kita kaitkan dengan Ilmu Fiqih, bahwa meski ada begitu banyak tokoh agama dengan beragam sebutannya, tapi kalau mereka tidak dibekali dengan alat yang memadai, yaitu ilmu istimbath hukum, hasilnya akan sia-sia belaka.

Kita ambil contoh yang lainnya. Seorang dokter meski pun dia sangat pintar, tapi kalau dia berpraktek di sebuah desa terpencil pada puncak sebuah gunung, tentu tidak bisa berbuat banyak kalau mendapatkan pasien yang menderita penyakit dalam. Sebab dia tidak punya alat yang cukup.

Untuk itu biasanya kasus seperti ini, para dokter akan merujukkan pasiennya kepada rumah sakit dengan fasilitas yang memadai, untuk dilakukan berbagai tindakan medis. Stateskop dan jarum suntik milik dokter di desa tentu tidak akan banyak bermanfaat, kalau pasiennya menderita penyakit yang kompleks.

G. Ilmu Yang Diperlukan Dalam Istimbath

Ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mujtahid salah satunya adalah ilmu tafsir, yang sumber utamanya tidak lain adalah Rasulullah SAW dan juga para shahabatnya.

Mereka itulah generasi yang Allah SWT langsung turunkan Al-Quran di tengah-tengah kehidupan mereka. Tentu mereka pula generasi yang paling tahu dan mengerti apa-apa yang diinginkan Allah atas tiap ayat yang turun.

 Tanpa penguasaan ilmu tafsir yang benar dan cukup, seorang mujtahid tidak bisa bekerja dengan baik.

Ilmu naqd (kritik) hadits adalah ilmu yang tidak boleh luput dari kemampuan seorang mujtahid. Sebab yang di-istimbath tidak lain adalah hukum-hukum yang bersumber dari Rasulullah SAW. Kalau jalur periwayatannya saja sudah bermasalah, maka istimbath hukumnya sudah pasti bermasalah juga.

Maka sebelum menjadi seorang mujtahid, seorang ulama harus menjadi ahli hadits (muhaddits) terlebih dahulu. Setidaknya dia harus punya kemampuan untuk memilah mana hadits yang bisa dijadikan sandaran, dan mana yang tidak bisa dijadikan sandaran.

Di antara paham yang keliru yang perlu diluruskan dari persepsi orang-orang selama ini adalah anggapan seolah-olah para ahli fiqih tidak mengerti ilmu hadits. Sehingga mereka sering dituduh hanya mengandalkan akal dan logika saja, dengan menafikan hadits. Padahal, syarat untuk menjadi ahli fiqih itu justru harus sudah lulus menjadi ahli hadits. Dan tidak ada seorang pun dari para ulama fiqih yang bukan ahli hadits.

Al-Quran tidak pernah diturunkan ke permukaan bumi ini kecuali dalam bahasa Arab. Sebab Rasulullah SAW sebagai penerima wahyu hanya bisa berbahasa Arab.

Demikian juga sunnah nabawiyah, yang merupakan perbuatan, perkataan dan iqrar Rasulullah SAW, tidak lah sampai kepada kita lewat rangkaian panjang periwayatan, kecuali redaksinya selalu berbahasa Arab.

Maka bila seorang mujtahid ingin menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah, mustahil bisa dilaksanakan bila dirinya tidak mengerti bahasa Arab.

Maka syarat mutlak ilmu yang harus minimal dikuasai oleh seorang mujtahid adalah ilmu tentang bahasa Arab dengan segala cabang dan rantingnya.

Bahasa Arab memang tidak mudah diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia. Tidak semua kata atau frasa ada padanannya, sehingga bahasa terjemahan yang harfiyah tentu tidak mampu menyampaikan isi pesan yang seutuhnya.

Para penerjemah bahasa asing, khususnya dari bahasa Arab memang harus pandai dan cerdas. Selain harus mengerti betul gaya bahasa aslinya, juga harus pandai mencarikan padanan kata atau ungkapan yang punya makna setara atau minimal agak mendekati aslinya. Kalau tidak demikian, maka pada gilirannya malah bisa jadi malapetaka.

Ittaqillah

Dalam bahasa Arab, kalau ada orang berkata kepada kita ittaqillah (اتق الله), maknanya bukan sekedar bertaqwalah atau takutlah kepada Allah. Tetapi kalimat itu sudah mengandung ancaman, atau setidaknya sebuah tuduhan bahwa kita ini bersalah dalam pandangannya.

Sehingga kalau sampai orang Arab bilang ittaqillah kepada kita, harus dipahami bahwa orang itu menyalahkan kita dan ungkapan dalam bahasa kita kurang lebih menjadi 'jangan begitu', 'awas', 'hati-hati' dan sejenisnya.

Aku Mencintaimu di Jalan Allah

Menarik juga ungkapan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada kita untuk disampaikan kepada sesama muslim, yaitu inni uhibbuka fillah (أني أحبك في الله). Kalau kita menghormati seorang dosen atau tokoh ulama di kalangan orang-orang Arab, maka ungkapan ini termasuk salah satu sopan santun yang tinggi.

Tetapi jangan sekali-kali ungkapan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiyah. Apalagi kalau sampai digunakan di tengah pergaulan sesama anak bangsa. Sebab terjemahannya akan jadi lain dan jauh sekali.

Kalau sampai ada seorang laki-laki berkata kepada teman sesama laki-laki,"Aku mencintaimu karena Allah", maka dahi temannya itu pasti akan berkerut sepuluh lipatan tanda bingung. Dan boleh jadi dalam hatinya dia curiga. Jangan-jangan orang ini hombreng, masak sesama lelaki bilang cinta-cintaan segala?

Yakhrabbetak

Orang Mesir punya makian khas kalau lagi berseteru dengan sesama mereka. Bahasa itu tentu saja ammiyah dan bukan bahasa fushah.

Yakhrab betak!!

Terjemahan apa adanya adalah rumahmu musnah, rusak atau terbakar. Sebagaimana bisa kita baca di dalam Al-Quran tentang rumah yang musnah :

وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعبَ ۚ يُخرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيدِيهِم وَأَيدِي المُؤمِنِينَ

Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mu'min. (QS. Al-Hasyr : 2)

Tentu saja makian atau umpatan itu tidak ada kaitannya dengan rumah yang musnah. Itu hanya bahasa ungkapan, ketika kita terjemahkan menjadi rumahmu musnah tentu akan lucu dan tidak enak didengar.

Barangkali mirip dengan makian khas Betawi. Tidak mungkin makian pale lo ijo diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan ra'suka ahdhar. Begitu juga tidak mungkin menerjemahkan ungkapan muke lu jauh dengan wajhuka ba'id.

Dan ungkapan khas orang Jawa mbok yo ngene juga tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ibu ya begini, atau ke dalam bahasa Inggris menjadi mother yes like this, atau ke dalam bahasa Arab menjadi ummu na'am ha kadza.

Terjemah Istilah Dalam Nash-nash Syariah

Terjemahan ungkapan ringan macam di atas, bila hasilnya salah kaprah kita masih boleh senyum-senyum. Tetapi bayangkan kalau kesalahan fatal itu terjadi ketika memahami nash-nash syariah. Kalau sampai salah kaprah, bisa-bisa yang haram jadi halal dan sebaliknya yang halal jadi haram.

Menerjemahkan bahasa Arab modern kadang kita masih kesulitan, apalagi menerjemahkan ungkapan-ungkapan yang hanya digunakan pada 14 abad lampau, tentu lebih sulit lagi untuk dipahami. Parahnya, tidak semua orang Arab hari ini bisa paham ungkapan-ungkapan khas di masa Nabi SAW.

Taribat Yadaka

Seperti ungkapan Nabi SAW ketika menyebutkan empat alasan memilih istri, dimana salah satunya karena agamanya, lalu beliau mengatakan taribat yadaaka (تربت يداك).

Apa maksud kalimat taribat yadaaka ini?

Kalau secara harfiyah kata taribat itu bentukan dari kata turab yang artinya debu. Sedangkan yadaaka artinya kedua tanganmu. Tetapi apa benar taribat yadaaka itu berarti kedua tanganmu berdebu? Apa hubungannya dengan memilih istri karena faktor agama?

Bahasa Tubuh

Yang lebih sulit lagi untuk dipahami adalah bahasa tubuh Nabi SAW. Kadang dalam memberi fatwa, beliau tidak menggunakan kata secara verbal, melainkan dengan menggunakan bahasa tubuh. Salah satunya adalah tertawa hingga terlihat putih giginya.

Kasusnya terjadi ketika Amar bin Ash berijtihad meninggalkan mandi janabah dan menggantinya dengan tayammum, karena alasan takut mencelakakan dirinya saat di musim dingin. Mendengar itjihad shahabatnya itu, beliau SAW pun tertawa, hingga terlihat putih giginya.

Nah, yang ini jelas membingungkan sekali. Apa makna tertawanya seorang Nabi SAW yang berkebangsaan Arab dan hidup di abad keenam Masehi. Masalahnya bahasa tubuh tiap bangsa itu beda-beda.

Bisa saja beliau tertawa karena memang mentertawakan tindakan shahabatnya itu yang mungkin keliru. Seperti kita suka mentertawakan orang-orang yang keliru dan bersalah. Itu budaya kita, kalau lihat ada orang salah atau keliru, kita terbiasa untuk mentertawakan.

Tetapi ternyata tertawanya Nabi SAW itu bukan meledek atau mentertawai kekeliruan orang lain. Tidak, justru tertawanya itu bermakna pembenaran atas ijtihad meninggalkan mandi janabah menjadi tayammum. Dan itulah yang secara umum dipahami oleh para ulama sepanjang zaman.

Disinilah terbukti bahwa urusan memahami syariat bukan sekedar menguasai bahasa saja. Seorang asli Arab di zaman kita pun belum tentu paham maksudnya. Kita harus belajar lebih dalam ilmu bahasa Arab yang lebih klasik lagi, yang boleh jadi di kamus-kamus modern tidak tercantum.

Dan lebih dari itu, kita perlu merujuk ke kitab-kitab syarah hadits untuk mengetahui apa yang dipahami para ulama di masa lalu tentang ungkapan asing itu. Dan kalau ungkapan itu ada di dalam ayat Al-Quran, tentu kita perlu membuka kitab tafsir.

Dan salah satu manfaat Ilmu Fiqih adalah memahami makna tiap istilah yang digunakan dalam nash-nash syariah secara lebih mendalam. Sebab kekeliruan dalam memahaminya akan melahirkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan hukum.

Dan kekeliruan seperti itu sangat mungkin terjadi, bila yang melakukannnya hanya orang yang awam seperti kita yang bukan termasuk orang yang berada dalam derajat para mujtahid.

Satu hal yang sering luput dari pengamatan kita bahwa baik Al-Quran atau pun Sunnah, ternyata keduanya sama-sama ditulis tanpa dilengkapi data waktu turun atau wurudnya.

Kita tidak menemukan di dalam mushaf Al-Quran data tentang pada hari apa, tanggal berapa, bulan apa atau tahun kapan diturunkannya suatu ayat.

Hal yang sama juga ketika kita membuka kitab Shahih Bukhari atau Shahih Muslim yang umat Islam berijma' sebagai kitab tershahih kedua dan ketiga setelah Al-Quran. Kedua kitab itu tidak mencantumkan hari, tanggal, bulan atau tahun, dimana Rasulullah SAW menyampaikan atau melakukannya.

Maka kita yang hidup di masa sekarang ini nyaris merasa seolah-olah semua ayat dan hadits itu diturunkan atau disampaikan secara berbarengan.

Padahal di masa Rasulullah SAW, masing-masing ayat turun satu persatu, tidak turun sekaligus, tetapi seiring dengan proses pensyariatan (tasyri') yang juga berjalan sesuai dengan urutan waktu.

Pada waktu tertentu ada ayat Al-Quran yang masih membolehkan khamar, sehingga para shahabat ridhwanullahi'alaihim masih meminumnya.

Maka disitulah letak pentingnya ilmu sirah nabawiyah dalam menarik kesimpulan hukum. Karena ternyata antara satu ayat yang turun terlebih dahulu, dengan ayat lain yang turun kemudian bisa saling menafikan atau membatalkan hukum.

Dan hal yang sama juga terjadi pada sunnah nabawiyah. Ada begitu banyak hadits yang diucapkan oleh Rasulullah SAW pada zaman dahulu ketika masih di Mekkah. Kemudian setelah itu, beliau SAW mengoreksi hukum dan memperbaharuinya, lewat hadits-hadits yang datang kemudian.

Kalau seorang hanya mengandalkan ilmu hadits saja, tanpa punya ilmu sirah nabawiyah, maka boleh jadi dia menggunakan hadits yang sebenarnya sudah dihapus dengan adanya hadits yang lain yang keluar belakangan.

Salah satu kelebihan sirah nabawiyah dibandingkan dengan hadits-hadits yang kita temukan di dalam berbagai kitab susunan para ulama terletak pada adanya informasi tentang konteks kejadian, bahkan jalinan kisah sampai kepada alur cerita.

Seringkali orang awam  yang tidak mengerti konteks dan realitas di masa Rasulullah SAW merasa kebingungan ketika membaca suatu hadits yang shahih.

Misalnya hadits yang menyebutkan kisah seorang Arab dusun yang kencing di dalam masjid. Di dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyiram bekas kencing itu dengan seember air. Bukankah hal itu aneh buat kita?

Lantai masjid kita di zaman sekarang ini biasanya terbuat dari keramik, dan seringkali digelari karpet. Kalau air kencing hanya disiram dengan seember air, maka pastilah najis air kencing itu akan menyebar kemana-mana.

Ternyata dari sirah nabawiyah kita tahu, bahwa lantai masjid di masa Rasulullah SAW itu tidak terbuat dari keramik, juga tidak digelari karpet.  Lantai itu semata-mata hanya tanah atau pasir. Bila ada air kencing, cukup disiram dengan seember air, maka najis itu akan langsung terserap di dalam pasir. Maka seorang mujtahid harus mengerti benar seluk-beluk kehidupan di masa Rasulullah SAW, agar tidak keliru dalam menarik kesimpulan hukum.

Tetapi ilmu yang paling utama dari kebutuhan untuk mengistimbath suatu hukum tidak lain adalah Ilmu Fiqih dan ushul fiqih.

Ilmu Fiqih adalah produk akhir dari ilmu-ilmu yang telah disebutkan di atas. Hasil akhir ini berupa kesimpulan-kesimpulan hukum atas berbagai masalah kehidupan.  Orang-orang awam adalah konsumen dari Ilmu Fiqih ini. Bahkan sebenarnya ilmu ini memang ditujukan untuk dipelajari oleh orang-orang awam.  Para mujtahid kemudian mengajarkan hasil-hasil ijtihad dan istimbath hukum mereka lewat pengajaran Ilmu Fiqih ini.

Pengertian ilmu ushul fiqih menurut para ulama adalah :

القواعِدُ الّتِي يتوسّلُ بِها المُجتهِدُ فِي استِنباطِ الأحكامِ الشّرعِيّةِ العملِيّةِ مِن أدِلّتِها التّفصِيلِيّةِ

Kaidah-kaidah yang mengantarkan mujtahid dalam mengistinbat hukum-hukum syar’i terapan dari dalil-dalilnya yang rinci.

Antara Ilmu Fiqih dan Ilmu Ushul Fiqih terjalin hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Bahkan boleh dikatakan bahwa sebagian dari kedua tubuh itu saling menyatu dan berbagi satu dengan yang lain.

Keduanya bisa diibaratkan antara pohon dengan akarnya. Dimana pohon itu tidak akan dapat tumbuh dan tegak bila tidak ada akarnya. Akar pohon bukan hanya berfungsi sebagai pondasi yang menopang berat pohon itu, bahkan akar itulah yang memberikan zat-zat yang dibutuhkan oleh pohon.

Bila akar pohon dilepaskan dari batangnya, maka otomatis batang pohon itu akan mati dengan sendirinya. Sebaliknya, bila batang suatu pohon dipotong tanpa membuang akarnya, besar kemungkinan dari akar itu akan tumbuh lagi pohon yang baru.

Hubungan antara Ilmu Fiqih dengan Ilmu Ushul Fiqih juga bisa diibaratkan antara sebuah produk dengan pabriknya. Mobil yang kita kendarai setiap hari tidak akan dapat meluncur di jalanan kalau tidak ada pabrik yang memproduksi mobil itu. Mobil adalah Ilmu Fiqih dan pabrik adalah Ilmu Ushul Fiqih.

Kalau belajar Ilmu Fiqih tentang halal dan haram, serta hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram bisa kita ibaratkan dengan belajar mengemudi mobil, maka setiap orang yang mengemudi mobil, minimal harus pernah belajar tata cara mengemudikan mobil. Dan untuk itu polisi mewajibkan para pengemudi memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Sedangkan belajar Ilmu Ushul Fiqih hukumnya tidak wajib buat orang awam. Sebab Ilmu Ushul Fiqih itu bisa kita ibaratkan seperti belajar ilmu untuk memproduksi mobil. Tentu untuk bisa mengemudi mobil tidak harus belajar cara bagaimana membuat mobil itu. Membuat mobil adalah urusan pabrik mobil, pengemudi hanya diwajibkan belajar bagamana cara memakai produknya, yaitu belajar mengemudi mobil yang jauh lebih sederhana.

Ilmu Ushul Fiqih secara mendalam pada hakikatnya ilmu yang dibutuhkan oleh para mujtahid dalam melakukan proses istimbath hukum dari dalil-dalil syariah. Karena tidak semua orang wajib menjadi mujtahid, maka hukum untuk mempelajari Ilmu Ushul Fiqih ini pun juga tidak wajib.Ruang lingkup pembahasan Ilmu Ushul Fiqih sebenarnya cukup luas, mulai dari sumber-sumber hukum fiqih hingga proses bagaimana kesimpulan hukum itu diambil, lewat beragam metode yang ada.

Dalil-dalil hukum syariah ada yang muktamad seperti Quran, Sunnah, Ijma dan Qiyas, dan ada juga dalil yang mukhtalaf, seperti al-masalih al-mursalah, al-istidlal, al-istish-hab, saddu adz-dzari’ah, istihsan, 'urf, syar'u man qablana, amalu ahlil madinah, qaul shahabi dan lainnya.

Selain itu dalam ushul fiqih juga dikenal dalil lafadz, yaitu al-amru wa an-nahyu, al-‘aam wal khash, al-muthlaq wa al-muqayyad, al-manthuq wal mafhum.

Ushul fiqih juga membahas berbagai jenis hukum, baik berupa hukum taklifi atau pun hukum wadh'i. Hukum Taklifi adalah hukum yang kita kenal sebagai wajib, mandub (sunnah), mubah, makruh atau haram. Sedangkan hukum Wadh’i seperti as-sabab, asy-syarth, al-mani’, ash-shihhah, a-fasad wal buthlan.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img