All | 1. Muqaddimah > Bagian 1. Ilmu Fiqih 7. Ilmu Ushul Fiqih

Bab 7 : Ilmu Ushul Fiqih

A. Pengertian
Ushul Fiqih (أصول الفقه) terdiri dari dua kata, yaitu ushul dan fiqih.

Kata ushul (أصول) adalah bentuk jamak dari al-ashlu (الأصل), yang artinya akar, asal, landasan atau pondasi. Sebagian ulama bahasa menyebutkan bahwa makna al-ashlu adalah ma yubna ’alaihi ghairuhu, atau segala yang di atasnya didirikan sesuatu.

Kata al-ashl yang bermakna akar disebutkan di dalam Al-Quran :

أصلُها ثابِتٌ وفرعُها فِي السّماء

Akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. (QS Ibrahim : 24).

Sedangkan kata fiqih (فقه) secara bahasa punya dua makna. Makna pertama adalah al-fahmu al-mujarrad (الفهم المجرّد), yang artinya adalah mengerti secara langsung  atau sekedar mengerti saja.  

Makna yang kedua adalah al-fahmu ad-daqiq (الفهم الدقيق), yang artinya adalah mengerti atau memahami secara  mendalam dan lebih luas.

Kata fiqih yang berarti sekedar mengerti atau memahami, disebutkan di dalam ayat Al-Quran Al-Kariem, ketika Allah menceritakan kisah kaum Nabi Syu’aib alaihissalam yang tidak mengerti ucapannya.

قالُوا يا شُعيبُ ما نفقهُ كثِيرًا مِمّا تقُولُ

“Mereka berkata: "Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu (QS. Hud: 91)

Di ayat lain juga Allah SWT berfirman menceritakan tentang orang-orang munafik yang tidak memahami pembicaraan.

فمالِ هؤُلاءِ القومِ لا يكادُون يفقهُون حدِيثًا

Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. An Nisa: 78)

Sedangkan makna fiqih dalam arti mengerti atau memahami yang mendalam, bisa temukan di dalam Al-Quran Al-Karim pada ayat berikut ini :

وما كان المُؤمِنُون لِينفِرُوا كافّةً فلولا نفر مِن كُلِّ فِرقةٍ مِنهُم طائِفةٌ لِيتفقّهُوا فِي الدِّينِ ولِيُنذِرُوا قومهُم إِذا رجعُوا إِليهِم لعلّهُم يحذرُون

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)

Dalam prakteknya, istilah fiqih ini lebih banyak digunakan untuk ilmu agama secara umum, dimana seorang yang ahli di bidang ilmu-ilmu agama sering disebut sebagai faqih, sedangkan seorang yang ahli di bidang ilmu yang lain, kedokteran atau arsitektur misalnya, tidak disebut sebagai faqih atau ahli fiqih.

Sedangkan secara istilah, kata fiqih didefinisikan oleh para ulama sebagai  :   

العِلمُ بِالأحكامِ الشّرعِيّةِ العملِيّةِ المُكتسبُ مِن أدِلّتِها التّفصِيلِيّةِ

”Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci,”

Pengertian ilmu ushul fiqih menurut para ulama adalah :

القواعِدُ الّتِي يتوسّلُ بِها المُجتهِدُ فِي استِنباطِ الأحكامِ الشّرعِيّةِ العملِيّةِ مِن أدِلّتِها التّفصِيلِيّةِ

Kaidah-kaidah yang mengantarkan mujtahid dalam mengistinbat hukum-hukum syar’i terapan dari dalil-dalilnya yang rinci.

Penjelasan dari definisi ini adalah :

a. Kaidah

Yang dimaksud dengan kaidah adalah ad-dhawabit al-kulliyah al-ammah, yaitu aturan atau rumus yang bersifat menyeluruh dan umum, yang bisa diterapkan dalam kasus-kasus yang banyak.

Misalnya kaidah ushul fiqih itu berbunyi :

الأَمرُ لِلوُجُوبِ وَالنَّهيُ لِلحُرمَةِ

Perintah itu melahirkan kewajiban dan larangan melahirkan keharaman.

Maka ketika ada dalil yang menggunakan fi’il amr yang bermakna perintah, apa yang diperintah itu menjadi kewajiban. Misalnya Allah SWT berfirman :

أقِمِ الصّلاة وآتُوا الزّكاة

Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat

Maka pada dasarnya hukum mendirikan shalat adalah wajib, sebagaimana menunaikan zakat juga hukumnya wajib, karena datangnya dalil itu dalam bentuk perintah (amr).

Dan sebaliknya, ketika ada dalil berbunyi larangan, maka hukum untuk mengerjakannya menjadi haram.

ولا تقتُلُوا النّفس الّتِي حرّم اللهُ إِلاّ بِالحقِّ

Dan janganlah kamu membunuh nyawa yang telah Allah haramkan tanpa haq.

ولا تقربُوا الزِّنا

Dan janganlah kamu berzina

Membunuh nyawa manusia tanpa hak dan berzina hukumnya haram, karena datangnya larangan dalam dua ayat di atas.

b. Mujtahid

Mujtahid adalah orang melakukan proses penarikan kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah serta sumber-sumber syariah lainnya.

Pekerjaan ini dilakukan lewat proses yang disebut dengan ijtihad, yaitu dengan menggunakan berbagai metodologi yang baku serta proses yang ilmiyah serta dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum, untuk menghasilkan produk hukum fiqih yang dapat dengan mudah dikerjakan oleh khalayak.

Untuk itu seorang mujtahid haruslah merupakan sosok  orang yang memiliki segala persyaratan standar dalam berijtihad.

c. Hukum-hukum

Ilmu Fiqih adalah salah satu cabang ilmu, yang secara khusus termasuk ke dalam cabang ilmu hukum. Jadi pada hakikatnya Ilmu Fiqih adalah ilmu hukum.

Kita mengenal ada banyak cabang dan jenis ilmu hukum, misalnya hukum adat yang secara tradisi berkembang pada suatu masyarakat tertentu. Selain hukum adat, kita juga mengenal hukum barat yang umumnya hasil dari penjajahan Belanda.

d. Syariat

Hukum yang menjadi wilayah kajian Ilmu Fiqih adalah hukum syariat, yaitu hukum yang bersumber dari Allah SWT serta telah menjadi ketetapan-Nya, dimana kita sebagai manusia, telah diberi beban mempelajarinya, lalu menjalankan hukum-hukum itu, serta berkewajiban juga untuk mengajarkan hukum-hukum itu kepada umat manusia.

Dengan kata lain, Ilmu Fiqih bukan ilmu hukum yang dibuat oleh manusia. Fiqih adalah hukum syariat, dimana hukum itu 100% dipastikan berasal dari Allah SWT

Keterlibatan manusia dalam Ilmu Fiqih hanyalah dalam menganalisa, merinci, memilah serta menyimpullkan apa yang telah Allah SWT firmankan lewat Al-Quran Al-Kariem dan juga lewat apa yang telah Rasulullah SAW sampaikan berupa sunnah nabawiyah atau hadits nabawi.

e. Amaliyah

Yang dimaksud dengan amaliah adalah bahwa hukum fiqih itu terbatas pada hal-hal yang bersifat amaliyah badaniyah, bukan yang bersifat ruh, perasaan, atau wilayah kejiwaan lainnya.

Sebagaimana kita tahu hukum syariah itu cukup banyak wilayahnya, ada wilayah akidah yang lebih menekankan pada wilayah keyakinan dan pondasi keimanan. Ada hukum yang terkait dengan akhlak dan etika.

Dalam hal ini ilmu hukum fiqih hanya membahas hukum-hukum yang bersifat fisik berupa perbuatan-perbuatan manusia secara fisik lahiriyah. Tegasnya, fiqih itu hanya menilai dari segi yang kelihatan saja, sedangkan yang ada di dalam hati, atau di dalam benak, tidak termasuk wilayah amaliyah.

f. Yang diambil dari dalil-dalilnya yang rinci

Banyak orang beranggapan bahwa Ilmu Fiqih itu sekedar karangan atau logika para ulama, yang menurut mereka bahwa ulama itu manusia juga. Sedangkan yang berasal dari Allah hanyalah Al-Quran, dan yang berasal dari Rasulullah SAW adalah Al-Hadits.

B. Hubungan Fiqih dengan Ushul Fiqih
Antara Ilmu Fiqih dan Ilmu Ushul Fiqih terjalin hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Bahkan boleh dikatakan bahwa sebagian dari kedua tubuh itu saling menyatu dan berbagi satu dengan yang lain.

Keduanya bisa diibaratkan antara pohon dengan akarnya. Dimana pohon itu tidak akan dapat tumbuh dan tegak bila tidak ada akarnya. Akar pohon bukan hanya berfungsi sebagai pondasi yang menopang berat pohon itu, bahkan akar itulah yang memberikan zat-zat yang dibutuhkan oleh pohon.

Bila akar pohon dilepaskan dari batangnya, maka otomatis batang pohon itu akan mati dengan sendirinya. Sebaliknya, bila batang suatu pohon dipotong tanpa membuang akarnya, besar kemungkinan dari akar itu akan tumbuh lagi pohon yang baru.

Hubungan antara Ilmu Fiqih dengan Ilmu Ushul Fiqih bisa diibaratkan antara sebuah produk dengan pabriknya.

Mobil yang kita kendarai setiap hari tidak akan dapat meluncur di jalanan kalau tidak ada pabrik yang memproduksi mobil itu. Mobil adalah Ilmu Fiqih dan pabrik adalah Ilmu Ushul Fiqih.

Belajar fiqih pada dasarnya adalah wajib dilakukan oleh setiap orang termasuk orang yang awam. Setidaknya pada wilayah-wilayah paling mendasar dan tidak harus pada wilayah yang terlalu jauh. Misalnya setiap orang wajib tahu tata cara wudhu, mandi janabah, tayammum, dan juga tentang aturan-aturan shalat dengan segala syarat, rukun, wajib, sunnah dan hal-hal yang membatalkan. Sebab tiap manusia punya beban dari Allah SWT untuk mengerjakan semua itu.

Belajar fiqih tentang halal dan haram, serta hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram bisa kita ibaratkan dengan belajar mengemudi mobil. Setiap orang yang mengemudi mobil, minimal harus pernah belajar tata cara mengemudikan mobil. Dan untuk itu polisi mewajibkan para pengemudi memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Sedangkan belajar Ilmu Ushul Fiqih hukumnya tidak wajib buat orang awam. Sebab Ilmu Ushul Fiqih itu bisa kita ibaratkan seperti belajar ilmu untuk memproduksi mobil. Tentu untuk bisa mengemudi mobil tidak harus belajar cara bagaimana membuat mobil itu. Membuat mobil adalah urusan pabrik mobil, pengemudi hanya diwajibkan belajar bagamana cara memakai produknya, yaitu belajar mengemudi mobil yang jauh lebih sederhana.

Ilmu Ushul Fiqih secara mendalam pada hakikatnya ilmu yang dibutuhkan oleh para mujtahid dalam melakukan proses istimbath hukum dari dalil-dalil syariah. Karena tidak semua orang wajib menjadi mujtahid, maka hukum untuk mempelajari Ilmu Ushul Fiqih ini pun juga tidak wajib.

C. Sejarah Ilmu Ushul Fiqih

Kalau kita telurusi secara seksama, sebenarnya prinsip yang dipakai di dalam Ushul Fiqih sudah ada sejak Rasulullah SAW masih hidup bersama-sama dengan para shahabat. Namun kalau yang dimaksud terbitnya Ilmu Ushul Fiqih dalam format buku yang secara khusus, memang baru ditulis pertama kali oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Sehingga di masa kemudian, beliau yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar Ilmu Ushul Fiqih.

Di masa Rasulullah SAW masih hidup, kita justru diajarkan bagaimana teknik menggunakan kaidah-kaidah dalam mengambil kesimpulan hukum langsung oleh Rasulullah SAW sendiri.

Ada beberapa kejadian yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwa sudah ada pelaran dari Nabi SAW tentang prinsip dalam Ushul Fiqih, seperti bagaimana beliau mengajarkan menqiyas hukum berkumur dengan mencium istri pada saat berpuasa.

Selain itu beliau SAW juga pernah mengoreksi cara pengqiyasan yang sempat keliru dilakukan oleh shahabatnya.

a. Rasulullah SAW Mengajarkan Nasakh

Salah satu prinsip yang dipelajari dalam Ilmu Ushul Fiqih adalah masalah suatu dalil yang menghapus dalil yang sebelumnya ada. Cabang ilmu ini disebut secara populer sebagai Ilmu An-Nasikh wa Al-Mansukh.

Ternyata Rasulullah SAW dahulu sudah banyak mengajarkan hukum nasakh kepada para shahabat. Prinsipnya, suatu hukum yang sebelumnya sudah berlaku, kemudian dihapus dan diganti dengan hukum yang baru, lewat datangnya dalil yang baru. Sehingga para shahabat kemudian menjadi tahu bahwa bila suatu dalil datang kemudian dan bertentangan dengan dalil yang sudah ada sebelumnya, maka ada kemungkinan dalil yang sebelumnya dihapuskan (dinasakh).

Salah satu contoh yang paling mudah kita sebutkan disini adalah nasakh atas haramnya berziarah kubur.

كُنتُ نهيتُكُم عن زِيارةِ القُبُورِ ألا فزُورُوها

Dahulu Aku melarang kalian dari berziarah kubur, sekarang silahkan berziarah.

b. Qiyas Mencium Istri Dengan Berkumur Saat Puasa

Suatu Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya tentang dirinya yang sempat mencium istrinya di siang hari di bulan Ramadhan, apakah puasanya itu batal atau tidak.  

Saat itu Rasulullah SAW tidak langsung menjawab dengan mengatakan batal atau tidak batal. Tetapi beliau berputar terlebih dahulu dengan membuat perbandingan hukum. Beliau bertanya, apabila seseorang yang sedang berpuasa di siang hari melakukan wudhu dan berkumur, apakah hal itu membatalkan puasa?

Umar kontan tegas menjawab tidak batal, sebab air kumur itu tidak diminum. Maka Rasulullah SAW kemudian menjawab, bahwa keadaan orang yang mencium istrinya mirip dengan orang yang berkumur. Artinya, dari segi hukum, puasanya tidak batal.

أرأيت لو تمضمضت بِماءٍ وأنت صائِمٌ ؟ قُلتُ : لا بأس بِذلِك .فقال رسُولُ اللّهِ صلّى اللّهُ عليهِ وسلّم ففِيم ؟ .

Rasulullah SAW bertanya,”Tidak kah kamu perhatikan bila kamu berkumur dengan air dalam keadaan berpuasa, apakah batal? Umar radhiyallahuanhu menjawab,”Tidak mengapa kalau berkumur”. Maka Rasulullah SAW berkata lagi,”Lalu kenapa (dengan mencium istri)?”. (HR. Ahmad, Al-Hakim dan An-Nasa’i)

c. Pembenaran Qiyas Yang Dilakukan Shahabat

Beberapa shahabat tercatat pernah melakukan qiyas antara hukum suatu masalah dengan masalah yang lain. Salah satunya adalah mengqiyas antara mandi janabah dengan tayammum, seperti yang dilakukan oleh Amr bin Al-Ash radhiyallahuanhu.

اِحتلمتُ فيِ ليلةٍ بارِدةٍ شدِيدةِ البرد فأشفقتُ إِنِ اغتسلتُ أن أهلك فتيمّمتُ ثُمّ صلّيتُ بِأصحابيِ صلاة الصُّبحِ فلمّا قدِمنا على رسُول اللهِ s ذكرُوا ذلِك لهُ  فقال : يا عمرُو صلّيت بِأصحابِك وأنت جُنُب؟ فقُلتُ : ذكرتُ قول الله تعالى (ولا تقتُلُوا أنفُسكُم إِنّ اللهُ كان بِكُم رحِيمًا) فتيمّمتُ ثُمّ صلّيتُ  فضحِك رسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلم ولم يقُل شيئًا

Dari Amru bin Al-’Ash radhiyallahuanhu bahwa ketika beliau diutus pada perang Dzatus Salasil berkata"Aku mimpi basah pada malam yang sangat dingin. Aku yakin sekali bila mandi pastilah celaka. Maka aku bertayammum dan shalat shubuh mengimami teman-temanku. Ketika kami tiba kepada Rasulullah SAW mereka menanyakan hal itu kepada beliau. Lalu beliau bertanya"Wahai Amr Apakah kamu mengimami shalat dalam keadaan junub ?". Aku menjawab"Aku ingat firman Allah [Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu] maka aku tayammum dan shalat". (Mendengar itu) Rasulullah SAW tertawa dan tidak berkata apa-apa. (HR. Ahmad Al-hakim Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthuny).

Dan Rasulullah SAW membenarkan qiyas yang dilakukannya, sehingga menjadi dasar hukum yang membolehkan kita di masa sekarang ini untuk bertayammum manakala mau mandi janabah tidak ada air.

d. Koreksi Qiyas Tayammum dengan Mandi Janabah

Ketika mengetahui tentang tata cara mengqiyas suatu hukum, maka para shahabat dalam kondisi tertentu mulai menggunakan qiyas, ketika belum menemukan dalil yang sharih. Misalnya yang terjadi pada Ammar bin Yasir radhyallahuanhu.

 عن عمّار قال :  أجنبتُ فلم أصُب الماء فتمعّكتُ فيِ الصّعِيدِ وصليّتُ فذكرتُ ذلِك لِلّنِبي s فقال : إِنّما يكفِيك هكذا  وضرب النّبِيُّ s بِكفّيهِ الأرض ونفخ فِيهِما ثُمّ مسح بِهِما وجههُ وكفّيهِ - متفق عليه . وفي لفظ :  إِنّما كان يكفِيك أن تضرِب بِكفّيك فيِ التُّرابِ ثُمّ تنفُخُ فِيهِما ثُمّ تمسحُ بِهِما وجهك وكفّيك إِلى الرِصغينِ  رواه الدارقطني

Dari Ammar ra berkata"Aku mendapat janabah dan tidak menemukan air. Maka aku bergulingan di tanah dan shalat. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW dan beliau bersabda"Cukup bagimu seperti ini : lalu beliau menepuk tanah dengan kedua tapak tangannya lalu meniupnya lalu diusapkan ke wajah dan kedua tapak tangannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di masa shahabat atau khilafah rasyidah, para shahabat beberapa kali melakukan qiyas, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya.

a. Qiyas Had Mabuk dengan Qadzaf

Misalnya, Ali bin Abi Thalib mengqiyaskan hukuman bagi orang yang mabuk dengan orang yang melakukan tuduhan zina (qadzaf), yaitu dicambuk sebanyak 80 kali pukulan.

والّذِين يرمُون المُحصناتِ ثُمّ لم يأتُوا بِأربعةِ شُهداء فاجلِدُوهُم ثمانِين جلدةً ولا تقبلُوا لهُم شهادةً أبداً وأُولئِك هُمُ الفاسِقُون

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik   dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka  delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur : 4)

b. Menasakh Dalil

Selain praktek Qiyas, para shahabat juga melakukan praktek menggugurkan dalil yang datang terlebih dahulu dengan dalil yang datang kemudian, atau yang dikenal dengan nasakh.

Contohnya adalah naskh yang dilakukan oleh Abdullah bin Ma’usd, dimana beliau berpendapat bahwa masa iddah buat wanita yang hamil tetapi juga ditinggal mati suaminya adalah cukup sampai melahirkan saja.

Padahal aslinya, masa iddah buat wanita yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari. Dan wanita yang hamil, masa iddahnya adalah sampai melahirkan.

Setelah Islam semakin berkembang, dan mulai banyak negara yang masuk ke dalam daulah Islamiyah, maka semakin banyak kebudayaan yang masuk, dan menimbulkan pertanyaan mengenai budaya baru ini yang tidak ada di zaman Rasulullah.

Maka para ulama ahli Ushul Fiqih menyusun kaidah sesuai dengan gramatika bahasa Arab dan sesuai dengan dalil yang digunakan oleh ulama penyusun Ilmu Fiqih.

Usaha pertama dilakukan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i (150-204 H) rahimahullah dalam kitabnya Arrisalah. Dalam kitab ini beliau membicarakan banyak hal terkait dengan kaidah-kaidah dalam menarik kesimpulan hukum syariah. Beliau membahas tentang Al-Quran, juga tentang kedudukan Al-Hadits, Ijma dan Qiyas sebagai sumber utama. Dan beliau juga membahas pokok-pokok peraturan mengambil hukum.

Usaha yang dilakukan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i ini merupakan batu pertama dari Ilmu Ushul Fiqih, yang kemudian dilanjutkan oleh para ahli Ushul Fiqih sesudahnya.

Para ulama Ushul Fiqih dalam pembahasannya mengenai Ushul Fiqih tidak selalu sama, baik tentang istilah-istilah maupun tentang jalan pembicaraannya. Karena itu maka terdapat dua golongan yaitu : golongan Mutakallimin dan golongan Hanafiyah.

a. Golongan Mutakallimin

Golongan Mutakallimin dalam pembahasannya selalu mengikuti cara-cara yang lazim digunakan dalam ilmu kalam, yaitu dengan memakai akal-pikiran dan alasan-alasan yang kuat dalam menetapkan peraturan-peraturan pokok (ushul), tanpa memperhatikan apakah peraturan-peraturan tersebut sesuai dengan persoalan cabang (furu') atau tidak. Di antara kitab-kitab yang ditulis oleh golongan ini adalah;

  • Al-Mu'tamad oleh Muhammad bin Ali
  • Al-Burhan oleh Al-Juwaini
  • Al-Mustashfa oleh Al-Ghazali
  • Al-Mahshul oleh Ar-Razy

b. Golongan Hanafiyah

Golongan Hanafiyah dalam pembahasannya selalu memperhatikan dan menyesuaikan peraturan-peraturan pokok (ushul) dengan persoalan cabang (furu').

c. Penyatuan

Setelah kedua golongan tersebut muncullah kitab pemersatu antara kedua aliran tersebut di antaranya adalah;

  • Tanqihul Ushul oleh Sadrus Syari'ah
  • Badi'unnidzam oleh As-Sa'ati
  • Attahrir oleh Kamal bin Hammam
  • Al-Muwafaqat oleh As-Syatibi

Selain kitab-kitab tersebut di atas, juga terdapat kitab lain yaitu, Irsyadul Fuhul oleh As-Syaukani, Ushul Fiqih oleh Al-Khudari.

Terdapat juga kitab Ushul fiqih dalam bahasa Indonesia dengan nama "Kelengkapan dasar-dasar fiqih" oleh Prof. T.M. Hasbi As-Shiddiqi.

D. Ruang Lingkup Ilmu Ushul Fiqih

Ruang lingkup pembahasan Ilmu Ushul Fiqih sebenarnya cukup luas, mulai dari sumber-sumber hukum fiqih hingga proses bagaimana kesimpulan hukum itu diambil, lewat beragam metode yang ada.

Secara garis besar, bidang kajian di dalam ilmu ushul fiqih terbagi menjadi dua, yaitu kajian tentang dalil dan tentang hukum. Kajian tentang dalil terbagi menjadi dua macam, yaitu dalil hukum syariah dan dalil lafadz. Dan kajian tentang hukum juga terbagi menjadi dua, yaitu hukum-hukum taklifi dan hukum wadh’i.

Dalil-dalil hukum syariah adalah dalil-dalil yang digunakan untuk mengambil kesimpulan hukum. Oleh para ulama, dalil-dalil yang bisa digunakan untuk mengambil kesimpulan ini dibagi menjadi dua, berdasarkan kekuatannya. Pertama dalil yang telah disepakati oleh para ulama. Kedua, adalah dalil yang tidak disepakati oleh mereka.

a. Dalil Yang Muttafaq

Yang dimaksudkan ke dalam dalil yang muktamad adalah dalil yang disepakati kemutlakannya oleh para ulama, yaitu mencakup :

  • Al-Quran Al-Karim
  • As-Sunnah An-Nabawiyah
  • Al-Ijma
  • Al-Qiyas

Keempat dalil yang disepakati ini akan kita bahas nanti dalm bab-bab tersendiri, khususnya pada bagian kedua dari buku ini.

b. Dalil Yang Mukhtalaf

Dalil-dalil hukum syariah yang mukhtalaf adalah dalil-dalil yang tidak diterima secara bulat oleh para ulama untuk dijadikan sumber atau metode dalam menarik kesimpulan hukum. Maksudnya sebagian ulama menggunakan dalil-dalil itu dalam proses pengambilan hukum, namun sebagian yang lain tidak memakainya.

Di antara dalil yang masih mukhtalaf antara lain :

  • Al-Masalih Al-Mursalah
  • Al-Istidlal
  • Al-Istish-hab
  • Saddu Adz-Dzari’ah
  • Al-Istihsan
  • Al-'Urf
  • Syar'u Man Qablana
  • Amalu Ahlil Madinah
  • Qaul Shahabi.

Pada bagian kedua dari buku ini, masing-masing dalil itu juga akan kita bahas secara lebih rinci dan detail, berikut dengan contoh-contohnya.

Selain mengkaji dalil-dalil hukum, ilmu Ushul Fiqih juga membahas tentang dalil-dalil lafadz. Dalil lafadz terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu :

a. Al-Amru wa An-Nahyu

Bidang (الأمر والنهي) membahas tentang lafadz-lafadz dalam nash Quran dan Hadits terkait dengan bentuk perintah dan larangan.

b. Al-‘Aam wa Al-Khash

Bidang (العام والخاص) membahas tentang lafadz-lafadz dalam nash Quran dan Hadits terkait dengan hal yang berlaku umum atau berlaku khusus.

c. Al-Muthlaq wa Al-Muqayyad

Bidang (المطلق والمقيض) membahas tentang lafadz-lafadz dalam nash Quran dan Hadits terkait dengan sesuatu yang sifatnya mutlak atau bersyarat.

d. Al-Manthuq wa Al-Mafhum

Bidang (المنطوق والمفهوم) membahas tentang lafadz-lafadz dalam nash Quran dan Hadits terkait dengan apa yang tertuang secara tekstual dan apa yang dipahami di balik itu.

Ilmu Ushul Fiqih juga membahas masalah hukum, yang secara umum terbagi menjadi dua macam, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.

Hukum taklifi, yaitu hukum yang terkait dengan beban syariat yang dipikulkan di pundak tiap mukallaf. Hukum taklifi ini oleh para ulama disebut terdiri dari lima jenis, yaitu wajib, mandub atau sunnah, mubah, makruh dan haram.

a. Wajib

Wajib adalah hukum yang berlaku pada suatu masalah, dimana orang yang melakukannya akan mendapat pahala, dan orang yang meninggalkannya akan mendapat dosa.

Contohnya adalah shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat bagi orang yang sudah memenuhi syarat wajib, dan sebagainya.

b. Sunnah atau Mandub

Sunnah atau mandub adalah hukum yang berlaku pada suatu masalah, dimana orang yang melakukannya akan mendapat pahala, dan tetapi orang yang meninggalkannya tidak akan mendapat dosa.

Contohnya adalah mengerjakan shalat tahajjud, dhuha, tahiyatul masjid, qabilyah dan ba’dyah. Atau mengerjakan puasa tiap hari Senin dan Kamis, puasa tiga hari tiap bulan, dan juga puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah.

c. Mubah

Mubah adalah hukum yang berlaku pada suatu masalah, dimana orang yang melakukannya atau tidak melakukannya, tidak akan mendapat pahala atau dosa.

Contohnya adalah makan dan minum yang halal, bermuamalah yang halal, dan segala bentuk aktifitas kehidupan yang tidak ada perintahnya tapi juga tidak ada larangannya.

d. Makruh

Makruh adalah hukum yang berlaku pada suatu masalah, dimana orang yang melakukannya tidak mendapat dosa, dan orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala.

Contohnya adalah melakukan perceraian atas ikatan suami istri.

e. Haram

Haram adalah hukum yang berlaku pada suatu masalah, dimana orang yang melakukannya akan mendapat dosa, dan orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala.

Contohnya adalah minum khamar, makan uang riba, korupsi, melakuan suap, berzina, berjudi, menyembah berhala dan lainnya.

Sedangkan hukum wadh’i adalah khitab syari’ atau ketentuan Allah yang terkait dengan sebab, syarat dan menghalang.

a. Sebab

Contoh dari sebab adalah : datangnya bulan Ramadhan sebagai sebab wajibnya puasa. Dan tergelincirnya (zawal) matahari sebagai sebab wajibnya shalat Dzhuur. Atau adanya hubungan kekerabatan sebagai sebab hubungan waris.

b. Syarat

Contoh dari syarat adalah : usia baligh menjadi syarat berakhirnya kekuasaan wali dan cakap adalah syarat bolehnya melakukan beberapa transaksi.

c. Penghalang

Contoh penghalang dalam hukum misanya status bapak adalah penghalang diberlakukannya hukum qishash baginya jika dia membunuh anaknya dengan sengaja.

Keadaan seseorang yang gila menjadi penghalang dari diberlakukannya hukuman atas pelaku pembunuhan.

Status penerima wasiat sebagai ahli waris adalah penghalang baginya menerima wasiat.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:53 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img