All | 1. Muqaddimah > Bagian 2. Sumber-Sumber Fiqih 1. Sumber-Sumber Fiqih

Bab 1 : Sumber-Sumber Fiqih

A. Pengertian
Yang dimaksud dengan sumber-sumber fiqih adalah dalil-dalil syariah yang digunakan oleh para mujtahid dalam melakukan istimbath hukum.
Makna dari kata dalil (دليل) dalam bahasa Arab adalah :

المـُرشِدُ وَالهَادِي إِلَى شَيءٍ حِسِّيٍّ أَو مَعَنِوِيٍّ خَيرٍ أَو شَرٍّ

Yang mengarahkan dan memberi petunjuk kepada sesuatu, baik bersifat lahiriyah atau maknawiyah, baik bersifat kebaikan atau keburukan.

Istilah syar'i merupakan sifat dari kata syariah (شريعة), yang artinya sesuatu yang bersifat kesyariahan. Sebagaimana kata dzahab (ذهب) yang berarti emas, maka kata dzahabi (ذهبي) berarti sesuatu yang bersifat keemasan.

Maka makna istilah dalil syar'i (الدليل الشرعي) adalah :

كُلُّ مَا يُستَفَادُ حُكم شَرعِيّ عَمَلِيّ سَوَاءٌ بِطَرِيقِ القَطعِ أَوِ الظَّنِّ

Segala dalil yang bermanfaat dalam menetapkan hukum syariah yang bersifat amaliyah, baik dengan jalan yang qath'i atau dhzanni.

Kalau kita menyebut dalil syar'i, maka kita membedakannya dengan dalil-dalil yang lain, seperti dalil logika, dalil matematika, dalil sain, dan dalil-dalil lainnya.

B. Pentingnya Mempelajari Sumber Fiqih

Sebuah pertanyaan menarik, kenapa kita perlu mempelajari sumber-sumber fiqih? Bukankah masalah itu bisa kita serahkan kepada para fuqaha dan mujtahid, biar kita sebagai orang awam tinggal menerima hasil akhirnya saja.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dijadikan jawaban.

Fatwa ulama yang dihasilkan lewat ijtihad yang mereka lakukan seringkali belum memuaskan orang yang meminta fatwa. Sehingga terkadang orang yang meminta fatwa masih penasaran untuk kembali bertanya kepada ulama yang lain, siapa tahu ada opini yang berbeda.

Salah satu sebab keraguan yang muncul biasanya karena fatwa itu tidak diiringi dengan dalil-dalil syar'i yang mencukupi. Orang yang minta fatwa hanya diberikan hasil akhir, misalnya hukum mengerjakan perbuatan ini haram, dan hukum itu halal, titik. Mereka kurang diajak untuk mengetahui proses bagaimana fatwa itu dilahirkan, mulai dari hulu hingga hilir.

Untuk itu tidak ada salahnya, meski pun orang awam, asalkan mereka membutuhkan, diberikan sedikit wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana proses lahirnya suatu fatwa itu dilakukan. Tentu hal ini bukan merupakan kewajiban, namun setidaknya hal seperti ini bisa menjadi ajang untuk mengajarkan ilmu syariah kepada umat Islam.

Dan hal itu secara tidak langsung akan membuat orang yang menerima fatwa itu semakin yakin dan mantab dengan fatwa yang mereka terima.

Selama ini umumnya orang awam dan ilmunya pas-pasan, hanya mengenal dua sumber hukum dalam Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Dan hadits yang paling sering diulang-ulang adalah hadits tentang Rasulullah SAW mewasiatkan keduanya.

لقد تركتُ فِيكُم أمرينِ لن تضِلُّوا أبدًا ما إِن تمسّكتُم بِهِما: كِتاب اللهِ وسُنّةِ رسُولِهِ

Sungguh telah aku tinggalkan dua hal yang tidak akan membuatmu sesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah rasulnya. (HR Malik)

Hadits ini tidak salah, namun seringkali dipahami secara kurang utuh oleh kebanyak umat Islam. Seolah-olah hadits ini membatasi bahwa sumber hukum Islam hanya sebatas Al-Quran dan As-Sunnah saja. Dan di luar keduanya, tidak diakui sebagai sumber hukum Islam.

Tentu pemahaman seperti ini keliru dan menyesatkan. Dan oleh karena itu menjadi tugas para ulama untuk meluruskan paham keliru dan sesat ini.

Semua sumber fiqih yang digunakan oleh para ulama dalam melakukan istimbath hukum adalah sumber-sumber yang sangat kuat dan memiliki dasar yang merupakan perintah dari Allah SWT dan Rasulullah SAW juga.

Meski pun ada sumber hukum yang disepakati dan ada yang tidak disepakati, namun kita tidak bisa menafikan begitu saja sumber-sumber hukum itu. Sebab dalam kenyataannya, ada begitu banyak praktek syariah Islam yang terlanjur kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari, ternyata ditegakkan di atas sumber fiqih yang diperselisihkan oleh para ulama.

Sejak zaman Nabi SAW masih hidup, beliau sudah memberi isyarat tentang terbatasnya jumlah ayat Al-Quran dan As-Sunnah. Hal itu terungkap dalam dialog beliau SAW dengan Muaz bin Jabal saat diutus ke negeri Yaman, sebuah negeri yang saat itu belum menjadi negeri Arab dan penduduknya memeluk agama nasrani.

كيف تقضيِ إِذا عُرِض لك قضاء ؟  قال : أقضِي بكِتابِ اللهِ .قال : فإِن لم تجِد فيِ كتِابِ اللهِ ؟ قال : فبِسُنّةِ رسُولِ اللهِ  قال : فإِن لم تجِد فيِ سُنّةِ رسُولِ الله  ولا فيِ كتِابِ الله ؟ قال : أجتهِدُ رأيِ ولا آلو . فضرب رسُولُ اللهِ  صدرهُ وقال : الحمدُ لِلّه الّذِي وفق رسُولُ رسُولِ اللهِ لِما يرضي رسُولُ اللهِ

Dari Muaz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya,"  Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muaz menjawab, saya akan putuskan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali, bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Allah? Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah, jawab Muaz. Rasulullah bertanya kembali, jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Muaz menjawab, saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan. Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya seraya bersabda,"Segala puji bagi Allah yang telah menyamakan utusan dari utusan Allah sesuai dengan yang diridhai Rasulullah (HR Abu Daud)

Kalau di masa Rasulullah SAW saja sudah bisa diprediksi bahwa akan ada banyak permasalahan yang tidak bisa dengan secara langsung dipecahkan lewat Al-Quran dan As-Sunnah sehingga dibutuhkan ijtihad, maka di masa kita hidup ini, 14 abad kemudian, di negeri yang berjarak 9.000 km dari Mekkah dan Madinah, tentu jauh lebih kompleks lagi masalahnya.

Maka kalau hanya berkutat dengan teks-teks Al-Quran dan As-Sunnah, tanpa memperhatikan sumber-sumber hukum yang lain, kita akan sangat kekurangan dalil.

C. Sumber Fiqih Yang Disepakati
Yang dimaksud dengan sumber-sumber fiqih yang disepakati adalah bahwa semua ulama dari berbagai mazhab sepakat untuk menggunakan sumber fiqih itu dalam melakukan istimbath atau menarik kesimpulan hukum.

Sumber-sumber fiqih yang telah disepakati secara bulat oleh para ulama ada empat, yaitu :

  • Al-Quran Al-Karim
  • As-Sunnah atau Hadits
  • Al-Ijma'
  • Al-Qiyas

Pada bab-bab selanjutnya kita akan bahas satu per satu masing-masing sumber hukum dalam syariat Islam ini secara rinci.

D. Sumber Fiqih Yang Tidak Disepakati
Yang dimaksud dengan sumber-sumber fiqih yang tidak disepakati atau yang mukhtalaf adalah sumber-sumber fiqih selain Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

Disebut mukhtalaf (diperselisihkan) karena tidak semua mujtahid menjadikan sumber-sumber ini sebagai rujukan dalam berijtihad. Sebagian mujtahid menggunakannya namun sebagian yang lain tidak menggunakannya.

Selain disebut sumber yang mukhtalaf, sumber-sumber ini juga sering disebut sumber-sumber sekunder, atau sumber tambahan. Karena posisinya jauh di bawah sumber yang empat dan utama.

Dalam penerapannya, kenapa kita menyaksikan begitu banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama, ternyata salah satunya karena perbedaan dalam menggunakan sumber hukumnya.

Setidaknya ada lebih dari delapan sumber yang statusnya bisa menjadi sumber hukum, namun tidak disepakati secara bulat. Artinya, hanya sebagian ulama saja yang menggunakannya, sementara barangkali ulama yang lain tidak menggunakannya.

Masing-masing sumber itu ada banyak, di antaranya yang sering digunakan adalah :

  • Al-Mashalih Al-MursalahAl-Istishhab
  • Saddu Adz-Dzari’ah
  • Al-'Urf
  • Qaul Shahabi
  • Amalu Ahlil Madinah
  • Syar'u Man Qablana
  • Al-Istihsan

Sebagai contoh, amalu ahlil madinah adalah sumber hukum yang digunakan di dalam mazhab Al-Malikiyah. Namun tiga mazhab lainnya tidak menjadikannya sebagai sumber hukum. Insya Allah pada bab-bab selanjutnya kita akan bahas satu per satu masing-masing sumber hukum dalam syariat Islam ini secara rinci.

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:52 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:52 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img