Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir | rumahfiqih.com

Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir

Siti Chozanah, Lc Mon 23 January 2017 04:41 | 3001 views

Bagikan via

Berbicara seputar najis, tak sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang rumit lantaran buku-buku fiqih yang merangkum pembahasan seputar bab thaharah kurang spesifik dalam mengulasnya atau malah terlalu detail, sehingga munculah kebingungan dalam mengidentifikasi jenisnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, bab Thaharah (kesucian) adalah hal yang nyaris tidak pernah lepas dari setiap individu kita, mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas, hingga tidur lagi. Dalam perjalanan dari rumah menuju kantor, pasar, sekolah, bahkan di dalam rumahpun kadang kita tidak tau apakah ada benda-benda najis yang telah mengenai pakaian atau tubuh kita.

Sekiranya telah pernah dibahas sebelumya tentang bagaimana mengidentifikasi najis yang mengenai pakaian atau tubuh kita. Maka akan sangat menarik jika pembahasan setelahnya adalah terkait ukuran-ukuran tertentu dari najis baik itu yang sifatnya mughalladzah (berat) atau mukhaffafah (ringan) yang dimaafkan bila mengenai pakaian kita.

Madzhab Hanafi

Abu Ja’far At-Thahawi dari Hanafiah mengatakan:

وإذا كان في ثوب المصلي من الدم أو القيح أو الصديد أو الغائط أو البول، أو ما يجري مجراهن من النجاسة أكثر من قدر الدرهم: لم تجزه صلاته

Dan apabila pada pakaian orang yang shalat ada darah atau nanah atau muntah atau kotoran besar atau kencing, atau yang serupa dengan itu dari benda-benda yang najis lebih besar dari koin dirham: maka tidak diperbolehkan (haram) dia mengerjakan shalat[1]

Kemudian dijelaskan rinci dalam madzhab ini, ukuran najis yang masih dimaafkan adalah:

Jika jenis najisnya adalah najis mughalladzah yang kering maka yang ditolerir adalah sebesar uang satu dirham, bila ditimbang beratnya adalah sekitar 2,975 gram[2].

Lalu, untuk najis yang basah tidak boleh lebih dari satu genggam tangan. Adapun dalil yang mereka pakai adalah perkataan Umar RA:

إذا كانت النجاسة قدر ظفري هذا لا تمنع جواز الصلاة حتى تكون أكثر منه، وظفره كان قريبا من كفنا

Apabila benda najis itu seukuran dengan kuku tanganku, maka tidak menjadi penghalang untuk melakukan shalat hingga melebihi dari ukurannya, dan sesungguhnya kuku Umar hampir seukuran dengan telapak tangan kami[3]

Jika jenis najisnya adalah najis ringan atau mukhaffafah, dan sampai kepada seperempat pakaian maka dilarang seseorang shalat menggunakan pakaian tersebut. Dalam kitab Al-Ikhtiyar li ta’lilil Mukhtar dikatakan:

والمانع من الخفيفة أن يبلغ ربع الثوب

Dan yang terlarang dari najis yang ringan adalah yang sampai seperempat pakaian[4].

Ini bermakna bahwa jika najis ringan tersebut kurang dari seperempat pakaian maka masih boleh melanjutkan shalat, sementara jika sudah sampai kepada seperempat sudah masuk kepada larangan.

Namun meskipun batas minimal tersebut ditolerir untuk mendirikan shalat, dalam Madzhab ini mengenakan pakaian tersebut untuk shalat dihukumi Makruh yang mendekati haram. Maka harus diusahakan untuk dibersihkan terlebih dahulu atau menggantinya dengan yang pakaian yang suci.

Madzhab Maliki

Dikatakan dalam madzhab ini:

يعفى عن نجاسة بقدر الدرهم البغلي، سواء كانت دماً أو قيحاً أو صديداً أو أي نجاسة أخرى

Dimaafkan dari najis dengan ukuran dirham baghli, sama halnya najis itu berupa darah, atau muntah, atau nanah, atau najis lainnya[5].

والمراد بالدرهم الدرهم البغلي أشار إليه مالك.. الدائرة التي تكون بباطن الذراع من البغل

Dan yang dimaksud dengan dirham yakni dirham bighali yang dimaksud oleh imam Malik, bagian yang ada di telapak kaki keledai[6].

Disimpulkan dari redaksi di atas bahwa ukuran najis yang masih dimaafkan adalah yang seukuran titik hitam pada telapak kaki keledai dan bila melebihi ukuran tersebut sudah diharamkan untuk mengenakannya saat shalat. Namun dalam keterangan lebih rinci, bahwa dalam madzhab ini yang ditolerir hanyalah najis berupa darah, nanah, muntahan, dan sejenisnya[7].

Dalam madzhab ini juga dimaafkan segala jenis najis yang susah dihindari ketika menuju shalat dan mulai memasuki masjid. Ibnu Rusyd dari Malikiyah, dalam kitabnya bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtashid menekankan bahwa sedikit atau banyaknya najis hukumnya adalah sama, kecuali darah dan sejenisnya[8].

Madzhab Syafi’i

                Golongan madzhab ini sedikit lebih ketat daripada yang lain, secara garis besar tidak ada najis yang dimaafkan menurut mereka kecuali najis yang memang tidak bisa diindera oleh penglihatan normal kita, maka dikatakan:

وَأما مَا لَا يُدْرِكهُ الْبَصَر فيعفى عَنهُ وَلَو من النَّجَاسَة الْمُغَلَّظَة لمَشَقَّة الِاحْتِرَاز عَن ذَلِك

Adapun apa-apa yang tidak terlihat oleh penglihatan maka dimaafkan meskipun itu adalah najis yang mughalladzah karena hal tersebut susah dihindari[9].

Ditegaskan pula oleh imam Ibnu hajar Al haitami:

مَا لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ لَا يُنَجِّسُ وَإِنْ كَانَ مِنْ مُغَلَّظٍ

Apa-apa yang tidak terlihat maka tidak menajiskan meskipun itu mughalladzah[10]

Selebihnya, pada darah, nanah, darah bisul, kudis, darah pencetan jerawat, bekas darah bekam, dan darah binatang yang tidak mengalir dimaafkan pada kadar yang sedikit. Dan sedikitnya itu dikembalikan kepada adat yang berlaku di masyarakat[11].

                Tanah yang diragukan apakah telah terkena najis mughalladzah atau tidak, maka dihukumi sebagaiamana hukum asalnya, yakni suci dan bisa digunakan untuk shalat.

                Dalil yang digunakan madzhab ini adalah keumuman redaksi dalil dalam Quran tentang kemudahan bagi umat Islam. Dan kemudahan itu diraih dengan kapasitas kemampuan maksimal.

Madzhab Hanbali

                Dalam madzhab ini justru tidak ada maaf sama sekali, sedikit dan banyaknya dianggap sama. Dikatakan dalam madzhab ini:

وَلَا يُعْفَى عَنْ يَسِيرِ نَجَاسَةٍ وَلَوْ لَمْ يُدْرِكْهَا الطَّرْفُ

Dan tidak dimaafkan dari najis yang sedikit meskipun tidak diketahui oleh Indera[12].

Madzhab ini berdalil dengan keumuman dalil:

{وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ}

Dan pakaianmu maka sucikanlah (QS Al-Mudatsir: 4)

Namun, darah dan sejenisnya serta muntahan yang sedikit maka dimaafkan selama tidak bercampur dengan cairan, minuman, atau makanan, seperti halnya pendapat para imam yang lain. Maka orang yang shalat dengan pakaian berdarah yang sedikit, dan itu hanya setitik masih dimaafkan oleh madzhab ini.

                Ditolerir pula dalam madzhab ini percikan sedikit dari kencing orang yang menderita beser karena tingkat kesulitan yang dialaminya[13].

Antara Etika dan Hukum

                Berbicara tentang hukum, tentu kisarannya adalah halal atau haram, sah dan tidak sah. Namun agama tidak cukup dipandang dari sudut itu saja, kadang kita perlu menggabungkanya dengan etika dalam beribadah. Kadang ada hal yang sah saja secara syariat untuk kita lakukan, namun tidak etis dipandang. Kaitannya dengan pemaparan ijtihad para ulama madzhab di atas, adalah selama kita mampu untuk beribadah dengan keadaan yang baik secara maksimal kenapa tidak? Jika dalam perjalanan bisa membawa pakaian ganti yang khusus untuk shalat maka hal itu tentu menjadi pilihan terbaik bagi kita. Itulah kenapa sekalipun hal di atas masih ditolerir, namun masih ada yang menghukuminya makruh.

Wallahu a’lam bisshowab

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Imam AL Jishoh Al hanafi. Syarhu Mukhtasor At Thahawi. 2/32

[2] Lihat: Al mausu’ah al fiqhiyyah al kuwaitiyyah. 32/344. Lihat juga: al fiqhu al islamiy wa adillatuhu. 1/322 (ada pula yang mengatakan 1 dirham adalah seberat 3,17 gm untuk najis yang kering)

[3] Majduddin Abul Fadl AL Musili Al hanafi. Al-Ikhtiyar li ta’lilil Mukhtar. 1/31

[4] ibid

[5] Al hajah Kaukab Abid. Fiqhul Ibadat ala-l-madzhabi al-Maliki. 135

[6] Al Hithab Ar Ruainiy. Mawahibul jalil fi Syarhi Mukhtashar al Khalil. 1/147

[7] al fiqhu al islamiy wa adillatuhu. 1/323

[8] Ibnu Rusyd. Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid. 1/88

[9] Khatib Asy-Syarbini. Al-Iqna’ fi Hilli alfadzi Abi Syuja’. 1/91

[10] Ibnu hajar Al Haitami. Tuhfatul Muhtaj. 2/135

[11] al fiqhu al islamiy wa adillatuhu. 1/326

[12] Ibnu Hasan bin Idris AL Bahuti. Kasyaful Qina’ ‘an mutunil Iqna’. 1/190

[13] Lihat: al fiqhu al islamiy wa adillatuhu. 1/330

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bolehkah Seorang Wanita Haid Membaca Al-Quran?
Faisal Reza | 18 January 2017, 15:08 | 2.513 views
Hukum Menghibahkan Seluruh Harta Untuk Ahli Waris
Siti Chozanah, Lc | 15 January 2017, 22:21 | 1.590 views
Kembali Kepada Al-quran dan Hadist, Seperti Apa?
Firman Arifandi, LLB | 14 January 2017, 16:07 | 3.090 views
Sunahkah Mengumandangkan Adzan Saat Menguburkan Jenazah?
Faisal Reza | 10 January 2017, 10:22 | 1.855 views
Hukum Melafadzkan Niat
Galih Maulana, Lc | 8 January 2017, 16:57 | 1.719 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?
Siti Chozanah, Lc | 12 May 2017, 22:32 | 844 views
Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir
Siti Chozanah, Lc | 23 January 2017, 04:41 | 3.001 views
Hukum Menghibahkan Seluruh Harta Untuk Ahli Waris
Siti Chozanah, Lc | 15 January 2017, 22:21 | 1.590 views
Sedekah Dengan Harga Perak Dari Timbangan Rambut Bayi
Siti Chozanah, Lc | 4 January 2017, 08:23 | 1.147 views
Memandang Wajah Wanita yang Bukan Mahram
Siti Chozanah, Lc | 17 December 2016, 18:27 | 1.450 views
Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
Siti Chozanah, Lc | 27 June 2013, 10:45 | 549 views