Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2) | rumahfiqih.com

Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)

Tajun Nashr, Lc Mon 15 May 2017 05:00 | 736 views

Bagikan via

Abu Hanifah ; Bintangnya Ulama dan Pengusaha Idaman

Ketika memutuskan untuk serius bergelut di dunia ilmu beliau tidak serta merta meninggalkan dunia perniagaan yang sudah beliau geluti sejak kecil. Namun, porsi waktu serta fikiran yang beliau curahkan agak dikurangi. Sehingga dalam hal ini beliau lebih memilih al-jam’u (menggabungkan dua pilihan) daripada at-tarjih (memilih salah satu pilihan).

Salah satu kecerdikan beliau dalam memadukan dua hal ini adalah dalam mengelola perniagaannya beliau tidak mengelolanya secara langsung, namun bekerja sama dengan orang lain, dalam perniagaannya beliau bekerja sama dengan Hafsh bin Abdirrahman. Dia berperan sebagai partner kerja yang membantu Abu Hanifah dengan tulus. Kedudukan Hafsh sebagai wakil dari perniagaan yang dilakukan Abu Hanifah. Sementara peran yang diambil oleh Abu Hanifah sendiri adalah memantau perdagangannya agar senantiasa berada para lingkaran muamalah yang halal.

Dengan membagi peran seperti ini, maka beliau pun bisa fokus untuk memperdalam dan mengajarkan ilmu, namun di sisi lain perniagaan yang beliau miliki tetap tertangani dengan baik. Bahkan bisa dikatakan sangat ideal, sebab untuk operasional perniagaan sudah ada manajer handal yang menanganinya, di sisi lain ada seorang faqih yang mengawasi jalannya perniagaan tersebut agar berjalan di rel yang benar.

Syaikh Abu Zahroh menggambarkan bagaimana rapinya manajemen waktu yang diterapkan oleh Abu Hanifah dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari. Digambarkan bahwa dalam 1 minggu beliau gunakan 5 hari untuk aktivitas mengajar dan berdagang, dimana beliau pergi ke pasar mulai waktu dhuha sampai menjelang dhuhur, setelah itu digunakan di majelis ilmu. Setiap hari Jum’at beliau mengadakan pertemuan dengan rekan-rekannya untuk jamuan makan. Dan ada 1 hari khusus yang beliau gunakan sebagai hari libur untuk melakukan aktivitas domestik di rumah.

Selain itu Syaikh Abu Zahroh juga menyebutkan bahwasanya sebagai pengusaha idaman beliau memiliki sifat-sifat istimewa antara lain :

  1. Beliau bukan tipe pengusaha tamak yang menghalalkan segala cara untuk meraih keungungan sebanyak-banyaknya. Hal ini karena sejak kecil beliau hidup
  2. Beliau sangat menjunjung tinggi amanah (professionalitas) dalam perniagaan yang dilakukan. Banyak yang menyamakan beliau dengan Abu Bakr As-Shiddiq dalam hal keamanahan dalam perniagaannya.
  3. Beliau terkenal cukup luwes dan kompromistik dalam bertransaksi, terutama ketika menyangkut hak orang lain.
  4. Beliau memandang perniagaan bukan semata hubungan antara sesama manusia, namun lebih jauh dari itu beliau memandang bahwasanya muamalah yang baik merupakan salah satu bentuk puncak ibadah.

Ada banyak kisah yang menunjukkan sifat-sifat mulia yang beliau miliki di atas. Salah satu contohnya adalah pada suatu hari ada seorang wanita lemah yang datang menemui beliau dan berkata, “Aku perempuan yang lemah, namun aku menginginkan baju ini, berapakah engkau menjualnya?” “Harganya hanya 4 dirham saja bu.” “Apakah engkau hendak menghinaku, padahal aku sudah tua?”

“Sama sekali tidak. Sebelumnya aku membeli dua helai baju, lalu  salah satunya aku jual kembali dengan total harga beli dua baju tadi dikurangi 4 dirham. Maka sisa harga 4 dirham tadi aku tetapkan sebagai harga baju ini.”

Kisah di atas menggambarkan betapa Abu Hanifah memiliki jiwa penolong yang tinggi, namun cara menolong yang dia gunakan adalah cara yang cerdas. Dan di sisi lain beliau tetap mendapatkan keuntungan dari transaksi yang dia lakukan sebelumnya.

 Pada kesempatan yang lain beliau pernah berpesan kepada partnernya agar menjelaskan aib dari beberapa baju yang akan dijualnya. Namun ketika partnernya sudah menjual baju tersebut ternyata dia lupa membeberkan aib tadi, ketika mengetahui hal tersebut maka Abu Hanifah pun memutuskan untuk menshadaqahkan seluruh baju tadi.

Ini menunjukkan betapa wara’ nya beliau dan menjauhi perkara-perkara syubhat, meskipun cukup samar-samar. Meskipun demikian, perniagaan yang beliau jalankan ternyata cukup menghasilkan keuntungan yang banyak. Sebagian dari keuntungan tersebut beliau infaqkan kepada para ulama dan ahli hadits pada zaman itu.

Keuntungan yang beliau kumpulkan bertahun-tahun tersebut beliau gunakan untuk membeli kebutuhan pangan dan pakaian mereka, lalu uang yang masih tersisa tersebut beliau donasikan kepada mereka. Beliau berkata, “Gunakanlah uang ini untuk kebutuhan kalian, dan jangan berterima kasih kecuali kepada Allah saja, sebab aku sama sekali tidak memberikan apa-apa kepada kalian dari hartaku, karena harta tersebut adalah harta Allah.

Dengan sifat-sifat yang dimiliki tersebut maka Imam Abu Hanifah pun menjadi bintang di kalangan para pengusaha di zamannya. Bagaimana tidak, bisa dikatakan bahwasanya ilmu yang beliau miliki telah menjaga dan mengarahkan beliau sehingga beliau masuk ke dalam golongan para ulama yang independen dan berwibawa. Harga diri beliau sebagai ahli fiqih terjaga dari kehinaan meminta-minta harta, apalagi jabatan dan kedudukan.

****

Sungguh sosok Imam A’dham ini merupakan sosok agung yang bisa kita jadikan sebagai teladan dalam menjalani kehidupan, khususnya para penuntut ilmu apapun madzhabnya. Perniagaan duniawi yang beliau lakukan sama sekali tidak membuat beliau lalai dari mengingat Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya :

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (An-Nur : 37)

Beliau adalah sosok yang patut diteladani bagi orang yang menginginkan menjadi seorang ahli ilmu sekaligus pengusaha. Meskipun usaha yang dijalani beromset lumayan besar namun konsentrasi dan fokus utama beliau tetap dalam bab ilmu pengetahuan, khususnya ilmu fiqih. Sehingga tidak heran beliau meninggalkan amal jariyah berupa ilmu yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang sampai saat ini.

Sungguh kurang bijak tatkala seorang penuntut ilmu ingin meneladani beliau tetapi hanya dari satu sisi saja. Sisi kepiawaian beliau dalam perdangangan. Sehingga ketika terlalu asyik dalam dunia ekonomi akhirnya mereka lupa dengan kewajiban asasi untuk mengajarkan ilmu yang dipelajari kepada orang yang membutuhkan.

Maka jika ingin meneladani Abu Hanifah, teladanilah beliau secara kaffah, teladani ilmunya,  kemandiriannya, ketaqwaan dan kewara’annya serta independensinya yang tidak mau ditekan penguasa dan lebih memilih menjalani masa tahanan penuh derita di penjara daripada hidup bergelimang kekuasaan tetapi kehilangan harta berharga berupa independensi dan kemandirian.

 

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Referensi :

  • Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, Syaikh Muhammad Abu Zahroh
  • Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi

Bagikan via


Baca Lainnya :

Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 785 views
Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?
Siti Chozanah, Lc | 12 May 2017, 22:32 | 1.272 views
Apa Setiap Manfaat yang Diambil dari Transaksi Pinjam Meminjam Itu Riba ?
Galih Maulana, Lc | 4 April 2017, 13:16 | 3.237 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 February 2017, 01:03 | 3.869 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 February 2017, 01:45 | 3.185 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Puasa Syawwal ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 30 June 2017, 06:37 | 837 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)
Tajun Nashr, Lc | 15 May 2017, 05:00 | 736 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 785 views
Qunut Nazilah ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 7 January 2017, 05:00 | 1.479 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 1.292 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 1.058 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan