Puasa Syawwal ; Apa dan Bagaimana | rumahfiqih.com

Puasa Syawwal ; Apa dan Bagaimana

Tajun Nashr, Lc Fri 30 June 2017 06:37 | 611 views

Bagikan via

Dalam tradisi di masyarakat jawa dikenal kebiasaan Lebaran Ketupat atau bahasa jawanya ‘Riyoyo Kupat’, di mana pada hari tersebut –yang umumnya dilaksanakan pada hari ke-8 atau awal minggu kedua bulan Syawwal- orang-orang akan membuat ketupat untuk di makan bersama-sama keluarga.

Lebaran ketupat ini sebenarnya hanya tradisi lokal saja, dan tidak ada kaitannya sama sekali secara syar’i dengan hari raya Idul Fitri.

Ini hanyalah kebiasaan masyarakat jawa untuk ‘berhari raya’ lagi usai melaksanakan puasa Syawwal 6 hari secara berturut-turut dimulai sejak hari kedua bulan Syawwal.

Kebiasaan berpuasa berturut-turut 6 hari langsung setelah hari pertama Idul Fitri ini jika ditelusuri di kitab-kitab fiqih klasik ternyata merupakan pendapat dari madzhab as-Syafi’i yang berpendapat bahwa cara ini lebih afdhal daripada berpuasa secara terpisah.

Namun akhir-akhir ini, kebiasaan lebaran ketupat ini dalam pelaksanaannya ternyata tidak menunggu 8 Syawwal lagi.

Ada yang pada hari pertama atau kedua sudah membuat ketupat. Setali tiga uang dengan lebaran ketupat, ternyata kebiasaan puasa Syawwal yang dilaksanakan langsung pada hari kedua pun sudah jarang yang melakukan kebiasaan ini, meskipun mayoritas ummat islam di Indonesia bermadzhab Syafi’i.

Bahkan, penulis justru menemui orang yang melakukan kebiasaan ini justru dari kalangan tertentu yang diisukan ‘tidak bermadzhab’.

Meskipun hal tersebut juga tidak salah, karena ulama di madzhab lain ada yang berpendapat bahwa puasa yang dilakukan secara berturut-turut tidak lebih afdhal dari yang terpisah, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dilakukan secara terpisah.

Untuk lebih jelasnya permasalahan mengenai puasa Syawwal dan serba-serbinya akan dibahas pada artikel berikut ini :

Keutamaan Puasa Syawwal

Para ulama dari madzhab Syafi’i dan Hanbali menjelaskan bahwa puasa 6 hari di bulan syawwal ditambah puasa Ramadhan pahalanya setara dengan berpuasa wajib selama satu tahun penuh.[1]

Hal ini karena satu kebaikan pahalanya dihitung sepuluh kali lipatnya. Penjelasan para ulama di atas sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini :

عن ثوبان - رضي الله تعالى عنه - قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : صيام شهر رمضان بعشرة أشهر وستة أيام بعدهن بشهرين ، فذلك تمام سنة

“Dari Tsauban -radhiyallahu anhu- beliau berkata, Nabi -shallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Puasa di bulan Ramadhan itu pahalanya setara dengan puasa satu tahun, dan puasa enam hari sesudahnya setara dengan dua bulan.” (HR. Ad-Darimi 2/21 , dengan sanad yang shahih)

 

Hukum Puasa Syawwal

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum melaksanakan puasa syawwal ini :

1. Sunnah

Ini adalah pendapat dari mayoritas ulama madzhab Maliki, Syafi’i dan Habali. Para ulama muta’akhir al-Hanafiyyah juga berpendapat demikian.[2]

Dalil yang dipakai sebagai landasan pendapat mereka adalah hadits shahih berikut ini:

روى أبو أيوب - رضي الله تعالى عنه - قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : من صام رمضان ، ثم أتبعه ستا من شوال ، كان كصيام الدهر

Diriwayatkan oleh Abu Ayyub -radhiyallahu anhu- dia berkata, Nabi -shallahu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti (puasa) 6 hari di bulan Syawwal , maka (pahalanya) seperti berpuasa satu tahun.” (HR. Muslim 2/822)

 

2. Makruh

Ulama yang berpendapat ini pun terbagi menjadi dua pendapat :

a. Makruh secara mutlak

Pendapat ini dinukil dari Abu Hanifah, maksudnya baik puasa ini dilakukan secara berturut-turut maupun secara terpisah.

Namun pendapat para ulama madzhab Hanafi ternyata berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah dalam hal ini.

Seperti diriwayatkan dari Abu Yusuf berkata, “Yang makruh adalah ketika dilakukan secara berturut-turut dan bukan terpisah.”

Selain itu –sebagaimana yang dijelaskan pada pendapat pertama- mayoritas ulama muta’akkhir dari madzhab Hanafi justru berpendapat bahwa puasa ini hukumnya tidak apa-apa dikerjakan.[3]

Ibnu Abidin berkata (menukil dari pengarang kitab Al-Hidayah) dalam kitabnya At-Tajnis,

“Pendapat yang terpilih adalah bahwasanya hukum (puasa syawwal) itu tidak apa-apa dilakukan. Dahulu hukum puasa ini makruh karena khawatir ada yang menganggap puasa ini merupakan bagian dari Ramadhan, sehingga hal tersebut menyerupai orang-orang Nashrani[4], namun sekarang kerancuan tersebut sudah tidak ada lagi.”

Imam Al-Kâsâniy juga berpendapat bahwa hukum puasa ini menjadi makruh jika tata caranya sebagai berikut :

Berpuasa pada hari Idul Fitri (1 syawwal) kemudian dilanjutkan dengan 5 hari sesudahnya. Adapun jika pada hari Idul Fitri tidak berpuasa kemudian berpuasa 6 hari setelahnya, maka hukumnya sudah tidak makruh lagi, melainkan menjadi mustahab atau sunnah.[5]

 

b. Makruh dengan beberapa ketentuan

Pendapat ini adalah pendapat dari madzhab Maliki dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

a. Bagi orang yang menganggap wajib atau ditakutkan dia akan menganggapnya wajib jika dia berpuasa.

b. Bagi orang yang menyambungnya langsung setelah puasa Ramadhan secara berturut-turut dan menampakkan bahwa dia berpuasa kepada khalayak umum.

c. Bagi orang yang meyakini tentang kesunnahan menyambung puasa ini secara langsung dengan puasa Ramadhan.[6]

Dengan kata lain, jika tidak terdapat hal-hal di atas, maka hukum puasa Syawwal yang dilakukan menjadi mustahab.

Al-Hathab berkata, dia berkata di kitab Al-Muqaddimat, “Imam Malik berpendapat tentang makruhnya puasa Syawwal. Hal ini dikarenakan beliau khawatir orang-orang yang kurang ilmunya akan menganggapnya sebagai bagian dari puasa Ramadhan, padahal bukan. Adapun bagi orang yang berpuasa secara samar-samar (tidak menampakkan kepada khalayak maka dia diperbolehkan untuk berpuasa.”[7]

 

Alasan dari pendapat ini

Dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Imam An-Nawawi menyebutkan alasan yang digunakan oleh pendapat ke dua ini disertai bantahannya.

- Karena banyak ulama yang tidak mengerjakan hal ini, sebagaimana perkataan Imam Malik dalam Al-Muwattha’ : “Aku tidak pernah melihat melihat seorang pun dari ahlul ilmu melakukan puasa ini.”

- Alasan kedua mereka menghukumi puasa ini makruh adalah supaya tidak ada yang menyangka bahwa hukum puasa ini wajib, terutama dari kalangan orang awwam.

*Bantahan*

- Jika telah ada dalil yang kuat dari as-Sunnah maka sebuah ibadah tidak boleh ditinggalkan hanya karena ada sebagian kecil, sebagian besar maupun semua orang yang meninggalkannya.

- Perkataan mereka : “…Khawatir orang-orang menyangka hukum puasa ini wajib,” Ini bisa dipatahkan dengan telah dilaksanakannya jenis puasa lain seperti puasa ‘Asyura, Arafah dan yang lain dan semua orang tetap meyakini bahwa hukumnya sunnah bukan wajib.[8]

 

 Tata Cara Puasa Syawwal

Para ulama berbeda pendapat mengenai mana yang lebih afdhal pelaksanaannya, apakah dilaksanakan secara berturut-turut ataukah secara terpisah. Berikut ini rinciannya :

1 - Menurut madzhab Syafi’i dan sebagian ulama madzhab Hanabi puasa ini lebih afdhal jika dilaksanakan langsung setelah hari Idul Fitri (hari pertama) dan secara berturut-turut.

Hal ini sebagai bentuk bersegera dalam melaksanakan ibadah, dan mengakhirkan hal ini bisa menimbulkan kekacauan.[9]

2 - Mayoritas ulama Hanabi tidak membedakan (dalam hal keutamaan) antara puasa berturut-turut maupun puasa secara terpisah.

3 - Menurut madzhab Hanafi disunnahkan untuk berpuasa secara terpisah, yaitu setiap satu minggu berpuasa selama dua hari.[10]

4 - Menurut madzhab Maliki berpendapat makruh hukumnya berpuasa jika dilakukan bersambung dengan puasa Ramadhan dan dilaksanakan secara berturut-turut.[11]

 

Apakah boleh berpuasa Syawwal di luar bulan Syawwal ?

Dilihat dari namanya saja, tentu bisa dipahami bahwa puasa syawwal itu dilakukan di bulan Syawwal.

Namun ternyata terjadi perbedaan pendapat tentang apakah boleh melaksanakan puasa Syawwal di luar bulan Syawwal. Berikut ini rincian pendapat dari para ulama beserta alasan-alasan mereka :

a. Madzhab Syafi’ dan Hanbali secara tegas menjelaskan bahwa jika puasa ini dikerjakan di luar Syawwal maka tidak akan ada lagi keutamaan (pahalanya), karena keutamaan tersebut akan hilang bersama berlalunya bulan Syawwal.

Hal ini berdasarkan landasan hadits yang secara jelas menunjukkan hal tersebut.[12]

b. Namun para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa orang yang berpuasa di luar bulan Syawwal akan tetap mendapatkan keutamaan puasa ini.

Bahkan mereka menganjurkan agar puasa ini dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah.

Mereka berargumen bahwasanya penentuan 6 hari di bulan Syawwal sebagaimana disebutkan dalam hadits bukanlah bentuk pengkhusuan hukum yang harus dilaksanakan pada waktu itu, namun ini lebih merupakan suatu bentuk keringanan kepada para mukallaf, karena sebelumnya (pada bulan Ramadhan) telah terbiasa melakukan puasa.

Berkata al-‘Adawi, “Sebab Nabi mengatakan “…..dari bulan Syawwal…” merupakan suatu bentuk keringanan dan bukan suatu pengkhususan hukum untuk waktu tersebut. Maka tidak ada masalah jika puasa ini dikerjakan di sepuluh hari pertama bulan Dzul hijjah sebagaimana terdapat riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan puasa pada hari-hari tersebut. Hal ini karena telah tercapainya tujuan dari disyari’atkannya puasa ini…”

Beliau juga menambahkan, “Bahkan jika puasa ini dikerjakan pada bulan Dzul Qa’dah juga baik.

Kesimpulannya, semakin jauh waktu pengerjaan puasa ini (dari bulan Ramadhan) maka pahalanya akan semakin banyak dikarenakan semakin beratnya kesulitan yang dihadapi.”[13]

***

 

Demikian sekilas pembahasan tentang Puasa 6 hari di bulan Syawwal. Semoga pembahasan singkat tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca. Dan semoga kebiasaan-kebiasaan baik (sunnah) seperti ini bisa terus dihidupkan di tengah-tengah masyarakat kita.

Sehingga bulan Syawwal tidak hanya identik dengan bulan hari raya Idul Fitri ataupun bulan walimah semata, namun bulan ini juga tidak bisa dilepaskan dengan syari’at puasa 6 hari yang pahalanya jika digabungkan dengan puasa Ramadhan maka akan setara dengan pahala berpuasa selama 1 tahun penuh.

 

=======

Referensi :

[1] Lihat : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 28/92. cet. Ke-2 .1404 H/1983 M. Penerbit : Kementrian wakaf dan urusan keislaman

[2] Lihat : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 28/92,Mughni Al-Muhtaj Syarh Minhaj Ath-Thalibin 1/447 Darul Fikr. Kassyafu Al-Qina’ 2/337 – Maktabah An-Nashr Al-Hadits Riyadh

[3] Lihat : Al-Fatawa Al-Hindiyyah 1/201. Cet. Darul Fikr

[4] Terdapat syari’at puasa bagi orang nashrani di dalam agama mereka sebanyak 40 hari.

[5] Lihat : Badai’ as-Sanai’ 2/78 cet. Al-Maktabah Al-Ilmiyyah – Beirut.

[6] Lihat : Hasyiyah Ad-Dusuqi ‘ala As-Syarhi Al-Kabir1/517 cet. Darul Fikr,

[7] Lihat : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 28/92

[8] Lihat : Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi 4/186..

[9] Lihat : Mughni Al-Muhtaj Syarh Minhaj Ath-Thalibin1/447

[10] Lihat : Lihat : Al-Fatawa Al-Hindiyyah 1/201

[11] Lihat : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah28/93.

[12] Lihat : Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah28/93. Kassyafu Al-Qina’ 2/337

[13] Lihat : Syarh Mukhtashar Al-Khalil 2/243. Cet. Dar Shadir

Bagikan via


Baca Lainnya :

Haruskah Zakat Fithr Dibagikan Merata Kepada 8 Ashnaf?
Ridwan Hakim, Lc | 19 June 2017, 22:17 | 1.865 views
Konsekuensi Bagi Ibu Hamil dan Menyusui yang meninggalkan Puasa, Qadha atau Fidyah?
Isnawati, Lc | 29 May 2017, 17:10 | 1.914 views
Tukar Menukar Kado, Boleh apa Tidak ?
Galih Maulana, Lc | 27 May 2017, 14:31 | 1.394 views
Hukum Wanita Hadir Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Ulama Empat Madzhab
Isnawati, Lc | 19 May 2017, 05:18 | 1.885 views
Haruskah Niat Puasa dengan Redaksi Khusus
Isnawati, Lc | 18 May 2017, 13:23 | 1.082 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Puasa Syawwal ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 30 June 2017, 06:37 | 611 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)
Tajun Nashr, Lc | 15 May 2017, 05:00 | 413 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 498 views
Qunut Nazilah ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 7 January 2017, 05:00 | 1.104 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 930 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 668 views