Qardh dan Dain, Jenis Utang yang Serupa Tapi Tak Sama | rumahfiqih.com

Qardh dan Dain, Jenis Utang yang Serupa Tapi Tak Sama

Muhammad Abdul Wahab, Lc Wed 30 August 2017 11:29 | 4336 views

Bagikan via

Dalam bahasa Indonesia kata utang punya makna yang umum, mencakup semua jenis utang atau pinjaman. Tetapi, kalau kita perhatikan di dalam bahasa Arab, ada dua istilah yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya sama-sama utang, tetapi dalam fiqih muamalah keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Istilah yang dimaksud adalah dain dan qardh.

Mengetahui perbedaan antara kedua istilah ini menjadi penting, karena masing-masing memiliki konsekuensi hukum yang berbeda sehingga kalau keliru mengatakan apakah suatu utang itu termasuk qardh atau dain maka kesimpulan hukumnya pun akan berbeda.

Perbedaan mendasar antara qardh dan dain terletak pada cakupan maknanya. Dain memiliki pengertian lebih umum daripada qardh. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abdin ketika mendefinisikan dain:[1]

?? ??? ?? ????? ???? ?? ??????? ??? ??? ?? ???? ?????????

"Tanggungan wajib yang dipikul seseorang, yang disebabkan oleh adanya akad, atau akibat dari menghabiskan/merusakkan (barang orang lain), atau karena pinjaman."

Artinya, menurut pengertian di atas dain itu mencakup segala jenis utang baik akibat dari suatu akad atau transaksi, seperti jual beli yang dilakukan secara kredit, akad sewa yang upahnya diakhirkan dan lain-lain. Atau akibat dari menghabiskan atau merusakkan barang orang, misalnya secara tidak sengaja kita memecahkan kaca rumah orang, maka kaca yang pecah itu menjadi tanggungan atau utang kita. Termasuk juga tanggungan karena akad qardh (utang piutang).

Maka, dain lebih umum daripada qardh. Sebab dain mencakup segala jenis utang karena sebab apapun. Sedangkan qardh adalah utang yang memang terjadi karena akad pinjaman atau utang-piutang.

Sebagai contoh untuk membedakan dain dan qardh, misalnya kita membeli sepeda motor secara kredit kepada sebuah perusahaan leasing, maka selama kredit kita belum lunas, kita punya utang kepada perusahan tersebut. Utang di sini dalam bahasa fiqihnya adalah dain, bukan qardh. Karena utang di sini bukan akibat dari akad pinjaman, melainkan dari akad jual-beli.

Sedangkan jika kita meminjam uang kepada bank, misalnya. Utang itu bisa disebut dain, bisa juga disebut qardh. Maka semua qardh adalah dain, tetapi tidak semua dain adalah qardh.

Jual Beli Kredit Vs. Riba

Di dalam sistem jual beli secara kredit, biasanya harga kredit lebih mahal daripada harga tunai. Contohnya, harga tunai sepeda motor adalah Rp 10.000.000,-, sedangkan jika dicicil selama empat tahun harganya Rp 17.000.000,- .

Jika diperhatikan seolah-olah sistem jual beli kredit ini mirip dengan sistem riba dalam pinjaman berbunga. Di mana semakin lama masa pelunasannya, semakin bertambah pula jumlah yang harus dibayarkan. Sehingga dianggap jual beli kredit termasuk akad ribawi.

Padahal, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Akad jual beli kredit bukan akad qardh (utang-piutang), melainkan akad bai’ (jual beli). Utang cicilan motor dalam akad jual beli kredit bukan utang qardh melainkan dain, sebab akad awalnya adalah jual beli bukan akad utang-piutang.

Sehingga kalau pun ada selisih harga antara harga tunai dan harga kredit tidak bisa dikatakan riba. Karena riba adalah tambahan atas utang (qardh). Sedangkan akad jual beli kredit bukan akad qardh.

 


[1] Ibnu Abdin, Radd al-Muhtar ‘ala al-Dur al-Mukhtar, hal. 282/5.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bolehkah Aqiqah dengan Sapi?
Isnawati, Lc., MA | 26 August 2017, 14:35 | 3.267 views
Bolehkah Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?
Isnawati, Lc., MA | 24 August 2017, 03:35 | 3.795 views
Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 2.742 views
Bolehkah Melebihkan Pembayaran Utang dengan Alasan Inflasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 20 August 2017, 23:24 | 4.101 views
Ayat-ayat Hukum Terancam Expired?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2017, 10:30 | 2.380 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Berilmu Sebelum Berutang
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 27 August 2018, 08:40 | 1.534 views
Fiqih Pinjam-meminjam
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 23 August 2018, 21:49 | 3.217 views
Qardh dan Dain, Jenis Utang yang Serupa Tapi Tak Sama
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 30 August 2017, 11:29 | 4.336 views
Bolehkah Melebihkan Pembayaran Utang dengan Alasan Inflasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 20 August 2017, 23:24 | 4.661 views
Benarkah Go-Food Haram?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 July 2017, 22:27 | 23.585 views
Ketika Ulama Tidak Mengamalkan Hadits
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 26 December 2016, 13:20 | 3.061 views
Ustadz Sunnah dan Ustadz Tidak Sunnah?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 8 December 2016, 09:00 | 4.785 views
Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 1 May 2015, 15:55 | 7.930 views
Benarkah Tubuh Wanita Haid Itu Najis?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 February 2015, 00:01 | 6.837 views
Satu Keluarga Meninggal Bersamaan, Bagaimana Cara Pembagian Warisnya?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 25 January 2015, 19:12 | 5.449 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 4.505 views
Islamisasi Atau Arabisasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 12 April 2014, 08:01 | 7.751 views
Hadits-hadits Yang Saling Bertentangan
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 6 April 2014, 12:00 | 11.072 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA18 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan
Wildan, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Maharati Marfuah Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan