Fatwa Dan Tarjih | rumahfiqih.com

Fatwa Dan Tarjih

Galih Maulana, Lc Tue 26 September 2017 08:35 | 941 views

Bagikan via

Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili (w 1436 H) dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu mengatakan, bahwa seorang Mujtahid adalah seseorang yang telah memiliki kemampuan mengambil hukum langsung dari dalil-dalilnya.

Menariknya menurut beliau, untuk zaman sekarang sudah tidak ada seorang Mujtahid yang mampu melakukan hal tersebut, urusan memberi fatwa pada zaman sekarang hanya urusan menukil fatwa Mujtahid terdahulu, kemudian menjelaskannya kepada mustafti (orang yang meminta fatwa)

Inilah yang kemudian dikenal sebagai Mujtahid madzhab, yaitu seseorang yang mampu menghafal dan memahami aqwal para Mujtahid dalam madzhab tertentu, kemudian menukilkan dan menjelaskannya kepada mustafti.

Ini pendapat yang kuat dalam madzhab sementara ini lemah, yang ini rojih yang itu marjuh, hanya menghafal, memahami, menukil dan menjelaskan.

Sementara untuk melakukan tarjih itu sendiri, ada Mujtahid yang levelnya lebih tinggi, yaitu mereka yang dikatakan Mujtahid Tarjih, semisal imam Nawawi (w 676 H) dan imam Rofi'i (w 623 H).

Dalam kitab al-Majmu' sendiri, imam Nawawi mengatakan, bahwasanya Mujtahid terbagi menjadi dua, yaitu Mujtahid mutlak mustaqil dan Mujtahid ghoiru mustaqil yang terdiri dari empat level.

Mujtahid mutlak mustaqil adalah apa yang dikatakan oleh syekh Wahbah, yaitu seseorang yang mampu mengambil hukum langsung dari dalil-dalilnya tanpa terikat dengan kaidah siapapun seperti para imam madzhab.

Sementara selain itu merupakan Mujtahid ghoiru mustaqil yang terdiri dari empat tingkatan.

Tingkatkan pertama adalah mereka yang yang sudah mampu langsung mengambil hukum dari dalil-dalilnya, hanya saja metode yang mereka gunakan bersesuaian dengan metode yang telah dipatenkan oleh imam madzhab, mereka tidak mampu membuat metode baru. maka kemudian dinisbatkanlah mereka sebagai bagian dari madzhab, seperti Abu Yusuf dan al-Muzani.

Tingkat kedua adalah mereka yang menggunakan ushul dan kaidah-kaidah imam madzhab ketika menggali hukum dalam masalah-masalah yang belum ada keterangan hukumnya dari imam madzhab. Dalam madzhab Syafi'i ini dikenal sebagai Ashab al-wujuh, seperti Ibnu Khuzaimah.

Tingkat ketiga adalah mereka yang mampu melakukan tarjih terhadap aqwal atau riwayat-riwayat dalam madzhab.

Imam Nawawi menjelaskan:

"Mereka tidak sampai pada derajat Ashab al-wujuh, tetapi mereka orang yang faqih, hafal benar tentang madzhab imamnya, mengetahui dan mampu menentukan dalil-dalilnya, mampu mendeskripsikan suatu masalah kemudian menjelaskan maksudnya, mereka juga mampu menerka dalil dalam suatu masalah kemudian melakukan tarjih.

Hanya saja mereka belum mampu menyamai tingkat Ashab al-wujuh dalam menghapal madzhab atau dalam kekuatan beristinbat, atau dalam pengetahuan tentang Ushul madzhab dan perangkat istinbat lainnya."

Syekh Wahbah az-Zuhaili menyebutkan contoh Mufti tarjih ini seperti imam Nawawi dan imam Rofi'i.

Tingkat yang paling bawah adalah mereka yang disebut sebagai Mufti madzhab atau Mujtahid fatwa, mereka adalah ulama-ulama faqih yang berperan menghapal aqwal dan riwayat dalam madzhab, memahaminya, menukilnya dan kemudian menjelaskannya kepada umat, mereka menerangkan mana qoul rojih mana qoul marjuh, bukan mentarjih. Mereka juga menukil fatwa dalam madzhab kepada mustafti, bukan membuat fatwa langsung dari dalil-dalil syar'i.

Kita sebagai orang awam, ketika melihat perbedaan pendapat di kalangan ulama, maka kita boleh memilih untuk diri kita sendiri pendapat mana yang sekiranya paling kuat dan menentramkan hati.

Namun bukan ranah kita untuk menentukan pendapat mana yang terkuat kemudian memfatwakannya kepada umat. Kita harus berbenah diri, melihat siapa diri kita dan menyadari kapasitas diri sendiri.

Bila ditanya mana menurutmu yang paling kuat, maka jawabannya adalah apa yang dikatakan Mujtahid Tarjih dalam madzhab yang kita ikuti, agar di akhirat nanti, ketika kita diminta pertanggungjawaban, kita bisa menjawab, bahwa kita telah menyerahkan sesuatu kepada ahlinya. mudah-mudahan lebih selamat dan lebih menenangkan. Wallahu a'lam.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kalau Awam Boleh Ijtihad
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 September 2017, 08:03 | 1.293 views
Qardh dan Dain, Jenis Utang yang Serupa Tapi Tak Sama
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 30 August 2017, 11:29 | 1.342 views
Bolehkah Aqiqah dengan Sapi?
Isnawati, Lc | 26 August 2017, 14:35 | 839 views
Bolehkah Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?
Isnawati, Lc | 24 August 2017, 03:35 | 1.839 views
Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 1.382 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Taklid Boleh Apa Tidak
Galih Maulana, Lc | 17 October 2017, 12:49 | 501 views
Kupas Tuntas Qunut Subuh
Galih Maulana, Lc | 15 October 2017, 19:50 | 1.189 views
Ahli Hadits Dan Ahli Fiqih
Galih Maulana, Lc | 27 September 2017, 11:45 | 698 views
Fatwa Dan Tarjih
Galih Maulana, Lc | 26 September 2017, 08:35 | 941 views
Antara Fiqih Dan Tasawuf
Galih Maulana, Lc | 6 August 2017, 21:47 | 1.619 views
Sesuai Pemahaman Sahabat, Bagaimana Maksudnya?
Galih Maulana, Lc | 5 August 2017, 21:21 | 1.283 views
Siapakah yang Berhak Mengambil Hukum Langsung Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ?
Galih Maulana, Lc | 20 July 2017, 15:48 | 1.891 views
Makna Kullu Menurut Para Ulama
Galih Maulana, Lc | 18 July 2017, 02:23 | 2.374 views
Tukar Menukar Kado, Boleh apa Tidak ?
Galih Maulana, Lc | 27 May 2017, 14:31 | 1.815 views
Apa Setiap Manfaat yang Diambil dari Transaksi Pinjam Meminjam Itu Riba ?
Galih Maulana, Lc | 4 April 2017, 13:16 | 3.135 views
Hukum Melafadzkan Niat
Galih Maulana, Lc | 8 January 2017, 16:57 | 2.150 views
Manhaj Imam Syafii dalam Memahami Al-Quran dan As-Sunnah
Galih Maulana, Lc | 29 December 2016, 10:29 | 2.002 views
Ilmu Cocokologi al-Qur’an
Galih Maulana, Lc | 21 December 2016, 06:39 | 2.376 views
Maulid Nabi, Bagaimana Sikap Kita?
Galih Maulana, Lc | 10 December 2016, 06:02 | 3.491 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan