Dilema Punuk Unta | rumahfiqih.com

Dilema Punuk Unta

Ahmad Zarkasih, Lc Wed 3 July 2013 05:40 | 16370 views

Bagikan via

Tentu semua pernah dengar tentang istilah punuk unta bukan? Yang belakangan memang sering dikampanyekan oleh beberapa aktifis dakwah melalui akun-kaun medsoc bahwa itu melanggar syariah dengan disertai gambar sample-nya pula.

Bahkan saking semangatnya, sample gambar yang ditampilkan pun disertai gambar asli unta dengan punuknya yang tinggi kemudian disisipkan gambar kepala wanita berkerudung yang gaya berkerudungnya yang “dimirip-mirip-kan” dengan punuk unta itu. Saya pribadi agak risih melihat gambar tersebut.

Dan memang saya melihat ada beberapa poin yang rasanya mendesak sekali untuk diluruskan terkait masalah punuk unta ini. Karena memang masalahnya, dalam hadits Nabi, wanita seperti itu masuk dalam golongan penduduk neraka.

Jadi bayangkan saja, berapa wanita yang sudah “divonis” neraka dengan gambar itu? Terlalu terburu-buru kalau harus mengatakan neraka.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا [1] ..... [2] وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Nabi saw: “Ada 2 golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. [1]……[2] wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak lenggok, mengundang kemaksiatan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita itu tidak masuk surge dan juga tidak mencium bau surga, padahal bau surga sudah tercium dalam jarak sekian dan sekian". (HR Muslim)

Sayangnya pesan yang disebarkan tentang hadits ini dengan gambar-gambar yang banyak bertebaran itu masih agak bias, dan kurang penjelasan yang detail. Masih terlalu umum jika hanya mengatakan punuk unta. Kesannya jadi wanita manapun yang berhijab dengan model serupa seperti di gambar “punuk unta”, berarti dia masuk dalam ketegori yang dilarang itu.

Dilema Rambut Panjang

Ini yang perlu dijelaskan. Tentu banyak yang akan bertanya-tanya, punuk unta itu seperti apa? Dan bagaimana? Lalu bagaimana dengan wanita yang punya rambut panjang? Kalau kita lihat lebih teliti, orang-orang tua kita juga banyak yang berkerudung dengan model “mirip” punuk unta itu, karena memang rambutnya yang panjang. Lalu apakah mereka tergolong sebagai ahli neraka?

Wanita-wanita yang berambut panjang menjadi dilema kalau begini. Sulit sekali rasanya berhijab, karena kalau rambutnya dujulurkan begitu saja agar tidak ada punuk unta, itu akan membuat rambutnya terlihat oleh orang-orang karena panjangnya rambut tersebut.

Tapi kalau dia lipat rambut itu agar lebih mudah memakai hijab dan rambutnya tetap terjaga tidak terlihat, nantinya akan muncul benjolan dibelakang kepala yang pasti akan dikatakan sebagai punuk unta. Berdosa juga akhirnya. Rambut kelihatan ngga boleh, dilipat pun ngga boleh karena punuk unta. Lalu bagaimana?

Apa ada dalil yang melarang wanita untuk memanjangkan rambutnya? Atau apakah ada dalil yang memerintahkan wanita untuk memangkas rambutnya jika sudah panjang? Apa ada?

Nah maka itu, penting sekali agar definisi “Asnimatil-Bukht” [أسنمة البخت] “punuk unta” yang dimaksud dalam hadits ini dijelaskan dengan baik dan fair.

Punuk Unta, Apa Itu?

Imam Nawawi dalam menjelaskan hadits ini mengatakan:

“Yang dimaksud dengan asnimatul-bukhti (أسنمة البخت) atau diterjemahkan menjadi punuk unta ialah mereka yang membesarkan kepalanya dengan kain hijab, atau selendang dan semisalnya yang dilipatkan diatas kepala sehingga menyerupai punuk unta. Ini pendapat yang masyhur” (Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim)

Imam Ibnu Al-‘Arabi juga mengatakan:

Asnimatul-bukhti (أسنمة البخت)] dalam hadits itu ialah kiasan bagi wanita yang membesarkan kepala dengan sejenis potongan-potongan kain (rambut palsu) agar orang yang melihatnya menyangka bahwa itu rambutnya. dan ini diharamkan” (Faidh Al-QAdir jilid 1 hal. 463)

Jadi punuk unta itu –sesuai definisi diatas- bukanlah lipatan rambut, akan tetapi lipatan dan gulungan sesuatu yang bukan rambut asli, entah itu kain atau bahan sejenis, yang dilipat di atas kepala, agar nantinya orang yang melihat menyangka bahwa itu rambut sungguhan yang panjang padahal bukan. Larangannya karena ada unsur penipuan dan pengelabuan.

Nah, kalau definisinya seperti ini, berarti ada korelasi dan sambungan dengan hadits larangan menyambung rambut, karena terdapatnya unsur penipuan dan pengelabuan. Nabi SAW bersabda:

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambungkan dan yang membuat tatto juga yang minta dibuatkan tatto” (HR. Bukhari)

Punuk Unta = Lipatan Rambut?

Memang ada ulama yang menafsirkan bahwa punuk unta itu lipatan rambut panjang. Tapi jangan gegabah mengatakan bahwa wanita yang melipatkan rambut mereka sebagai berpenampilan bagai punuk unta. Sebab para ulama punya spesifikasi khusus dalam mengkategorikan lipatan rambut itu, agar bisa disebut sebagai mirip punuk unta yang dimaksud dalam hadits.

Imam Al-Qurthubi sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitabnya Fathul-Baari, mengatakan:

وقال القرطبي البخت بضم الموحدة وسكون المعجمة ثم مثناة جمع بختية وهي ضرب من الإبل عظام الأسنمة والأسنمة بالنون جمع سنام وهو أعلى ما في ظهر الجمل شبة رءوسهن بها لما رفعن من ضفائر شعورهن على أوساط رءوسهن تزيينا وتصنعا وقد يفعلن ذلك بما يكثرن به شعورهن

“bukht [بخت] itu bentuk plural dari Bukhtiyah [بختية], yaitu kata yang dipakai sebagai perumpamaan unta yang mempunyai punuk besar. Sedangkan kata Asnimah [أسنمة] bentuk plural dari “Sanam” [سنام] yaitu ialah punuk yang menjulang tinggi yang berada ditengah-tengah punggung unta,

Kepala-kepala wanita itu dianalogikan dengan punuk unta karena mereka mengangkat (menjadikan) gulungan dan lipatan rambut mereka diatas kepala sebagai bentuk perhiasan (berhias mempercantik) dan dibuat-buat, dan terkadang mereka melakukan itu dengan sesuatu yang bisa menambah rambut mereka (dengan rambut buatan)” (Fathul-Baari 10/375)

Ada point penting yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi disitu, yaitu point:

تزيينا وتصنعا

“Sebagai bentuk perhiasan (berhias mempercantik) dan dibuat-buat”

Makin jelas disini bahwa yang dimaksud punuk itu ialah ikatan atau gulungan rambut dan yang bukan rambut, seperti kain atau sorban yang kemudian ditaruh diatas kepala dengan tujuan estetika mempercantik diri, yaitu dengan maksud berdandan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Sedangkan, apa yang dilakukan oleh kebanyakan wanita Indonesia yang berambut panjang kemudia dia melipatnya di belakang kepala agar bisa memakai kerudung tidak tergolong dalam sebutan punuk unta yang dilarang.

Toh mereka bukan bertujuan untuk berhias, mereka melakukan karena memang harus melakukan itu untuk bisa berhijab. Bukan dibuat-buat agar terlihat modis. Dan juga lipatan rambut itu tidak diletakkan diatas kepala seperti punuk unta, melainkan di belakang kepala.

Karena dalam syarahnya tentang hadits itu, Imam Nawawi mengutip pendapat salah satu ulama yang menyebutkan bahwa punuk unta itu yang gumpalan rambut atau rambut palsu yang ada diatas kepala, itu yang disebut dengan punuk unta. (Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim 17/191)

Gambaran Perangai Buruk Wanita

Sejak awal, redaksi hadits itu benar-benar menggambarkan sifat seorang wanita yang sangat buruk perangai dan kelakuannya. Dia berpakaian tapi seperti bertelanjang, karena berpakaian tipis atau juga yang ketat sehingga menimbulkan lekukan-lekukan tubuh yang jelas terlarang.

Dia berjalan lenggak lenggok, berharap dapat perhatian lelaki lain. Ia tidak menjaga pandangannya, tidak menundukkan malah agresif dan berupaya mengajak dan mencari perhatian dengan gaya berpakaian dan berjalan yang seronok. Dan salah satu upayanya itu ialah dengan membuat hiasan kepala tersebut dengan gumpalan-gumpalan kain dan benang.

Karena itu tadi, ulama mengikat pelarangan ini dengan poin tazyiinan wa tashannu’an, yaitu upaya untuk berhias dan mengada-ada secara tidak wajar. Ini yang disebut dengan berhias tidak wajar dalam syariah. Karena memang perempuan yang membuat punuk unta tidak lain karena ingin tampil dan dibilang cantik.

Jadi sama sekali apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua kita, atau saudari-saudari muslim kita itu bukan yang dimaksud dalam hadits Nabi SAW itu. Karena rambutnya memang asli dan tujuannya bukan mengada-ada. Dan baiknya kita lebih bijak dan fair ketika menyampaikan pesan agama.

Fatwa Sheikh Bin Baz

Ketika ditanya oleh seorang penanya “apakah lipatan rambut dibelakang kepala untuk wanita yang berambut panjang itu termasuk dalam golongan ahli neraka yang disebut dengan punuk unta dalam hadits nabi?”

Beliau menjawab: Tidak! wanita yang berambut panjang kemudian melipatnya dibelakang kepala tidak masalah walaupun agak sedikit menonjol. Karena larangannya ialah lipatan dari sesuatu selain rambut, seperti kain atau selendang dan semisalnya.

Lihat fatwanya disini: binbaz [dot] org [dot] sa/mat/11139

Sheikh Kholid Abdullah Al-Muslih

Sheikh Khalid bin Abdullah Al-Muslih, seorang guru besar syariah dari Universitas Imam Muhammad bin Saud cabang Al-Qasim, pun mengatakan demikian dalam sebuah acara televisi konsultasi syariah yang memang rutin ditayangkan dan beliau menjadi pengasuhnya.

Doktor yang pernah belajar langsung dengan Sheikh Shaleh Al-‘Utsaimin ini juga mengatakan bahwa lipatan rambut wanita yang memang berambut panjang sama sekali tidak termasuk dalam kategori punuk unta yang dapat ancaman neraka dalam hadits Nabi saw.

Memahami Sebuah Hadits

Memahami hadits tidak seperti memahami teks bahasa Arab biasa yang bisa diartikan dengan tanpa melihat referensi, cukup buka kamus, kalau sudah tahu ya tinggal diterjemahkan lalu dengan demikian bisa langsung paham.

Memahami hadits perlu pemahaman yang kmprehensif, tidak sepotong-septong. karena memang hadits tidak seperti pragraf bahasa arab biasa. seandainya saja hadits itu bisa dipahami begitu saja oleh para mereka yang memang bisa berbahsa arab, ulama sejak 13 abad yang lalu tidak perlu repot-repot membuat kitab-kitab syarah yang jumlah jilidnya sampai belasan dan puluhan.

Itu memang karena tidak mudah memahami sebuah hadits. perlu banyak tinjauan, tentu juga harus mengerti Asbab wurudnya, pada even dan momen apa nabi menyampaikan itu, dimana nabi mengatakan itu, letak geografis, kepada siapa Nabi menyampaikan itu.

Dan pemahaman kita pasti akan mentok tanpa kita merujuk kepada kitab-kitab syarah hadits tersebut. dan saya sangat menyanyangkan banyak gambar yang tersebar mengutip hadits hadits ini, atau juga web, blog, fanpage yang juga mengutip hadits ini hanya menuliskan terjemah begitu saja tampa menampilkan apa kata ulama tentang hal itu. itu sangat disayangkan.

Padahal kalau kita buka beberapa syarah ulama dalam kitab2 mereka (tentu dengan bimbingan mereka yang paham) insyaAllah kita akan mendapat pencerahan. 

Hadits Punuk Unta

Hadits ini riwayat imam muslim, nah kita buka saja kitab-kitab yang memang menyarah kitab Shohih muslim, ada Syarah Imam Nawawi, Syarah imam Suyuthi, Imam Ibnu Al-Atsir juga punya, An-Nihayah namanya, ada juga Al-Dibaaj 'ala Muslim, Imam al-baghowi juga mengutip penjelasan hadits ini dalam Syarah sunnah-nya, imam Ibnu hajar pun demikian dalam Fathul-Baari-nya.

Dan kesemua ulama tersebut sama sekali tidak ada yang meributkan punuk unta, selain punuk yang terbuat dr kain, sorban, rambut palsu,,, selama itu memang rambut asli dan memang harus mengumpulkannya, mirip atau tidak mirip punuk unta, tidak diributkan.

Ada yang mempermasalahkan memang jika itu rambut asli, tapi dengan poin itu tadi: "Tazyiinan wa Tashonnu'an" (pengen pamer cantik, dibuat-buat biar dibilang cantik". Malah tidak sedikit ulama yang menafsirkan tentang prilaku buruk si wanita arena memang sejak awal redaksi hadits tersebut menceritakan perangai buruk seorang wanita yang berpakaina tapi telanjang.

Pun kalau kita merujuk kepada ulama kontemporer, tidak ada yang meributkan tentang rambut asli. Beliau semua fine-fine saja tentang itu. Karena memang rambut asli. Jadi memang baiknya, kita lebih bijak, dan tentu sering-seringlah merujuk kepada beliau ustadz-ustadz dan ulama yang memang jauh lebih paham dari pada kita. Jangan asal tempel hadits.


Jadi mulai sekarang, kita harus fair memberikan label punuk unta.

Wallahua’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 June 2013, 13:47 | 10.116 views
Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
Siti Chozanah, Lc | 27 June 2013, 10:45 | 1.709 views
Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
| 27 June 2013, 10:45 | 5.431 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 5.624 views
Menelusuri Hukum Hiasan Dalam Masjid
| 23 June 2013, 11:00 | 5.139 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kalau Awam Boleh Ijtihad
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 September 2017, 08:03 | 2.854 views
Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 2.666 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 December 2016, 17:36 | 3.031 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 5.311 views
Kalau Ada Pertanyaan 'Mana Dalil?'
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 January 2016, 06:01 | 7.328 views
Dilema 'Mujtahid' Kekinian
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 January 2016, 06:56 | 8.697 views
Muslim itu Yang Baik Sosialnya, Bukan Hanya Yang Rajin Ibadah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2015, 06:28 | 6.635 views
Nabi SAW Tidak Anti Kepada Non-Muslim
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 November 2015, 05:26 | 5.040 views
Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 6.343 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 8.283 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 12.443 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 5.947 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 5.182 views
Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2015, 06:36 | 6.774 views
Nabi Tidak Mengerjakan, Berarti Itu Haram?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2015, 06:31 | 12.688 views
Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 January 2015, 14:02 | 6.529 views
Satu Kampung Hanya Boleh Ada Satu Jumat, Begitukah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 9 January 2015, 08:37 | 6.367 views
Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 November 2014, 10:24 | 8.849 views
Shalat untuk Menghormati Waktu, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 October 2014, 08:36 | 11.508 views
Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 9.017 views
Kawin Paksa, Masih Zaman?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 August 2014, 04:53 | 5.334 views
Puasa Syawal Hukumnya Makruh, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 July 2014, 22:32 | 14.291 views
Kenapa Sahabat Melakukan Dosa, Padahal Mereka Generasi Terbaik?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2014, 05:40 | 8.456 views
Miskin Ilmu Jago Ngambek
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2014, 08:02 | 9.528 views
Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 6.597 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 5.526 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 7.440 views
Merubah Kelamin, Bagaimana Jatah Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 June 2014, 08:27 | 4.623 views
Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20 | 41.911 views
Kanibalisasi Madzhab
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 May 2014, 09:31 | 5.826 views
Mau Ikut Nabi apa Ikut Ulama?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 May 2014, 20:00 | 13.344 views
Tarjih Antara 2 Hadits Yang Bertentangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 May 2014, 21:40 | 6.362 views
Lawan Tapi Mesra
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 April 2014, 12:48 | 6.195 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 5.315 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 6.999 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 8.780 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 March 2014, 06:31 | 5.698 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 4)
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 March 2014, 07:02 | 4.782 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 March 2014, 05:09 | 5.203 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 March 2014, 06:14 | 5.458 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 March 2014, 07:59 | 5.969 views
Pendapat Awam Tidak Masuk Hitungan
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 March 2014, 05:51 | 5.108 views
Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 7.962 views
Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 February 2014, 09:19 | 7.464 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 6.167 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 February 2014, 09:24 | 4.258 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2014, 08:33 | 5.699 views
Lumbung Tanpa Padi
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 February 2014, 05:52 | 4.536 views
Ijtihadnya Orang Awam
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 February 2014, 06:59 | 7.293 views
Membangun Keluarga Ahli Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2014, 06:31 | 5.074 views
Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 5.405 views
Ulama Juga Harus Mengerti Sains
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 February 2014, 06:19 | 4.997 views
Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 6.462 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 4.643 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 5.269 views
Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 January 2014, 18:21 | 7.242 views
Meninggal Bersama dalam Kecelakaan, Bagaimana Pembagian Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 January 2014, 16:25 | 4.257 views
Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 January 2014, 05:01 | 6.277 views
Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 9.254 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 7.546 views
Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 December 2013, 06:44 | 5.161 views
Adakah Qadha' Sholat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 14 December 2013, 05:36 | 11.563 views
Belajar Taqlid dari Ibnu Qudamah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2013, 12:56 | 7.451 views
Fiqih Dulu dan Sekarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 November 2013, 18:42 | 5.828 views
Mayit Diadzab Karena Tangisan Keluarganya, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 November 2013, 05:56 | 7.061 views
Menantang Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 November 2013, 08:44 | 6.975 views
Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 November 2013, 16:54 | 11.073 views
Sholat di Masjid Yang Ada Kuburannya
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 October 2013, 18:23 | 8.722 views
Nikah Punya Banyak Hukum
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 October 2013, 06:59 | 6.048 views
Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 5.843 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 8.628 views
Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 September 2013, 14:03 | 11.772 views
Tidak Bersedih Dengan Kematian Ulama Berarti Munafiq?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 September 2013, 10:10 | 6.938 views
Fatwa, Apakah Wajib Ditaati?
Ahmad Zarkasih, Lc | 6 September 2013, 09:22 | 5.807 views
Korupsi Bukan Pencurian, Tak Usah Potong Tangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 September 2013, 08:05 | 6.131 views
Hukum Mengambil Upah Dakwah
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 August 2013, 15:42 | 8.293 views
Sholat Jumat Tapi Tidak Mendengarkan Khutbah
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2013, 08:52 | 6.228 views
Syubhat Bukan Haram
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 August 2013, 05:50 | 6.779 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 8.163 views
Al-Tanaazul (Turun Tahta) Dalam Kajian Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 July 2013, 06:31 | 4.558 views
Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 July 2013, 08:49 | 6.574 views
Makna Jauf (Rongga) Dalam Pengertian Fiqih Puasa
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 July 2013, 10:19 | 6.673 views
Apakah Ada Istilah "Tajil" Dalam Syariah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2013, 05:36 | 5.674 views
Tarawih 4 Rokaat 1 Salam, Boleh atau Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 July 2013, 14:29 | 7.564 views
Setan Dibelenggu, Kenapa Masih Ada Yang Maksiat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2013, 14:20 | 6.870 views
Yang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:37 | 5.534 views
Siapa Yang Wajib Puasa Ramadhan?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:22 | 4.890 views
Dilema Punuk Unta
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 July 2013, 05:40 | 16.370 views
Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 June 2013, 13:47 | 10.116 views
Almarhum Bukan Gelar
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2013, 05:22 | 6.025 views
Teka-Teki Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 June 2013, 08:04 | 9.051 views
Ustadz Anonim di Medsoc
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 June 2013, 06:09 | 5.393 views
Keanehan Hukum Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 May 2013, 19:12 | 6.521 views
Dokter dan Apoteker
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 May 2013, 09:30 | 6.288 views
Siapa Salah, Siapa Kena Getahnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2013, 20:45 | 5.720 views
Matang Sebelum Waktunya
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 May 2013, 11:47 | 6.679 views
Masjid Kok Dikunci?
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 April 2013, 01:44 | 6.223 views
Buku Fiqih Yang Tidak Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 April 2013, 06:41 | 8.023 views
Galaunya Para Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 April 2013, 17:40 | 6.458 views
Pengkhianat Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 April 2013, 05:00 | 5.606 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 4.805 views
Hukum Beli Barang Black Market
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 March 2013, 07:00 | 9.283 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 5.561 views
Ulama Pesanan
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2013, 08:01 | 5.378 views
Keistimewaan Ilmu Faraidh
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 February 2013, 10:31 | 5.612 views
Ulama-ulama Bujang
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2013, 06:03 | 7.607 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA18 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan
Wildan, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Maharati Marfuah Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Ustadz Tengku Fadly Lc0 tulisan