Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menanam Modal dengan Keuntungan Tetap, Ribakah? | rumahfiqih.com

Menanam Modal dengan Keuntungan Tetap, Ribakah?

Sat 2 March 2013 11:13 | Muamalat > Riba | 7.932 views

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. Wb

Pak Ustad yth.

Saudara saya memiliki sebuah usaha konveksi. Ketika dia kekurangan modal usaha dia datang kepada saya meminta agar saya ikut menanam modal pada usahanya.

Menurutnya dia memperoleh keuntungan 10% dari modal yang saya berikan dan keuntungan tersebut akan dibagi dua yaitu 5% untuk dia dan 5% untuk saya secara tetap dan akan dibagi setiap bulan.

Tadinya saya menawarkan bagi hasil tapi dia tidak mau dengan alasan repot mengurusnya.

Perlu ustadz ketahui bahwa saya pernah menarik modal saya ketika saya sedang memerlukan uang Ketika saya ada uang lagi maka kemudian saya tanam lagi modal kepada dia dan saya tambah lagi dan tambah lagi modal saya setiap ada rizki dan saya dapat menarik kembali seluruh modal saya secara utuh kapan saja.

Yang jadi pertanyaan saya adalah:

1. Apakah sistem bagi hasil seperti yang saya utarakan di atas termasuk ke dalam riba ataukah tidak?

2. Berapa% kah zakat yang harus saya keluarkan..?

Demikian pertanyaan dari saya atas jawabannya diucapkan terima kasih.

Wassalamu 'alaikum wr. Wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau menyimak apa yang anda sampaikan, kelihatannya tidak ada yang salah dalam transaksi itu. Dan sudah sesuai dengan kaidah bagi hasil. Di mana anda menanamkan modal uang kepada teman anda, lalu dari uang yang anda investasikan itu, teman anda mendapatkan untung sebesar 10%.

Maka harta yang 10% itu adalah hasil usaha. Dan hasil usaha inilah yang dibagi dua, masing-masing 5%. Dan itu adalah bagi hasil.

Akad seperti ini hukumnya halal dan tidak ada masalah dari segi hukum syariah Islam. Asalkan yang dibagi adalah hasil usahanya, bukan uang sewa atas investasi yang anda benamkan.

Jadi teman anda itu setiap bulan harus melaporkan neraca keuangan rugi laba. Angka-angka yang jelas harus dipresentasikan kepada anda dan anda tahu persis, berapa keuntungan (revinue) dari uang investasi anda.

Kita ambil ilustrasi sederhana, misalnya anda membenamkan uang sebesar 100 juta kepada teman anda itu. Lalu dalam jangka waktu sebulan, dari uang itu digunakan untuk mengerjakan sebuah projek order. Setelah dikurangi dengan overhead, salary, pajak dan lainnya, maka uang itu menjadi 110 juta. Berarti ada keuntungan 10% dari investasi anda. Maka uang yang 10 juta ini dibagi dua, masing-masing mendapat 5 juta rupiah.

Bulan berikutnya, mungkin keuntungan usaha agak naik, sehingga uangnya menjadi 130 juta. Maka keuntungan usaha ini adalah 30 juta. Dan setelah dibagi dua, masing-masing menerima 15 juta sebagai bagi hasil untuk bulan itu.

Bulan berikutnya lagi, keuntungan menurun sehingga hanya didapat 102 juta, maka keuntungannya hanya 2 juta. Setelah dibagi hasil, masing-masing hanya mendapat 1 juta saja.

Inilah gambaran sebuah akad bagi hasil yang dihalalkan dalam agama Islam.

Sedangkan contoh yang diharamkan adalah bila setiap bulan, teman anda harus menyetor 5% dari uang yang anda investasikan dalam usahanya. Tidak peduli apakah usaha itu memberikan keuntungan kecil atau besar, yang pasti angka 5% dari nilai investasi itu anda terima.

Maka bentuk kesepakan seperti ini hukumnya haram, karena pada hakikatnya, anda sedang menyewakan uang 100 juta dengan harga sewa sebesar 5 juta perbulan. Ini adalah sebuah transaksi ribawi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Baca Lainnya :

Dilemma Jadi PNS Yang Jujur
2 March 2013, 00:41 | Muamalat > Syubhat | 10.067 views
Hukum Menyekolahkan Anak di Sekolah Non Muslim
1 March 2013, 03:11 | Aqidah > Antar Agama | 12.454 views
Berapa Warisan Untuk Istri Kedua?
1 March 2013, 02:55 | Mawaris > kadar bagian ahli waris | 19.014 views
Pengertian Mushaf dan Wujud Fisiknya
1 March 2013, 02:35 | Al-Quran > Mushaf | 86.052 views
Panduan Menyelenggarakan Walimah
28 February 2013, 03:58 | Pernikahan > Walimah | 21.888 views
Apakah Bila Telah Jatuh Talak Masih Bisa Bersatu Kembali
28 February 2013, 00:33 | Pernikahan > Talak | 27.722 views
Hak Waris Istri Anak Dari Suami Yang Lebih Dulu Wafat
27 February 2013, 00:01 | Mawaris > kadar bagian ahli waris | 21.859 views
Bolehkah Menyentuh Mushaf Tanpa Wudhu?
26 February 2013, 21:52 | Al-Quran > Mushaf | 28.003 views
Keringanan Apa Saja Yang Diterima Musafir?
25 February 2013, 23:31 | Puasa > Keringanan | 10.618 views
Nikah Sirri tapi Wali tidak Dapat Hadir
25 February 2013, 12:49 | Pernikahan > Nikah sirri | 7.770 views
Apakah Tahlilan Termasuk Syirik?
23 February 2013, 02:03 | Aqidah > Syirik dan Bidah | 35.450 views
Dapat Kerja Tapi Tidak Boleh Mengenakan Jilbab
22 February 2013, 14:57 | Wanita > Pakaian | 7.884 views
Dana Amal Shalat Jum'at Boleh Digunakan Untuk Apa?
22 February 2013, 00:26 | Muamalat > Uang | 9.477 views
Nikah Jarak Jauh
21 February 2013, 00:29 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 7.333 views
Hukum Kuis Berhadiah dan Kontestannya
21 February 2013, 00:28 | Muamalat > Judi | 8.123 views
Sudah Ngaji 15 Tahun Belum Jadi Ahli Syariah
19 February 2013, 02:28 | Ushul Fiqih > Syariah | 9.150 views
Cara Menyikapi Khilafiyah dalam Jamaah
18 February 2013, 23:59 | Dakwah > Jamaah | 11.254 views
Ribut Dengan Ibu Tiri Gara-gara Harta Waris
18 February 2013, 23:37 | Mawaris > Masalah terkait waris | 12.192 views
Apakah Saudara Non Muslim Berhak sebagai Ahli Waris?
18 February 2013, 10:31 | Mawaris > Ahli waris | 9.106 views
Cara Ziarah Qubur Biar Tidak Syirik
18 February 2013, 10:26 | Aqidah > Syirik dan Bidah | 17.934 views

TOTAL : 2.312 tanya-jawab | 43,028,397 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

14-8-2020
Subuh 04:43 | Zhuhur 11:59 | Ashar 15:20 | Maghrib 17:58 | Isya 19:07 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img