Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengganti Puasa | rumahfiqih.com

Mengganti Puasa

Thu 22 December 2005 02:58 | Puasa | 7.121 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'Alaikum wr.  wb.

Mohon penjelasan pak Ustadz.  Pada bulan Ramadhan kemarin isteri saya tidak berpuasa karena sedang hamil. Bagaimana caranya untuk membayar hutang puasa isteri saya, berapa besarnya dan sampai kapan batas waktunya. Terima kasih.

Wassalamu 'Alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Hutang puasa karena hamil itu bisa diganti dengan cara qadha', bayar fidyah atau keduanya. Pilihannya memang berbeda antara satu ulama dengan ulama lain. Ada yang mengatakan cukup diganti dengan puasa saja. Juga ada yang mengatakan cukup diganti dengan membayar fidyah. Bahkan ada juga yang mengatakan harus diganti dengan qadha' puasa dan bayar fidyah sekaligus.

Mereka yang mengatakan bahwa penggantiannya cukup dengan puasa qadha', berangkat dari kesimpulan bahwa seorang wanita hamil itu sama kasusnya dengan orang sakit. Sebagaimana kita tahu, bahwa seorang yang sakit boleh tidak puasa. Dan sebagai gantinya, harus berpuasa qadha' sebanyak jumlah hari yang ditinggalkannya itu. Sebagaimana firman Allah SWT:

...Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka  sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya  membayar fidyah,  memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 184)

Namun sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa wanita yang hamil itu lebih dekat seperti keadaan orang yang sudah tua dan tidak mampu puasa. Dalam kasus ini, orang tersebut tidak perlu mengganti dengan puasa qadha', melainkan cukup hanya dengan membayar fidyah. Yaitu memberi makan fakir miskin. Maka wanita hamil boleh tidak puasa dan cukup membayar dengan fidyah saja.

Ukurannya ebesar satu atau dua mud sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Bila dikira-kira, ukurannya sebanyak 3, 5 liter beras atau 2, 5 kg dan diberikan kepada fakir miskin. Satu hari tidak puasa dibayar dengan satu/dua mud fidyah. 

Sedangkan As-Syafi‘i berpendapat bahwa wanita hamil yang tidak puasa harus membayar dengan qadha‘ puasa sekaligus juga dengan membayar fidyah. Pendapat Asy-Syafi‘i ini barangkali berat, namun lebih nampaknya beliau mencari titik aman, karena sebaiknya tidak berspekulasi dalam ibadah.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

legalisasi renungan
22 December 2005, 02:25 | Umum | 5.764 views
Menyambung Masalah Perbedaan
21 December 2005, 09:53 | Ushul Fiqih | 6.371 views
Membunuh Jasus
21 December 2005, 08:53 | Jinayat | 7.240 views
fiqih rumah tangga-tentang HAK istri thdp Seluruh Penghasilan\' suami
| Umum | 1.791 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,225,483 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

14-11-2019
Subuh 04:05 | Zhuhur 11:39 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:04 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img