Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bersentuhan Suami-Isteri Setelah Berwudlu, Batalkah? | rumahfiqih.com

Bersentuhan Suami-Isteri Setelah Berwudlu, Batalkah?

Fri 26 July 2013 00:45 | Thaharah | 26.838 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustadz yang saya hormati, saya masih bingung adanya dua pendapat yang berbeda mengenai batal wudlu yang disebabkan karena senggolan/sentuhan kulit antara suami-isteri yang sudah berwudlu, karena ada yang bilang batal dan ada yang bilang tidak. Untuk itu mohon dijelaskan untuk masalah ini dengan disertai riwayat/imam siapa yang berpaham batal dan siapa yang berpaham tidak. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu 'ala rsulillah, wa ba'du

Dalam daftar hal-hal yang membatalkan wudhu, sentuhan kulit secara langsung antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, termasuk masalah yang diperdebatkan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa sentuhan itu membatalkan wudhu` dan sebagian mengatakan tidak.

Sebab perbedaan pendapat mereka didasarkan pada penafsiran ayat Al-Quran yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.” (QS An-Nisa: 43)

a. Pendapat yang Membatalkan

Sebagian ulama mengartikan kata MENYENTUH sebagai kiasan yang maksudnya adalah jima` (hubungan seksual). Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit, tidak membatalkan wuhu`.

Ulama kalangan As-Syafi`iyah cenderung mengartikan kata MENYENTUH secara harfiyah, sehingga menurut mereka sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu`.

Menurut mereka, bila ada kata yang mengandung dua makna antara makna hakiki dengan makna kiasan, maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan perlunya menggunakan penafsiran secara kiasan.

Dan Imam Asy-Syafi`i nampaknya tidak menerima hadits Ma`bad bin Nabatah dalam masalah mencium.

Namun bila ditinjau lebih dalam pendapat-pendapat di kalangan ulama Syafi`iyah, maka kita juga menemukan beberapa perbedaan. Misalnya, sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhu`nya adalah yang sengaja menyentuh, sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh, maka tidak batal wudhu`nya.

Juga ada pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan (suami isteri). Menurut sebagian mereka, bila sentuhan itu antara suami isteri tidak membatalkan wudhu`.

b. Pendapat yang Tidak Membatalkan

Dan sebagian ulama lainnya lagi memaknainya secara harfiyah, sehingga menyentuh atau bersentuhan kulit dalam arti fisik adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu`. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan juga semua salaf dari kalangan shahabat.

Sedangkan Al-Malikiyah dan jumhur pendukungnya mengatakan hal sama kecuali bila sentuhan itu dibarengi dengan syahwat (lazzah), maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu`.

Pendapat mereka dikuatkan dengan adanya hadits yang memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernha menyentuh para isterinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu` lagi.

Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian isterinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu`. Lalu ditanya kepada Aisyah, ”Siapakah isteri yang dimaksud kecuali anda?” Lalu Aisyah tertawa. (HR Turmuzi Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Wallahu a'lam bish-shawab
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Zakat Perniagaan, Bagaimana Menghitungnya?
25 July 2013, 03:55 | Zakat | 7.244 views
Cara Perhitungan Zakat Hasil Pertanian
24 July 2013, 01:30 | Zakat | 72.591 views
Dana Zakat untuk Kegiatan Dakwah, Bolehkah?
22 July 2013, 23:00 | Zakat | 7.717 views
Haruskah Pembantu Bayar Zakat Fitrah?
22 July 2013, 08:29 | Zakat | 7.646 views
Bolehkah Uang Zakat Dipinjamkan pada Mustahik?
20 July 2013, 01:41 | Zakat | 6.718 views
Berhubungan Seksual Masa Haidh dan Tidak Tahu Keharamannya
19 July 2013, 02:38 | Nikah | 8.628 views
Perbedaan Antar Mazhab
17 July 2013, 23:47 | Ushul Fiqih | 10.703 views
Lupa Niat Puasa dan Menjilat Shampoo
17 July 2013, 02:12 | Puasa | 7.857 views
Zakat Fitrah : Pakai Beras Atau Uang?
12 July 2013, 21:02 | Zakat | 19.813 views
Apakah Tiap Transaksi Penjualan Ada Zakatnya?
11 July 2013, 23:22 | Zakat | 17.162 views
Hasil Panen Tembakau Wajibkah Dizakati?
11 July 2013, 14:33 | Zakat | 6.705 views
Pemerintah Bukan Ulil Amri Yang Berwenang Menetapkan Ramadhan?
9 July 2013, 01:13 | Puasa | 22.358 views
Taraweh Dulu Baru Puasa?
8 July 2013, 22:47 | Shalat | 9.098 views
Ramadhan Bakar Petasan, Adakah Syariatnya?
8 July 2013, 01:42 | Puasa | 7.190 views
I'tikaf Sambil Bekerja Bolehkah?
5 July 2013, 00:00 | Puasa | 11.362 views
Haramkah Jadi Golput?
2 July 2013, 21:50 | Negara | 7.702 views
Wajibkah Wanita Memakai Cadar?
1 July 2013, 04:19 | Wanita | 10.602 views
Tata Cara Talaq Sesuai Syariah
28 June 2013, 03:15 | Nikah | 9.361 views
Penetapan Awal Ramadhan, Kenapa Sering Berbeda?
25 June 2013, 20:37 | Puasa | 11.052 views
Mohon Maaf Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
24 June 2013, 22:53 | Puasa | 16.005 views

TOTAL : 2.298 tanya-jawab | 24,390,653 views