Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bisakah Ayahku Jadi Waliku? | rumahfiqih.com

Bisakah Ayahku Jadi Waliku?

Wed 4 January 2006 04:09 | Nikah | 5.574 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Saya sebentar lagi akan menikah, tapi saya bingung karena status saya yang ada karena kesalahan orang tua (mereka menikah karena hamil dulu). Di samping itu pengetahuan kedua orangtua saya mengenai agama kurang sekali dan saya tidak punya keberanian untuk memberitahukan kepada mereka kalau saya ingin bukan bapak yang jadi wali nikah saya. Di samping itu, selama ini bapak saya tidak pernah shalat atau melaksanakan ibadah lainnya. Saya sedih tapi tiap kali saya ingatkan saya selalu dimarahin.

Pertanyaan saya, bisakah bapak saya menjadi wali saya dan apakah bapak saya sudah kafir atau belum, dan bagaimana caranya menasehati atau memmberitahu orangtua saya tanpa menyinggung perasaan mereka? Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Jawaban :

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama umumnya sepakat bahwa nasab anak yang lahir karena zina itu masih bisa tersambung kembali, asalkan ayah dan ibunya menikah secara sah setelah zina. Baik ketika masih hamil atau pun setelah melahirkan.

Asalkan pernikahan itu pernah terjadi, maka status nasabnya akan tersambung kembali, lepas dari masalah dosa zina yang telah mereka lakukan sebelumnya. Tetapi bila pernikahan itu sendiri tidak pernah terjadi, maka anak itu tidak bernasab kepada ayahnya. Masalahnya akan muncul bila anak yang lahir itu perempuan dan suatu saat akan menikah. Ayahnya yang tidak pernah mengawini ibunya secara sah tentu saja tidak dapat menjadi wali baginya. Bahkan kalau si ayah ini wafat, maka anaknya itu tidak berhak mendapatkan warisan darinya.

Selama seorang ayah itu masih mengakui menjadi seorang muslim, meski dia bermaksiat dan banyak melanggar ajaran Islam, statusnya tetap muslim. Dan untuk itu haknya sebagai wali nikah tidak terlepas. Dialah yang paling berhak menjadi wali bagi anaknya sendiri. Dan bukan orang lain.

Karena dia pula yang selama ini berkewajiban memberikan penghidupan, nafkah, pendidikan, bimbingan, perawatan dan pemeliharaan si anak. Sejahat apapun sikap dan perilakunya, tentu dia adalah ayahnya sendiri. Jadi dari dirinya juga seorang calon menantu melakukan ijab qabul.

Perlu anda ketahui bahwa siapa yang menjadi wali nikah bagi anda bukan terserah pilihan anda. Masalah wali bukan masalah selera siapapun, melainkan masalah hukum syariat. Kita tidak punya hak untuk melakukan pilihan-pilihan seperti memilih pemain bintang sinetron. Boleh cari yang ganteng, menarik atau yang gagah.

Bahwa pengetahuan agamanya sangat minim, juga tidak mengurangi posisinya sebagai ayah kandung yang sah dan resmi. Maka apapun yang ada pada diri ayahanda tercinta, terimalah dia apa adanya. Bukankah tiap orang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri di kemudian hari? Siapakah yang bisa menolak hidayah yang Allah berikan kepada hamba-Nya? Bukankah kalau Allah menghendaki, seseorang yang tadinya alim bisa tersesat di kemudian hari?

Karena itu berprasangka-baiklah kepada Allah dan juga kepada ayahanda anda sendiri. Biar bagaimana pun lewat tulang sulbinya anda bisa lahir ke dunia ini.

Semoga Allah SWT memberkahi kehidupan anda dan pernikahan yang akan anda jalani. Semoga anda diberikan kehidpan yang sakinah, mawaddah dan penuh kasih sayang. Amien

Wallahu a'lam bishshawab Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Boleh Menikah?
3 January 2006, 11:04 | Nikah | 8.210 views
Hukum Menjual Kulit Hewan Qurban
3 January 2006, 04:53 | Qurban Aqiqah | 7.803 views
Belajar Bahasa Arab
3 January 2006, 00:57 | Umum | 10.007 views
Shalat Tahajud dan Muhasabah
2 January 2006, 05:58 | Shalat | 7.544 views
Haruskah Membayar Hutang Puasa Ramadhan?
29 December 2005, 08:11 | Puasa | 6.245 views
Penjelasan Mazhab
29 December 2005, 07:31 | Ushul Fiqih | 12.757 views
Rujukan Kitab Untuk Ilmu Syariah
29 December 2005, 03:29 | Ushul Fiqih | 10.371 views
Waktu Yang Utama Untuk Shalat Isya
28 December 2005, 03:44 | Shalat | 16.133 views
Metode Berdakwah bagi Orang Terdogmatis
27 December 2005, 09:10 | Dakwah | 6.563 views
Al-Qur'an yang Asli Ada di Manakah?
27 December 2005, 01:51 | Quran | 7.903 views
Qiraah Tujuh Imam
26 December 2005, 07:46 | Quran | 9.804 views
Belajar Shalat
24 December 2005, 04:14 | Shalat | 7.646 views
Mengganti Puasa
22 December 2005, 02:58 | Puasa | 7.026 views
legalisasi renungan
22 December 2005, 02:25 | Umum | 5.678 views
Menyambung Masalah Perbedaan
21 December 2005, 09:53 | Ushul Fiqih | 6.277 views
Membunuh Jasus
21 December 2005, 08:53 | Jinayat | 7.154 views
fiqih rumah tangga-tentang HAK istri thdp Seluruh Penghasilan\' suami
| Umum | 1.594 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,356,196 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img