Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kebolehan Menikahi Wanita Kristen, Masihkah Berlaku Hari Ini? | rumahfiqih.com

Kebolehan Menikahi Wanita Kristen, Masihkah Berlaku Hari Ini?

Mon 22 April 2013 23:00 | Nikah | 12.530 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr wb.

Ada satu ganjalan terkait dengan kebolehan laki-laki muslim menikah dengan wanita kristen. Pertanyaan saya, adakah kebolehan ini tetap berlaku sampai hari ini dan apakah wanita kristen itu identik dengan ahli kitab?

Mohon pencerahanya, jazakallah kharalah jaza'

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jumhur ulama telah berepakat tentang kebolehan pernikahan antara laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab. Sebab hal itu merupakan ketentuan langsung dari Allah SWT serta ditegaskan di dalam kitab-Nya yang abadi.

Nash yang ada di dalam Al-Quran menyebutkan dengan mutlak yaitu dihalalkannya laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab. Dan semua ulama sepakat bahwa laki-laki muslim dihalalkan untuk menikahi wanita ahli kitab.

Allah SWT berfirman :.

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ

Dan dihalalkan (mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan (dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu (QS. Al-Maidah: 5)

Para ulama juga sepakat bahwa kehalalan menikahi wanita ahli kitab ini berlaku bukan hanya pada zaman Rasulullah SAW dan para shahabat saja, melainkan berlaku juga hingga hingga pada masa berikutnya, sampai hari ini dan juga sampai selesainya alam semesta nanti.

Tidak ada nash resmi atau pun keterangan yang menyebutkan bahwa ayat di atas telah dinasakh atau dihapus. Sehingga ayat itu oleh para ulama dipandang sebagai ayat yang muhkamat dan masih terus berlaku ketentuan hukumnya sampai kiamat.

Maka para ulama sepakat bahwa kehalalan menikahi wanita kitabiyah itu berlaku untuk terus menerus tdak terbatas pada  kurun waktu tertentu.

Perbedaan Pendapat

Namun yang jadi titik perbedaan pendapat adalah dalam menetapkan ke-ahli-kitab-an para wanita. Sebagian menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan wanita ahli kitab hanya terbatas pada kalangan tertentu, sedangkan sebagian lainnya meluaskan maknanya.

1. Pendapat Yang Membatasi

Kita mulai dari pendapat mereka yang mengatakan bahwa ahli kitab sudah tidak ada lagi di masa sekarang. Atau dengan kata lain, orang-orang yahudi dan nasrani yang kita kenal sekarang ini, bukan termasuk dalam kategori ahli kitab sebagaimana yang dimaksud di dalam surat Al-Maidah ayat 5 di atas.

Ada beberapa alasan yang mereka kemukakan, di antaranya yang paling kuat adalah :

a. Sudah Menyimpang

Dalam pandangan mereka, orang-orang yahudi dan nasrani yang hidup di zaman kita sekarang ini dianggap sudah menyimpang jauh dari fundamental agama mereka yang asli.

Agama yang dianut oleh yahudi di masa sekarang dianggap bukan agama yang dibawa oleh Nabi Musa alaihissalam. Demikian juga, agama yang dianut oleh umat Kristiani saat ini, dianggap bukan lagi agama yang dibawa oleh Nabi Isa alaihissalam.

Dan penyimpangan itu bukan pada masalah yang sifatnya cabang atau furu'iyah, melainkan justru terjadi pada esensi dan bagian yang paling fundamental dari agama itu, yaitu prinsip dalam konsep ketuhanan.

Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimassalam adalah nabi yang membawa agama tauhid, yang intinya mengesakan Allah dan menganggap selain Allah adalah makhluk. Namun para ahli kitab di masa berikutnya, baik yahudi mau pun nasrani, keduanya sama-sama mengganti elemen paling dasar dari agama yang kini mereka anut, yaitu menjadi agama politheis, sebagaimana prinsip dasar agama-agama paganis di Eropa.

Polithies adalah agama yang menganut prinsip bahwa tuhan itu menjalankan kekuasaannya secara kolektif atau bersama-sama. Pendeknya, tuhannya bukan hanya satu, melainkan dia bersekutu atau berserikat dengan tuhan-tuhan lain, meski derajatnya lebih rendah dari tuhan yang utama.

Orang-orang yahudi telah mengubah status Nabi Uzair menjadi tuhan, atau masuk ke dalam derajat ketuhanan dalam posisi sebagai anak tuhan.

Demikian juga orang-orang nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa itu masuk ke dalam jajaran orang suci yang paling tinggi, sehingga kemudian ditahbiskan menjadi anak tuhan.

Di tahun 381 masehi, para pembesar umat Nasrani mengadakan Sidang Konsili (Konstantinopel I). Dari sidang itu kemudian untuk pertama kali ditetapkan bahwa ketuhanan itu sama dengan satu, dan satu sama dengan tiga. Jadi 1 sama denga 3 dan 3 sama dengan 1. Kebijakan Trinitas (tatslist) ini ditetapkan oleh konstantinopel I sebagai perkembangan dari Konsili Nikea 325 M.

Logika yang digunakan adalah kalau tiga berkumpul dalam sesuatu yang satu, yang meliputi semua unsurnya, maka jadilah ia disebut satu. Contohnya adalah rokok kretek, yang mempunyai tiga unsur, yaitu kertas, cengkeh dan tembakau.

Unsur-unsur itu tidak boleh disebut sebagai saling memiliki karakter, mustahil dikatakan bahwa kertas memiliki karakter rokok, atau tembakau memiliki karakter cengkeh. Setiap unsur memiliki karakternya sendiri-sendiri, yang menjadi kekhususannya.

Dengan penyimpangan yang sangat jauh itu, agama monothis diubah haluannya menjadi agama polytheis, maka sebagian kalangan mengatakan bahwa baik yahudi maupun nasrani, sama-sama telah kehilangan jati diri yang paling asli dari agama mereka. Karena itu kedua agama itu dianggap sudah bukan lagi agama yang asli dan original, sehingga tidak lagi berhak menyandang status : ahli kitab.

b. Ras dan Darah

Sebagian kalangan yang menolak yahudi dan nasrani sebagai ahli kitab berdalil bahwa istilah ahli kitab itu mengacu hanya kepada Bani Israil sebagai kaum, bangsa atau ras, bukan sebagai religi yang bisa dipeluk oleh siapa saja.

Hal itu dikuatkan dengan mengingat bahwa di masa lalu, Allah SWT memang menurunkan agama hanya kepada bangsa-bangsa tertentu saja. Dimana para nabi pun diutus hanya kepada kaum atau bangsanya saja.

Dasarnya adalah firman Allah SWT :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ فَإِذَا جَاء رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka tidak dianiaya. (QS. Yunus : 47)

Di masa lalu setiap rasul yang diutus suatu kaum selalu berasal dari kaum itu sendiri, dengan bahasa kaum itu sendiri juga. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibrahim : 4)

Di masa sekarang ini, yahudi secara umum masih memegang prinsip ini, yaitu agama yahudi hanya untuk ras yahudi saja, atau untuk orang yang berdarah yahudi. Dan ada kecenderungan mereka untuk menjaga agar darah yahudi mereka tidak hilang atau bercampur dengan darah bangsa lain.

Untuk mempertahankan keaslian darah yahudi mereka, umumnya mereka tidak menikah kecuali dengan sesama orang yang berdarah yahudi pula.

Sehingga secara statistik, jumlah populasi yahudi di dunia ini tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 jutaan saja. Lima jutaan tinggal di Amerika, 5 juta lagi tinggal di negara Palestina yang mereka jajah dan mereka beri nama Israel. Dan sisanya tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tetapi lain hanya dengan agama nasrani, sejak masuk ke Eropa dibawa oleh Paulus, agama ini bukan hanya berubah dari monotheis menjadi polytheis, tetapi juga berubah menjadi agama publik, yang mentargetkan agar seluruh manusia bisa dirangkul masuk ke dalam agama itu. Ada istilah 'menyelamatkan domba-domba yang tersesat'.

Maka seiring dengan kolonialisme barat terhadap dunia timur, proses kristenisasi menjadi bagian langsung yang didukung oleh kekuatan militer dan perdagangan. Maka bermunculan berbagai lembaga misionaris untuk memasukkan umat manusia ke dalam agama ini.

Padahal sejatinya, ketika Allah SWT mengutus Nabi Isa alaihissalam, beliau tidak diperintahkan untuk menjadi nabi bagi semua umat manusia. Tugas beliau hanya menjadi nabi buat kaumnya saja dan tidak ada beban untuk menyebarkan agama yang beliau bawa kepada berbagai bangsa di dunia.

Maka kalau pun berbagai bangsa itu memeluk agama nasrani, sesungguhnya mereka tidak pernah diperintah oleh Allah untuk memeluknya. Dan kepemelukan mereka terhadap agama yang khusus hanya buat Nabi Isa dan kaumnya itu menjadi tidak sah alias tidak ada artinya. Dan itu berarti bangsa-bangsa di dunia ini, selain kaumnya Nabi Isa, bukanlah umat nasrani, dus mereka bukan ahli kitab.

Karena itu dalam pendapat ini, orang-orang yang beragama Kristen di luar ras atau darah Bani Israil  tidak bisa dianggap sebagai pemeluk agama Nabi Isa atau ahli kitab. Maka semua ketentuan hukum dalam syariat Islam yang berlaku buat ahli kitab yang sesungguhnya tidak bisa diterapkan kepada mereka.

c. Yahudi dan Nasrani Musyrik

Sebagian orang berpendapat bahwa laki-laki muslim diharamkan menikahi wanita yahudi dan nasrani, karena mereka justru melakukan kemusyrikan. Sedangkan Al-Quran mengharamkan laki-laki muslim menikahi wanita musyrik.

Pendapat ini juga benar dan didukung oleh Ibnu Umar radhiyallahuanhu yang mengatakan bahwa pemeluk agama ahli kitab itu pada dasarnya musyrik dan haram dinikahi. Sebab tidak ada kemusyrikan yang melebihi perbuatan seorang menyembah nabi Isa alihissalam.

Selain itu ada Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa tidak ada yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa.

Di Indonesia fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga termasuk yang berada pada posisi mengharamkan pernikahan laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab, padahal secara tegas Al-Quran menghalalkannya.

2. Pendapat Bahwa Ahli Kitab Masih Ada

Tentu saja para ulama yang mendukung bahwa ahli kitab di zaman sekarang ini masih ada, punya hujjah dan argumentasi yang tidak kalah kuat. Bahkan mereka menjawab lewat kelemahan argumentasi 'lawan' mereka sendiri.

a. Sudah Menyimpang Sebelum Masa Nabi

Kalau dikatakan bahwa agama yahudi dan nasrani di hari ini telah menyimpang dari keasliannya, hal itu memang benar. Benar bahwa agama ini memang telah menyimpang. Tetapi penyimpangan itu sebenarnya sudah terjadi ratusan tahun sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Dengan kata lain, Rasululllah SAW tidak pernah bertemu dengan ahli kitab yang masih asli aqidahnya. Sebab Rasulullah SAW lahir di tahun 571 Masehi dan diangkat menjadi utusan Allah di tahun 611 Masehi. Sementara sejak tahun 381 umat Kristiani sudah menggandakan tuhan mereka.

Tetapi meski dianggap 'menyimpang', ternyata Rasulullah SAW tetap memperlakukan mereka sebagai ahli kitab. Beliau makan sembelihan mereka dan menikahi wanita mereka.

Kalau sudah demikian, argumentasi yang mengatakan bahwa yahudi dan narsani itu bukan ahli kitab dengan sendirinya gugur. Sebab Nabi SAW sendiri yang memperlakukan mereka sebagai ahli kitab.

Sidang Konsili yang menetapkan Nabi Isa sebagai anak tuhan dan tuhan menjadi tiga buah itu, digelar di tahun 381 masehi. Sedangkan Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah terjadi di tahun 611 masehi. Artinya, sudah sejak tiga ratus tahun sebelum kenabian Muhammad SAW dan turunnya syariat Islam, nasrani memang telah menyimpang.

Namun dalam keadaan menyimpang itu, Al-Quran tetap menyebut mereka sebagai ahli kitab dan tetap sebagai nasrani. Bahkan penyimpangan mereka disebut-sebut di dalam ayat Al-Quran dan Al-Quran menyebut mereka kafir :

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَآلُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam" (QS. Al-Maidah : 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga tuhan. (QS. Al-Maidah : 73)

Namun mereka tetap dianggap sebagai ahli kitab dan diperlakukan sebagai ahli kitab di masa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidak pernah membeda-bedakan umat nasrani di zamannya, antara yang masih bertatus ahli kitab atau yang bukan ahli kitab.

Berarti secara logika, di zaman sekarang ini pun mereka tetap saja berstatus sebagai ahli kitab. Sebab penyimpangan yang mereka lakukan sejak sebelum masa Rasulullah SAW itu tidak membuat mereka keluar status sebagai ahli kitab.

Kalau penyimpangan mereka di masa Nabi SAW tetap tidak mengubah status mereka sebagai ahli kitab, lalu apa yang membuat mereka sekarang ini dianggap bukan lagi ahli kitab?

b. Ahli Kitab Selain Bani Israel

Sedangkan argumentasi yang menyebutkan bahwa status ahli kitab itu hanya terbatas pada darah dan keturunan saja, atau hanya mereka yang punya ras sebagai Bani Israil saja, sehingga bangsa-bangsa lain yang memeluk nasrani tidak dianggap sebagai nasrani, juga merupakam pendapat yang lemah.

Dimana titik kelemahan argumentasi itu?

Kita bisa buka lembaran sejarah di masa Rasulullah SAW, dimana ada dua raja di masa Nabi yang bukan berdarah Bani Israel, tetapi oleh beliau SAW dianggap sebagai nasrani.

Fakta yang pertama, adalah orang-orang Yaman di masa itu yang merupakan ahli kitab dan bukan berdarah Israil. Raja Yaman dan penduduknya memeluk agama nasrani, sebelum diislamkan oleh dua shahabat Nabi SAW, Muadz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahuanhuma.

Di waktu Nabi SAW dilahirkan, seorang raja Yaman yang beragama nasrani datang ke Mekkah dengan membawa pasukan bergajah dengan niat mau merobohkan Ka'bah. Dia bernama Abrahah. Tidak ada keterangan Abrahah ini keturunan atau berdarah Israil, tetapi yang jelas dia seorang pemeluk agama nasrani.

Bahkan motivasinya datang ke Mekkah untuk merobohkan Ka'bah tidak lain karena di Yaman ada gereja yang besar, dan dia ingin agar orang-orang Arab beribadah ke gerejanya dan bukan ke Ka'bah.

Ketika Nabi SAW mengutus dua shahabatnya ke Yaman, beliau memberikan arahan bahwa keduanya akan berdakwah ke negeri yang penduduknya termasuk ahli kitab. Padahal mereka tidak berdarah Israil.

Fakta yang kedua, raja dan rakyat Habasyah di Afrika. Sekarang negeri ini disebut Ethiopia. Raja dan penduduknya tentu berdarah Afrika dengan ciri kulit hitam dan rambut keriting sesuai ras benua itu.

Dan ras Bani Israil di Palestina tentu tidak ada yang berwarna kulit hitam dengan rambut keriting dan hidung mancung ke dalam. Kalau kita sandingkan ras Bani Israel dengan ras orang Afrika, maka jelas sekali perbedaannya dengan hanya sekali lirik saja.

Namun raja negeri Habasyah, An-Najasyi, jelas-jelas beragama nasrani sebagaimana disebutkan dalam sirah Nabawiyah. Dan Rasulullah SAW sengaja mengirim para shahabatnya berhijrah ke Habasyah karena tahu bahwa raja dan rakyatnya beragama nasrani.

Maka klaim bahwa status ahli kitab itu hanya untuk ras Bani Israil saja tidak berlaku dan tidak dilakukan oleh Rasulllah SAW. Beliau lebih memandang bahwa siapa saja yang mengaku dan berikrar bahwa dirinya seorang pemeluk agama nasrani, maka kita perlakukan dia sesuai dengan pengakuannya, bukan berdasarkan kualitas pelaksanaan ajarannya, juga bukan dari ras atau warna kulitnya.

Maka dua argumentasi yang dikemukakan oleh mereka yang mengatakan sudah tidak ada lagi ahli kitab di masa sekarang adalah argumentasi yang lemah, dan ditolak serta tidak sesuai dengan praktek langsung yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Hal itu berarti, wanita yahudi dan nasrani hari ini hukumnya tetap halal dan sah untuk dinikahi, karena status mereka tetap masih sebagai ahli kitab.

c. Yahudi dan Nasrani Syirik Tapi Bukan Musyrik

Penggunaan istilah al-musyrikinin (المشركين) di dalam Al-Quran berbeda makna dengan perbuatan yang bernilai syirik. Istilah al-musyrikin mengacu kepada orang-orang yang memeluk satu agama tertentu, yang disebut sebagai agama syirik, yaitu agama yang menyembah berhala, seperti yang dianut oleh orang-orang Arab Quraisy di masa itu.

Jenis yang lain dari agama musyirikin adalah agama samawi, yaitu agama yang turun dari langit, seperti yahudi, nasrani dan Islam.

Adapun istilah perbuatan syirik yang kita kenal umumnya, punya makna lainya. Perbuatan yang bernilai syirik itu mungkin saja terjadi pada diri orang-orang Islam, tanpa dia harus kehilangan status keislamannya. Ketika umat Islam percaya kepada ramalan bintang, percaya pada undian nasib, atau paranormal, bahkan memberi sesaji kepada roh-roh tertentu, semua perbuatan itu jelas merupakan perbuatan terlarang dan dianggap syirik, tetapi kita tetap tidak bisa memvonis mereka sebagai orang kafir yang murtad keluar dari agama Islam. Secara status kita tetap memasukkan mereka sebagai umat Isalam.

Kalau kita cermati lebih jauh, dalam pengistilahan Al-Quran ternyata istilah musyrik itu memang dibedakan dengan ahli kitab, meski kedua sama-sama termasuk agama kafir .

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ

Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (QS. Al-Bayyinah : 1)

Tetapi orang yang mengerjakan perbuatan syirik tidak otomatis menjadi orang musyrik. Sebab ketika Al-Quran menyebut istilah ''orang musyrik'', yang dimaksud adalah orang kafir, bukan sekedar orang yangmelakukan perbuatan syirik.

Apakah kalau ada seorang muslim datang ke kuburan karena dia kurang ilmunya, lalu meminta kepada kuburan, lantas dia langsung jadi kafir?

Apakah seorang yang percaya dengan ramalan bintang (zodiak) itu juga langsung jadi kafir? Bukankah perbuatan riya' itu juga disebut syirik kecil? Lantas apakah pelaku riya' otomatis jadi kafir?

Jawabannya tentu tidak. Sebab orang yang terlanjur berlaku riya' tentu tidak bisa disamakan dengan orang musyrik penyembah berhala yang pasti masuk neraka.

Bukankah bila seorang datang kepada dukun, percaya pada ramalan bintang, percaya kepada burung yang terbang melintas, percaya bahwa ruh dalam kubur bisa mendatangkan bahaya dan sejenisnya juga merupakan perbuatan syirik? Dan berapa banyak umat Islam yang hingga hari ini masih saja berkutat dengan hal itu?

Tentu saja mereka tidak bisa dikatakan kafir, non muslim atau pun dikatergorikan sebagai pemeluk agama paganis dan penyembah berhala.

Sebab ayat yang mengharamkan muslim menikahi wanita musyrik itu maksudnya adalah wanita yang belum masuk Islam. Bukan orang yang pernah melakukan perbuatan yang termasuk kategori syirik. Dan perbuatan syirik yang mereka lakukan itu tidaklah membuat mereka keluar dari Islam.

Yang dimaksud dengan orang musyrik yang tidak boleh dinikahi juga bukan non-muslim ahli kitab (nasrani atau yahudi). Tetapi yang dimaksud adalah mereka yang beragama majusi yang menyembah api, atau agama para penyembah berhala seperti kafir Quraisy di masa lalu. Dan bisa juga agama para penyembah matahari seperti agamanya orang jepang dan lainnya.

Musyrikin itu dalam hukum Islam dibedakan dengan ahli kitab, meski sama-sama kafirnya. Pemeluk agama ahli kitab itu secara hukum masih mendapatkan perlakuan yang khusus ketimbang pemeluk agama berhala lainnya. Misalnya tentang kebolehan bagi laki-laki muslim untuk menikahi wanita ahli kitab. Juga tentang kebolehan umat Islam memakan daging sembelihan mereka. Sesuatu yang secara mutlak diharamkan bila terhadap kafir selain ahli kitab.

Hikmah Larangan dan Kebolehan

Lepas dari kebolehan syariah bagi laki-laki muslim untuk menikahi wanita ahli kitab (kristen atau yahudi), namun dalam kasus tertentu dan pertimbangan tertentu, boleh saja ada semacam warning untuk tidak memperbolehkannya.

Di masa lalu, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu pernah melarang beberapa shahabat untuk menikahi wanita ahli kitab, di antaranya Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallauhanhu, yang beristrikan seorang wanita ahli kitab.

Umar memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, namun Hudzaifah menjawab,"Apakah Anda berfatwa bahwa menikahi wanita ahli kitab itu haram, sehingga Aku harus menceraikannya?". Umar menjawab,"Aku tidak bilang haram, namun aku khawatir kamu mengambil seorang pelacur dari mereka".

Hal yang sama juga terjadi pada diri Thalhah bin Ubaidillah, dimana khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhuma memerintahkannya menceraikan wanita ahli kitab yang telah dinikahinya.

Mengingat kondisi kita di Indonesia, pernikahan campur memang sudah sangat merugikan umat Islam. Sebab proses pemurtadan yang selama ini berlangsung memang di antaranya melalui nikah beda agama.

Sebuah fenomena yang berbeda dengan keadaan umat Islam di Barat. Pernikahan campur di sana ternyata malah bernilai positif, karena dengan menikahnya laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab, terjadilah proses Islamisasi yang dahsyat.

Yang kedua adalah berkaitan dengan pendidikan anak. Sebagaimana kita tahu orang yang paling berpengaruh dalam pendidikan anak adalah ibu, karena umumnya ibu lebih dekat dengan mereka. Kalau ibu mereka bukan muslimah, pendidikan Islam seperti apa yang akan mereka terima.

Belum lagi kalau anak-anak itu belajar aqidah yang intinya akan menyimpulkan bahwa orang yang bukan muslim akan masuk neraka. Bagaimana perasaan mereka bila tahu bahwa ibu mereka pasti masuk neraka karena bukan muslimah? Apalagi ada resiko anak-anak akan diperkenalkan dengan budaya Nasrani, seperti ke gereja, natalan dan menyembah nabi Isa as. Maka akan semakin parah kondisi anak-anak anda nantinya.

Kita pun perlu menghargai pendapat ini dan memang dalam banyak hal, tetap ada nilai-nilai kebenarannya.

Ledakan Penduduk Muslim di Barat

Satu hal yang menarik terjadi baru-baru ini di Italia. Situs BBC online melaporkan bahwa padatahun 2005 telah terjadi banyak pernikahan antra wanita Katolik dengan laki-laki muslim di negeri pizza itu. Dan data dari kantor statistik Italia sendiri (ISTAT) menyebutkan bahwa telah terjadi 19.000 lebih pernikahan antara agama di Italia.

Sampai-sampai Kardinal Camillo Ruini di Roma merasa sangat khawatir dengan kenyataan ini. Sebab pernikahan antar agama itu artinya adalah laki-laki muslim di Italia menikahi wanita Katolik, lalu ujung-ujungnya terjadi proses Islamisasi dahsyat dan sistematis.

Kekhawatiran Kardinal ini wajar dan mewakili perasaan para pemuka agama masehi di sana. Sebab Italia terhitung sebagai negara yang paling rendah angka kelahirannya di dunia. Sementara dari pernikahan beda agama itu sendiri justru terjadi banyak kelahiran bayi-bayi muslim yang semakin lama semakin mempercepat angka grafik pertumbuhan muslim di negeri yang menjadi pusat Katolik di dunia.

Sekarang ini saja, Islam telah menduduki urutan kedua terbesar sebagai agama yang dipeluk di negeri itu. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di negeri itu telah menjadi daya tarik tersendiri buat para tenaga kerja asing, karena tenaga kerja asli negeri itu jumlahnya kurang.

Ternyata, para tenaga kerja asing ini berdatangan dari banyak negeri muslim, seperti Maroko, Tunis, Palestina dan lainnya. Mereka yang tentunya muslim telah banyak memenuhi peluang pekerjaan di negeri itu dan menikahi wanita-wanita Italia, lalu melahirkan anak-anak muslim, bahkan para wanita Nasrani itu pun akhirnya banyak yang masuk Islam. Sekarang ini komunitas muslim telah bergerak cepat menjadi 500.000 orang, dua kali lipat dari 10 tahun yang lalu.

Bahkan ketika ditetapkan bayi yang pertama kali lahir tahun 2000, bayi yang lahir adalah bayi muslim, anak imigran Maroko yang berasal dari keluarga muslim. Pantas saja para uskup di sana tambah gelisah, lalu mengadakan konferensi khusus membahas pernikahan antar agama muslim dan kristen.

Dan hasilnya, konferensi itu melahirkan rekomendasi PELARANGAN pernikahan antar agama. Termasuk juga pelarangan pemanfaatan gereja untuk shalat berjamaah. Perlu diketahui bahwa di dalam syariat Islam memang tidak dilarang untuk melakukan shalat di dalam gereja. Dan itulah yang selama ini terjadi.

Lain pihak pemuka agama kristen, lain pula sikap penduduk Italia sendiri. Seruan dan rekomendasi itu dianggap angin lalu. Lihat saja apa yang dilakukan penduduk Palermo dan Modena, mereka justru memberikan ruang gerak yang lebih bebas kepada umat Islam. Bahkan mereka mendirikan badan penasehat bagi imigran.

Bahkan komunitas muslim di sana sampai bisa mengusulkan agar di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Arab dan Al-Quran bagi setiap siswa muslim.

Inilah barangkali sebuah bukti apa yang pernah disabdakan Rasulullah SAW 14 abad yang lampau, yaitu bahwa peradaban barat itu akan jatuh ke tangan Islam. Bahkan kepastian pusat agama Nasrani jatuh ke tangan umat Islam sudah lama diperbincangkan oleh para shahabat sejak dulu.

Sampai-sampai mereka hanya menanyakan mana yang lebih dulu jatuh ke tangan umat Islam, Konstantinopel atau Roma? Rasulullah SAW menjawab bahwa Konstantinopel yang akan lebih dulu ditaklukkan, baru kemudian Roma.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash berkata, "Saat kami dengan menulis di sekeliling Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu." Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)

Para shahabat nabi sudah tahu dan yakin sekali bahwa Islam akan berkuasa di Eropa, pertanyaan mereka bukan lagi tentang bisa atau tidak dijatuhkan, melainkan kota yang mana yang akan dijatuhkan terlebih dahulu.

Konstantinopel yang kini bernama Istambul adalah ibu kota khilafah Islamiyah Turki Utsmani di masa lalu,  menjadi pusat peradaban Barat (Romawi Timur) di bawah pimpinan Kaisar Heraklius. Janji Rasulullah SAW bahwa negeri ini akan ditaklukkan sempat terdunda dengan belum berhasilnya pasukan Islam menguasai kota inii selama beberapa abad.

Akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih (the Conqueror), khalifah Turki Utsmanin menaklukkannya pada hari Selasa, 20 Jumadilawal 857 H/29 Mei 1453 M. Sejak itu sultan Muhammad II digelari dengan Al-Fatih (Sang Penakluk) atau The Conqueror.

Namun kota Roma sebagai kota kedua yang dijanjikan beliau SAW sampai hari ini belum sempat direbut oleh umat Islam. Dr. Yusuf Al-Qaradawi memperkirakan bahwa pada abad ini pusat peradaban Barat itu (Roma/Vatikan) akan ditaklukkan, tapi bukan dengan meriam dan mesiu, melainkan dengan pena, buku dan internet.

Penduduk negeri itu akan masuk Islam dengan kesadaran sendiri dengan semakin gencarnya penyebaran informasi tentang Islam di dunia ini.

Apa yang diasumsikan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi itu sekarang sedang terjadi. Proses masuk Islam di negeri itu nyaris tak terbendung lagi. Sampai-sampai para pemuka agama Nasrani mengeluarkan warning dan rekomendasi lewat pelarangan nikah antar agama.

Semoga Allah SWT memenangkan umat Islam yang berjuang menyebarkan agama-Nya dengan berbagai macam cara yang mulia. Amien.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc,. MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Haramkah Menggunakan Biro Jasa dan Calo?
22 April 2013, 01:02 | Muamalat | 9.912 views
Bolehkah Mendapat Komisi dari Penjualan?
20 April 2013, 22:05 | Muamalat | 9.878 views
Apakah Rajam Syarat Diterimanya Taubat?
19 April 2013, 23:43 | Jinayat | 27.497 views
Benarkah Mentalak Istri Waktu Haid Haram Hukumnya?
18 April 2013, 18:13 | Nikah | 7.366 views
Hadits Ahad Bukan Hujjah Dalam Aqidah, Benarkah?
18 April 2013, 00:07 | Aqidah | 9.403 views
Bolehkah Menikah Tanpa Restu Orang Tua Pihak Lelaki?
16 April 2013, 22:40 | Nikah | 59.880 views
Bernyanyi di Karaoke Keluarga, Haramkah? (bag.2)
16 April 2013, 00:23 | Umum | 12.519 views
Bernyanyi di Karaoke Keluarga, Haramkah?
15 April 2013, 21:59 | Umum | 16.814 views
Pengantin Pria di Luar Negeri, Bisakah Akad Nikah?
14 April 2013, 23:00 | Nikah | 9.521 views
Bila Puasa Sudah Terlanjur Batal, Bolehkah Bersetubuh?
14 April 2013, 00:01 | Puasa | 34.795 views
Bolehkah Memutuskan Sesuatu Berdasarkan Undian?
13 April 2013, 04:51 | Kontemporer | 6.982 views
Hukum Shalat Tasbih, Bid'ahkah?
12 April 2013, 02:14 | Shalat | 19.238 views
Bercumbu dengan Isteri di Siang Hari Bulan Ramadhan
10 April 2013, 17:03 | Puasa | 8.237 views
Halalkah Makan dari Piring Non Muslim?
9 April 2013, 03:23 | Kuliner | 18.438 views
Sholat Jum'at di Negara Mayoritas Penduduknya Bukan Muslim
9 April 2013, 00:42 | Shalat | 6.578 views
Adakah Bangkai Yang Halal?
8 April 2013, 02:27 | Kuliner | 20.749 views
Tata Cara Shalat Taubat dan Doanya
7 April 2013, 23:35 | Shalat | 142.735 views
Mencukur Jenggot, Haramkah?
7 April 2013, 08:09 | Umum | 42.759 views
Uang Syubhat untuk Bayar Pajak?
5 April 2013, 21:19 | Muamalat | 7.044 views
Baca Al-Fatihah Sesudah Imam : Apa Tidak Terburu-buru?
4 April 2013, 23:47 | Shalat | 14.781 views

TOTAL : 2.301 tanya-jawab | 27,066,577 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema