Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Foto Paspor Tanpa Jilbab? | rumahfiqih.com

Bolehkah Foto Paspor Tanpa Jilbab?

Tue 28 January 2014 06:16 | Wanita | 11.188 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz, saya gundah sekali. Suami saya saat ini sedang menempuh kuliah di negara lain, kami sudah terpisah dalam jangka waktu yang lama. Saya belum bisa menyertai karena saya seorang pegawai negeri juga. Saat ini saya ditugaskan belajar di negeri yang sama dengan suami. Masalahnya ustadz, untuk mengurus paspor, saya harus menyertakan foto yang tanpa jilbab, saya suah berusaha agar saya bisa memakai foto yang memakai jilbab, tapi ternyata ditolak. Ustadz, apa yang harusa saya lakukan? Terus terang saya dan suami sudah terpisah lama sekali, kami takut masing masing diri kami sulit untuk menjaga diri. Mohon pendapat dari ustadz. Terimakasih sebelumnya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Pada dasarnya tidak ada keharusan bagi wanita untuk melepas jilbab sekedar karena alasan kepentingan pas photo. Kalau pun ada aturan seperti itu, pastilah aturan yang dibuat-buat oleh pihak-pihak yang tidak paham agama.

Ada ada saja alasan yang dibuat. Misalnya, kalau pakai jilbab tidak bisa kelihatan telinganya. Sehingga tidak bisa dikenali wajahnya yang asli. Astaghfirullah 'azhiem...

Apakah mengenali wajah seseorang harus dengan melihat daun telinga? Apakah daun telinga seseorang itu menjadi faktor penentu untuk membedakannya dengan wajar orang lain?

Sungguh ini hanya akal-akalan belaka. Kalau bukan karena niatnya jahat untuk melecehkan wanita muslimah, maka bisa jadi karena petugasnya terlalu awam terhadap agamanya. Sebab menutup aurat bagi muslimah hukumnya wajib. Dan jilbab adalah bagian utuh dari pakaian seorang wanita muslimah.

Lagi pula secara logika pun aneh. Orang yang setiap hari memakai jilbab dan tidak terlihat telinganya, justru semakin tidak dikenali kalau berfoto harus membuka jilbab dan terlihat telinga. Sebenarnya peraturan ini sendiri yang justru aneh dan tidak masuk akal sehat.

Maka jangan sampai karena perasaan inferior kita, hak kita sebagai muslim jadi terkorbankan. Seharusnya Islam itu lebih tinggi dari segala peraturan buatan manusia manapun. Taat kepada orang tua pun harus dikalahkah dengan ketaatan kepada Allah. Apalagi taat kepada peraturan macam begitu yang hanya akal-akalan petugas. Tentu harus dilawan dan dikalahkan bila sampai mengancam jati diri seorang muslim.

Kalau seandainya peraturan itu sudah terlanjur menjadi sistem yang berlaku secara formal, selama kita masih di Indonesia, sebenarnya mudah saja. Di mana-mana kita sangat kenal dengan watak dan karakteristik 'peraturan' di negeri ini.

Buknakah para tahanan di dalam penjara bisa mendapatkan fasilitas nyaman, ber-AC, punya TV, bisa telepon kemana-mana pakai HP, bahkan tidak jarang mendapat menu istimewa, bahkan dapat jam setoran dari istri sampai punya waktu 'cuti' untuk jalan-jalan ke luar penjara. Padahal kita tahu seharusnya semua faslitas itu tidak mungin didapat. Tapi apa lacur, ternyata semua bisa diatur asalkan ada pelicinnya. Di sini berlaku hukum KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).

Maka apa susahnya meminta kerelaan petugas imigrasi dan 'berdamai' dengan mereka agar wanita muslimah tidak perlu ditelanjangi auratnya, sekedar untuk berfoto di passport. Mungkin bila didekati dengan cara yang baik dan mengesankan, insya Allah hatinya akan luluh juga.

Pepatah Arab sering mengatakan: Al-Insan 'abidul Ihsan, manusia itu budak kebaikan. Kecenderungan orang itu adalah akan melayani bila kita memberikan kebaikan kepadanya lebih dahulu.

Apalagi yang kita kejar bukanlah kepentingan duniawi, melainkan kepentingan ukhwawi. Maka memberikan sekedar biaya untuk melunakkan hati para petugas menjadi wajar. Bukankah Rasulullah SAW dahulu pun seringkali memberikan harta kepada para pemuka kafir yang memusuhi umat Islam?

Bukankah dari sebagian dana zakat itu ada yang diperuntukkan buat orang-orang yang sedang dirayu hatinya? Mereka disebut sebagai al-muallafati qulubuhum. Dan muallaf itu bukan saja mereka yang sudah masuk Islam, tetapi termasuk juga orang yang keras hatinya kepada hukum Islam atau menentang syariat Islam. Kepada mereka, berikanlah suatu hal yang bisamenjadikan lunak hatinya.

Di dunia ini, apalagi di negeri ini, aturan mana sih yang tidak bisa 'diatur'? Jadi silahkan atur saja dan kompromikan dengan petugas. Kami yakin anda pasti bisa melakukannya. Dalam masalah seperti ini, mungkin akan lebih efektif kalau kita berikan 'kebaikan' kepada petugas ketimbang ayat Quran, hadits dan dalil-dalil syar'i.

Adakalahnya kebaikan itu jauh lebih berarti ketimbang seribu ayat Quran buat melunakkan hati seseorang. Sebab orang yang hatinya sudah sakit dan membeku, tiap dibacakan ayat Quran, bukannya sadar tapi malah semakin menjauh.

Wassalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Mengenakan Cadar, Wajibkah?
27 January 2014, 05:00 | Wanita | 18.373 views
Masih Berhakkah Anak Murtad atas Warisan Ayahnya yang Muslim?
26 January 2014, 06:35 | Mawaris | 9.586 views
Jual Beli Dua Harga Haram, Bagaimana dengan Kredit?
25 January 2014, 06:10 | Muamalat | 18.817 views
Anak Meninggal Lebih Dulu Dari Ayah, Apakah Anak itu Dapat Warisan?
24 January 2014, 12:00 | Mawaris | 74.843 views
Apakah Banjir Melanda Lantaran Manusia Banyak Dosa?
24 January 2014, 05:00 | Umum | 13.011 views
Tissue Pembersih Galon Air Minum
23 January 2014, 11:27 | Kuliner | 11.365 views
Melafadzkan Niat, Boleh atau Bidah?
22 January 2014, 10:55 | Shalat | 19.537 views
Batas Cuti Shalat bagi Wanita
21 January 2014, 08:42 | Thaharah | 11.401 views
Ketentuan Zakat Padi
20 January 2014, 04:55 | Zakat | 32.613 views
Mungkinkah Ada Ayat Al-Quran Yang Tidak Qath'i?
19 January 2014, 06:50 | Ushul Fiqih | 14.506 views
Caleg Minta Dipilih Dengan Memberi Uang Berdalih Sedekah
18 January 2014, 06:23 | Negara | 10.898 views
Mandi Junub Apakah Mesti Keramas?
17 January 2014, 05:23 | Thaharah | 13.317 views
Berzina dengan Adik Ipar, Haruskah Dinikahi?
16 January 2014, 05:02 | Nikah | 18.914 views
Alkohol untuk Sterilisasi Alat-Alat Kimia dan Kesehatan
15 January 2014, 04:59 | Kontemporer | 9.861 views
Suami Minum Susu Istri Jadi Mahram?
14 January 2014, 05:25 | Nikah | 19.927 views
Makmum Diam Saja di Belakang Imam atau Ikut Membaca?
13 January 2014, 04:23 | Shalat | 27.275 views
Apakah Sama Orang Musyrik dengan Orang Kafir?
12 January 2014, 07:51 | Aqidah | 11.487 views
Pernah Zina Ingin Taubat, Bagaimana Caranya?
11 January 2014, 04:46 | Wanita | 14.731 views
Haramkah Wanita Berkarir dan Bekerja di Luar Rumah?
9 January 2014, 04:21 | Wanita | 39.632 views
Istri Atau Pembantu Rumah Tangga?
8 January 2014, 07:07 | Wanita | 228.928 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 32,767,904 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-4-2018 :
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img