Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kaidah "Kalau Sekiranya Amal itu Baik, Mengapa Hal itu Tidak Dilakukan Oleh Rasulullah, Sahabat Dan Para Tabi'in?" | rumahfiqih.com

Kaidah "Kalau Sekiranya Amal itu Baik, Mengapa Hal itu Tidak Dilakukan Oleh Rasulullah, Sahabat Dan Para Tabi'in?"

Thu 19 January 2006 03:36 | Umum | 8.173 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wa rahmatullohi wa barokatuh


Bapak Ustadz yang diberkahi ALLAH SWT, mohon dijelaskan mengenai kaidah "kalau sekiranya amal itu baik, mengapa hal itu tidak dilakukan oleh Rasululloh, sahabat dan para tabi'in?" Bagaimana pendapat pak ustadz tentang kaidah ini? Apakah memang setiap bentuk amal harus persis sama seperti yang dicontohkan oleh Rasululloh dan para sahabat? Apakah memang ada amal yang dikategorikan bukan bid'ah secara syar'i dikarenakan pertimbangan nilai maslahat, walaupun sebenarnya memang tidak pernah dicontohkan rasululloh dan para sahabat?
Contoh: "Dzikir berjamaah", saya telah membaca penjelasan tentang dzikir berjamaah di "eramuslim", dan saya telah membaca juga penjelasan tentang kebid'ah-an dzikir berjamah di beberapa buku dan artikel. Yang dapat saya pahami adalah, dalil-dalil yang ada memang sama kuat. Namun saya melihat ada perbedaan pemahaman dalam memahami dalil, apakah memang demikian? Kemudian bagaimana jika diajukan pertanyaan dengan kaidah tersebut di atas?


Atas penjelasan yang Bapak Ustadz uraikan, saya yang sedang dalam kebingungan ini mengucapkan terimakasih. Semoga Allah SWT memberkahi ilmu yang bapak miliki.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullohi wa barokatuh

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Setiap ulama tentu saja punya sekian banyak hujjah (argumentasi) untuk menguatkan pendapatnya, termasuk juga hujjah untuk menjatuhkan pendapat 'lawan'nya. Saling melemahkan pendapat lainnya selama masih dalam etika fiqih ikhlitaf tentu saja dibenarkan. Sebab tujuan ijtihad memang untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan paling mendekati kebenaran. Bukan sekedar asal menang atau asal benar sendiri.

Di antara bentuk hujjah yang seringkali diajukan oleh para ulama ketika menafikan suatu amal dari kesunnahan adalah apa yang telah anda sebutkan, yaitu argumentasi "bila sautu amal memang baik, mengapa tidak dikerjakan secara langsung oleh Rasulullah SAW dan para shahabat?"

Argumentasi seperti ini tentu kuat sekali, sebab semua ulama sepakat untuk mengatakan bahwa ibadah ritual itu haruslah selalu mengacu kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Bila tidak ada keterangan yang valid dari Rasulullah SAW, maka suatu amal itu tidak bisa dinisbahkan kepada beliau SAW.

Sampai di sini para ulama tentu saja sepakat dan bersuara bulat. Namun masalahnya bukan hanya berhenti sampai di sini. Sebab para ulama pun berbeda pandangan ketika menyimpulkan hasil dari sekian juta hadits yang berserakan. Antara lain karena:

a. Mereka berbeda pendapat ketika menshahihkan suatu hadits

Sudah bukan rahasia lagi bahwa para ulama berbeda pandangan dalam menghukumi setiap hadits. Ketika ulama A mengatakan bahwa suatu hadits itu shahih, sebenarnya status keshahihan itu masih bersifat subjektif kepada yang mengatakannya. Boleh jadi hadits itu shahih dalam kerangka kriteria seorang ahli hadits, namun belum tentu hadits itu shahih buat ulama lainnya.

Dari sini saja kita sudah bisa menduga bahwa kalau hukum atas derajat suatu hadits itu masih mungkin berbeda-beda, tentu saja ketika mengambil kesimpulan apakah suatu amal itu merupakan sunnah dari Rasulullah SAW pun berbeda juga.

b. Mereka berbeda dalam mengambil kesimpulan hukum atas suatu amal

Katakanlah para ulama hadits sudah sepakat atas suatu amal, bahwa amal tersebut disebutkan di dalam suatu hadits yang shahih. Namun masalahnya belum selesai. Mereka masih sangat mungkin berbeda pendapat dalam pengambilan kesimpulannya.

Tiga Macam Sunnah

Selain kedua hal di atas, para ulama pun mengenal tiga macam sunnah yang sumbernya dari diri Rasulullah SAW. Ada sunnah yang pernah dilakukan langsung oleh beliau, namanya sunnah fi'liyah. Misalnya ibadah shalat sunnah seperti shalat dhuha', puasa Senin Kamis, makan dengan tangan kanan dan lainnya. Para shahabat melihat langsung beliau melakukannya, kemudian meriwayatkannya kepada kita.

Yang kedua adalah sunnah di mana Rasulullah SAW hanya memerintahkannya saja, disebut dengan sunnah qauliyah. Riwayat yang sampai kepada kita hanya sekedar ada perintah baik yang berupa kewajiban, saran, anjuran atau himbauan. Tetapi belum tentu kita mendapatkan dalil bahwa Rasulllah SAW pernah mengejakannya secara langsung.

Ambil contoh misalnya masalah berang. Kita semua tahu bahwa beliau SAW memerintah kita untuk mengajarkan anak-anak belajar berenang. Tapi sepanjang yang kita tahu dari hadits, belum pernah kita dengar bahwa Rasulullah SAW suatu ketika ketahuan sedang belajar berenang secara langsung. Atau ada suatu kelas khusus di mana Rasululah SAW dan para shahabat ikut kursus renang. Waallahu a'lam bishsawab, apakah ada hadits yang meriwayatkan hal itu. Yang kita selama ini hanya perintahnya saja untuk belajar berenang.

Dan yang ketiga adalah sunnah di mana Rasulullah SAW tidak melakukannya langsung, juga tidak pernah memerintahkannya dengan lisannya, namun hanya mendiamkannya saja. Sunnah yang terakhir ini seringkali disebut dengan sunnah taqririyah.

Kesimpulan Hukum Tentang Zikir Berjamaah: Masalah Khilaf

Salah satu contohnya adalah masalah zikir berjamaah, di mana begitu banyak hadits yang menyebutkan bahwa para malaikat turun kepada mereka dan memberikan naungannya dengan sayap-sayao mereka ke dalam majelis zikir itu. Hadits yang seperti ini tidak hanya satu dan dilihat dari segi hukum derajatnya pun termasuk hadits yang umumnya dishahihkan para ulama.

Tinggal mereka berbeda dalam menyimpulkan hukumnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa majelis zikir itu maksudnya bukan zikir massal bersama dengan satu komandan, melainkan zikir masing-masing. Jadi kalau zikir massal satu komando -menurut mereka- tetap tidak boleh. Yang lain lagi mengatakan bahwa majelis zikir itu maksudnya adalah majelis ilmu, bukan zikir massal. Dan yang lain lagi mengatakan hal yang lain lagi.

Padahal dari segi kekuatan derajat haditsnya telah mereka sepakati, tapi kesimpulan hukumnya tetap saja berbeda-beda. Lantaran mereka pun memiliki cara memahami hadits itu dengan cara yang berbeda pula.

Kalau kita kaitkan dengan pertanyaan yang anda sampai di muka, mereka yang mendukung zikir massal mengatakan bahwa meski tidak ada sunnah fi'liyah (yang dicontohkan secara langsung oleh nabi SAW dan para shahabat) bukan berarti zikir massal itu menjadi bid'ah, sehingga pelakunya berdoa dan masuk neraka. Sebab masih ada dalil lain yang menguatkan masyru'iyah zikir massal itu meski hanya sunnah qauliyah. Sunnah qauliyah itu adalah sunnah Rasulullah SAW yang keterangannya sampai kepadanya kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan dengan disebutkan atau diucapkan. Di mana ucapan itu tidak selalu berbentuk fi'il amr (kata perintah), tetapi bisa saja dalam bentuk anjuran, janji pahala, ancaman siksa dan sebagainya.

Bagaimana mungkin suatu amal yang didukung dengan dalil sunnah qauliyah itu disimpulkan menjadi hukum bid'ah?

Walhasil, kalau kita cermati argumen demi argumen masing-masing ulama, kita harus kagum dengan kemampuan mereka dalam berhujjah. Ini adalah sebuah level keilmiyahan tingkat tinggi, di mana kita hanya mampu berdecak kagum sambil manggut-manggut bila membaca dialog mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab, wassalamu;alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Jumlah Rukun Shalat Berbeda-beda?
16 January 2006, 09:11 | Shalat | 7.150 views
Imam Shalat : Antara yang Mukim dan Safar
16 January 2006, 09:05 | Shalat | 7.463 views
Bayar Pajak, termasuk Sodaqoh atau Infaq?
16 January 2006, 08:54 | Zakat | 6.683 views
Rapat Organisasi di Tempat Kost Akhwat
16 January 2006, 03:45 | Wanita | 5.304 views
Apakah Syariat Islam Wajib Diterapkan sebagai Hukum Negara?
13 January 2006, 06:30 | Negara | 7.710 views
Apakah Benar Demokrasi itu Sistem Kufur?
13 January 2006, 06:27 | Negara | 7.271 views
Sosok Abdul Qadir Jaelani
13 January 2006, 06:24 | Aqidah | 9.148 views
Hukum Memperlajari/ Bertanya Tentang Fengshui, Bolehkah?
12 January 2006, 06:21 | Aqidah | 6.734 views
Kerja di Bank Ribawi, Haruskah Saya Berhenti?
12 January 2006, 02:35 | Muamalat | 10.346 views
Anak Janda Menikah dengan Anak Duda Di mana Orang Tua Mereka Menikah. Bolehkah?
12 January 2006, 02:31 | Nikah | 6.745 views
SABAT
11 January 2006, 06:32 | Umum | 5.817 views
Bagaimana Cara Mendoakan Untuk Non Muslim ?
11 January 2006, 02:09 | Umum | 32.775 views
Pendistribusian Qurban
9 January 2006, 06:42 | Qurban Aqiqah | 7.317 views
Diskusi Dengan Non Muslim Mengenai Perceraian Dan Poligami Dalam Islam
9 January 2006, 06:39 | Umum | 6.453 views
Wafat dan Lahir Nabi Muhammbad SAW
9 January 2006, 06:34 | Umum | 6.523 views
Bagaimana Cara Mencintai Allah?
6 January 2006, 07:36 | Aqidah | 8.821 views
Bolehkah Menikahi Anak Tiri yang Bukan dalam Asuhan
6 January 2006, 06:29 | Nikah | 6.338 views
Merencanakan kelahiran anak sesuai syari'at Islam
6 January 2006, 03:38 | Nikah | 6.630 views
Kulit Hewan Qurban
5 January 2006, 04:37 | Qurban Aqiqah | 6.338 views
Dapat Bagian dari Daging Qurban
5 January 2006, 03:38 | Qurban Aqiqah | 6.997 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,244,430 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

16-9-2019
Subuh 04:30 | Zhuhur 11:49 | Ashar 15:03 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img