Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Makanan Hasil Peragian | rumahfiqih.com

Hukum Makanan Hasil Peragian

Thu 26 January 2006 05:44 | Kuliner | 7.098 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu`alaikum wr. wb.

Ustadz ana mau bertanya tentang:

1. Apa hukumnya makan makanan hasil dari peragian, misalnya: tape, bika ambon, dan lain-lain karena secara kimia bahwa makanan yang diragikan akan menghasilkan produk berupa alkohol walaupun kadarnya sedikit?

2. Bolehkah menggunakan minyak wangi yang beralkohol?

3. Ustadz apakah kita harus selalu makan produk makanan jadi yang telah bersertifikat halal dari MUI saja, mengingat banyak sekali produk makanan yang beredar dipasaran yang belum berlabel halal?

Jzk.

Wassalamu`alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Makanan hasil peragian itu beramacam-macam tingkatannya. Tidak semua tingkatan haram, karena secara spesifik belum tentu di semua tingkatan sudah berubah menjadi khamar.

Majelis Ulama Indonesia telah menetapkan bahwa maksimal suatu makanan atau obat itu mengandung 1% alkohol, untuk bisa diperbolehkan atau masih ditolelir kehalalannya.

Sedangkan secara fiqih, selama makanan itu belum menjadi khamar, meski sudah mulai berubah rasanya, hukumnya masih halal.

2. Tidak setiap zat yang mengandung alkohol termasuk dalam kategori khamar. Dan sebaliknya, tidak semua khamar itu mengandung alkohol.

Karena bila ditilik secara ilmu kimia, banyak dari jenis makanan yang alami termasuk buah-buahan memiliki kandungan zat yang disebut sebagai Alkohol seperti nasi dan sebagainya. Tentu saja kita tidak bisa mengatakan bahwa nasi itu adalah khamar karena secara alami mengandung kadar tertentu dari zat yang dikenal dengan nama Alkohol.

Jadi untuk menentukan apakah suatu benda termasuk khamar, bukan dengan adanya alkohol atau tidak, tetapi dengan melihat apakah zat itu memabukkan atau tidak bila dikonsumi oleh masyarakat umum. Bila memabukkan, maka hukumnya adalah khamar tapi bila tidak maka bukan khamar.

Contohnya seperti perasan buah anggur. Pada tahap tertentu, perasan anggur dapat menjadi khamar dan pada tahap yang lain di mana bila diminum tidak memabukkan secara umum, maka bukan khamar. Karena itu dalam literatur fiqih sering dituliskan bahwa bila khamar bila telah berubah menjadi khall (cuka), hukumnya menjadi halal dan sebaliknya.

Maka dari itu sebagian besar ulama tidak memasukkan alkohol sebagai sebagai barang najis, karena bukan khamar. Dan tidak mengapa menggunakan parfum yang mengandung alkohol dalam shalat karena tidak termasuk benda najis.

Dan kenajisan khamar sendiri sebagaimana yang disebutkan Al-Quran, bukan jenis najis secara fisik. Demikian menurut sebagian ulama. Karena dalam ayat itu dikaitkan dengan judi, anak panah sebagai rijs yang merupakan perbuatan setan.

3. Sebenarnya yang lebih tepat memang bukan sertifikat halal, tetapi sebaliknya, yaitu sertifikat haram. Sebab kalau dibandingkan, jumlah makanan yang halal dibandingkan yang haram, tentu jauh lebih banyak yang halal.

Apalagi mengingat kaidah fiqhiyah yang berbunyi: Al-Ashlu fil Asy-ya'i al-ibahah. Artinya, hukum asal segala sesuatu itu boleh. Jadi asumsi dasar kita tentang semua makanan itu seharusnya halal, kecuali yang secara tegas terbukti mengandung unsur-unsur yang dihalalkan. Itu pun setelah melalui uji laboratorium.

Logika bahwa segalanya hukumnya haram kecuali yang dibolehkan itu memang ada di dalam fiqih, tetapi khusus dalam kasus hubungan seksual. Bunyi kaidahnya adalah: Al-Ashlu fil Abdha'i At-Tahrim, artinya bahwa hukum dasar hubungan seksual itu adalah haram. Kecuali lewat jalur yang dibenarkan seperti pernikahan.

Sedangkan dalam masalah hukum makanan, hukum dasarnya adalah halal, kecuali yang tertentu, maka hukumnya haram.

Kalau menggunakan logika sebaliknya, maka lembaga yang memberi sertifikat halal itu akan kehabisan waktu, karena jumlah makanan yang beredar di tengah masyarakat itu tidak terhingga. Bahkan kebanyakan tidak ada mereknya. Kalau logika berpikirnya adalah bahwa segala sesuatu itu hukumnya haram, kecuali yang ada label halalnya, bagaimana dengan sekian banyak bahan makanan lainnya yang tidak ada ada labelnya? Haruskah kita berangkat dari asumsi bahwa semua produk makanan itu haram? Kecuali yang ada label halalnya?

Bagaimana mungkin kita mengklaim sebuah makanan itu tiba-tiba menjadi haram? Siapakah yang mengharamkannya? Sedangkan kaidah fiqhiyah menyebutkan: Al-Yaqinu Laa Yazuulu bisy-syakki. Artinya, hukum awal yang ditetapkan berdasarkan keyakinan tidak bisa berubah hukumnya hanya berdasarkan rasa syak (keraguan).

Logika ini pun agak kurang sejalan dengan metodologi Al-quran dan As-sunnah ketika menyampaikan masalah halal haram. Di dalam kedua sumber syariat itu tidak pernah disebutkan satu persatu nama-nama makanan yang halal. Akan tetapi yang disebutkan hanyalah yang haram saja. Mengapa? Karena yang halal itu jumlahnya tak terhingga. Sedangkan yang haram itu jumlahnya tertentu saja dan terbatas.

Namun barangkali lembaga sertifikasi resmi yang ada di negeri ini punya pertimbangan lain yang tidak kita ketahui, wallahu a'lam bishshawab

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Menjama' Shalat karena Sakit
25 January 2006, 07:42 | Shalat | 5.981 views
Batasan Haramnya Babi Dan Anjing
25 January 2006, 07:30 | Kuliner | 9.515 views
Konsep Berhaji yang Sebenarnya
25 January 2006, 02:38 | Haji | 5.684 views
Tidak Mau Belajar Agama, Takut Tahu Dosa Tapi Masih Mengerjakan
24 January 2006, 23:41 | Umum | 5.799 views
Benarkah Umat Selain Islam Bisa Mendapat Surga?
24 January 2006, 23:36 | Aqidah | 10.408 views
Kok Sedikit-Sedikit Bilang Bid'ah?
24 January 2006, 06:55 | Kontemporer | 8.489 views
Setan Jenis Manusia: Siapa?
24 January 2006, 05:36 | Aqidah | 7.181 views
Mimpi Basah di Dalam Masjid
22 January 2006, 07:16 | Thaharah | 6.188 views
Beda Syetan, Iblis, dan Jin
20 January 2006, 12:11 | Aqidah | 13.399 views
Merealisasikan Ide yang Didapat di Kamar Mandi, Bolehkah?
20 January 2006, 02:28 | Umum | 5.857 views
Bingung tentang Keabsahan Talak Tiga dan Sekarang Ingin Rujuk Kembali
20 January 2006, 02:25 | Nikah | 7.172 views
Apakah Jin Juga Meninggal?
19 January 2006, 09:10 | Aqidah | 15.082 views
Yang Dikorbankan Nabi Ismail atau Nabi Ishak?
19 January 2006, 09:06 | Umum | 7.227 views
Kaidah "Kalau Sekiranya Amal itu Baik, Mengapa Hal itu Tidak Dilakukan Oleh Rasulullah, Sahabat Dan Para Tabi'in?"
19 January 2006, 03:36 | Umum | 8.486 views
Jumlah Rukun Shalat Berbeda-beda?
16 January 2006, 09:11 | Shalat | 7.315 views
Imam Shalat : Antara yang Mukim dan Safar
16 January 2006, 09:05 | Shalat | 7.659 views
Bayar Pajak, termasuk Sodaqoh atau Infaq?
16 January 2006, 08:54 | Zakat | 6.799 views
Rapat Organisasi di Tempat Kost Akhwat
16 January 2006, 03:45 | Wanita | 5.395 views
Apakah Syariat Islam Wajib Diterapkan sebagai Hukum Negara?
13 January 2006, 06:30 | Negara | 9.188 views
Apakah Benar Demokrasi itu Sistem Kufur?
13 January 2006, 06:27 | Negara | 7.486 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,203,222 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

14-11-2019
Subuh 04:05 | Zhuhur 11:39 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:04 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img