Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Daging Kodok dan Kepiting : Halal Atau Haram | rumahfiqih.com

Daging Kodok dan Kepiting : Halal Atau Haram

Wed 27 November 2013 03:48 | Kuliner | 19.172 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu"alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya mengenai hukumnya bagi orang Islam yang memakan daging kodok dan kepiting. Apakah itu termasuk makanan yang haram atau tidak?

Mohon penjelasan Pak Ustadz. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kedua jenis hewan itu memang selalu menjadi perdebatan para ulama dalam masalah hukumnya. Oleh karena itu biar lebih luas perspektif pemahaman kita, jawaban ini saya buat tidak mengatasnamakan pendapat pribadi. Biarlah para ulama menyampaikan fatwa mereka, kita tinggal memilih dan mengikuti saja.

A. Hukum Kodok

1. Pendapat Yang Mengharamkan

Dari segi dalil, kita menemukan sebuah hadits yang menyebutkan tentang memakan hewan kodok.

“Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy bahwanya seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah SAW melarang membunuhnya.” (Ditakharijkan oleh Ahmad dan dishahihkan Hakim, ditakhrijkannya pula Abu Daud dan Nasa’I).

Dari hadits ini, para ulama umumnya mengatakan bahwa memakan daging kodok itu halal. Sebab Rasulullah SAW melarang untuk membunuhnya.

Sementara di kalangan ulama berkembang sebuah kaidah bahwa hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, hukumnya haram dimakan. Meski pun tidak tidak disebutkan bahwa hewan itu najis atau haram dimakan.

Demikian juga dengan hewan yang dilarang untuk membunuhnya, hukumnya pun haram dimakan, meski tidak ada keterangan bahwa dagingnya najis atau haram dimakan.

Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk membunuhnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmadn Ishaq, Alhakim dari Abdurrahman bin Utsman at-Tamimi. Silahkan periksa kitab Al-Lubab Syarhil Kitab jilid 3 halaman 230, juga kitab Takmilatul Fathi jilid 8 halaman 62, kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 4 halaman 298 dan kitab Al-Muhazzab jilid 1 halaman 250.

Mereka yang mengharamkan kodok juga mendasarkan larangan ini dengan dalil bahwa kodok itu termasuk hewan yang menjijikkan secara umum.

Walhasil, kecenderungan jumhur ulama berpendapat bahwa kodok itu tidak halal dimakan berdasarkan dalil dan kaidah di atas.

2. Pendapat Yang Menghalalkan

Mereka yang menghalalkan adalah kalangan mazhab Maliki. Sebagaimana sudah seringkali dijelaskan, umumnya pendapat mazhab ini merujuk kepada dalil secara apa adanya. Bila di dalam dalil itu tidak tertuang secara eksplisit tentang najis atau haramnya suatu hewan, maka mereka akan bersikukuh untuk tidak mengharamkannya.

Mereka berpendapat bahwa memakan kodok dan hewan semacamnya seperti serangga, kura-kura dan kepiting (cancer) hukumnya boleh selama tidak ada nash atau dalil yang secara jelas mengharamkannya.

Dan mengkategorikan hewan-hewan itu sebagai khabaits (kotor), bagi mereka dianggap tidak bisa dengan standar masing-masing individu, karena pasti akan bersifat subjektif.

Ada orang yang tidak merasa bahwa hewanb itu menjijikkan atau kotor dan juga ada yang sebaliknya. Sehingga untuk mengharamkannya tidak cukup dengan itu, tapi harus ada nash yang jelas.

Dan menurut Al-Malikiyah, tidak ada nash yang melarang secara tegas memakan hewan-hewan itu. Silahkan periksa kitab Bidayatul Mujtahid jilid 1 halaman 656 dan kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 172.

B. Hukum Kepiting

Harus diakui memang telah terjadi banyak silang pendapat tentang hukum kepiting di tengah masyarakat. Sementara kalangan mengharamkannya, tetapi tidak sedikit yang menghalalkan.

1. Pendapat yang Mengharamkan

Mereka yang mengharamkannya umumnya berangkat dari pemahaman bahwa hewan yang hidup di dua alam—air dan darat—adalah hewan yang haram dimakan. Contohnya adalah katak dan penyu. Biasanya orang menyebut hewan ini dengan istilah amfibi, atau dalam istilah fiqihnya disebut barma'i (برمائي), sebagai akronim dari hewan barr (darat) dan ma’ (air).

Keharaman hewan amfibi ini bisa kita dapatkan di banyak kitab fiqih, terutama dari kalangan mazhab As-syafi'i. Salah satunya adalah Kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam Ar-Ramli. Di sana secara tegas disebutkan bahwa kepiting diharamkan karena termasuk hewan yang hidup di dua alam.

Namun, sebenarnya kesimpulan bahwa hewan yang hidup di dua alam itu haram dimakan juga masih menjadi ajang perbedaan pendapat. Hal itu disebabkan dalil-dalil yang digunakan dianggap kurang kuat.

2. Pendapat yang Menghalalkan

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, kepiting itu boleh dimakan karena sebagai binatang laut yang bisa hidup di darat, kepiting tidak punya darah, sehingga tidak butuh disembelih. Sedangkan bila hewan dua alam itu punya darah, maka untuk memakannya wajib dengan cara menyembelihnya.

Silahkan periksa kitab Al-Mughni jilid 8 halaman 606 dan kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 6 halaman 202.

Selain karena menilai dalil-dalil tentang keharaman hewan amfibi kurang kuat, mereka berdalil kepiting itu tidak termasuk hewan amfibi. Kalaupun pendapat mengenai keharaman hewan yang hidup di darat dan di air itu bisa diterima, toh kepiting tidak termasuk di dalamnya.

Pendapat bahwa kepiting bukan hewan dua alam dikemukakan oleh banyak pakar di bidang perkepitingan. Mereka memastikan kepiting bukan hewan amfibi seperti katak. Katak bisa hidup di darat dan air karena bernapas dengan paru-paru dan kulit, tetapi tidak demikian halnya dengan kepiting.

Kepiting hanya bernapas dengan insang. Kepiting memang bisa bertahan di darat selama 4–5 hari karena insangnya menyimpan air, tapi kalau tidak ada airnya sama sekali dia akan mati. Jadi, kepiting tidak bisa lepas dari air.

Penjelasan bahwa kepiting bukan hewan amfibi disampaikan oleh ahli dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Sulistiono. Ada 4 (empat) jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi masyarakat dan menjadi komoditas, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarrica, Scylla olivacea, dan Scylla pararnarnosain. Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum lebih sering disebut “kepiting”.

Yang pasti, kepiting adalah binatang air dengan alasan kepiting bernapas dengan insang, berhabitat di air, dan tidak pernah mengeluarkan telur di darat melainkan selalu di air karena memerlukan oksigen dari air.

Keempat jenis kepiting yang disebutkan di atas ada yang hidup di air tawar saja atau hidup di air taut saja, ada pula yang hidup di air laut dan air tawar. Tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam: laut dan darat.

Dengan penjelasan ini, Rapat Komisi Fatwa MUI menegaskan bahwa kepiting adalah binatang air, baik air laut maupun air tawar, dan bukan binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam.

Karena itu pada tanggal 4 Rabi’ul Akhir 1423 H/15 Ju1i 2002 M, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menegaskan bahwa kepiting termasuk hewan yang halal dikonsumsi.

Walhasil, tidak ada alasan untuk mengharamkan kepiting sehingga hukumnya kembali ke asalnya, yaitu halal. Dan kehalalannya dikuatkan oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia setelah berkonsultasi dengan Dr. Sulistiono, salah seorang pakar dari Intitut Pertanian Bogor.

Dalam penjelasannya, sang pakar itu menegaskan bahwa Ada 4 (empat) jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan menjadi komoditas, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarrica, Scylla olivacea, dan Scylla pararnarnosain. Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum hanya disebut dengan “kepiting”.

Semua kepiting adalah jenis binatang air, dengan alasan :

  • Bernafas dengan insang
  • Berhabitat di air
  • Tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat, melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.
Namun lepas dari perbedaan pendapat yang kita temukan, sebaiknya kita tidak terlalu gegabah untuk menyalahkan saudara kita yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita. Sebab syariat Islam membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat itu, bahkan untuk para ulama sekalipun.

Dan para ulama telah mencontohkan kepada kita bagaimana etika berbeda pendapat.

Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukuman Pakai Uang
26 November 2013, 07:29 | Muamalat | 6.581 views
Isteri Kedua dan Warisannya
25 November 2013, 04:15 | Mawaris | 5.947 views
Kopi Luwak, Halalkah?
24 November 2013, 06:50 | Kuliner | 10.506 views
Sentuhan Kulit Dengan Wanita, Batalkah Wudhu Saya?
22 November 2013, 18:29 | Thaharah | 9.948 views
Apakah Bisa Harmonis Pernikahan Beda Aliran Pemahaman?
22 November 2013, 02:14 | Nikah | 12.799 views
Selesai Shalat Imam Menghadap Makmum
16 November 2013, 21:28 | Shalat | 10.677 views
Hukumnya Iqob (Denda) dengan Uang
16 November 2013, 06:38 | Muamalat | 6.488 views
Dakwah, Tabligh, Khutbah dan Ceramah, Apa Bedanya?
15 November 2013, 03:06 | Umum | 11.641 views
Mana Duluan: Formalitas Hukum Islam Ataukah Implementasi?
14 November 2013, 04:09 | Negara | 6.373 views
Bolehkah Orang Hamil Ziarah Kubur?
13 November 2013, 01:30 | Wanita | 7.198 views
Apakah Kalender Islam Sudah Ada di Masa Nabi SAW?
11 November 2013, 21:25 | Negara | 9.685 views
Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun
10 November 2013, 23:58 | Kontemporer | 11.383 views
Pakaian Renang Muslimah
8 November 2013, 23:05 | Wanita | 9.452 views
Harta Milik Bersama antara Suami dan Istri
8 November 2013, 10:44 | Mawaris | 6.612 views
Pelaksanaan Hudud: Apakah Harus Mendirikan Negara Islam Dulu?
7 November 2013, 03:55 | Jinayat | 7.448 views
Minuman Mengandung Sedikit Alkohol
6 November 2013, 01:25 | Kuliner | 8.993 views
Preman Wajibkan Angkot Lewat Beli Air Minum, Jual-belinya Sah?
4 November 2013, 23:53 | Kontemporer | 5.691 views
Bank Syariah Sama Saja Dengan Bank Konvensional, Benarkah?
4 November 2013, 01:40 | Muamalat | 131.337 views
Wali Bukan Saudara dari Kedua Mempelai
2 November 2013, 09:09 | Nikah | 5.598 views
Hukum Memakai Cutek
30 October 2013, 09:04 | Wanita | 6.947 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,908,994 views