Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Hukumnya Membatalkan Nadzar Sebelum Terlaksana Apa Yang Dinginkan?? | rumahfiqih.com

Bagaimana Hukumnya Membatalkan Nadzar Sebelum Terlaksana Apa Yang Dinginkan??

Tue 7 February 2006 05:59 | Aqidah | 14.100 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Yang ingin saya tanyakan:

  1. Bagaimana hukumnya membatalkan nadzar sebelum terlaksana apa yang diinginkan? Semisal ada seseorang bernadzar andai ia bisa menikah dengan si A ia ia bernadzar akan tetap menjaga kesucian isterinya tersebut sampai 3 hari (tidak berjima' sebelum lewat 3 hari).
  2. Apa ada konsekwensi bila kita membatalkan nadzar sebelum terlaksana?

Jazakallah

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bernadzar itu hukumnya boleh, meski sesungguhnya kurang disukai oleh sebagian ulama. Sebab di balik nadzar itu tersembunyi sebuah akhlaq yang kurang baik kepada Allah SWT. Seolah-olah seseorang baru mau mengerjakan ibadah tertentu apabila Allah SWT memberikan terlebih dahulu apa yang diinginkannya.

Rasulullah SAW telah melarang untuk bernazar dan bersabda:

”Nazar itu tidak menolak sesuatu. Sebenarnya apa yang dikeluarkan dengan nazar itu adalah dari orang bakhil/kikir”.

Sedangkan pengertian nadzar itu sendiri adalah: mewajibkan atas diri sendiri untuk melakukan sesuatu perbuatan (ibadah) untuk Allah yang asal hukumnya tidak wajib sehingga menjadi wajib. (Lihat Kasysyaf Al-Qanna‘ an Matni Iqna‘ 6: 273, As-Sharh As-Shaghir 2: 249, Mughni Al-Muhtaj 4: 354 dan lain-lain).

Sebagai contoh adalah bernazar untuk puasa Senin Kamis selama setahun. Hukum asal puasa Senin Kamis itu sunnah, namun dengan bernazar untuk melakukannya selama setahun, maka hukumnya buat yang bernazar berubah menjadi wajib.

Dasar Hukum Nazar
Allah berfirman mengenai kewjaiban untuk menunaikan nadzar yang terlanjur diucapkan:

Dan hendaklah mereka melaksanakan nazarnya. (QS. Al-Hajj: 29)

Mereka menunaikan nazarnya dan takut atas hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al-Insan: 7)

Pada dasarnya nazar itu wajib dilaksanakan apabila telah diucapkan. Dan bila telah diucapkan maka tidak boleh dicabut lagi. Karena nazar itu merupakan janji kepada Allah. Kecuali bila nazarnya itu mengandung kemaksiatan atau kemudharatan. Maka tidak boleh dilakukan. Maka bernadzar untuk tidak menjima' istri pada malam pengantin justru sebuah kemaksiatan. Sebab jima' itu merupakan hak istri atas suami. Bahkan Rasulullah SAW sampai mengharuskan untuk menemani istri hingga 7 malam pertama, bila istri itu seorang wanita perawan.

Janji seperti itu adalah janji yang batil, sehingga justru harus dilanggar. Sebab pernikahan itu sudah menghalalkan hubungan badan. Yang menghalalkannya adalah Allah SWT langsung, sehingga bagaimana mungkin justru seseorang mengharamkan apa yang telah Allah SWT halalkan. Lalu mengapa setelah pernikahan yang halal dilakukan, kita malah mengikuti gaya hidup para pendeta dan rahib yang tidak mau melakukan hubungan suami istri?

Di sisi Allah SWT, perilaku seperti itu justru tidak ada nilai taqarrub apa-apa, bahkan justru malah bisa dianggap melanggar karena ada unsur mengharamkan apa yang telah dihalalkan-Nya.

Adapun bolehkah membatalkan nazar sebelum terjadinya, pada dasarnya adalah karena seseorang sudah berjanji kepada Allah. Namun selama apa yang dinadzarkan itu belum terjadi, seseorang belum lagi dituntut untuk menunaikannya. Dan selama belum ada tanda-tanda keinginannya itu terkabul, kemudian dia mengurungkan nadzarnya, tentu saja menjadi haknya. Namun jangan sampai pembatalan itu dilakukan ketika dia sudah mengetahui tanda-tanda bahwa permintaannya itu hampir terkabul. Agar jangan sampai seseorang menipu Allah SWT atau membohongi janjinya sendiri kepada Allah SWT.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Shalat Jum'at untuk Wanita Musafir
2 February 2006, 06:11 | Shalat | 4.368 views
Menanyakan Malam Pertama ke Orang Lain
2 February 2006, 06:07 | Nikah | 4.941 views
Bolehkah Menghadiahkan Quran kepada Keluarga Non Muslim Biar Dapat Hidayah?
1 February 2006, 08:23 | Umum | 3.751 views
Bisakah Mimpi Dijadikan Petunjuk?
1 February 2006, 08:20 | Aqidah | 5.012 views
Standar Pornografi
1 February 2006, 08:17 | Kontemporer | 4.729 views
Daging Anjing Tidak Haram, Benarkah?
27 January 2006, 11:21 | Kuliner | 11.263 views
Beribadah dengan Berpolitik
27 January 2006, 02:29 | Negara | 4.311 views
Hukum Makanan Hasil Peragian
26 January 2006, 05:44 | Kuliner | 5.083 views
Menjama' Shalat karena Sakit
25 January 2006, 07:42 | Shalat | 4.771 views
Batasan Haramnya Babi Dan Anjing
25 January 2006, 07:30 | Kuliner | 5.363 views
Konsep Berhaji yang Sebenarnya
25 January 2006, 02:38 | Haji | 4.348 views
Tidak Mau Belajar Agama, Takut Tahu Dosa Tapi Masih Mengerjakan
24 January 2006, 23:41 | Umum | 4.319 views
Benarkah Umat Selain Islam Bisa Mendapat Surga?
24 January 2006, 23:36 | Aqidah | 6.593 views
Kok Sedikit-Sedikit Bilang Bid'ah?
24 January 2006, 06:55 | Kontemporer | 6.319 views
Setan Jenis Manusia: Siapa?
24 January 2006, 05:36 | Aqidah | 5.572 views
Mimpi Basah di Dalam Masjid
22 January 2006, 07:16 | Thaharah | 4.879 views
Beda Syetan, Iblis, dan Jin
20 January 2006, 12:11 | Aqidah | 6.130 views
Merealisasikan Ide yang Didapat di Kamar Mandi, Bolehkah?
20 January 2006, 02:28 | Umum | 4.272 views
Bingung tentang Keabsahan Talak Tiga dan Sekarang Ingin Rujuk Kembali
20 January 2006, 02:25 | Nikah | 4.537 views
Apakah Jin Juga Meninggal?
19 January 2006, 09:10 | Aqidah | 6.844 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,909,146 views