Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Benarkah Ibadah Haji Karena Dinas Belum Menggugurkan Wajib Haji | rumahfiqih.com

Benarkah Ibadah Haji Karena Dinas Belum Menggugurkan Wajib Haji

Fri 10 March 2006 03:54 | Haji | 5.075 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikuum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya pernah mendengar dari teman bahwa sesorang yang sudah ibadah haji tapi karena dinas maka kewajiban ibadah hajinya belum gugur. Artinya dia harus tetap diwajibkan ibadah haji biaya sendiri atau menghajikan orang lain tapi tidak memerintahkan secara langsung. Dengan kata lain memberikan uang kepada orang lain dan mengharapkan orang yang diberi uang tersebu menggunakannya dengan pergi ibadah haji. Mohon penjelasan dan dasarnya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pendapat seperti itu tidak sejalan dengan yang umumnya dipahami oleh para ulama. Sebab kewajiban haji itu langsung gugur begitu seseorang telah mengerjakannya, lepas dari mana biayanya.

Seandainya sah tidaknya ibadah haji itu harus dengan uang sendiri, bagaimana nanti status haji para istri? Bukankah para istri umumnya tidak mengeluarkan uang mereka sendiri? Biasanya suami membayarkan biaya haji buat para istri. Apakah bila para istri itu berangkat pergi haji dibiayai oleh suami mereka, belum menggugurkan kewajiban haji mereka dan masih pergi haji lagi dengan uang pribadi mereka?

Dan bagaimana pula dengan anak yang diberangkatkan haji oleh orang tuanya, apakah belum gugur hajinya, hanya lantaran bukan dengan uang dari kantongnya sendiri?

Pemahaman seperti itu agak kurang sesuai dengan apa yang kita dapati dari kitab-kitab fiqih yang muktamad. Adapun daftar orang-orang yang harus mengulang hajinya meski sudah berhaji sebagaimana disebutkan dalam banyak kitab fiqih adalah orang-orang dalam kasus berikut ini:

1. Anak Kecil Belum Baligh

Bila ada seorang anak kecil yang belum mencapai sinnul bulughah (baligh) dan diajak pergi haji oleh orang tuanya, maka hajinya sah bila dikerjakan sesuai dengan rukun dan syaratnya. Namun statusnya adalah haji sunnah untuknya. Suatu ketika setelah mencapai baligh, maka tetap masih ada kewajiban melaksanakan ibadah haji atasnya.

2. Orang Murtad

Bila seorang yang sudah pernah pergi haji murtad dari agama Islam, kalau dia kembali lagi masuk Islam, haji yang pernah dilakukannya gugur, sementara di atas pundaknya kembali lagi ada kewajiban untuk menunaikan ibadah haji.

Dari Ibnu Abbas ra: Bila seorang anak kecil melaksanakan ibadah haji, maka dia mendapatkan pahala hajinya hingga baligh.Tapi setelah baligh nanti, dia tetap wajib mengulangi lagi hajinya. Bila orang Arab musyrik melaksanakan ibadah haji, maka dia mendapat hajinya, namun setelah hijrah (masuk Islam), dia wajib mengulangi hajinya. (HR. )

3. Orang Kafir Musyrikin Arab

Sebelum turunnya syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, orang-orang kafir musyrikin Makkah masih menjalankan tradisi ritual haji warisan dari nenek moyang mereka nabiyullah Ibrahim alaihissalam. Namun beitu mereka masuk Islam, tetap masih ada kewajiban untuk melakukan ibadah haji. Sebab hajinya di masa lalu tidak diterima Allah dan tidak dihitung sebagai ibadah. Sebab dilakukan oleh orang yang bukan memeluk syariat Muhammad SAW.

4. Budak

Seorang budak yang diizinkan tuannya untuk melaksanakan ibadah haji, akan mendapat pahalahaji. Namun ketika dibebaskan dari statusnya sebagai budak, dia masih punya kewajiban untuk mengulangi ibadah hajinya yang wajib.

5. Meminta Orang Lain Berhaji untuknya Karena Udzur Kemudian Udzur Itu Lenyap

Seseorang yang udzur karena suatu hal yang sya'ri, sehingga tidak mampu berangkat haji dengan dirinya, boleh saja meminta orang lain untuk berangkat haji dengan niat untuk dirinya. Dalam bab fiqih, hal seperti ini disebut dengan istilah "al-hajju 'anil ghair."

Namun seandainya setelah itu udzurnya lenyap, seperti penyakit yang diangkat oleh Allah sehingga dia sehat dan mampu pergi haji, maka dia kembali punya kewajiban untuk menunaikan ibadah haji. Sedangkan ibadah haji yang pernah diwakilkannya menjadi haji yang bersofat sunnah baginya.

Seballiknya, bila udzurnya itu terus hingga kematiannya, maka haji yang dilakukan oleh orang lain untuknya sudah sah dan kewajiban hajinya sudah gugur.

6. Salah Niat

Para ulama sampai kepada pembahasan seseorang yang pergi haji untuk pertama kalinya, tetapi niatnya salah. Yaitu dia berniat hajinya itu haji sunnah, bukan haji wajib. Dengan demikian, kewajiban hajinya belum gugur, lantaran dia meniatkan di dalam hati hanya melakukan ibadah haji sunnah saja.

Namun kesalahan seperti ini jarang terjadi, meskj tetap ada. Buktinya para ulama membahasnya di dalam kitab-kitab mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukuman bagi Pezina Berjenis Sama
9 March 2006, 08:59 | Jinayat | 5.400 views
Memagari Rumah
9 March 2006, 08:50 | Aqidah | 6.129 views
Bolehkan Bunga Bank untuk Keperluan RT?
9 March 2006, 08:12 | Muamalat | 5.314 views
Halal dan Barokah-kah Investasi Saya?
8 March 2006, 10:01 | Muamalat | 5.521 views
Apakah Landasan Syar'i Kita Boleh Berpolitik?
8 March 2006, 04:25 | Negara | 5.047 views
Bagaimana Cara Mengganti Sholat yang Tertinggal?
8 March 2006, 04:20 | Shalat | 14.070 views
Dapat Pacar Dari Guna-guna
8 March 2006, 04:19 | Aqidah | 6.249 views
Batas Zina yang Mewajibkan Rajam/Cambuk
7 March 2006, 06:45 | Jinayat | 5.795 views
Mazhab yang Kelima, Mazhab Apa?
7 March 2006, 05:00 | Ushul Fiqih | 7.022 views
Cara Membedakan Al-Qur'an yang Asli dengan Al-Qur'an Yang Sudah Diubah Tangan-Tangan Tak Bertanggungjawab?
6 March 2006, 02:36 | Quran | 6.176 views
Perihal Seperangkat Alat Sholat dan Al-Qur'an sebagai Mas Kawin
3 March 2006, 07:21 | Nikah | 7.398 views
Adakah Dasar Sunnah untuk Memboikot Denmark?
3 March 2006, 07:18 | Kontemporer | 4.640 views
Bolehkah Makan Pemberian non Muslim dan Menjabat Tangan Mereka?
2 March 2006, 00:44 | Umum | 10.617 views
Besaran Bagian Warisan bagi Para Ahli Waris
2 March 2006, 00:33 | Mawaris | 5.433 views
Wali Nikah Beda Agama
28 February 2006, 03:55 | Nikah | 5.336 views
Mengapa Syaitan Dimasukkan ke Dalam Neraka?
28 February 2006, 03:50 | Aqidah | 5.604 views
Hukum Gadai dalam Syariah.
28 February 2006, 03:30 | Muamalat | 9.867 views
Masbuq Tidak Baca Fatihah
27 February 2006, 03:16 | Shalat | 6.244 views
Menerima Upah Mengajar Ngaji dari Karyawan Bank Konvensional
24 February 2006, 01:57 | Kontemporer | 6.677 views
Pembagian Warisan Cucu dan Keponakan
24 February 2006, 01:50 | Mawaris | 5.143 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,428,301 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img