Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Tarif Memanggil Penceramah Terkenal Mahalnya | rumahfiqih.com

Tarif Memanggil Penceramah Terkenal Mahalnya

Wed 21 August 2013 03:24 | Kontemporer | 10.496 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz yang saya hormati, saya merasa perihatin akan mubaligh dan mubaligho yang sudah terkenal, kalau mau memanggil mereka untuk ceramah, honornya sangat mahal sekali sampai ada yang jutaan rupiah. Sehingga ada suatu panitia hari besar Islam yang donasi kecil sulit untuk memanggil penceramah tersebut.

Seolah-olah ada kesan semakin ustadz itu terkenal semakin mahal biaya untuk memanggilnya. Melalui rubrik ini saya memohon tanggap dari bapak ustadz.

Atas perhatiannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Wassalammu'alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu `alaikum warahmatullahi wabrakatuh

Memang sudah menjadi semacam tradisi di Indonesia bahwa para penceramah sering diberi honor begitu selesai berceramah. Sebenarnya wilayah ini agak abu-abu, tidak bisa langsung hantam kromo divonis haram dan juga tidak bisa dikatakan secara umum boleh. Perlu dilihat kasus dan kondisinya.

Dalam hukum Islam, seorang yang mengajarkan al-Quran dan ilmu-ilmu yang bermanfaat memang berhak mendapatkan upah atas jasanya itu. Bahkan mengajarkan Al-Quran secara syar`i bisa dijadikan sebagai mas kawin dalam pernikahan. Jadi seorang guru atau ustaz yang telah berjuang di jalan Allah untuk mengajarkan ilmu-ilmu Islam, pada dasarnya memang berhak untuk mendapatkan upah atas keringatnya itu.

Karena bila tidak, dari mana dia akan menghidupkan keluarganya yang merupakan kewajibannya. Sedangkan kalau mereka semua berhenti mengajar ilmu-ilmu Islam dan beralih profesi berdagang di pasar, maka siapa lagi yang akan mengajarkan dan mempertahankan agama ini. Karena itu, mereka berhak mendapatkan upah atas kerja mereka yang sangat berharga.

Masalahnya tinggal bagaimana teknisnya. Di negara-negara Islam, profesi ustaz, pengajar, bahkan imam dan muazzin di masjid itu ditanggung gajinya oleh negara. Dan negara mendapatkan dana itu dari Baitul Mal termasuk dari uang zakat. Mereka tidak langsung menerima upah dari murid atau orang yang mereka layani, sehingga tidak terkesan menjual ilmu dan doa.

Tapi di negeri non Islam, negara sama sekali tidak memikirkan hal itu, sehingga umat sendirilah yang harus memikirkannya. Dan sayangnya lagi, umat Islam di banyak tempat belum lagi memiliki Baitul Mal untuk menjamin kelangsungan hidup para ustaz dan lainnya. Yang terjadi justru mereka menyisihkan uang untuk dikumpulkan di kas masjid atau kas majelis taklim dan sebagian diberikan kepada ustaz yang mengajar.

Kalau masjid atau majelis taklim itu dikelola oleh sebuah instansi yang memiliki budget tersendiri yang memadai, bisa jadi ‘dana amplop’ untuk para ustaz menjadi lumayan besar untuk ukuran umum. Namun terkadang fenomena ini sering salah disikapi oleh mereka sendiri, karena tidak jarang ada sebagian mereka yang mulai membuat ‘peta’ dan klasifikasi. Kalau ceramah di kantor anu, maka amplopnya lebih tebal dari kalau ceramah di masjid kampung anu. Lalu muncul istilah wilayah ‘basah’ dan wilayah ‘kering’.

Lucunya lagi, terkadang ada semacam pentarifan nilai amplop di kalangan mereka. Kalau ustaz yang diundang itu lumayan ngetop, karena sering muncul di TV misalnya, maka amplopnya harus lebih besar, tapi kalau ustaznya ‘anonmim’, tidak terkenal, maka amplopnya bisa jadi ala kadarnya.

Terkadang ukurannya bukan lagi level ilmu dan kemampuannya, tetapi yang jadi ukuran adalah masalah 'ngetop' atau 'tidak ngetop'. Dan bisa jadi ustaz itu malah dari kalangan mereka yang dari segi ilmunya sangat sedikit, tapi orang-orang terkadang tidak peduli dengan semua itu. Karena semangatnya mungkin bukan lagi menimba ilmu, tapi semangat popularitas, gengsi dan sejenisnya.

Misalnya, kalau suatu masjid bisa mendatangkan ustaz ‘X’ yang sedang ngetop, maka ‘gengsi’ pengurus majid itu akan naik. Walaupun untuk itu mereka harus merelakan harga amplop yang jutaan rupiah.

Memang para ustaz itu umumnya tidak pasang tarif, tetapi ada juga satu dua yang melakukan hal itu meski tidak secara langsung. Terutama yang sudah go public tadi, mereka bahkan menggunakan semacam ‘manager’ bak para artis mau diundang ke suatu pertunjukan. Nah, para ‘manager’ inilah yang menentukan nilai itu meski pun juga tidak sevulgar para selebriti.

Akhirnya jadilah profesi ustaz ini layaknya para artis yang ‘pasang tarif’ untuk ceramahnya, bermobil mewah, rumah megah, harta bertumpuk dan segenap kemewahan lainnya. Tentu saja prilaku ini merupakan hak masing-masing orang, karena pada dasarnya apa yang dimilikinya itu halal, karena bukan harta hasil curian. Semua itu merupakan jerih payah mereka juga.

Kalaupun ada yang perlu dikritisi, barangkali semangat kebersamaan dan kesederhanaan mereka, Karena mereka hidup di negeri yang mayoritas penduduknya sangat miskin dan hampir mati kelaparan. Seyogyanya penampilan mereka mencerminkan kesederhanaan dan keprihatinan juga. Karena harta yang banyak dan berlimpah itu pastilah juga akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat kelak.

Tapi perlu dipahami bahwa fenomena itu tentu saja tidak bisa digeneralisir, bahwa setiap ustaz pasti berprilaku demikian. Masih banyak para utaz lain yang bersahaja, sederhana, rizqinya hanya ngepas buat makan saja, kemana-mana naik bus kota, hujan kehujanan dan panas kepanasan. Padahal bisa jadi ilmu yang mereka miliki jauh lebih tinggi dan lebih dalam dari pada ustaz yang ber-BMW. Tapi semua kita kembalikan saja kepada Allah. Dan buat para ustaz yang sudah lumayan ‘gemuk’, mintalah fatwa kepada nurani anda sendiri. Karena nurani anda itu jauh lebih jujur dan lebih bisa anda dengar ketimbang mulut orang lain.

Wallahu a`lam bish-showab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bolehkah Menikah Dengan Wali Hakim?
20 August 2013, 21:52 | Nikah | 9.410 views
Janda Berangkat Haji Dalam Masa Iddah, Haramkah?
19 August 2013, 18:59 | Haji | 7.133 views
Kutbah Jum'at Kekurangan Satu Rukun
16 August 2013, 11:35 | Shalat | 8.291 views
Minum Khamar Harus Dicambuk?
14 August 2013, 23:26 | Jinayat | 6.114 views
Mengganti Hutang Puasa Yang Sudah Terlalu Lama
12 August 2013, 23:40 | Puasa | 133.616 views
Benarkah Uang Tabungan Buat Beli Rumah Wajib Dizakatkan?
9 August 2013, 21:54 | Zakat | 8.286 views
Bolehkah Musafir Bermakmum Kepada Bukan Musafir?
6 August 2013, 00:30 | Shalat | 6.813 views
Zakat Profesi Konflik Dengan Zakat Tabungan, Mana Yang Menang?
4 August 2013, 23:09 | Zakat | 8.639 views
Bayi Dalam Kandungan Apakah Dibayarkan Zakatnya?
4 August 2013, 13:17 | Zakat | 7.383 views
Emas Berstatus Digadaikan, Wajibkah Dizakati?
2 August 2013, 23:57 | Zakat | 9.441 views
Pernikahan Beda Jamaah
31 July 2013, 04:36 | Nikah | 9.580 views
Fiqih I'tikaf Lengkap
29 July 2013, 21:43 | Puasa | 15.262 views
Jumlah Takbir Shalat Iedul Fitri
29 July 2013, 09:44 | Shalat | 7.736 views
Saya dan Suami Berhubungan Badan di Ramadhan, Harus Bagaimana?
27 July 2013, 06:51 | Puasa | 16.457 views
Bersentuhan Suami-Isteri Setelah Berwudlu, Batalkah?
26 July 2013, 00:45 | Thaharah | 26.278 views
Zakat Perniagaan, Bagaimana Menghitungnya?
25 July 2013, 03:55 | Zakat | 6.927 views
Cara Perhitungan Zakat Hasil Pertanian
24 July 2013, 01:30 | Zakat | 66.130 views
Dana Zakat untuk Kegiatan Dakwah, Bolehkah?
22 July 2013, 23:00 | Zakat | 7.409 views
Haruskah Pembantu Bayar Zakat Fitrah?
22 July 2013, 08:29 | Zakat | 7.440 views
Bolehkah Uang Zakat Dipinjamkan pada Mustahik?
20 July 2013, 01:41 | Zakat | 6.484 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,616 views