Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menolak Jadi Istri Kedua | rumahfiqih.com

Menolak Jadi Istri Kedua

Tue 4 November 2014 02:28 | Nikah | 10.973 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Ass, ustadz yang dirahmati Allah, saya pernah diminta seorang pria untuk menjadi istri keduanya atas persetujuan istrinya, bahkan istrinya yang meminta saya secara langsung via telepon. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan pria tersebut ataupun istrinya. Jika melihat profil pria tersebut, subhanallah... sangatlah shalih bahkan menurut saya beliau lebih cocok disebut seorang ustadz (tilawahnya saja 5 juz per hari).

Saya kemudian memilih mundur karena tidak ada kemantapan dan pihak keluarga pun tidak setuju. Syar'ikah alasan saya memilih mundur? Saya takut dengan sebuah hadits yang menyatakan akan terjadi fitnah jika kita menolak laki-laki shalih yang datang pada kita. Alhamdulillah pria tersebut sekarang sudah menikah (yang kedua) tapi ana takut dengan ancaman hadits tersebut, apalagi mengingat usia saya (25). Bagaimana caranya agar saya tetap ikhlas dan sabar serta tidak trauma dengan masalah tersebut? Jazakallah.

Wass.

 

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Menerima atau menolak pinangan dari seseorang sama-sama hak seorang wanita. Bahkan pinangan Sa'ad bin Abi Waqqash ra. kepada janda mendiang Mutsanna bin Haritsah tidak langsung diterima. Kecuali setelah melalui berbagai proses panjang yang tidak mudah.

Ketika seorang wanita merasa tidak sreg dengan keadaan laki-laki yang meminangnya, tidak ada yang salah. Baik alasan itu bersifat syar'i, maupun bersifat pribadi. Sebab ketika seorang wanita memutuskan untuk menerima pinangan itu, resikonya jelas. Yaitu untuk selanjutnya, dirinya hidup di bawah suaminya. Dia harus hidup bersamanya, taat, tunduk dan patuh kepada suaminya. Bahkan surganya ditentukan oleh bagaimana sikapnya kepada suaminya.

Kalau seorang wanita merasa tidak nyaman dengan seorang calon suami, tentu di masa berikutnya akan menjadi problem berat. Dan ini adalah soal selera, di mana Islam justru sangat memperhatikan kebebasan seorang wanita untuk memiliki selera dengan tipe laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.

Di dalam syariah Islam, seorang ayah dilarang untuk untuk memaksakan jodoh untuk anak wanitanya. Apalagi sekedar seorang calon suami, di mana lamarannya itu sangat tergantung dari penerimaan pihak calon istri. Maka calon istri punya hak dan wewenang sepenuhnya untuk menerima sebuah lamaran atau menolaknya. Baik dengan alasan yang masuk akal bagi pelamar maupun tidak. Sebab bisa saja faktor penolakannya itu merupakan hal yang tidak ingin disebutkan secara terbuka.

Adapun hadits yang menyebutkan akan terjadi fitnah bila seorang wanita menolak lamaran laki-laki yang shalih, tentu harus dipahami dengan lengkap dan jernih. Hadits itu bukan dalam posisi untuk menetapkan bahwa sebuah lamaran dari laki-laki yang shalih itu haram ditolak. Tidak demikian kandungan hukumnya.

Sebab kalau demikian, bagaimana dengan lamaran seorang laki-laki shalih kepada seorang puteri raja atau pembesar, di mana kedua tidak sekufu atau memang tidak saling cocok satu dengan yang lain? Apakah puteri raja itu berdosa bila menolak lamaran dari seorang yang tidak disukainya?

Bahkan di dalam syariah Islam, seorang wanita yang sudah menikah namun merasa tidak cocok dengan suaminya, masih punya hak untuk bercerai dari suaminya. Apa lagi baru sekedar lamaran dari laki-laki yang sudah punya istri pula.

 

Dari Ibnu Abbas ra.: Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: Wahai Rasulullah, "Aku tidak mencelanya (Tsabit) dalam hal akhlaknya maupun agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran (karena tidak mampu menunaikan kewajibannya) dalam Islam." Maka Rasulullah SAW berkata padanya, "Apakah kamu mengembalikan pada suamimu kebunnya?" Wanita itu menjawab, "Ya." Maka Rasulullah SAW berkata kepada Tsabit, "Terimalah kebun tersebut dan ceraikanlah ia 1 kali talak." (HR Bukhori, Nasa'y dan Ibnu Majah. Nailul Authar 6/246)

Agar tidak menjadi fitnah, tentu ada cara penolakan yang halus dan lembut, tanpa menyinggung perasaan, namun si pelamar itu bisa menerima intisarinya, yaitu penolakan. Sehingga fitnah yang dikawatirkan itu tidak perlu terjadi.

Wallahu 'alam bishshawab, wasssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bolehkah Isteri Merahasiakan Gajinya kepada Suami?
3 November 2014, 03:31 | Nikah | 14.809 views
Punggung Tangan Terbuka Ketika Sholat
2 November 2014, 03:27 | Shalat | 13.749 views
Foto Mesra dalam Undangan Pernikahan
1 November 2014, 00:36 | Nikah | 11.120 views
Minum Dari Bekas Minum Orang Kafir, Najiskah?
31 October 2014, 04:23 | Thaharah | 10.243 views
Cium Tangan Orang Tua dan Ustadz, Adakah Dianjurkan?
30 October 2014, 07:24 | Umum | 17.425 views
Hukum Merayakan Ulang Tahun
29 October 2014, 07:06 | Kontemporer | 25.401 views
Kewajiban Menyebarkan SMS
28 October 2014, 03:31 | Kontemporer | 9.000 views
Apakah Organisasi Sosial Wajib Mengeluarkan Zakat?
27 October 2014, 03:02 | Zakat | 8.329 views
Benarkah Menurut Al-Quran Matahari Mengelilingi Bumi?
26 October 2014, 09:05 | Kontemporer | 164.297 views
Bolehkah Memilih Pendapat Yang Paling Ringan?
25 October 2014, 04:44 | Ushul Fiqih | 17.806 views
Mengapa Tokoh dan Ormas Islam di Indonesia Tidak Bisa Bersatu
24 October 2014, 02:22 | Dakwah | 10.913 views
Bencong Menurut Islam
23 October 2014, 22:16 | Kontemporer | 14.764 views
Mengapa Musnad Imam Syafi'i Lebih Rendah Tingkatannya Dari Sahih Bukhari?
21 October 2014, 10:30 | Hadits | 21.759 views
Hp Berbunyi Saat Sholat
20 October 2014, 21:02 | Shalat | 11.296 views
Benarkah Haram Mengenakan Pakaian Berbahan Sutra?
18 October 2014, 16:13 | Umum | 9.787 views
Hadits Nabi Mempertahankan Qunut Shubuh Hingga Wafatnya, Shahihkah?
16 October 2014, 00:01 | Shalat | 84.480 views
Tikus dan Tokek Haram Dimakan?
14 October 2014, 18:17 | Kuliner | 26.039 views
Adakah Ayat yang Mengalami Penghapusan?
13 October 2014, 09:45 | Quran | 14.008 views
Keturunan Rasulullah dan Habaib
12 October 2014, 15:19 | Umum | 19.003 views
Wasiat Almarhum Berbeda Dengan Ketentuan Hukum Waris, Mana Yang Harus Dimenangkan?
11 October 2014, 16:18 | Mawaris | 18.551 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,372,459 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img