Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Orang yang Sudah Meninggal, Menunggu Hadiah dari Orang yang Masih Hidup? | rumahfiqih.com

Orang yang Sudah Meninggal, Menunggu Hadiah dari Orang yang Masih Hidup?

Tue 11 April 2006 07:13 | Aqidah | 10.829 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum.

Ustadz, apakah benar bahwa orang yang sudah meninggal, setiap malam Jum'at selalu berkumpul menunggu hadiah dari orang yang masih hidup, berupa sedekah atas nama kita, bacaan Yasin, al-Fatihah, dan do'a-do'a lainnya? Adakah hadits yang meriwayatkan hal ini? Sepengetahuan saya, hanya 3 hal yang pahalanya tetap mengalir ketika kita sudah meninggal, yaitu anak shaleh yang mendoakan kita, ilmu yang bermanfaat, dan shadaqoh jariyah. Syukron Ustadz.

Wassalam,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mohon maaf karena kami belum menemukan dalil yang kuat dan secara tegas menyebutkan hal itu. Mungkin karena kelemahan kami dalam mencari dalil. Sepanjang yang kami ketahui, yang ada hanyalah dalil-dalil yang menyatakan bahwa orang yang sudah wafat dan dialam barzakh memang bisa mendapatkan kebaikan karena doa dan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup.

Namun kalau para ahli kubur secara serempak berkumpul menanti-nantikan hadiah tiap malam jumat, rasanya kami belum menemukannya.

Adapun hadits yang menyatakan hanya tiga hal yang pahalanya mengalir itu memang hadits yang shahih. Namun perlu dicermati kandungannya dengan tepat. Hadits itu sebenarnya tidak menyebutkan bahwa seseorang tidak bisa menerima 'kiriman' pahala dari orang lain.

Sebaliknya hadits itu hanya mengatakan bahwa pahala amal pekerjaan seseorang itu terputus begitu dia meninggal. Kalau selama ini dia shalat, maka begitu meninggal, dia tidak bisa shalat, maka pahalanya berhenti dengan kematiannya. Kalau selama ini dia puasa, maka saat wafat, tidak ada lagi pahala yang akan didapat. Kalau selama ini dia zakat atau haji, tidak ada lagi pahala yang bisa didapat dari ibadah-ibadah itu.

Namun Rasulullah SAW ingin menyebutkan bahwa masih ada jenis ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, yang meski pun dia sudah wafat, pahala ibadah itu tetap saja terus mengalir kepadanya. Mengapa bisa demikian?

Kita bisa mengibaratkan jenis ibadah dan pahalanya itu seperti orang yang bekerja mendapat gaji bulanan dan orang yang punya saham di suatu perusahaan. Sebagai orang gajian, bila sudah bekerja lagi, tentu tidak akan lagi mendapat gaji. Tapi bila seorangpunya saham di sebuah perusahaan, meski sudah tidak bekerja, tapi dia akan tetap mendapatkan deviden atau bagi hasil. Sampai dia menjual sahamnya atau perusahaan itu bubar.

Ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya bisa diibaratkan seperti orang yang bekerja menjadi karyawan dengan sistem gaji. Kalau bekerja diberi gaji tapi kalau tidak bekerja tidak diberi gaji. Sedangkan tiga amal yang disebutkan dalam hadits ini bisa diibaratkan dengan kepemilikan saham, sehingga meski yang bersangkutan tidak bekerja tiap hari, tapi tetap mendapatkan deviden terus.

Tiga amal itu adalah sedekah jariyah, punya anak shalih yang mendoakan dan pernah mengajarkan ilmu yang bermanfaat buat orang lain. Khusus masalah sedekah jariayh, biasanya berbentuk harta yang diwaqafkan. Misalnya seseorang punya ladang kelapa sawit 1.000 hektar dan diwaqafkan semua hasil panennya untuk fakir miskin. Ladang itu menjadi saham baginya di sisi Allah untuk pahala di alam barzakh. Selama ladang itu masih memberikan pemasukan, meski dia sudah meninggal, pahalanya akan tetap diterima di alam kubur.

Atau seseorang punya anak yang dididiknya menjadi anak shalih. Jasa mendidik anak hingga menjadi shalih dan berguna itu adalah saham baginya. Setiap anak shalih ini mengerjakan sesuatu yang mendatangkan pahala, tentu orang tuanya akan ikut menikmati hasil pahalanya juga, tanpa mengurangi pahala si anak itu sendiri.

Adapun kalau disebutkan bahwa anak shalih itu mendoakannya, tidaklah bermakna bahwa yang diterima doanya hanya terbatas pada anak saja. Namun pengertiannya adalah bahwa umumnya yang mau mendoakan adalah anak, ketimbang orang lain. Sebab antara anak dan orang tua, ada hubungan batin yang kuat, di mana seorang anak yang baik pasti mau dengan ikhlas dan rela memanjatkan doa untuk kebahagiaan orang tuanya di alam barzakh.

Adapun doa yang dipanjatkan oleh selain anak,tentu saja tetap diterima Allah dan bahkan bisa menambah kenikmatan di dalam kubur. Bukankah yang disyariatkan untuk menyalatkan jenazah itu tidak terbatas hanya pada anak saja? Bukankah setiap muslim berhak dan diperkenankan menyalatkan jenazah muslim lainnya meski tidak kenal?

Dan bukankah kita dianjurkan untuk mengucapkan salam ketika berziarah kubur. Dan salam adalah doa keselamatan yang kita minta kepada Allah buat orang yang kita beri salam. Padahal yang kira beri salam itu sudah wafat dan berada di alam kubur. Mengapa Rasulullah SAW malah memerintahkan kita memberi salam kepada orang mati? Jawabnya adalah karena doa orang hidup kepada orang mati itu memang disyariatkan dan insya Allah akan dikabulkan.

Kalau kita memaksa hadits di atas untuk dijadikan batasan bahwa hanya doa anak saja yang diterima Allah, maka seharusnya shalat jenazah itu tidak sah dilakukan kecuali hanya oleh anak laki yang shalih saja. Sedangkan anak perempuan, atau anak laki tapi kurang shalih, kakak, adik, orang tua, suami, istri dan sanak kerabat, semuanya tidak perlu menshalatkan jenazahnya. Karena tidak akan ada gunanya.

Karena itu yang benar dalam memahami hadits di atas bukanlah pembatasan siapa yang boleh mendoakan, melainkan menunjukkan bahwa umumya yang mau mendoakan dengan tulus adalah anaknya, karena anak itu ingin membalas budi orang tuanya.

Kesimpulannya menurut kami, doa orang-orang kepada seorang yang wafat akan diterima Allah SWT. Dan tidak terbatas hanya dari anak laki-laki shalih saja. Karena hadits ini tidak dalam posisi untuk membatasi sampainya doa dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah wafat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Warisan Untuk Anak Tiri, Dapatkah?
7 April 2006, 03:47 | Mawaris | 5.886 views
Piring Dan Gelas yang Terbuat dari Emas Putih/Platina
6 April 2006, 03:01 | Umum | 5.621 views
Menyentuh Mushaf al-Quran ketika Haid, Boleh atau Tidak?
5 April 2006, 02:40 | Thaharah | 8.682 views
Belajar Islam Secara Keseluruhan
5 April 2006, 01:49 | Umum | 5.729 views
Tentang Keistimewaan Bahasa Arab
4 April 2006, 03:40 | Umum | 5.400 views
Kenapa Rasulullah Perlu Didoakan/Shalawat?
4 April 2006, 03:36 | Aqidah | 8.552 views
Membuat Tiruan Mahluk Hidup dalam Bentuk Animasi Komputer dan Robot
4 April 2006, 03:33 | Kontemporer | 8.254 views
Apa yang Dimaksud Suap Menurut Islam?
3 April 2006, 03:53 | Muamalat | 6.275 views
Mendekati Zina atau Sudah Melakukan Zina?
3 April 2006, 03:32 | Jinayat | 6.502 views
Beda Hadits Qudsi dengan Al-Quran
3 April 2006, 03:26 | Hadits | 5.623 views
Akankah Kita Dipertemukan dengan Keluarga di Surga?
29 March 2006, 09:25 | Aqidah | 6.240 views
Dakwah Tetapi Melupakan Mencari Nafkah
29 March 2006, 02:02 | Kontemporer | 5.300 views
Menjadi Makmum Orang yang Munafik
29 March 2006, 01:58 | Shalat | 5.646 views
Bakar Kemenyan di Kolong Jenazah, Bolehkah?
29 March 2006, 01:56 | Aqidah | 6.383 views
Pergerakan Islam Dituduh Bid'ah dan Tidak Akan Selamat dari Neraka
28 March 2006, 02:53 | Kontemporer | 5.991 views
Batas Penggunaan Infak Masjid
27 March 2006, 06:11 | Kontemporer | 5.691 views
Benarkah Orang Beriman Boleh Minum Khamar di Surga?
27 March 2006, 06:08 | Aqidah | 6.193 views
Bersentuhan dengan Lawan Jenis setelah Berwudhu
24 March 2006, 02:29 | Thaharah | 6.641 views
Dosakah Kita Membaca Al-Quran Mengabaikan Tajwid?
24 March 2006, 02:23 | Quran | 7.954 views
Membedakan Hadist Palsu,dhaif Dan Shahih...!?
24 March 2006, 02:20 | Hadits | 7.710 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,128,370 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

12-11-2019
Subuh 04:05 | Zhuhur 11:38 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img