Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun | rumahfiqih.com

Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun

Sun 10 November 2013 23:58 | Kontemporer | 11.383 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya ingin bertanya, bolehkah umat Islam merayakan ulang tahun, dan bolehkan kita memakan pemberiannya? Mohon dijelaskan.

Wasalamu"alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pembahasan boleh tidaknya masalah ulang tahun seseorang atau organisasi memang tidak disinggung secara langsung dalam dalil-dalil syar‘i. Tidak ada ayat Al-Quran atau hadits Nabawi yang memerintahkan kita untuk merayakan ulang tahun, sebagaimana sebaliknya, juga tidak pernah ada larangan yang bersifat langsung untuk melarangnya.

Sehingga umumnya masalah ini merupakan hasil ijtihad yang sangat erat kaitannya dengan kondisi yang ada pada suatu tempat dan waktu.

Artinya, bisa saja para ulama untuk suatu masa dan wilayah tertentu memandang bahwa bentuk perayaan ini lebih banyak mudharat dari manfaatnya. Namun sebalik, bisa saja pendapat ulama lainnya tidak demkian, bahkan mungkin ada hal-hal positif yang bisa diambil dengan meminimalisir dapak negatifnya.

Mengapa demikian? Karena memang tidak didapat nash yang secara sharih melarang atau membolehkannya. Tidak terdapat dalam sunnah apalagi dalam Al-Quran. Sehingga dalam satu majelis yang di dalamnya duduk para ulama, perbedaan sudut pandang pun bisa saja terjadi, tergantung dari sudut pandang mana seorang melihatnya.

Pendapat yang Mengharamkan

Sebagian ulama yang berfatwa mengharamkan perayaan ulang tahun, berijtihad dari dalil-dalil yang bersifat umum. Misalnya, dalil-dalil yang melarang umat Islam meniru-niru perbuatan orang-orang kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum itu (HR. Abu Daud )

Kiranya para ulama itu memandang bahwa perayaan ulang tahun itu identik dengan perilaku orang-orang kafir. Sehingga mereka mengharamkan umat Islam untuk merayakannya secara ikut-ikutan.

Selain itu, oleh sebagian ulama, seringkali acara ulang tahun disertai dengan banyak kemaksiatan. Seperti minuman keras, pesta musik, joget, dansa, campur baur laki-laki dan wanita. Bahkan banyak yang sampai meninggalkan shalat dan kewajiban lainnya. Seringkali juga pesta-pesta itu sampai melupakan niat utama, tergantikan dengan semangat ingin pamer dan menonjolkan kekayaan. Sehingga menimbulkan sifat riya' dan sum'ah pada penyelenggaranya.

Yang Cenderung Membolehkan

Adapun sebagian lainnya dari para ulama, mereka cenderung membolehkan ulang tahun. Dengan landasan dasar bahwa ulang tahun bukanlah ibadah ritual. Sehingga selama tidak ada larangannya yang secara langsung disebutkan di dalam nash Quran atau sunnah, hukum asalnya adalah boleh. Sesuai dengan kaidah "al-ashlu fil asy-yaa'i al-ibahah." Bahwa kaidah dasar dari masalah muamalahadalah kebolehan, selama tidak ada nash yang secara tegas melarangnya.

Adapun alasan peniruan orang kafir, dijawab dengan argumen bahwa tidak semua yang dilakukan oleh orang kafir haram dikerjakan. Hanya yang terkait dengan peribadatan saja yang haram, adapun yang terkait dengan muamalah, selama tidak ada nash yang langsung melarangnya, hukumnya tidak apa-apa bila kebetulan terjadi kesamaan.

Misalnya, kebiasaan pesta pasca panen di suatu negeri yang masih kafir. Apakah bila ada kebiasaan yang sama di suatu negeri muslim, dianggap sebagai bentuk peniruan? Tentu tidak, sebab hal itu dipandang sebagai 'urf yang lazim, tidak ada kaitannya dengan wilayah kekufuran atau kebatilan.

Para ulama dari kelompok ini cenderung menetapkan 'illat haramnya peniruan pada orang kafir berdasarkan titik keharamannya. Bukan semata-mata dilakukan oleh mereka. Misalnya, kebiasaan orang kafir memberikan sesaji kepada gunung yang mau meletus, maka hukumnya haram bagi muslimin untuk melakukannya.

Adapun bila ada nash secara langsung dari Rasulullah SAW untuk tidak meniru suatu perbuatan tertentu, maka wajib bagi tiap muslim untuk mengikuti perintah beliau. Misalnya, larangan Rasulullah SAW bagi umat Islam untuk mencukur jenggot dan memelihara kumis, sebab dianggap menyerupai orang kafir. Maka larangan itu tetap berlaku, meski pun orang kafir sendiri telah merubah kebiasaannya.

Beberapa Pertimbangan

Bila kita ingin meletakkan hukum merayakan ulang tahun, kita harus membahas dari tujuan dan manfaat yang akan didapat. Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang? Atau sekedar ikut-ikutan tradisi?

Yang kedua, apa manfaat acara seperti itu? Adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu dan amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya?

Yang ketiga, adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?

Yang keempat, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjdi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini harus dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringat hari besar Islam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya.

Jangan sampai dikemudian hari, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang harus terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?

Yang kelima, kalau pun kita agak kesulitan untuk tidak merayakan ulang tahun, setidaknya ulang tahun itu tidak didasarkan pada sistem kalender syamsiyah, tetapi kalender qamariyah atau yang kita kenal dengan kalender hijriyah.

 Kenapa harus begitu?

Sebab dalam syariat Islam kita memang akan seringkali bertemu dengan syarat-syarat usia, seperti usia haidh minimal dan maksimal dan lainnya, dimana semua usia itu selalu dihitung berdasarkan kalender qamariyah dan bukan syamsiyah.

Banyak disebutkan bahwa Rasulullah SAW wafat di usia 63 tahun. Sebenarnya hitungannya bukan 63 tahun melainkan hanya 61 tahun. Sebab usia 63 tahun itu dihitung berdasarkan tahun qamariyah. Kalau menghitungnya pakai tahun syamsiyah, beliau SAW wafat sesungguhnya di usia yang lebih muda, yaitu 61 tahun.

Wallahu a‘lam bis-shawab. wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pakaian Renang Muslimah
8 November 2013, 23:05 | Wanita | 9.452 views
Harta Milik Bersama antara Suami dan Istri
8 November 2013, 10:44 | Mawaris | 6.612 views
Pelaksanaan Hudud: Apakah Harus Mendirikan Negara Islam Dulu?
7 November 2013, 03:55 | Jinayat | 7.448 views
Minuman Mengandung Sedikit Alkohol
6 November 2013, 01:25 | Kuliner | 8.993 views
Preman Wajibkan Angkot Lewat Beli Air Minum, Jual-belinya Sah?
4 November 2013, 23:53 | Kontemporer | 5.691 views
Bank Syariah Sama Saja Dengan Bank Konvensional, Benarkah?
4 November 2013, 01:40 | Muamalat | 131.337 views
Wali Bukan Saudara dari Kedua Mempelai
2 November 2013, 09:09 | Nikah | 5.598 views
Hukum Memakai Cutek
30 October 2013, 09:04 | Wanita | 6.947 views
Ritual Pindah Rumah
27 October 2013, 23:56 | Umum | 8.480 views
Sistem Penanggalan dan Penamaan Hari
27 October 2013, 08:44 | Umum | 6.747 views
Apakah Shalat Isya Boleh Diakhirkan?
20 October 2013, 23:32 | Shalat | 13.517 views
Dokter Kandungan Laki Laki
20 October 2013, 15:15 | Wanita | 12.379 views
Hukum Rajam
17 October 2013, 23:21 | Jinayat | 8.845 views
Apakah Saya Berdosa Jika Tidak Berqurban
13 October 2013, 20:32 | Qurban Aqiqah | 6.903 views
Bolehkah Orang yang Berqurban Mendapat Bagian Daging Qurbannya?
12 October 2013, 00:12 | Qurban Aqiqah | 11.046 views
Bolehkah Membagi Daging Kurban Pada Non Muslim
11 October 2013, 04:07 | Qurban Aqiqah | 13.500 views
Masuk Saudi Harus Ada Mahram : Syariah Islam Atau Peraturan Negara?
10 October 2013, 01:47 | Haji | 7.557 views
Bagaimana Hukumnya Menikah Siri dengan Wali Hakim?
7 October 2013, 07:48 | Nikah | 8.102 views
Syarat Hewan Qurban
3 October 2013, 01:36 | Qurban Aqiqah | 6.045 views
Satu Sapi Buat Qurban dan Aqiqah, Bolehkah?
2 October 2013, 01:35 | Qurban Aqiqah | 6.615 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,909,090 views