Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mahram Muabbad dan Mahram Ghoiru Mauabbad | rumahfiqih.com

Mahram Muabbad dan Mahram Ghoiru Mauabbad

Thu 27 April 2006 02:20 | Nikah | 24.159 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya mau tanya, mahram muabbad dan mahram ghoiru muabbad itu apa? Dan bagaimana mengimplikasikan hukum dari mahram muabbad dan mahram ghoiru muabbad?

atas penjelasannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istilah mahram adalah istilah yang terdapat di dalam bab fiqih nikah. Berasal dari kata haram yang artinya tidak boleh atau terlarang. Dari asal kata ini kemudian terbentuk istilah mahram, yang pengertiannya wanita atau laki-laki yang haram untuk dinikahi.

Contoh hubungan mahram adalah seorang ibu yang menjadi mahram buat anaknya. Tidak boleh atau tidak mungkin terjadi hubungan pernikahan antara ibu dengan anak. Demikian juga seorang laki-laki menjadi mahram buat saudara wanitanya, dengan tidak boleh adanya pernikan sedarah.

Contoh hubungan non muhrim adalah antara seorang laki-laki dengan saudara sepupunya yang wanita. Atau antara seorang laki-laki dengan anak pungutnya yang wanita. Meski anak itu telah dipeliharanya sejak bayi, namun secara nasab anak itu bukan anaknya sendiri tapi anak orang lain. Sehingga hubungan antara ayah angkat dengan anak angkatnya itu bukan mahram. Dan dimungkinkan terjadinya pernikahan antara mereka berdua.

Mirip dengan mahram, kita juga sering mendengar istilah muhrim, yang asal katanya sama-sama dari kata haram. Namun makna muhrim adalah orang yang sedang melakukan ibadah ihram, di mana baginya diharamkan untuk memakai parfum, mencabut rambut, membunuh bintangan atau berburu dan perbuatan lain.

Sedangkan istilah muabbad bermakna abadi, berkesinambungan, terus-terusan, un-limtedatau selamanya. Dan makna ghairu muabbad adalah lawannya, yaitu untuk sementara waktu, temporal, limited dan terbatas waktunya. Sewaktu-waktu bisa berubah keadaannya.

Maka bila kedua istilah itu kita padukan menjadi mahram muabbad, artinya adalah hubungan kemahraman yang bersifat abadi, seterusnya, tidak akan pernah berubah dan selama-lamanya. Sedangkan mahram ghairu muabbad adalah lawannya, yaitu hubungan kemahraman yang bersifat sementara, temporal,sewaktu-waktu bisa saja berubah dan tidak abadi.

Para ulama telah menyusun daftar hubungan kemahraman yang muabbad dan yang ghairu muabbad sebagai berikut:

1. Mahram Muabbad

Mereka yang termasuk mahram selama-lamanya bisa dibagi menjadi dua kategori. Pertama karena hubungan nasab (keturunan). Kedua, karena hubungan persusuan.

a. Mahram karena Nasab

  • Ibu kandung dan seterusnya keatas seperti nenek, ibunya nenek.
  • Anak wanita dan seteresnya ke bawah seperti anak perempuannya anak perempuan.
  • Saudara kandung wanita.
  • `Ammat/ Bibi (saudara wanita ayah).
  • Khaalaat/ Bibi (saudara wanita ibu).
  • Banatul Akh/ Anak wanita dari saudara laki-laki.
  • Banatul Ukht/ anak wnaita dari saudara wanita.

b. Mahram karena Mushaharah

Sedangkan kemahraman yang bersifat sementara adalah kemahraman yang terjadi akibat adanya pernikahan. Atau sering juga disebut dengan mushaharah (besanan/ipar). Mereka adalah:

  • Ibu dari isteri (mertua wanita).
  • Anak wanita dari isteri (anak tiri).
  • Isteri dari anak laki-laki (menantu peremuan).
  • Isteri dari ayah (ibu tiri).

c. Mahram karena Penyusuan

  • Ibu yang menyusui.
  • Ibu dari wanita yang menyusui (nenek).
  • Ibu dari suami yang isterinya menyusuinya (nenek juga).
  • Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan).
  • Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui.
  • Saudara wanita dari ibu yang menyusui.
Ini berlaku untuk selama-lamanya meskipun terjadi kematian, perceraian ataupun pindah agama.

Konsekuensi Hukum Sesama Mahram

Hubungan kemahraman yang ada dalam daftar di atas, baik yang muabbad maupun yang ghairu muabbad, sama menghasilkan konsekuensi hukum lanjutan, selain tidak boleh terjadinya pernikahan. Di antaranya adalah:

  1. Kebolehan berkhalwat (berduaan) antara sesama mahram
  2. Kebolehan bepergiannya seorang wanita dalam safar lebih dari 3 hari asal ditemani mahramnya.
  3. Kebolehan melihat sebagian dari aurat wanita mahram, seperti kepala, rambut, tangan dan kaki.

Mahram Ghoiru Muabbadah

Adapun yang dimaksud dengan mahram ghoiru mu'abbadah adalah wanita-wanita untuk sementara waktu saja, namun bila terjadi sesuatu seperti perceraian, kematian, habisnya masa iddah ataupun pindah agama, maka wanita itu boleh dinikahi. Mereka adalah:

  1. Wanita yang masih menjadi isteri orang lain tidak boleh dinikahi. Kecuali setelah cerai atau meninggal suaminya dan telah selesai masa iddahnya.
  2. Saudara ipar, atau saudara wanita dari isteri. Tidak boleh dinikahi sekaligus juga tidak boleh berkhalwat atau melihat sebagian auratnya. Kalau isteri sudah dicerai maka mereka halal untuk dinikahi. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari isteri.
  3. Isteri yang telah ditalak tiga, haram dinikahi kecuali isteri itu telah menikah lagi dengan laki-laki lain, kemudian dicerai dan telah habis masa iddahnya.
  4. Menikah dalam kesempatan dengan melakukan ibadah ihram. Bukan hanya dilarang menikah, tetapi juga haram menikahkan orang lain.
  5. Menikahi wanita budak padahal mampu menikahi wanita merdeka. Kecuali bila tidak mampu membayar mahar wanita merdeka karena miskin.
  6. Menikahi wanita pezina, kecuali yang telah bertaubat taubatan nashuha.
  7. Menikahi wanita non muslim yang bukan kitabiyah atau wanita musyrikah, kecuali setelah masuk Islam atau pindah memeluk agama yahudi atau nasrani.

Demikian jawaban singkat ini semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Rumah Tusuk Sate
26 April 2006, 05:41 | Aqidah | 6.388 views
Menjamak Dua Salat Fardu
25 April 2006, 08:51 | Shalat | 4.764 views
Keutamaan Mengantar Jenazah dan Aturannya
25 April 2006, 03:29 | Umum | 4.840 views
Sistem Memberi Upah dalam Islam
23 April 2006, 06:22 | Muamalat | 4.782 views
Lebih Utama Jadi Imam Shalat atau Mengumandangkan Adzan?
23 April 2006, 06:19 | Shalat | 5.432 views
Adakah Kewajiban Menzakati Uang dari Jamsostek yang Belum Diterima?
21 April 2006, 04:31 | Zakat | 4.809 views
Meletusnya Gunung Merapi dan Mbah Petruk
21 April 2006, 04:27 | Kontemporer | 4.539 views
Apakah Sama Lama Waktu Nifas dari Melahirkan dengan Keguguran
21 April 2006, 04:12 | Thaharah | 6.408 views
Tidak Mengakui Hadits Ahad karena Dianggap Tidak Kuat
20 April 2006, 23:51 | Hadits | 5.518 views
Haramkah Rokok?
20 April 2006, 08:19 | Kontemporer | 6.344 views
Apakah Kitab Kuning Itu?
19 April 2006, 07:09 | Umum | 5.200 views
Halalkah Sushi & Sashimi
19 April 2006, 07:05 | Kuliner | 5.624 views
Mohon Hitungkan Warisan Ayah Kami
19 April 2006, 06:31 | Mawaris | 4.337 views
Benarkah Demonstrasi Haram karena Sama dengan Perbuatan Jin?
19 April 2006, 02:16 | Negara | 6.170 views
Menjawab Alasan Rasulullah Beristri Lebih dari 4 Orang
19 April 2006, 02:16 | Umum | 7.070 views
Sahkah Shalat Berjamaah dengan Niat Awal Shalat Sendiri?
18 April 2006, 07:16 | Shalat | 6.286 views
Hormat Menghormati Sesama Muslim
17 April 2006, 04:17 | Umum | 4.598 views
Adakah Syirik Mulkiyah?
14 April 2006, 07:55 | Aqidah | 6.322 views
2 Macam Do'a Iftitah, Mana yang Seharusnya Dipakai?
14 April 2006, 07:51 | Shalat | 7.246 views
Pakai Sayyidina dalam Shalawat, Bagaimana Hukumnya?
13 April 2006, 06:54 | Umum | 8.492 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 29,930,703 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema