Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Nadzar Potong Kambing kalau Diterima di PTN | rumahfiqih.com

Nadzar Potong Kambing kalau Diterima di PTN

Thu 11 May 2006 05:50 | Qurban Aqiqah | 5.020 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz Ahmad yang dirahmati Allah, 9 tahun yang lalu saya pernah bernadzar dalam hati, “Jika saya lulus dari test dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri, maka saya akan memotong kambing.” Alhamdulillah akhirnya saya lulus dan diterima di PTN tersebut, tapi saya masih masih belum menunaikan nadzar tersebut.

Yang saya tanyakan adalah:
1. Apakah nadzar saya itu termasuk nadzar yang dibenarkan oleh syariat?
2. Apakah saya harus melaksanakan nadzar tersebut? Jika iya, sebaiknya saya serahkan/bagi ke mana kambing tersebut?

Jazakumullah khairon katsiron,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Selama isi materi yang dinadzarkan itu bersifat ibadah atau amal-amal yang mendatangkan kebaikan dan manfaat nyata serta tidak bertentangan dengan larangan-larangan agama, tentu saja nadzar itu sah dan wajib dilaksanakan. Sebagaimana sabda beliau SAW

Siapa yang nadzar untuk mentaati Allah, maka taatilah (laksanakanlah). Dan siapa yang nadzar untuk maksiat kepada Allah maka dilarang.

Misalnya ketika anda bernadzar untuk menyembelih seeokor kambing, tentunya niat anda agar daging kambing itu bisa bermanfaat buat orang lain untuk dimakan. Hal itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena menjadi sedekah anda buat mereka.

Namun kalau dalam hati anda niatnya untuk dijadikan persembahan kepada jin, roh, dukun atau ritual dari alam ghaib lainnya, tentu saja hukumnya haram. Selain syirik, praktek seperti itu melahirkan dosa besar, sehingga kalau nadzarnya seperti itu, hukumnya tidak boleh dilaksanakan.

Kalau anda bertanya tentang ke mana memberikan daging kambing itu, jawabnya tergantung yang terbetik di benak anda saat bernadzar. Kalau yang terbetik adalah memberi kepada fakir miskin, maka carilah fakir miskin. Boleh secara langsung anda mencari sendiri dengan menyusuri pemukiman kumuh pinggir kali misalnya, atau anda serahkan kepada lembaga yang secara khusus bisa dipercaya untuk menyampaikannya.

Tapi kalau nadzar anda hanya bersifat umum, tanpa ada kepastian untuk siapa, sebagian dari daging itu boleh anda hadiahkan kepada orang lain yang tidak termasuk ke dalam kategori fakir miskin. Namun alangkah baiknya bila pemberian itu tetap memprioritaskan orang-orang yang kelaparan dan sangat membutuhkan.

Hukum Melakukan Nadzar

Hukum nadzar sendiri merupakan perselisihan para ulama. Sebagian membolehkannya dan sebagian lainnya melarangnya. Dasarnya adalah karena nadzar itu menunjukkan bahwa seseorang itu pelit kepada Alah. Mau melakukan kebajikan hanya kalau Allah meluluskan hajatnya. Seolah-olah niatnya tidak ikhlas karena Allah, tapi karena ingin diluluskan hajatnya. Sehingga, menurut para ulama yang mendukung pendapat ini, sebaiknya seseorang tidak bernadzar.

Rasulullah SAW telah melarang untuk bernadzar dan bersabda:

Nadzar itu tidak menolak sesuatu. Sebenarnya apa yang dikeluarkan dengan nadzar itu adalah dari orang bakhil.

Lalu tindakan apa yang seharusnya dikerjakan bila memang kondisi kita sangat membutuhkan adanya campur tangan Allah secara langsung. Seperti dalam menghadapi penyakit kronis atau hal-hal gawat lainnya?

Para ulama menganjurkan bila seseorang sedang dalam keadaan genting, sebaiknya dia berdoa langsung kepada Allah untuk meminta dilepaskan dari beban dan diluluskan semua hajatnya. Yaitu dengan bertawassul lewat amal baik yang bernilai ibadah. Baik amal itu pernah dilakukan atau akan dilakukan.

Ada cerita menarik dalam salah satu hadits nabi di mana diceritakan ada tiga orang kakak beradik bepergian dan masuk ke dalam gua. Tiba-tiba tanah bergerak dan pintu gua tertutup timbunan. Tiga tenanga manusia tidak mungkin bisa membuka pintu tersebut. Lalu ketiganya hanya berharap kepada pertolongan Allah dan mulailah mereka berdoa. Masing berdoa dan bertawassul dengan menyebutkan amal kebajikan yang pernah dilakukannya. Dan akhirnya atas kehendak Allah, mereka bisa keluar dari pintu gua tersebut.

Atau bisa juga pada saat gawat dan genting, seseorang mengeluarkan sejumlah harta dan diberikan kepada fakir miskin atau anak yatim. Hal itu memang dianjurkan terutama ketika seseorang sedang mengalami musibah sakit. Atau mewakafkan sejumlah tanah untuk madrasah dan sebagainya.

Tawassul seperti ini jelas memiliki dasar yang kuat karena Allah SWT memang memerintahkannya dalam Al-Quran. Juga tidak seperti nadzar yang seolah-olah tawar menawar kepada Allah. Bila Allah beri maka saya beri tapi bila tidak diberi maka saya tidak akan memberi. Dari segi etika saja, jelas ini bukan etika yang baik dari seorang hamba kepada Rabb-Nya.

Sedangkan tawassul dengan amal-amal kebajikan berbeda dengan nadzar. Karena pada dasrnya kita berdoa dan menguatkan doa kita dengan wasilah tersebut. Bila Allah luluskan, alhamdulillah dan bila tidak atau belum, maka kita tetap berhusnuzzon kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bishshawab, Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bayar Zakat Lewat Transfer Bank dan Ijab Qobul
11 May 2006, 05:29 | Zakat | 6.396 views
Berderma Ala Robin Hood
11 May 2006, 05:29 | Kontemporer | 4.992 views
Memajang Foto Para Ulama, Sunnahkah?
10 May 2006, 03:23 | Umum | 6.245 views
Beda Waqaf dan Sedekah
10 May 2006, 03:23 | Zakat | 7.302 views
Malaikat Itu, Institusi Bukan?
9 May 2006, 07:09 | Aqidah | 6.150 views
Akhir Waktu Mengerjakan Sholat Isya
9 May 2006, 07:09 | Shalat | 9.267 views
Apakah Hadits Nabawi = Hadits Qudsi?
9 May 2006, 05:21 | Hadits | 16.372 views
Mengenai Kalimat "Kekasih Allah", Apakah Termasuk Berlebihan?
8 May 2006, 03:51 | Umum | 5.364 views
Program Saving Plan (Dana Pensiun)
5 May 2006, 06:19 | Muamalat | 5.686 views
Kedudukan Qaul Shahabi dan Rukyatun Nabi
5 May 2006, 04:45 | Ushul Fiqih | 7.435 views
Kisah-kisah Israiliyat?
5 May 2006, 04:45 | Umum | 12.593 views
Apakah Harta Yang Dihibahkan Melebihi 1/3 Dari Total Harta Yang Dimiliki Itu, Sah Menurut Syariat Islam?
4 May 2006, 09:51 | Mawaris | 8.218 views
Bisakah Mengaji Lewat MP3 Player?
4 May 2006, 05:37 | Kontemporer | 4.661 views
Benarkah Rasulullah Terbuat dari Cahaya?
4 May 2006, 05:32 | Aqidah | 6.487 views
Masalah Bagi Hasil Sawah (Muzara'ah)
1 May 2006, 00:29 | Muamalat | 9.396 views
Operasi Face Off
1 May 2006, 00:23 | Kontemporer | 5.698 views
Bagaimana Hukumnya Marsmallow
28 April 2006, 07:39 | Kuliner | 6.542 views
Nyekar dengan Membawa Bunga
28 April 2006, 07:20 | Umum | 6.045 views
Shalat di Awal Waktu di Kendaraan atau diAkhir Waktu di Rumah, Mana yang Lebih Utama?
28 April 2006, 07:17 | Shalat | 5.688 views
Pilihan Menjama' Sholat atau Sholat di Kendaraan
27 April 2006, 06:36 | Shalat | 8.286 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,076,417 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

6-12-2019
Subuh 04:06 | Zhuhur 11:45 | Ashar 15:12 | Maghrib 18:02 | Isya 19:15 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img