Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Embargo Balik Minyak Bumi Untuk Negara Amerika | rumahfiqih.com

Embargo Balik Minyak Bumi Untuk Negara Amerika

Fri 19 May 2006 06:40 | Kontemporer | 5.230 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustadz Ahmad Sarwat yang saya cintai, saya ikut prihatin dan sakiit hati ini saat mendengar, melihat, dan merasakan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, dan lain-lain. Namun apadaya saya hanya orang biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ditambah sikap negara-negara Arab yang "ketakutan" akan ancaman Amerika dan sekutunya sehingga bank-bank di Arab enggan menyalurkan dana ke Palestina. Diperburuk lagi dengan seringnya negara Amerika ini dengan sombongnya "meng-embargo" negara-negara Islam. Bukankah ini semua sudah menunjukkan sikap bermusuhan antar agama yang bersembunyi di balik politik luar negeri tanpa kita sadari?

Mengapa Islam sampai hari ini tidak bergerak "meladeni" mereka bahkan sebaliknya gentar akan gertakan. Bukankah negara Islam ini kaya akan minyak. Mengapa kita ummat Islam belum mau bersatu untuk melawan mereka, misalnya dengan sepakat "balik memboikot" minyak bumi bagi Amerika dan sekutunya sampai negara Amerika mencabut embargo-embargo mereka. Apakah kita harus membiarkan saudara-saudara kita satu per satu dibantai. Apakah kita hanya berdo'a dan duduk sambil menunggu kedatangan "pasukan Alloh - burung ababil"? Jika kita ingin berkirim surat ke para raja Arab, gimana caranya? Terus terang saya kecewa dengan mereka juga dengan pemerintah Indonesia.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Masalah yang anda ajukan itu bisa saja sangat sederhana tapi sekaligus tidak sederhana. Dibilang sederhana karena intinya hanya masalah punya nyali apa tidak. Dibilang tidak sederhana, karena resikonya juga besar.

Bagaimana mau embargo, kalau nyali tidak punya? Bagaimana mau unjuk gigi kalau gigi tidak punya. Orang yang tidak punya gigi, jangankan menggigit lawan, sekedar unjuk gigi punya tidak bisa.

Dulu raja Faishal dari Saudi Arabia pernah melakukan embargo kepada Barat. Ketika balik digertak bahwa Saudi akan diembargo secara ekonomi, beliau mengatakan bahwa bangsa kami tidak butuh produk anda. Kami semenjak masa nenek moyang telah terbiasa makan kurma dan air. Itu sudah cukup buat kami. Sayang, sosok seperti beliau tidak ada lagi di dunia ini.

Sekarang itu para pemimpin Arab atau Islam sangat ketakutan kalau digertak. Bahkan oleh negeri sekecil Israel atau Singapura pun keok, tak bernyali, lututnya gemetar, matanya redup, mukanya tertunduk, tangannya menadah, hatinya gundah, jiwanya resah, tangisnya pecah, imannya lemah, mentalnya terjajah.

Tidak semua pemimpin negeri Arab dan Islam laki-laki dalam arti yang sesungguhnya. Begitu banyak yang mentalnya terbelah, jiwanya kosong, kelelakiannya lenyap, bahkan kepribadiannya pecah. Meski banyak di antara mereka yang punya nama dari nama-nama hewan buas seperti macan, singa dan lainnya, sayangnya sikap dan sosok mereka tidak lebih dari hewan sirkus, yang terbiasa menuruti kemauan tuannya demi sejumput makanan dan tepuk tangan penonton.

Bagaimana bukan hewan sirkus, kalau minyak mereka dirampas tapi diam saja. Kedaulatan mereka dilanggar mereka diam saja. Palestina dijajah mereka pun masih diam saja. Iraq diratakan dengan tanah, mereka pun masih diam.

Penyebab

Lahirnya sosok pemimpin dunia Islam yang demikian sebenarnya lantaran sosok kualitas mayoritas umatnya yang tidak jauh berbeda. Di mana-mana domba selalu beranak domba, tidak ada domba beranak harimau. Kalau pemimpin negeri Islam seperti itu, mereka sesunguhnya hanya cerminan dari wajah dunia Islam sendiri. Centang perenang, tidak kompak, tidak menyatu, tidak punya jiwa pengorbanan, mau menang sendiri, tidak peduli, tidak siap berkorban dan seterusnya.

Dengan kualitas umat yang teramat lemah itu, wajar bila musuh pun memandang rendah. Meski jumlah umat Islam tidak kurang dari 1.500.000.000 di muka bumi (satu setengah milyar), tapi jumlah itu tidak ada artinya di hadapan 20 juta-an Yahudi. Dan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa musuh-musuh umat Islam tidak akan lagi merasa takut atau gentar melihat jumlahnya. Tidak sebagaimana kualitas umat di masa lalu, yang meski sedikit, tapi musuh sudah ketakutan mendengar namanya, bahkan satu bulan sebelum peperangan terjadi, rasa gentar itu sudah mengalahkan kumpulan musuh.

Loyalitas kepada Musuh

Di tengah kelemahan dan kebobrokannya, yang paling menyedihkan adalah masih banyaknya para penguasa di dunia Islam yang mau-maunya memberikan loyalitasnya kepada musuh. Bukan kepada umat Islam sebagai umat yang dipimpinnya.

Inilah yang semakin memperparah keadaan. Mereka bermesraan dengan musuh, sementara dengan rakyatnya yang notabene menyerukan dakwah, malah bersifat kasar, galak dan garang. Walhasil, mereka inilebih berfungsi sebagai kaki tangan musuh ketimbang pemimpin umat.

Sementara Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memberikan loyalitas kepada sesama muslim. Seperti yang tercantum pada firman-Nya berikut ini:

Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali. (QS Ali Imran: 28)

Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa: 139)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah? (QS An-Nisa': 144)

Melahirkan Sosok Pemimpin Dunia Islam

Tapi satu hal yang melegakan adalah bahwa usia manusia tidak ada yang abadi. Para penguasa itu tidak akan selamanya bertahta di kursinya. Pasti suatu ketika akan lengser atau meninggal dunia. Masalahnya tinggal siapakah sosok yang akan menggantikan mereka? Apakah dari jenis yang sama ataukah sosok yang baru dan berbeda?

Semua akan terpulang kepada sejauh mana kita sebagai umat menyiapkan calon-calon pemimpin umat masa depan. Tugas kita hanya membina, mengkader dan menyiapkan calon pemimpin masa depan yang berkualitas. Adapun bagaimana menaikkan mereka ke kursi tertinggi, Allah SWT yang akan mengaturnya.

Dahulu ketika Soeharto masih berkuasa, orang ribut bagaimana menjatuhnya. Tapi lupa untuk menyiapkan sosok penggantinya. Ketika Soeharto benar-benar jatuh dengan sendirinya, nyatanya umat Islam pun belum punya kader terbaiknya. Sehingga yang menjadi penguasa tetap saja orang-orang yang bermasalah.

Paling tidak, masalah-masalah yang muncul masih sama, masih seputar korupsi, ketidak-adilan, kezhaliman, kemiskinan, hutang luar negeri dan sejenisnya. Memang ada sebagian yang sudah mulai berubah, dan itu tidak bisa dipungkiri. Namun harus diakui bahwa beberapa masalah justru semakin parah.

Ini terjadi karena kegagapan kita dalam menciptakan kader berkualitas, sekelas pemimpin nasional atau sekelas dunia. Kalau pun kita punya, kurang dipromosikan. Terus terang, munculnya tokoh itu tidak lepas dari peran media. Dan secara sederhana kita bisa berhitung tentang konstalasi media milik umat Islam dan kompetitornya.

Dengan realitas seperti itu, boleh dibilang kita adalah umat yang mandul, tidak punya kader berkualitas yang populis untuk semua kalangan. Dan ini adalah tantangan buat semua elemen umat.

Dan seandainya para pemimpin lokal umat Islam semakin dewasa dan bijaksana, tentu kita tidak lagi mendengar perseteruan di antara mereka. Kita tidak perlu dengar lagi sindiran-sindiran atau malah makian yang saling terlontar kepada sesama saudara sendiri. Seharusnya kita tidak lagi mendengar ada aktifis partai A melecehkan aktifis partai B, padahal dua-duanya anak kandung Islam juga. Seharusnya kita tidak lagi mendengar jamaah Amencurigai jamaah B lantaran perbedaan persepsi tentang urusan ujung kain sarung yang kepanjangan hingga lewat mata kaki ataumasalah jenggot yang ternyata tidak tumbuh-tumbuh juga.

Seharusnya yang kita lihat adalah sinergi, kualisi, duduk bersama, bersalaman, berangkulan, saling berbagi, saling menyayangi, serta saling menguatkan di antara semua umat Islam. Lalu kita bekerja dengan semangat persaudaraan, masing-masing pada bidangnya tanpa harus saling merasa dirinya yang paling hebat dan paling berperan. Toh, semua itu hanya Allah saja yang tahu secara nilainya.

Semoga Allah SWT memberikan kita rizki berupa pemimpin umat yang adil, bijak, bisa membedakan mana lawan mana kawan, beriman mendalam, berwawasan luas, berjiwa satria, siap berkorban dan rindu masuk surga. Amien ya rabbal 'alamin.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hadist Tentang Tata Cara Sholat
19 May 2006, 04:50 | Shalat | 8.504 views
Palestina Bumi Waqaf?
18 May 2006, 02:31 | Umum | 4.717 views
Benarkah Islam adalah Agama?
17 May 2006, 03:55 | Aqidah | 6.123 views
Urutan Khilafah Islamiyah
17 May 2006, 02:52 | Negara | 6.081 views
Apakah Ajaran Islam Sudah Ada Semenjak Nabi Adam?
16 May 2006, 03:47 | Aqidah | 18.587 views
Shaum Sunat Tanggal 13, 14 dan 15 di Setiap Bulan Hijriah
16 May 2006, 03:37 | Puasa | 5.794 views
Wanita Hamil Mendapat Haid
16 May 2006, 03:30 | Thaharah | 5.136 views
Ayah di Penjara Tidak Bisa Hadir Jadi Wali Nikah
15 May 2006, 01:17 | Nikah | 4.560 views
Hubungan dengan Nabi Muhammad SAW: Guru Atau Sahabat
15 May 2006, 01:06 | Umum | 4.979 views
Agama Sebelum Rasulullah Diutus
11 May 2006, 05:50 | Aqidah | 6.002 views
Nadzar Potong Kambing kalau Diterima di PTN
11 May 2006, 05:50 | Qurban Aqiqah | 4.826 views
Bayar Zakat Lewat Transfer Bank dan Ijab Qobul
11 May 2006, 05:29 | Zakat | 6.141 views
Berderma Ala Robin Hood
11 May 2006, 05:29 | Kontemporer | 4.822 views
Memajang Foto Para Ulama, Sunnahkah?
10 May 2006, 03:23 | Umum | 5.995 views
Beda Waqaf dan Sedekah
10 May 2006, 03:23 | Zakat | 6.883 views
Malaikat Itu, Institusi Bukan?
9 May 2006, 07:09 | Aqidah | 5.876 views
Akhir Waktu Mengerjakan Sholat Isya
9 May 2006, 07:09 | Shalat | 7.836 views
Apakah Hadits Nabawi = Hadits Qudsi?
9 May 2006, 05:21 | Hadits | 9.053 views
Mengenai Kalimat "Kekasih Allah", Apakah Termasuk Berlebihan?
8 May 2006, 03:51 | Umum | 5.025 views
Program Saving Plan (Dana Pensiun)
5 May 2006, 06:19 | Muamalat | 5.514 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,718,242 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-8-2019
Subuh 04:41 | Zhuhur 11:57 | Ashar 15:18 | Maghrib 17:58 | Isya 19:06 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img