Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Waris Islam tidak Memiliki Keadilan? | rumahfiqih.com

Hukum Waris Islam tidak Memiliki Keadilan?

Fri 9 June 2006 02:55 | Mawaris | 5.373 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb.

Selamat siang bapak ustadz. Nama saya Nurwahyu, saya sekeluarga sedang menghadapi masalah tentang waris. Ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan, dengan situasi dan kondisi sebagai berikut: 1961 kakak saya mendapat hibah tanah dari kakek saya, 1987 kakak saya wafat dengan meninggalkan isteri dan 3 orang puteri, 1993 ayah kami wafat, dan 1999 ibu kami wafat.

Pertanyaannya:

1. Apakah status tanah hibah tersebut harusnya kembali kepada ayah kami?
2. Apakah dengan kondisi di atas, kakak saya masih berhak mendapat waris?
3. Apakah ahli waris dari kakak saya dapat menjadi ahli waris pengganti? 4. Apakah benar bahwa ketiga puteri kakak saya terhijab oleh pamannya?
5. Adakah dalam Al-Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa kakak saya tidak berhak mewaris? Mati waris kata orang Betawi.
6. Jika memang kakak saya tidak lagi berhak mewaris, bagaimana dengan kompilasi hukum Islam pasal 185 (Bab Waris)?

Pertanyaan ini saya ajukan, karena saya dilaporkan sebagai pemberi keterangan palsu di hadapan pengadilan agama, karena saya tidak mencantumkan nama kakak saya sebagai salah satu ahli waris. Saya menjadi prihatin dengan hukum waris Islam yang sudah dianggap tidak memiliki keadilan. Ustadz dapat memberikan petunjuk dan solusi yang terbaik bagi kami sekeluarga.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Harta yang diterima kakak anda sebagai hibah dari sang kakek, atau dari siapa pun, merupakan harta milik kakak sepenuhnya. Sama statusnya dengan harta yang didapat dari bekerja dengan keringatnya. Tidak boleh diganggu gugat lagi semenjak dia menerima hibah itu dari kakek.

Tanah yang telah dimilikinya tidak berpindah semuanya kepada ayah anda, namun kepada ahli waris kakak anda. Dan dalam jajaran ahli waris kakak anda, ayah anda termasuk salah satu yang menerima bagian sebesar 1/6 bagian saja. Isteri kakak anda mendapat 1/8 bagian. Lalu sisanya menjadi hak anak-anaknya.

2. Kakak anda memang tidak mendapat warisan dari ayah atau dari ibu anda. Tapi alasannya bukan karena pernah menerima hibah dari kakek. Alasannya karena beliau wafat terlebih dahulu dari ayah atau ibunya.

Sebagaimana sudah menjadi ketetapan bahwa dalam syarat terjadinya pemberian warisan, pihak yang memberi warisan (al-muwarrits) harus sudah wafat dan pihak yang mendapat warisan (al-warist) harus masih hidup.

Isteri dan anak-anak kakak anda tidak mendapat warisan dari harta ayah dan ibu. Sebab posisi isteri kakak anda dari ayah atau dari ibu adalah sebagai menantu. Dan menantu tidak pernah ada dalam sejarah orang yang menerima warisan. Sedangkan posisi anak-anak kakak terhadap ayah atau ibu anda adalah sebagai cucu yang terhijab, lantaran almarhum dan almarhumah punya anak, yaitu anda dan saudara-saudara anda.

Namun demi keadilan dan kerukunan, dalam kasus seperti ini, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan.

  • Pertama, hakim mewajibkan kepada ayah atau ibu anda untuk membuat wasiat. Intinya, bila mereka wafat, mereka mewasiatkan agar cucu-cucu mereka diberikan bagian dari harta yang mereka tinggalkan. Dalam sistem hukum warisan di Mesir dan Suriah, cara ini diistilahkan dengan wasyiah wajibah.
  • Kedua, bisa juga anda dan saudara-saudara anda bersepakat untuk bersedekah dan membagi keponaan anda bagian dari harta. Sebab mereka sebenarnya juga masih keluarga, yang disebut dengan istilah dzawil arham, atau juga anak yatim atau juga bisa dikategorikan fakir miskin.

3. Ahli waris kakak anda tidak bisa menjadi pengganti posisi ayahnya sebagai penerima waris.

4. Benar, anak-anak kakak anda terhijab dengan adanya paman-pamannya. Kami sudah jelaskan di pada jawaban nomor dua.

5. Sudah dijelaskan.

6. Kompilasi hukum Islam di Indonesia masih rancu. Namanya saja kompilasi, pastilah banyak problem. Apalagi pelaksana dan aparat hukumnya termasuk orang awam terhadap ilmu syariah, maka akan semakin tidak karuan saja.

Tapi kalau mereka pernah belajar syariah, minimal pernah ngaji kitab fiqih, perkara seperti itu bukan hal yang aneh lagi. Yang namanya orang sudah meninggal, tidak mendapat warisan dari orang yang meninggalnya belakangan. Dan tidak ada istilah perwakilan dalam menerima warisan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pro Kontra APP dan Isu Arabisasi
8 June 2006, 03:15 | Umum | 4.817 views
Percaya pada Ramalan Apa Hukumnya?
8 June 2006, 03:05 | Aqidah | 5.527 views
Boikot Apapun yang 'Berbau' Yahudi?
7 June 2006, 03:53 | Kontemporer | 4.876 views
Do'a dalam Suatu Acara/Rapat
7 June 2006, 03:46 | Umum | 5.976 views
Yang Tidak Diperbolehkan Selama Masa Haid
7 June 2006, 03:43 | Thaharah | 8.396 views
Tata Cara Mandi Wajib yang Benar
7 June 2006, 03:37 | Thaharah | 12.881 views
Menghina Al-Qur`an, Murtadkah?
6 June 2006, 07:29 | Quran | 6.070 views
Hukum Belajar Bahasa Arab, Sunnahkah?
6 June 2006, 07:21 | Kontemporer | 5.012 views
Shalat Dulu atau Kuliah Dulu?
6 June 2006, 07:13 | Shalat | 5.182 views
Ritual Syar'i Menjelang dan Sesudah Kelahiran Bayi
5 June 2006, 03:34 | Nikah | 8.499 views
Harta Warisan Ibu
5 June 2006, 03:28 | Mawaris | 5.310 views
Bagaimana Rasul SAW Bertayamum?
5 June 2006, 02:46 | Thaharah | 6.784 views
Menghajikan Orang Lain, Tidak Masuk Logika
2 June 2006, 07:59 | Haji | 6.081 views
E-mail Berita dari Masjid Nabawi
2 June 2006, 03:50 | Umum | 4.255 views
Madzi, Bagaimanakah Penyikapannya
2 June 2006, 03:46 | Thaharah | 6.303 views
Pembagian Harta Warisan
1 June 2006, 05:29 | Mawaris | 5.832 views
Perlukah Kita Bermadzhab?
1 June 2006, 05:24 | Ushul Fiqih | 6.590 views
Wudhu, Dibasuh atau Disiram?
31 May 2006, 04:50 | Thaharah | 5.939 views
Zodiak dalam Pandangan Islam
31 May 2006, 03:23 | Aqidah | 5.263 views
Zakat Maal untuk Korban Bencana Alam
30 May 2006, 09:23 | Zakat | 4.852 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,428,033 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img