Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Halalkah | rumahfiqih.com

Halalkah

Mon 26 June 2006 01:17 | Umum | 4.623 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Ustadz yang semoga selalu dirahmati ALLAH SWT, ada pertanyaan yang hingga kini mengganjal di benak saya. Yakni masalah kehalalan uang "angpao" bagi wartawan.

Saya bekerja di media massa harian, kebetulan di bidang olahraga. Biasanya setiap kali meliput, terutama kegiatan press conference (jumpa pers) pihak pengundang selalu memberikan souvenir serta "angpao", jumlah uang dalam angpao terbut tidak terlalu besar, kisarannya antara 50-200 ribu rupiah. Pihak pengundang menyatakan untuk sekedar pengganti bensin.

Betul atau tidak pengundang tersebut memberi angpao untuk pengganti bensin, saya tidak tahu pasti. Atau jangan-jangan angpao tersebut untuk menyuap secara terselubung agar beritanya yang berbau promosi diberitakan? Saya kurang tahu, yang jelas, terkadang ada pengundang yang kemudian menelpon menanyakan apakah beritanya sudah dimuat atau belum, karena koran saya koran daerah sehingga sulit di dapat, mereka meminta dibawakan beritanya, dengan alasan untuk kliping mereka.

Yang ingin saya tanyakan apakah angpao tersebut halal atau haram? Dari kantor, saya mendapat gaji total 1,8 juta. Pihak kantor tidak melarang wartawannya secara langsung agar tidak menerima angpao, tetapi di bawah boks redaksi ditulisi "WARTAWAN KAMI DILARANG MENERIMA ATAU MEMINTA APAPUN DARI NARA SUMBER."

Saya mohon jawabannya, karena banyak teman-teman seprofesi yang bertanya kepada saya status uang dalam angpao tersebut. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Angpau yang diterima wartawan dari nara sumber itu hukumnya sangat erat dengan institusi tempatnya bekerja. Dalam hal ini barangkali dengan pihak perusahaan penerbitan atau dengan pimpinan redaksi.

Intinya, apabila pihak perusahaan tempat wartawan itu bekerja membolehkannya menerima angpau, maka hukumnya cenderung membolehkan. Sebaliknya, bila perusahaan secara tegas melarangnya, apalagi sampai ada surat perjanjian dan ancaman hukuman, tentu saja menjadi tidak boleh.

Bila pihak perusahaan membolehkan, tentu harus jelas aturan mainnya. Apakah uang itu menjadi mutlak milik wartawan yang bersangkutan, ataukah wartawan itu harus menyetor kepada atasannya. Sehingga nanti perusahaan punya kebijaksanaan tersendiri atas uang itu. Misalnya untuk menyumbang fakir miskin, anak yatim, atau untuk kepentingan sosial yang lainnya. Atau mungkin dibagikan kepada para wartawan sebagai bonus.

Namun bila ternyata di kotak redaksi tertulis larangan menerima atau meminta apapun dari nara sumber, tentunya pihak pimpinan harus konsekuen. Yaitu dia harus memberlakukan aturan itu kepada para wartawannya. Dia tidak boleh melanggar pernyataannya sendiri, kalau tidak mau dikatakan sebagai pendusta.

Pendeknya, halal tidaknya angpau tersebut, akan kembali kepada pihak managemen di mana wartawan tersebut bekerja. Prinsip umum yang berlaku adalah:

Orang Islam itu terikat pada kesepakatan (syarat) yang telah ditetapkannya. (Al-Hadits)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hari Kiamat
26 June 2006, 01:17 | Aqidah | 6.433 views
Menikah tanpa Restu dari Orang Tua Pihak Puteri
23 June 2006, 06:32 | Nikah | 5.471 views
Warisan dan Kontribusi Anak
23 June 2006, 01:45 | Mawaris | 4.875 views
Apa itu Mazi?
22 June 2006, 04:51 | Thaharah | 7.287 views
Benarkah Surat Abasa Teguran kepada Nabi yang Bermuka Masam?
22 June 2006, 01:44 | Quran | 7.106 views
Pinjam di Koperasi, Ribakah?
22 June 2006, 01:43 | Muamalat | 6.615 views
Ingin Mengadakan Kajian Kristen, Tapi Takut Non Muslim Tersinggung
21 June 2006, 04:21 | Umum | 4.789 views
Malu Berdoa
21 June 2006, 03:49 | Umum | 6.130 views
Saudara Ayah sebagai Wali Nikah
20 June 2006, 23:25 | Nikah | 5.742 views
Nasakh al-Quran
20 June 2006, 08:57 | Quran | 7.195 views
Talaq dan Rujuk dalam Islam
20 June 2006, 08:08 | Nikah | 5.672 views
Hak Waris Kembali ke Orang Tua ketika Anak Meninggal?
20 June 2006, 07:47 | Mawaris | 5.242 views
Pembatalan Nazar
20 June 2006, 06:22 | Umum | 7.302 views
Kedudukan Harta Suami dalam Pernikahan
19 June 2006, 03:41 | Nikah | 5.524 views
Apakah Harun Saudara Maryam itu Nabi Harun?
19 June 2006, 03:34 | Umum | 6.082 views
Bolehkah Wudhu' dalam WC?
19 June 2006, 03:22 | Thaharah | 8.483 views
Apakah Hadats itu Kotoran Kecil?
19 June 2006, 02:08 | Thaharah | 4.983 views
Rumah Riba
16 June 2006, 09:54 | Muamalat | 6.584 views
Lembaga Keuangan Konvensional Haram?
16 June 2006, 04:52 | Muamalat | 8.803 views
Indonesia Negara Jahiliyyah?
16 June 2006, 01:49 | Negara | 5.548 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,439,727 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-9-2019
Subuh 04:26 | Zhuhur 11:46 | Ashar 14:56 | Maghrib 17:52 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img