Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Jual Beli Dua Harga Haram, Bagaimana dengan Kredit? | rumahfiqih.com

Jual Beli Dua Harga Haram, Bagaimana dengan Kredit?

Sat 25 January 2014 06:10 | Muamalat | 13.711 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Ustadz, bagaimana hukum jual beli dengan dua harga, maksudnya jika kontan harganya lebih murah tapi jika kredit jatuhnya jadi lebih mahal?

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jual beli secara kredit dibolehkan dalam hukum jual beli secara Islami. Kredit adalah membeli barang dengan harga yang berbeda antara pembayaran dalam bentuk tunai tunai dengan bila dengan tenggang waktu. Ini dikenal dengan istilah: bai` bit taqshid atau bai` bits-tsaman `ajil. Gambaran umumnya adalah penjual dan pembeli sepakat bertransaksi atas suatu barang (x) dengan harga yang sudah dipastikan nilainya (y) dengan masa pembayaran (pelunasan) (z) bulan.

Sedangkan hadits yang sering dijadikan dasar pelarangannya, sebenarnya bukan dallil yang tepat. Sebab jual beli kredit bukan jual beli dengan dua harga, tetapi jual beli dengan satu harga. Dua harga hanyalah pilihan di awal sebelum ada kesepakatan. Tapi begitu sudah ada kesepakatan, penjual dan pembeli harus menyepakati satu harga saja, tidak boleh diubah-ubah lagi.

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW melarang dua jual beli dalam satu transaksi. (HR Nasai, Ibnu Hibban dan At-Tirmizi)

Secara segi kedudukan hukumnya, hadits ini digolongkan hasan oleh At-Tirmizi. Namun dari segi pengertiannya, banyak ulama berbeda pendapat.

Sebagian dari mereka ada yang menggunakan hadits ini sebagai dalil pengharam jual beli dengan sistem kredit. Karena menurut mereka, jual beli dengan sistem kredit ini adalah jual beli dengan dua harga yang berbeda. Kalau dibayar kontan harganya lebih murah, sedangkan kalau dibayar dengan cicilan, total harganya menjadi naik lantaran ada mark-up.

Mereka menyamakan transaksi kredit dengan jual beli ribawi atau bunga. Karena itu mereka mengatakan bahwa jual beli kredit itu haram.

Hukum Jual Beli Kredit

Apa yang dikatakan para ulama ini pada sebagiannya memang ada benarnya, namun bukan berarti semuanya haram. Sebab letak keharamannya bukan pada adanya dua harga, melainkan pada ketidak-jelasan harga.

Jual beli kredit dibolehkan ketika terjadi kepastian harga dan tidak terjadi dua harga. Sejak awal keduanya menyepakati satu harga saja, tidak dua harga. Dua harga itu hanya pilihan di awal, sebelum transaksi disepakati. Penjual menawarkan harga a bila kontak dan harga b bila kredit. Tapi keduanya harus memutuskan sejak awal, bentuk mana yang mau dipilih.

Misalnya keduanya sepakat dengan harga b dengan dicicil, maka harga itu tidak boleh lagi diubah-ubah di tengah proses pencicilan. Kalau sudah sepakat dengan harga b, tidak boleh dinaikkan atau diturunkan lantaran kreditnya lebih cepat atau lebih lambat.

Karena itu jual beli secara kredit menjadi halal apabila terpenuhi beberapa hal berikut ini:

  1. Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalnya: harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.
  2. Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.
  3. Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai` gharar (penipuan)

Untuk lebih jelasnya agar bisa dibedakan antara sistem kredit yang dibolehkan dan yang tidak, kami contohkan dua kasus sebagai berikut:

Contoh Transaksi Kredit yang Dibolehkan

Ahmad menawarkan sepeda motor pada Budi dengan harga Rp 12 juta. Karena Budi tidak punya uang tunai Rp12 juta, maka dia minta pembayaran dicicil (kredit).

Untuk itu Ahmad minta harganya menjadi Rp 18 juta yang harus dilunasi dalam waktu 3 tahun. Harga Rp 18 juta tidak berdasarkan bunga yang ditetapkan sekian persen, tetapi merupakan kesepakatan harga sejak awal.

Contoh Jual Beli Kredit yang Haram

Ali menawarkan sepeda motor kepada Iwan dengan harga Rp 12 juta. Iwan membayar dengan cicilan dengan ketentuan bahwa setiap bulan dia terkena bunga 2% dari Rp 12 juta atau dari sisa uang yang belum dibayarkan.

Transaksi seperti ini adalah riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti (fix), tetapi harganya tergantung dengan besar bunga dan masa cicilan. Yang seperti ini jelas haram.

Al-Qaradawi dalam buku HALAL HARAM mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan. Rasulullah SAW sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya.

Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa bila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka haram hukumnya dengan dasar bahwa tambahan harga itu berhubung masalah waktu dan itu sama dengan riba.

Tetapi jumhur (mayoritas) ulama membolehkan jual beli kredit ini, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Jual beli kredit tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman.

Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram. Imam Syaukani berkata, "Ulama Syafi'iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat."

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Anak Meninggal Lebih Dulu Dari Ayah, Apakah Anak itu Dapat Warisan?
24 January 2014, 12:00 | Mawaris | 39.985 views
Apakah Banjir Melanda Lantaran Manusia Banyak Dosa?
24 January 2014, 05:00 | Umum | 6.438 views
Tissue Pembersih Galon Air Minum
23 January 2014, 11:27 | Kuliner | 9.351 views
Melafadzkan Niat, Boleh atau Bid'ah?
22 January 2014, 10:55 | Shalat | 14.789 views
Batas Cuti Shalat bagi Wanita
21 January 2014, 08:42 | Thaharah | 8.937 views
Ketentuan Zakat Padi
20 January 2014, 04:55 | Zakat | 21.314 views
Mungkinkah Ada Ayat Al-Quran Yang Tidak Qath'i?
19 January 2014, 06:50 | Ushul Fiqih | 11.121 views
Caleg Minta Dipilih Dengan Memberi Uang Berdalih Sedekah
18 January 2014, 06:23 | Negara | 7.345 views
Mandi Junub Apakah Mesti Keramas?
17 January 2014, 05:23 | Thaharah | 10.595 views
Berzina dengan Adik Ipar, Haruskah Dinikahi?
16 January 2014, 05:02 | Nikah | 13.828 views
Alkohol untuk Sterilisasi Alat-Alat Kimia dan Kesehatan
15 January 2014, 04:59 | Kontemporer | 7.468 views
Suami Minum Susu Istri Jadi Mahram?
14 January 2014, 05:25 | Nikah | 11.202 views
Makmum Diam Saja di Belakang Imam atau Ikut Membaca?
13 January 2014, 04:23 | Shalat | 9.966 views
Apakah Sama Orang Musyrik dengan Orang Kafir?
12 January 2014, 07:51 | Aqidah | 8.813 views
Pernah Zina Ingin Taubat, Bagaimana Caranya?
11 January 2014, 04:46 | Wanita | 11.254 views
Haramkah Wanita Berkarir dan Bekerja di Luar Rumah?
9 January 2014, 04:21 | Wanita | 31.402 views
Istri Atau Pembantu Rumah Tangga?
8 January 2014, 07:07 | Wanita | 196.117 views
Lupa Rukun, Apakah Mengulang Shalat atau Sujud Sahwi?
7 January 2014, 06:00 | Shalat | 24.220 views
Membayar Lebih untuk Mendapatkan SIM Atau Paspor, Apakah termasuk Suap?
6 January 2014, 07:15 | Muamalat | 9.497 views
Batalkah Shalat Makmum Bila Imamnya Batal?
4 January 2014, 19:54 | Shalat | 10.888 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,211 views