Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bid'ahkah Niat Shalat dan Doa Bersama setelah Shalat Jamaah? | rumahfiqih.com

Bid'ahkah Niat Shalat dan Doa Bersama setelah Shalat Jamaah?

Mon 17 July 2006 09:31 | Shalat | 8.825 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum Warahmatullahi wr. wb.

Akhir-akhir ini jama'ah mushalla saya sedang mengalami kondisi yang kurang nyaman, karena adapernyataan dari seorang ustadz yang mengatakan bahwa niat shalat dengan lafal, "Ushali fardhu zuhri..." adalah bid'ah karena tidak dicontohkan oleh nabi. Menurut ustadz tersebut lafalnya adalah "Niatku shalat dzuhur...dan seterusnya" (bahasa Indonesia). Selanjutnya masalah berdoa setelah shalat wajib berjamaah yang dipimpin oleh imam dan diamini oleh ma'mum adalah bid'ah. Untuk kedua hal ini kami mohon penjelasan bapak ustadz.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang dikatakan ustadz itu ada sebagian benarnya, tapi bukan berarti 100% tepat. Termasuk yang paling disorot justru cara menyampaikannya. Sebab cara yang demikian kurang mencerminkan kepiawaian dalam menyampaikan pesan.

Kecuali beliau berbicara dalam forum khusus, bukan di depan publik heterogen, tentu merupakan hak beliau untuk berpendapat.

Namun bila beliau mengangkat tema sensitif tersebut di tengah jamaah yang heterogen, pastilah akan menimbulkan keresahan. Sebab tema itu adalah wilayah yang seringkali menjadi pangkal perbedan pendapat di kalangan umat Islam sejak dahulu. Sebagian mendukung adanya 'ushalli' dan sebagian menentangnya. Demikian juga dengan doa berjamaah, sebagian mengakui ada masyru'iyahnya dan sebagian menolaknya.

Tiba-tiba di tengah kerukunan antara mazhab yang memang berbeda, ada orang yang main tembak langsung sambil memojokkan pendapat yang tidak sesuai dengan pendapatnya sendiri. Bahkan sambil menuduh bid'ah atau perkataan lain yang kurang layak didengar.

Apa yang dilakukannya, lepas dari urusan masalah khilaf dan mana yang lebih kuat, adalah seperti membangunkan macan yang sedang tidur. Kalau seandainya beliau mengangkat masalah itu di tengah majelis para ulama yang memang ahli di bidang fiqih, khususnya masalah perbandingan mazhab, tentu akan lain ceritanya. Sebab beliau akan menemukan pembanding yang seimbang. Kalau hujjahnya kuat, mungkin beliau akan mendapat dukungan, sebaliknya kalau hujjahnya lemah, beliau pun tahu bahwa selain pendapat pribadinya, masih ada pendapat lainnya yang tidak sama dengannya.

Masalah Ushalli

Sebenarnya masalah ushalli kalau kita rujuk ke hadits-hadits nabawi, memang kita tidak mendapatkan perintah eksplisit. Kita tidak pernah menerima riwayat yang shahih bahwa ketika shalat, Rasulullah SAW melafadzkan ushalli.

Sampai di sini, semua pihak pasti sependapat, baik yang mendukung ushalli dengan yang tidak. Namun ketika salah satu pihak melayangkan tuduhan kepada saudaranya sebagai pelaku bid'ah, maka ceritanya menjadi lain lagi.

Sebab bukan berarti sesuatu yang tidak ada dalil eksplisitnya, lantas menjadi tidak ada. Dan kalau dikerjakan, tidak lantas menjadi bid'ah secara otomatis. Kita bisa buat perbandingan dengan masalah lainnya, seperti dalam masalah tertib urutan ibadah. Kita tidak menemukan dalam dalil eksplisit pernyataan nabi SAW bahwa kalau berwudu' harus urut (tertib). Yang ada hanya membasuh anggota badan saja.

Namun umumnya para ulama memasukkan rukun terakhir, yaitu tertib. Baik dalam rukun wudhu' atau pun rukun shalat. Kalau tertib itu tidak ada haditsnya, apakah tertib itu boleh dikatakan bid'ah? Tentu saja tidak. Meski pun munculnya rukun tertib itu hanya ijtihad para ulama, tapi tidak bisa dikatakan sebagai bid'ah yang dibuat-buat. Sebab kenyataannya, bila urutan wudhu tidak tertib, nyatanya juga tidak sah.

Walhasil, tertib itu meski tidak diucapkan oleh nabi sebagai bagian dari rukun shalat, namun ketika dideskripsikan aturan wudhu', muncullah hal itu sebagai konsekuensi logis dari praktek ibadah.

Demikian juga dengan pelafazan niat ushalli. Ini hanyalah ijtihad sebagain ulama, di mana mereka mengataka bahwa niat itu akan lebih kuat di hati apabila dilafazkan. Meski tidak ada seorang pun yang mewajibkan pelafazan ushalli. Mereka hanya sekedar menganjurkan saja, tapi tidak menyunnahkan apalagi mewajibkan.

Ijtihad sebagian ulama tentang ushalli ini sebenarnya bukan tanpa bantahan. Banyak ulama lain yang tidak setuju dicantumkannya pelafazan niat dengan ushalli. Tapi yang menarik, meski tidak setuju, tetap tidak kita dengar saling ejek, atau menuduh bid'ah atau bentuk-bentuk ungkapan lainnya yang kurang enak didengar.

Selama sebuah masalah merupakan masalah ijtihad, apalagi khilaf di kalangan ulama, sebaiknya kita menahan diri dari mendeskriditkan pendapat lain.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Ayah Kandung Tidak Menunaikan Kewajiban, Bolehkan Jadi Wali Nikah?
17 July 2006, 04:50 | Nikah | 6.359 views
Investasi Usaha dalam Bentuk Emas
17 July 2006, 04:44 | Muamalat | 5.603 views
Cairan Wanita selain Haid, Nifas dan Istihadhah
17 July 2006, 04:21 | Thaharah | 6.766 views
Shalat Jumat Buat Security Bergiliran, Bolehkah?
17 July 2006, 02:51 | Shalat | 8.193 views
Hukum Tukar Menukar Uang
14 July 2006, 08:39 | Muamalat | 7.233 views
Hutang Uang Disamakan dengan Hutang Emas
13 July 2006, 03:54 | Muamalat | 5.930 views
Pembagian Harta Warisan
13 July 2006, 03:44 | Mawaris | 6.885 views
Hukumnya Mengenakan Kondom
13 July 2006, 03:35 | Kontemporer | 6.136 views
Agama adalah Nasehat
12 July 2006, 06:46 | Hadits | 5.897 views
Membaca Telapak Tangan untuk Membaca Karakter dan Kesehatan
12 July 2006, 06:41 | Aqidah | 6.475 views
Bom Bunuh Diri, Bisakah Dibenarkan?
12 July 2006, 02:05 | Umum | 4.938 views
Apa Rahasia Allah Memberi Garis Tangan yang Berbeda-Beda?
11 July 2006, 06:06 | Aqidah | 7.132 views
Menikah Kedua, Haruskah Seizin Istri?
11 July 2006, 05:57 | Nikah | 6.137 views
Ghibah yang Islami
7 July 2006, 07:00 | Umum | 6.014 views
Muhammadiyah vs. NU, Umat Terpecah Belah
7 July 2006, 07:00 | Dakwah | 7.109 views
Kewajiban Membaca Al-Quran
6 July 2006, 10:48 | Quran | 6.192 views
Menempuh 90 Km Biar Bisa Nikah Tanpa Wali Ayah Kandung
5 July 2006, 07:25 | Nikah | 5.292 views
Haramkah Daging Buaya Walau untuk Obat?
5 July 2006, 07:24 | Kuliner | 5.243 views
Minta Fatwa dari Hati, Maksudnya?
5 July 2006, 02:57 | Hadits | 6.417 views
Menggunakan Internet Fasilitas Kantor, Bolehkah?
5 July 2006, 02:19 | Muamalat | 5.115 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,372,512 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img