Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Meminjamkan Uang dengan Imbalan, Haramkah? | rumahfiqih.com

Meminjamkan Uang dengan Imbalan, Haramkah?

Thu 29 August 2013 03:31 | Muamalat | 13.146 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Semoga Alloh senantiasa merahmati Pak Ustadz dan seluruh Muslimin wal Muslimat. Pak Ustadz, sebelumnya mohon maaf, saya mau bertanya mengenai:

1. Hukumnya meminjamkan uang ke seseorang yang kemudian oleh orang itu uang kita dipakai untuk usaha mengkreditkankan barang, dan dari situ kita sebagai pemilik modal mendapatkan bagian keuntungan sebesar 4% perbulan. Apakah transaksi yang kita lakukan tersebut halal?

2. Hampir mirip dengan no. 1, kita meminjamkan uang keseseorang untuk membeli barang, dengan kesepakatan bahwa dari setiap seratus ribu, maka dalam 3 bulan menjadi seratus empat puluh ribu (140.000) dan berlaku kelipatannya. Apakah transaksi ini halal?

Mohon penjelasan dari Pak Ustadz mengenai hal tersebut dilengkapai dengan dalil-dalil syar'i. Terima kasih atas jawaban dan bantuan dari Pak Ustadz.

Wassalamu'alaikum Wr. Wbr.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Jawaban Atas Pertanyaan Pertama

a. Haramnya Penyewaan Uang

Transaksi pada contoh yang pertama sebenarnya paradoks dan tidak jelas posisinya. Kalau dikatakan peminjaman, maka syariat Islam menegaskan bahwa peminjaman itu tidak boleh ada imbalan. Kalau pinjaman itu diharuskan pakai imbalan, sebenarnya tidak tepat disebut dengan peminjaman, tetapi persewaan.

Dalam kitab-kitab fiqih, istilah untuk persewaan ini adalah ijarah. Dan hukum sewa menyewa itu 100% dibenarkan dalam syariat Islam.

Namun satu catatan yang paling penting, bahwa barang dan jasa hukumnya memang boleh disewakan. Tetapi uang sebagai alat tukar atau alat pembayaran, hukumnya justru tidak boleh disewakan.

Kenapa?

Karena hakikat dari praktek riba tidak lain adalah penyewaan uang. Dan sewa menyewa uang itu jelas-jelas merupakan akad yang diharamkan oleh para ulama. Pasal yang dilanggar tidak lain adalah pasal riba. Lebih detailnya adalah riba jenis nasiah.

b. Halalnya Akad Kerja Sama Bagi Hasil

Namun bila yang anda maksud dengan 'meminjamkan uang' itu sebenarnya adalah akad kerjasama bagi hasil, atau biasa disebut dengan mudharabah, maka hukumnya 100% halal. Dan istilah yang lebih tepat bukan pinjam uang, melainkan akad kerjasama bagi hasil.

Akad kerjasama bagi hasil adalah akad yang halal. Prinsipnya ada dua belah pihak yang sepakat bekerjasama. Pihak pertama yang punya uang dan pihak kedua yang menjalankan usaha.

Kalau ada untungnya, maka keuntungannya itulah yang dibagi dua sesuai dengan kesepakatan. Oleh karena itu akad ini disebut dengan bagi hasil.

Dan sebaliknya, bila ada kerugian, maka kedua belah pihak akan menanggung bersama. Resiko rugi dan usaha adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan.

Sayangnya, masyarakat sudah terlanjur salah kaprah dengan penggunaan istilah, sehingga akad kerjasama bagi hasil yang halal itu malah sering disebut dengan peminjaman uang. Padahal, baik bagi hasil, pinjam uang dan sewa uang, adalah tiga akad yang berbeda. Bagi hasil dan pinjam uang hukumnya halal, sedangkan penyewaan uang jelas haram hukumnya.

Lalu bagaimana dengan contoh yang ditanyakan di atas? Apakah hukumnya halal atau haram?

Jawabnya tergantung hakikat dari akadnya. Kalau akadnya semata-mata bagi hasil, tentu hukumnya halal. Sedangkan kalau akadnya penyewaan uang, haram lah hukumnya.

Yang jelas, akad di atas bukan pinjaman uang, sebab yang namanya pinjam uang dalam ketentuannya, tidak boleh ada imbalan. Dan pembagian keuntungan yang disepakati 4% itu, jelas-jelas menjadi bukti bahwa akad itu bukan pinjam uang.

Kesimpulan Hukum

Untung memudahkannya, apa termasuk halal atau tidak, mari kita periksa dari cara pembagian keuntungannya.

Akad itu menjadi itu halal kalau anda mendapat 4% dari keuntungan, bukan dari nilai uang yang anda pinjamkan. Sebab keduanya berbeda sekali. Misalnya anda pinjamkan uang 10 juta, lalu dalam sebutlah usaha itu mendapatkan keuntungan bersih 2 juta. Maka yang halal adalah bila anda mendapat 4% dari 2 juta. Sedangkan bila anda mendapat 4% dari 10 juta, hukumnya haram.

Dimana perbedaannya?

Perbedaannya pada uang yang dibagi, bila dari keuntungan, maka hukumnya halal. Tapi bila dari nilai yang dipinjamkan, maka nilainya haram.

Sedangkan meminjamkan uang dengan cara yang kedua, jelas haramnya. Sebab prinsip dasar hukum riba adalah bila uang itu dipinjamkan dan ada kelebihan dalam pengembaliannya.

Kalau dipinjamkan Rp 100.000,- maka haram hukumnya bila pengembaliannya lebih meski hanya menjadi Rp 100.001,-. Apalagi bila lebih dari itu.

2. Jawaban Pertanyaan Nomor Dua

Barangkali maksud dari pertanyaan nomor dua ini ingin membedakan tujuan dari peminjaman. Kalau pada pertanyaan nomor satu, tujuan peminjaman itu untuk mengkreditkan barang, maka pada pertanyaan nomor dua ini, tujuan peminjaman barangnya untuk membeli barang.

Jawabannya, baik pertanyaan nomor satu ataupun nomor dua, pada hakikatnya sama dan tidak ada perbedaan dari sisi keharamannya. Sebab halal haramnya sebuah pinjaman uang tidak diukur dari tujuan peminjaman, tetapi dinilai dari bentuk akadnya.

Uang yang dipinjamkan itu untuk kepentingan modal bisnis, atau untuk kepentingan konsumtif, jelas tidak mengubah haramnya hukum 'penyewaan uang'. Bahkan kalau pun peminjaman uang itu untuk membangun masjid atau mushalla sekalipun, tetap saja yang namanya penyewaan uang itu haram hukumnya.

Kalau kita analogikan dengan sederhana, yang namanya mencuri uang itu tetap haram, walaupun alasannya untuk membayar zakat, menyantuni fakir miskin, mengasihi anak yatim, atau pun untuk jihad di jalan Allah. Semua tujuan baik itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan pencurian.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Menikah di Depan Jenazah
29 August 2013, 02:42 | Nikah | 7.269 views
Doa Agar Suami Tidak Dipoligami, Bolehkah?
27 August 2013, 07:54 | Nikah | 8.954 views
Tidak Tahan Menggauli Isteri Masih Nifas
27 August 2013, 04:39 | Nikah | 8.578 views
Kondangan Diniatkan Infaq?
26 August 2013, 04:39 | Umum | 7.822 views
Hukum Menikah untuk Diceraikan
22 August 2013, 07:40 | Nikah | 6.584 views
Tarif Memanggil Penceramah Terkenal Mahalnya
21 August 2013, 03:24 | Kontemporer | 10.509 views
Bolehkah Menikah Dengan Wali Hakim?
20 August 2013, 21:52 | Nikah | 9.420 views
Janda Berangkat Haji Dalam Masa Iddah, Haramkah?
19 August 2013, 18:59 | Haji | 7.142 views
Kutbah Jum'at Kekurangan Satu Rukun
16 August 2013, 11:35 | Shalat | 8.297 views
Minum Khamar Harus Dicambuk?
14 August 2013, 23:26 | Jinayat | 6.134 views
Mengganti Hutang Puasa Yang Sudah Terlalu Lama
12 August 2013, 23:40 | Puasa | 133.846 views
Benarkah Uang Tabungan Buat Beli Rumah Wajib Dizakatkan?
9 August 2013, 21:54 | Zakat | 8.293 views
Bolehkah Musafir Bermakmum Kepada Bukan Musafir?
6 August 2013, 00:30 | Shalat | 6.819 views
Zakat Profesi Konflik Dengan Zakat Tabungan, Mana Yang Menang?
4 August 2013, 23:09 | Zakat | 8.654 views
Bayi Dalam Kandungan Apakah Dibayarkan Zakatnya?
4 August 2013, 13:17 | Zakat | 7.387 views
Emas Berstatus Digadaikan, Wajibkah Dizakati?
2 August 2013, 23:57 | Zakat | 9.467 views
Pernikahan Beda Jamaah
31 July 2013, 04:36 | Nikah | 9.586 views
Fiqih I'tikaf Lengkap
29 July 2013, 21:43 | Puasa | 15.272 views
Jumlah Takbir Shalat Iedul Fitri
29 July 2013, 09:44 | Shalat | 7.742 views
Saya dan Suami Berhubungan Badan di Ramadhan, Harus Bagaimana?
27 July 2013, 06:51 | Puasa | 16.467 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,909,164 views