Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Akad Bagi Hasil yang Baik? | rumahfiqih.com

Bagaimana Akad Bagi Hasil yang Baik?

Fri 21 July 2006 10:20 | Muamalat | 5.513 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu alaikum wr. wb.

Saya berniat ingin menjalankan usaha dengan jalan bagi hasil; modal dari pihak lain dan saya kelola menjadi sebuah usaha. Namun saya punya masalah dalam teknis pelaksanaannya. Misalnya saya menerima dana 20 juta dan saya gunakan untuk membuka warung sembako dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Rasanya tidak mungkin jika saya harus mencatat 100% detil jual beli, misalnya ada anak-anak beli permen Rp 500. Sedangkan bagi hasil itu berdasarkan perhitungan keuntungan.

Jadi, bagaimanakah cara yang mudah dan mungkin dilaksanakan agar saya tetap dapat melaksanakan sistem bagi hasil tersebut dengan tidak menyulitkan usaha? Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mencatat detail penjualan tidak menjadi syarat mutlak untuk mengetahui keuntungan sebuah usaha jualan. Yang penting anda tahu berapa keuntungan usaha itu, baik per bulan atau per tahun.

Seharusnya seorang pedagang harus tahu, berapakah keuntungan yang didapatnya. Teorinya pun sangat sederhana dan bisa dilakukan dengan mudah. Tapi kalau sampai seorang pedagang tidak mampu menghitung keuntungan yang didapat, justru malah menimbulkan tanda tanya. Sebenarnya bisa dagang atau tidak?

Sebab tidak mungkin dan tidak bisa dibayangkan, ada orang dagang lalu setelah berjalan, dia tapi tidak tahu untung apa tidak. Seharusnya, satu rupiah keuntungan yang bisa didapat, dengan mudah terdeteksi.

Barangkali hal ini juga yang membuat banyak orang berdagang, kelihatannya sibuk, capek dan pusing, tapi tidak pernah untung. Bukan karena tidak untung, jangan-jangan karena tidak tahu cara menghitung keuntungan.

Secara sederhana, sebelum bicara bagi hasil, anda harus sepakat dulu dengan pemilik modal tentang nilai modal masing-masing kalau diprosentasekan. Misalnya, anda punya tempat, kios dan rak-raknya serta anda yang jadi pengelola dinilai semua itu selama satu tahun usaha seharga 20 juta. Lalu teman anda siap membeli barang-barang yang akan dijual, juga seharga 20 juta. Sehingga nilai saham anda masing-masing adalah 50%: 50%.

Satu tahun kemudian, tinggal dihitung jumlah keuntungan. Yaitu semua pemasukan (penjualan) dikurangi dengan modal usaha dan semua biaya operasional. Katakanlah didapat angka 50 juta. Maka anda sebagai pengelola mendapat 25 juta dan teman anda sebagai investor mendapat 25 juta.

Untuk bisa mencatat modal dan keuntungan, anda tidak perlu mencatat semua detail penjualan secara manual. Cukup angka besarnya saja. Tapi pencatatan seperti itu bukan hal yang aneh. Buktinya, di hypermart, supermarket atau pusat-pusat perbelanjaan retail, semua penjualan tercatat dengan pasti, lengkap dengan catatan tanggal, jam, nama kasir, lokasi, harga, kode barang dan semua informasi yang dibutuhkan. Sehingga keuntungan tiap item pun sudah bisa terdeteksi. Padahal jumlah itemnya bisa jutaan banyaknya. Dan lalu lintas ke luar masuk barang pun sangat tinggi trafiknya.

Kalau yang retail kelas raksasa bisa mencatat dengan detail tiap transaksi, logika buat kelas warung seharusnya lebih mudah, bukan?

Wallahu a'lam bishshawab, wasssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Khitan untuk Anak Perempuan, Adakah Syariatnya?
21 July 2006, 03:43 | Wanita | 8.727 views
Mengkreditkan Emas sebagai Solusi, Bolehkah?
21 July 2006, 03:36 | Muamalat | 23.250 views
Belum Yakin Nikah Jarak Jauh Lewat Wakil Dibolehkan
20 July 2006, 06:24 | Nikah | 5.285 views
Asuransi yang Dibolehkan
20 July 2006, 01:11 | Muamalat | 7.823 views
Kebajikan dengan Niat Balasan Duniawi
19 July 2006, 06:26 | Umum | 5.780 views
Mungkinkah Nabi Salah Berijtihad?
19 July 2006, 02:03 | Ushul Fiqih | 5.886 views
Keluar Mani di Luar Rahim
19 July 2006, 01:57 | Nikah | 7.291 views
Pajangan Patung di Rumah, Bolehkah?
18 July 2006, 05:10 | Aqidah | 7.165 views
Israel Sumber Bencana
18 July 2006, 02:49 | Umum | 4.807 views
Kapan Makanan Menjadi Haram?
18 July 2006, 02:35 | Kuliner | 10.837 views
Bid'ahkah Niat Shalat dan Doa Bersama setelah Shalat Jamaah?
17 July 2006, 09:31 | Shalat | 8.927 views
Ayah Kandung Tidak Menunaikan Kewajiban, Bolehkan Jadi Wali Nikah?
17 July 2006, 04:50 | Nikah | 6.420 views
Investasi Usaha dalam Bentuk Emas
17 July 2006, 04:44 | Muamalat | 5.662 views
Cairan Wanita selain Haid, Nifas dan Istihadhah
17 July 2006, 04:21 | Thaharah | 6.840 views
Shalat Jumat Buat Security Bergiliran, Bolehkah?
17 July 2006, 02:51 | Shalat | 8.249 views
Hukum Tukar Menukar Uang
14 July 2006, 08:39 | Muamalat | 7.313 views
Hutang Uang Disamakan dengan Hutang Emas
13 July 2006, 03:54 | Muamalat | 6.092 views
Pembagian Harta Warisan
13 July 2006, 03:44 | Mawaris | 7.034 views
Hukumnya Mengenakan Kondom
13 July 2006, 03:35 | Kontemporer | 6.195 views
Agama adalah Nasehat
12 July 2006, 06:46 | Hadits | 5.966 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,230,509 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-10-2019
Subuh 04:11 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:49 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img