Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menghadapi Pembeli yang Sumber Dananya Haram | rumahfiqih.com

Menghadapi Pembeli yang Sumber Dananya Haram

Thu 3 August 2006 02:55 | Kontemporer | 5.461 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, seorang anggota taklim. Saya pernah menanyakan sesuatu yang sampai saat ini belum bisa saya jawab. Pertanyaannya: Bagaimana seharusnya seorang pedagang menghadapi calon pembelinya yang dia tahu dana untuk membeli barangnya berasal dari sumber yang haram (misalnya judi)?

Mohon bantuan Ustadz untuk memberikan jawabannya. Semoga Allah swt memberikan taufik kepada Ustadz. Jazakumullah khair.

Wassalamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam syarat dan rukun jual beli, tidak ada ketentuan bahwa uang yang digunakan untuk membeli harus uang halal. Sehingga pada hakikatnya, bila seorang pembeli membeli barang dengan uang haram, seperti hasil judi, maka jual beli itu tetap sah.

Adapun si pembeli berdosa karena berjudi, itu urusan yang bersangkutan. Yang perlu diperhatikan adalah syarat dan rukun jual belinya itu sendiri, apakah sudah terpenuhi atau tidak. Bila tidak terpenuhi, maka jual beli itu tidak sah. Sebaliknya bila sudah terpenuhi, maka jual beli itu sah secara hukum.

Lain halnya bila yang tidak halal justru barang yang dibeli. Misalnya dalam jual beli mobil hasil curian. Jelas tidak sah jual beli itu, lantaran barang yang diperjual-belikan bukan milik si penjual (mamluk). Dan syarat barang yang diperjual-belikan itu pada dasarnya ada 5 hal:

  1. Barang itu suci, bukan najis
  2. Barang itu bermanfaat, bukan benda yang madharrat
  3. Barang itu dimiliki sepenuhnya oleh yang menjual, bukan barang curian atau rampasan
  4. Barang itu bisa diserahkan, baik secara hakiki atau formalitas
  5. Barang itu terukur dan terdefinisikan kualitas maupun kuantitasnya.

Adapun alat pembayaran yang berupa uang, pada dasarnya berhukum halal, kecuali secara subjektif menjadi haram berdasarkan kasus orang per-orang.

Dan uang hasil judi, meski hukum mendapatkannya haram, namun uang itu sendiri sebagai sebuah benda tidak ikut jadi najis sehingga tidak boleh disentuh secara fisik. Ketika penjudi itu membeli sesuatu dengan memenuhi syarat dan rukun jual beli, maka jual belinya itu sah.

Barangkali kasusnya agak mirip dengan orang yang pergi haji dengan biaya hasil korupsi. Uang hasil korupsi itu haram dilihat dari cara mendapatkannya. Tetapi ibadah haji yang dilakukan dengan menggunakan uang itu, bila terpenuhi syarat dan rukunnya, tetap sah dan gugurlah kewajiban hajinya.

Juga agak mirip dengan orang yang shalat dengan memakai kain sarung hasil curian. Sarungnya didapat dengan cara yang haram, tapi shalatnya tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi.

Namun lepas dari hitam putih masalah hukumnya, alangkah baiknya bila seseorang berjual beli dengan harta yang halal. Sehingga rezki itu berkah secara lahir dan batin.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pembagian Warisan bila Isteri Meninggal Terlebih Dahulu
2 August 2006, 04:47 | Mawaris | 8.513 views
Tidak Adakah Cara untuk Menghentikan Agresi Israel?
2 August 2006, 04:35 | Negara | 5.127 views
Kalau Palestina Menang, Apakah Kiamat Sudah sangat Dekat?
2 August 2006, 00:42 | Umum | 7.325 views
Shalat Jama untuk Perjalanan Rutin
1 August 2006, 08:47 | Shalat | 5.696 views
Siapa Hizbullah Sebenarnya?
1 August 2006, 05:34 | Umum | 6.241 views
Perang Libanon v.s. Israel, Arab Saudi Kok Diam?
31 July 2006, 04:25 | Umum | 5.724 views
Tidak Puasa Karena Hamil dan Nifas, Fidyah atau Qadha'?
31 July 2006, 04:19 | Puasa | 10.196 views
Wasiat Tidak Dilaksanakan
31 July 2006, 03:16 | Mawaris | 6.645 views
Pentingnya Jamaah, Sejauh Mana?
28 July 2006, 03:43 | Umum | 5.466 views
Bagaimana Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan?
28 July 2006, 03:43 | Puasa | 7.204 views
Adakah Hak Waris bagi Anak Adopsi?
27 July 2006, 04:36 | Mawaris | 6.598 views
Kotoran dan Air Kencing Binatang yang Dihalalkan, Najiskah?
27 July 2006, 04:02 | Thaharah | 7.157 views
Keluarnya Mazi dan Wadi, Apakah Hadats Besar dan Harus Mandi Janabah?
27 July 2006, 01:24 | Thaharah | 6.587 views
Adakah Perbedaan Pengertian antara Nabi dan Rasul?
27 July 2006, 00:40 | Aqidah | 6.731 views
Membaca Ayat Pendek di Rakaat Ketiga dan Keempat
26 July 2006, 06:05 | Shalat | 11.879 views
Kencing Berdiri, Menghadap Kiblat dan Cebok Pakai Tissue, Bolehkah?
26 July 2006, 03:55 | Thaharah | 7.378 views
Shalat di Lantai tanpa Alas dan Najis Hukmiyah
25 July 2006, 23:33 | Thaharah | 8.318 views
Satpam Wanita
25 July 2006, 05:57 | Wanita | 5.660 views
Cara Pemecahan Shalat Dikarenakan Pekerjaan
24 July 2006, 08:07 | Shalat | 6.353 views
Bolehkan Makan Daging Kodok dan Perlukan Disembelih Dulu?
24 July 2006, 00:37 | Kuliner | 5.887 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,387,407 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

13-12-2019
Subuh 04:09 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:05 | Isya 19:19 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img