Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Menyelamatkan diri Termasuk Lari dari Jihad? | rumahfiqih.com

Apakah Menyelamatkan diri Termasuk Lari dari Jihad?

Sat 19 August 2006 01:52 | Negara | 6.292 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu Alaikum

Saya pernah mendengar, bahwa bila kita berada dalam suatu wilayah yang sedang terjangkit penyakit menular maka kita tidak boleh meninggalkan wilayah itu. Dan bila berada di luar dari wilayah itu, maka kita tidak boleh memasukinya.

Apaka itu juga berlaku untuk negara yang sedang terjadi perang? Bagaimana menurut Ustaz, mengenai penduduk muslim yang negaranya sedang diserang oleh negara non muslim, apakah dibolehkan mereka termasuk laki-laki utamanya anak-anak dan perempuan meninggalkan negaranya dengan maksud menyelamatkan diri?

Apakah itu tidak termasuk lari dari jihad fisabilillah?

Terima kasih

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada dua ayat Al-Quran yang sekilas saling bertentangan terkait dengan lari menyelamatkan diri. Ayat pertama melarang untuk lari dari peperangan, sedangkan ayat kedua justru memerintahkan untuk menyelematkan diri dari serangan.

Ayat pertama adalah ayat berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al-Anfal: 15-16)

Jelas sekali ayat ini memang melarang kita bila telah bertemu musuh secara berhadap-hadapan untuk lari menyelamatkan diri dari medan perang. Bahkan ayat ini juga mengancampelakunya denganmurka dari Allah serta dimasukkan ke dalam neraka jahannam.

Sedangkan ayat kedua, justru mewajibkan kita untuk pergi menyingkir dari serangan lawan, kalau tidak melakukannya juga masuk neraka.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri." Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisa': 97)

Allah SWT mengharamkan umat Islam berdiam diri di negerinya apabila diserang oleh orang-orang kafir. Allah mewajibkan mereka untuk berhijrah sambil menegaskan bahwa bumi Allah itu luas. Mereka yang diam saja di negeri itu dan tidak menyelamatkan diri dengan berhijrah, akan di tempatkan di dalam neraka jahannam.

Lalu bagaimana kita memahami kedua ayat yang sepintas saling bertentangan?

Para ulama kemudian mencermati masing-masing ayat dan menemukan thariqatul jam'i (metode penggabungan) antara keduanya. Sehingga kedua ayat ini tidak saling bertentangan, karena masing-masing berlaku pada konteksnya sendiri-sendiri.

Kita mulai dari asbabun nuzul masing-masing ayat, yang ternyata sangat menjelaskan kedudukannya. Ayat pertama, terkait dengan perang Badar, di mana saat itu pasukan muslimin sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Yang ikut dalam perang ini bukanlah semua penduduk kota Madinah, tetapi hanya sekitar 313 orang saja.

Meski tidak terlalu sempurna, namun sejak awal mereka sudah dilatih dan dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran. Kalau kita bandingkan dengan zaman sekarang, kira-kira mereka adalah pasukan militer, atau paling tidak pasukan milisi yang direkrut dari penduduk sipil, di mana sebelumnya mereka sudah dilatih dan dipersiapkan untuk berperang.

Pasukan ini semula berharap untuk bisa mencegat rombongan kafilah dagang milik kafir Quraisy, yang tentu saja terlalu lemah. Tapi ternyata Abu Sufyan berhasil meminta bantuan tentara dari Makkah sebanyak 1.000 orang dengan senjata, kendaraan, makanan dan bekal yang lengkap. Mau tidak mau pasukan muslimin yang cuma 313 orang dengan perbekalan dan senjata seadanya, harus berhadapan dengan lawan di medan perang.

Dalam konteks inilah turun ayat di atas, yang intinya melarang pasukan untuk lari menyelamatkan diri dari medan tempur sesungguhnya.

Sedangkan sababun nuzul ayat kedua, bukan dalam konteks saling berhadapannya kedua pasukan di medan perang, melainkan penduduk sipil yang tiap hari mendapatkan tekanan, serangan dan teror dari penguasa negeri itu. Mereka adalah para shahabat nabi yang tinggal di Makkah. Para penguasa Quraisy menindas mereka, bahkan membunuh banyak orang dari mereka.

Maka pada setelah Bai'at Aqbah I dan II, Allah SWT mewajibkan hijrah kepada mereka, untuk menyelamatkan diri dari semua tekanan orang kafir Makkah. Bukan sekedar dianjurkan atau boleh diikuti oleh para sukarelawan, tetap merupakan instruksi massal kepada semua umat Islam.

Mereka diwajibkan untuk pergi meninggalkan kota Makkah menuju ke kota Yatsrib yang kemudian diganti namanya menjadi Madinah. Hukumnya wajib atas semua umat Islam, sedangkan yang tidak mau pergi digolongkan sebagai orang yang berdosa, bahkan diancam dengan neraka jahannam.

Penerapan Kedua Ayat

Maka ketika kita membaca masing-masing ayat ini, kita harus melihat kepada konteksnya, dengan bahan informasi dari sebab turunnya ayat.

Kalau kasusnya adalah saling berhadapannya dua pasukan, yang satu pasukan muslim sedangkan yang kedua pasukan kafir, haram hukumnya mundur ke belakang untuk lari menyelamatkan diri dan meninggalkan gelanggang perang. Kecuali sekedar untuk taktik atau bergabung dengan pasukan muslim lainnya. Sebagaimana tertera pada ayat di atas.

Tapi kalau kasusnya adalah serbuan penguasa zalim atas suatu desa, kota atau negeri muslim, di manamereka hanya penduduk sipil yang tidak mampu melawan, kecuali hanya menyelamatkan diri ke luar wilayah serangan, maka hukumnya adalah wajib untuk menyelamatkan diri. Bertahan di tengah hujan bom tanpa perlawanan berarti justru tidak boleh. Sebab tidak akan memberikan nilai apa-apa kecuali kerugian harta dan jiwa.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pancasila Sama dengan Syirik?
16 August 2006, 05:10 | Aqidah | 7.087 views
Az-Zaitun Aliran Sesat?
15 August 2006, 08:30 | Aqidah | 6.375 views
Di Mana dan Kepada Siapa Kami Bisa Melaksanakan Nikah Siri?
14 August 2006, 06:13 | Nikah | 5.617 views
Pembagian Warisan
11 August 2006, 04:41 | Mawaris | 5.703 views
Bolehkah Puasa 4 Hari 4 Malam Tanpa Makan?
11 August 2006, 03:06 | Puasa | 5.008 views
Untuk Apa Skenario Tuhan?
10 August 2006, 06:22 | Umum | 5.774 views
Menentukan Kebahagiaan Pasangan Berdasarkan Nama
10 August 2006, 04:51 | Kontemporer | 5.514 views
Apakah Kita Melaksanakan Hadits Shahih Saja?
10 August 2006, 04:16 | Hadits | 6.136 views
Islamkah Syiah?
9 August 2006, 03:15 | Aqidah | 21.745 views
Kenapa Pohon Gharqad Melindungi Yahudi?
9 August 2006, 02:52 | Umum | 6.743 views
Apakah Sepupu Mahram?
8 August 2006, 08:53 | Nikah | 12.349 views
Peraturan untuk Tidak Memakai Jilbab
8 August 2006, 08:31 | Wanita | 5.136 views
Infotainment Ghibah dan Menyebarkan Informasi Tidak Berguna
7 August 2006, 06:58 | Umum | 5.102 views
Ciri-Ciri Pohon Gharqad
7 August 2006, 05:53 | Aqidah | 6.770 views
Rumah Peninggalan Kakek, Bagaimana Perhitungan Warisnya yang Benar?
4 August 2006, 08:26 | Mawaris | 5.145 views
Bedanya Qurban dengan Aqiqah
4 August 2006, 03:58 | Qurban Aqiqah | 8.090 views
Imam Kurang Fasih, Qunut Shubuh dan Quran Terjemah
3 August 2006, 03:50 | Shalat | 7.774 views
Menghadapi Pembeli yang Sumber Dananya Haram
3 August 2006, 02:55 | Kontemporer | 5.208 views
Pembagian Warisan bila Isteri Meninggal Terlebih Dahulu
2 August 2006, 04:47 | Mawaris | 6.896 views
Tidak Adakah Cara untuk Menghentikan Agresi Israel?
2 August 2006, 04:35 | Negara | 4.916 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,093,443 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img