Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Talak kah SMS ini? | rumahfiqih.com

Talak kah SMS ini?

Thu 24 August 2006 05:19 | Nikah | 5.868 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu`alaikum wr wb

Bapak ustadz yang dirahmati Allah swt, saya bekerja di luar negeri sudah 5 tahun lebih dan saya mendengar berita bahwa isteri saya selingkuh dengan mantan pacarnya. Saya tanyakan sendiri pada isteri saya, dia bilang tidak. Dia bilang memang kadang curhat-curhatan lewat telefon dan menganggapnya sebagai teman biasa. Dan sejak itu saya malas untuk telefon mendengar suaranya. Dan saya sering SMS isteri saya bahwa cinta saya sudah hilang, lupakan saja saya, cari kebehagiaanmu sendiri. Apa kata-kata itu termasuk talak? Atas pencerahannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu`alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Untuk melepaskan hubungan suami isteri, cukup diucapkan sebuah lafadz talak dari seorang suami. Lafadz itu menjadi sebuah pernyataan pemutusan hubungan syar'i antara suami dan isteri yang sangat berat dan bernilai hukum tinggi. Beratnya seberat ketika suami dahulu mengucapkan qabul atas ijab ayah mertuanya.

Para ulama membagi dua jenis lafadz talak, yaitu lafadz sharih (eksplisit) dan lafadz kina'i (implisit). Dan masing-masing mengandung konsekuensi hukum yang berbeda.

1. Lafadz Sharih

Lafadz sharih adalah lafadz yang tidak bisa ditafsirkan dengan pengertian apapun kecuali hanya talak. Seperti perkataan suami pada isterinya, "Kamu sudah saya ceraikan." Ungkapan ini tidak bisa ditafsirkan selain hanya talak.

Bahkan meski diucapkan dengan main-main dan tidak diniatkan, umumnya para ulama mengatakan sudah jatuh talak.

2. Lafadz Kina'i

Lafadz kina'i adalah lafadz kebalikan dari sharih, yaitu lafadz talak yang masih mungkin ditafsirkan dengan banyak arti. Misalnya, seorang suami bilang pada isterinya, "Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu." Ungkapan seperti ini bisa bermakna talak, tetapi mungkin juga maknanya hanya meminta isteri untuk berziarah ke rumah orang tuanya.

Adapun konsekuensi hukum dari ungkapan lafadz talak secara kina'i, semua kembali kepada niat dan tekad suami saat mengatakannya. Kalau saat mengatakannya dia berniat untuk mentalak isterinya, maka jatuhlah talak. Sebaliknya bila tidak dengan disertai dengan niat talak, maka tidak jatuh talak.

Sebagian ulama mengaitkan dengan konvensi ('urf) atau kebiasaan yang terdapat di suatu masyarakat. Bila masyarakat telah mentradisi bahwa ungkapan seperti adalah talak, maka hukumnya adalah talak. Demikian juga sebaliknya.

Syariah Mempersulit Talak

Sebenarnya kalau kita perhatikan lebih seksama, syariah Islam tidak terlalu memberi kemudahan untuk proses talak. Paling tidak, kita mendapati ada sekian banyak prosedur yang telah ditetapkan yang intinya memberi kesempatan kepada suami untuk tidak jadi berpisah dengan isterinya.

Semua prosedur itu ibarat benteng-benteng pertahanan yang berfungsi menjaga agar ikatan suami isteri dan rumah tangga tidak mengalami kehancuran. Benteng-benteng itu antara lain:

1. Adanya lafadz kina'i

Tidak semua ungkapan yang bermaknatalaksecara tiba-tiba bisa menjatuhkan talak. Apabila lafadz itu tidak secara tegas menyebut lafadz talak (kina'i), maka belum tentu talak itu langsung jatuh.

2. Haramnya mentalak isteri saat sedang haidh

Seorang suami diharamkan Allah SWT untuk mentalak isterinya ketika sedang mendapat haidh. Ini adalah larangan yang mengakibatkan dosa di sisi Allah. Suami harus bersabar dan menunda niatnya untuk mentalak isterinya bila sedang haidh, hingga isterinya suci dari haidh. Dengan adanya larangan ini, siapa tahu suami akan berubah pikiran.

3. Haramnya mentalak isteri di masa suci setelah disetubuhi

Ketika sedang dalam keadaan suci dari haidh, juga tetap diharamkan untuk menceraikan isteri. Yaitu bila suami sempat menyetubuhi isterinya selama masa suci itu. Maka hingga mendapat haidh lalu masa suci berikutnya, haram bagi suami untuk menceraikan isterinya.

4. Masih adanya kesempatan untuk rujuk tanpa nikah ulang

Kalau pun seorang suami sudah bersabar dan menanti-nanti saat yang tepat untuk menceraikan isterinya, lalu begitu terbuka celah dia memanfaatkannya dengan menjatuhkan talak, tetap saja masih ada sejumlah benteng yang masih bisa berfungsi.

Benteng itu adalah masih terbukanya kesempatan selebar-lebarnya bagi suami untuk melakukan rujuk kepada isterinya sempat diceraikannya itu. Kesempatan ini dikatakan sangat terbuka lebar, karena memang sangat besar kesempatannya.

a. Suami tidak perlu menikah ulang, cukup diniatkan saja di dalam hatinya bahwa dirinya telah melakukan rujuk terhadap isterinya. Bahkan meski tanpa pernyataan apapun di depan isteri atau di depan siapa pun, rujuk itu sah secara hukum.

Sehingga bila pagi hari seorang suami menceraikan isterinya, kemudian malam harinya dia menyesal dan berubah pikiran, lantas mendatangi kamar isterinya dan masuk ke dalamnya untuk menggaulinya, sudah cukup terjadi rujuk.

b. Isteri yang baru saja ditalak suaminya, wajib tinggal di rumah suaminya itu. Haram baginya untuk keluar rumah kecuali atas izin suaminya yang telah menceraikannya.

c. Haram bagi laki-laki manapun untuk melirik isterinya, merayunya atau apalagi sampai meminangnya. Sebab suaminya -meski sudah menceraikannya- tetap jauh lebih berhak atas isterinya itu. Dan bagi isteri pun demikian, dia tetap tidak boleh membuka diri kepada siapa pun laki-laki, hingg selesai masa 'iddahnya.

5. Adanya tiga level talak

Seandainya seorang wanita telah dicerai, lalu telah habis masa 'iddahnya, bukan berarti segalanya telah selesai. Sebab suami masih tetap punya kesempatan untuk rujuk kembali kepada isterinya, meski syaratnya kali ini agak berat. Yaitu harus dengan akad ulang, plus 2 oran saksi dan tentunya yang terpenting adalah ijab kabul antara ayah kandung isteri dengan dirinya sekali lagi.

Hal ini bisa dilakukan karena pada dasarnya setiap pasangan punya 3 lapis talak. Bila satu jatuh, masih ada 2 lagi. Bila yang kedua jatuh, masih ada yang ketiga dan merupakan lapis terakhir.

Wallahu a\'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Jenis-jenis Saudara dalam Masalah Waris
24 August 2006, 05:15 | Mawaris | 4.883 views
Nabi Akhir Zaman dalam Pandangan Pengingkar Hadits
23 August 2006, 08:55 | Hadits | 5.041 views
Jual Produk ke Konsumen dengan Imbalan, Halalkah?
22 August 2006, 06:51 | Muamalat | 4.649 views
Hukum Cambuk untuk Zina
22 August 2006, 06:41 | Nikah | 5.339 views
Akhir Waktu Shalat Lima Waktu
22 August 2006, 05:24 | Shalat | 7.602 views
Cara Menjelaskan Masalah Bid'ah?
22 August 2006, 05:05 | Kontemporer | 6.490 views
Apakah Menyelamatkan diri Termasuk Lari dari Jihad?
19 August 2006, 01:52 | Negara | 6.282 views
Pancasila Sama dengan Syirik?
16 August 2006, 05:10 | Aqidah | 7.073 views
Az-Zaitun Aliran Sesat?
15 August 2006, 08:30 | Aqidah | 6.354 views
Di Mana dan Kepada Siapa Kami Bisa Melaksanakan Nikah Siri?
14 August 2006, 06:13 | Nikah | 5.607 views
Pembagian Warisan
11 August 2006, 04:41 | Mawaris | 5.689 views
Bolehkah Puasa 4 Hari 4 Malam Tanpa Makan?
11 August 2006, 03:06 | Puasa | 5.002 views
Untuk Apa Skenario Tuhan?
10 August 2006, 06:22 | Umum | 5.763 views
Menentukan Kebahagiaan Pasangan Berdasarkan Nama
10 August 2006, 04:51 | Kontemporer | 5.503 views
Apakah Kita Melaksanakan Hadits Shahih Saja?
10 August 2006, 04:16 | Hadits | 6.112 views
Islamkah Syiah?
9 August 2006, 03:15 | Aqidah | 21.729 views
Kenapa Pohon Gharqad Melindungi Yahudi?
9 August 2006, 02:52 | Umum | 6.715 views
Apakah Sepupu Mahram?
8 August 2006, 08:53 | Nikah | 12.278 views
Peraturan untuk Tidak Memakai Jilbab
8 August 2006, 08:31 | Wanita | 5.124 views
Infotainment Ghibah dan Menyebarkan Informasi Tidak Berguna
7 August 2006, 06:58 | Umum | 5.089 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,999,509 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-7-2019
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:00 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img